ASAL USUL MARGA_MARGA SIMALUNGUN

Senin, 10 Agustus 2009

Simalungun memiliki 4 induk marga "SI SA DA PUR", namun bila merunut pada asal usul marga ini, terkadang banyak perbedaan pendapat akan asal-usul tersebut, batak toba/tapanuli yang memang lebih banyak memiliki kepustakaan sering mengklaim kalo marga2 tersebut adalah berasal dari batak toba, yang akhirnya sering menyebabkan perbedaan pendapat dengan warga simalungun yang tidak mau mengakui kalo marga nya tersebut berasal dari batak toba/tapanuli. Disini akan di tuliskan sedikit informasi tentang asal-usul marga-marga simalungun.

SARAGIH
Secara Etimologis, Saragih berasal dari "simada ragih" dalam bahasa Simalungun, yang mana "ragih" berarti atur, susun, tata, sehingga simada ragih berarti pemilik aturan atau pengatur, penyusun atau pemegang undang-undang.
Asal-usul
Beberapa versi sumber sejarah menyatakan bahwa leluhur marga saragih berasal dari Selatan India, yang melakukan perjalanan ke Sumatera Timur ke daerah Aceh, Langkat, daerah Bangun Purba, hingga ke Bandar Kalifah sampai Batubara.
Akibat desakan suku setempat, mereka kemudian bergerak ke daerah pinggiran Toba dan Samosir.
Marga Saragih pertama (Hasusuran-1) itu sendiri muncul saat salah seorang Puanglima (Panglima) dari kerajaan Nagur dijadikan menantu oleh Raja Nagur dan selanjutnya mendirikan satu kerajaan baru di Raya (di sekitar daerah yang kini disebut Pematang Raya, Simalungun).

Daftar Raja Kerajaan Raya:

1. Tuan Si Pinang Sori
2. Raja Raya, Tuan Lajang Raya
3. Raja Raya Simbolon (Namanya memakai nama wilayah kerajaannya, sebab tidak diketahui lagi siapa nama aslinya)
4. Raja Gukguk
5. Raja Unduk
6. Raja Denggat
7. Raja Minggol
8. Raja Poso
9. Raja Nengel
10. Raja Bolon
11. Raja Martuah
12. Raja Raya Tuan Morahkalim
13. Raja Raya Tuan Jimmahadim, Tuan Huta Dolog
14. Raja Raya Tuan Rondahaim
15. Raja Raya Tuan Sumayan (Kapoltakan)
16. Raja Raya Tuan Gomok (Bajaraya)
17. Tuan Yan Kaduk Saragih Garingging


Suku Batak Toba mengklaim bahwa marga Saragih dari suku Simalungun berasal dari Samosir (daerah yang dipercayai sebagai asal-usul suku Batak Toba) dan termasuk kelompok marga-marga yang disebut Parna (PomparAn ni Raja Nai Ambaton). Paham ini banyak ditentang oleh Marga Saragih karena belum adanya dokumen yang mendukung hal ini dan terutama karena bertentangan dengan isi pustaha (dokumen tua Simalungun) dan buku tarombo (silsilah dan sejarah marga) yang diteruskan secara turun temurun di kalangan marga Saragih.

Submarga Saragih
Saragih terdiri dari banyak sub-marga, antara lain:

1. Garingging
1. Dasalak
2. Dajawak
3. Permata
2. Damuntei
3. Sumbayak
4. Siadari
5. Siallagan
6. Sidabalok
7. Sidabukke
8. Sidabutar
9. Sidauruk
10. Sigalingging
11. Sijabat
12. Simanihuruk
13. Simarmata
14. Sitanggang
15. Sitio
16. Napitu
17. Rumahorbo
18. Tamba
19. Tinambunan
20. Turnip
21. Nasionggang
22. Saing

Tokoh terkenal
Tokoh-tokoh terkenal yang termasuk dalam marga Saragih adalah:
  • H. A. Yunus Saragih, Bupati Langkat
  • "Bill" Amirsjah Rondahaim Saragih Garingging, musisi jazz terkenal yang lama merantau ke luar negri
  • Prof. Dr. Bungaran Saragih, menteri Pertanian di kabinet Indonesia Bersatu dan Kabinet Gotong Royong Pemerintahan Indonesia.
  • Edy Aman Saragih, Bupati pertama Kabupaten Nias Selatan.
  • Henry Saragih, koordinator Internasional La Via Campesina dan Ketua Umum Serikat Petani Indonesia (SPI).
  • Guru Jason Saragih, Bapak / Pelopor Pendidikan Simalungun.
  • dr. Djasamen Saragih, warga Simalungun pertama yang menjadi Dokter
  • Pdt. Jaulung Wismar Saragih Sumbayak
o Orang Simalungun pertama yang menjadi seorang pendeta.
o Penyusun Kamus Simalungun pertama.
o Orang Indonesia pertama yang menterjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Nusantara (bahasa Simalungun)
  • Kimar Saragih, ketua Pengadilan Tinggi Sumatera Utara.
  • Kristupa Saragih, fotografer terkenal Indonesia dan pengasuh dari fotografer.net.
  • Muhar Omtatok
  • Budayawan & Spritualis,
o Ketua Forum Komunikasi Paranormal & Penyembuh Alternatif Ind - FKPPAI Sumut
o Ketua Umum Majelis Kaji Metafisika
o Sekretaris Umum Yayasan Simalungun Sauhur
  • Tuan Rondahaim Saragih Garingging, raja Raya, pejuang yang ditunjuk menjadi raja goraha (panglima perang) kerajaan-kerajaan di Simalungun dalam melawan Belanda.
  • Tambah Tuah Saragih, (lebih dikenal dengan julukan Pangulu Damak) spiritualis
  • TS Mardjans Saragih, mantan Danrem Kalimantan Barat dan Kasdam Tanjung Pura
SINAGA

Pada masyarakat Simalungun marga Sinaga merupakan bagian dari perkumpulan empat marga besar SISADAPUR. Pada versi lain, Sinaga juga dianggap sebagai salah satu marga pada Suku bangsa Batak yang berasal dari Pulau Samosir.

Asal-usul

Versi Batak
Menurut versi Batak, Sinaga adalah satu diantara marga-marga tertua di dalam kumpulan Marga Suku Batak. Dalam cerita masyarakat Batak, Raja Batak memiliki anak yang bernama Guru Tetea Bulan yang menikahi Putri Khayangan dan melahirkan dua anak yaitu Nai Lontungan dan Sumba. Nai Lontungan kemudian memiliki 5 putra yaitu Raja Uti, Saribu Raja, Limbong Mulana, Sagala Raja, Silau Raja, dan 1 putri yaitu Boru Pareme. Saribu Raja menikahi Boru Pareme dan memiliki keturunan yang diberi nama Si Raja Lontung. Si Raja Lontung menikahi Ibu Kandungnya tadi dan memiliki 4 anak, yaitu: Sinaga, Situmorang, Pandiangan dan Nainggolan. Si Raja Lontung kemudian merantau ke Tepian Danau Toba dan menikah dengan Boru Limbong dan memiliki anak 3 anak (Simatupang, Aritonang dan Siregar) dan 2 orang putri yang masing-masing menikah dengan marga Sihombing dan Simamora. Anak Si Raja Lontung yang pertama yaitu Sinaga memiliki Tiga Putra yaitu:

1. Bonor
2. Ratus
3. Uruk.

Ketiga anaknya ini kemudian masing-masing memiliki Tiga Putra.

Berdasarkan silsilah diataslah maka di Marga Sinaga terdapat sebuah Istilah yaitu Si Sia Ama, Si Tolu Ompu yang berarti "memiliki Sembilan Bapak dan Tiga Ompu(kakek)."

Dalam perkembangannya Keturunan Sinaga merantau ke seluruh wilayah Tanah Batak, hal tersebut mengakibatkan terciptanya marga-marga baru (sub Marga) Sinaga, namun marga-marga baru tersebut tetap meyakini bahwa leluhur mereka adalah Sinaga. Adapun Marga-Marga tersebut antara lain Parangin-angin (Karo).

Versi Simalungun
Menurut versi Simalungun, Sinaga menjadi salah satu dari 4 marga asli suku Simalungun saat terjadi “Harungguan Bolon” (permusyawaratan besar) antara 4 raja besar (Raja Nagur, Raja Banua Sobou, Raja Banua Purba, Raja Saniang Naga) untuk tidak saling menyerang dan tidak saling bermusuhan (marsiurupan bani hasunsahan na legan, rup mangimbang munssuh).

Keturunan dari Raja Saniang Naga di atas adalah marga Sinaga di Kerajaan Tanah Jawa, Batangiou di Asahan. Saat kerajaan Majapahit melakukan ekspansi di Sumatera pada abad XIV, pasukan dari Jambi yang dipimpin Panglima Bungkuk melarikan diri ke kerajaan Batangiou dan mengaku bahwa dirinya adalah Sinaga. Menurut Taralamsyah Saragih, nenek moyang mereka ini kemudian menjadi raja Tanoh Djawa dengan marga Sinaga Dadihoyong setelah ia mengalahkan Tuan Raya Si Tonggang marga Sinaga dari kerajaan Batangiou dalam suatu ritual adu sumpah (Sibijaon).
Beberapa sumber mengatakan bahwa Sinaga keturunan raja Tanoh Djawa berasal dari India, salah satunya adalah menurut Tuan Gindo Sinaga keturunan dari Tuan Djorlang Hatara. Beberapa keluarga besar Partongah Raja Tanoh Djawa menghubungkannya dengan daerah Naga Land (Tanah Naga) di India Timur yang berbatasan dengan Myanmar yang memang memiliki banyak persamaan dengan adat kebiasaan, postur wajah dan anatomi tubuh serta bahasa dengan suku Simalungun dan Batak lainnya.

Submarga Sinaga

Perbauran suku asli Simalungun dengan suku-suku di sekitarnya menimbulkan afiliasi marga-marga lain dengan Sinaga. Marga-marga tersebut antara lain Sipayung, Sihaloho, Sinurat, dan Sitopu.

Tokoh terkenal
  • Dolorosa Sinaga, pematung terkenal Indonesia
  • MSM Sinaga, mantan Bupati Kabupaten Tapanuli Utara
  • Saktiawan Sinaga, atlet sepak bola anggota tim nasional Indonesia
DAMANIK
Damanik berarti Simada Manik (pemilik manik), yang mana dalam bahasa Simalungun Manik berarti Tonduy, Sumangat, Tunggung, Halanigan (bersemangat, berkharisma, agung/terhormat, paling cerdas).

Asal-usul

Beberapa versi sumber sejarah menyatakan bahwa leluhur marga Damanik dan marga-marga lain dalam Suku Simalungun berasal dari Nagore (India Selatan) dan pegunungan Assam (India Timur) di sekitar abad ke-5, menyusuri Birma, ke Siam dan Malaka untuk selanjutnya menyeberang ke Sumatera Timur dan mendirikan kerajaan Nagur dari Raja dinasti Damanik.

Tuan Taralamsyah Saragih menceritakan bahwa rombongan yang terdiri dari keturunan dari 4 Raja-raja besar dari Siam dan India ini bergerak dari Sumatera Timur ke daerah Aceh, Langkat, daerah Bangun Purba, hingga ke Bandar Kalifah sampai Batubara.

Pada abad ke-12, keturunan Raja Nagur mendapat serangan dari Raja Rajendra Chola dari India, yang mengakibatkan terusirnya mereka dari Pamatang Nagur di daerah Pulau Pandan hingga terbagi menjadi 3 bagian sesuai dengan jumlah puteranya:
  • Marah Silau (yang menurunkan Raja Manik Hasian, Raja Jumorlang, Raja Sipolha, Raja Siantar, Tuan Raja Sidamanik dan Tuan Raja Bandar)
  • Soro Tilu (yang menurunkan marga raja Nagur di sekitar gunung Simbolon: Damanik Nagur, Bayu, Hajangan, Rih, Malayu, Rappogos, Usang, Rih, Simaringga, Sarasan, Sola)
  • Timo Raya (yang menurunkan raja Bornou, Raja Ula dan keturunannya Damanik Tomok)
Selain itu datang marga keturunan Silau Raja, Ambarita Raja, Gurning Raja, Malau Raja, Limbong, Manik Raja yang berasal dari Pulau Samosir dan mengaku Damanik di Simalungun.

PURBA

Secara Etimologi Purba berasal dari bahasa Sanskerta, purwa yang berarti timur. Arti lainnya adalah gelagat masa datang, pegatur, pemegang Undang-undang, tenungan pengetahuan, cendekiawan/sarjana.

Kerajaan Purba
Purba adalah marga dari Raja di kerajaan Banua Purba, salah satu kerajaan yang pernah ada di daerah Simalungun. Raja Purba memiliki keturunan: Tambak, Sigumonrong, Tua, Sidasuha (Sidadolog, Sidagambir). Kemudian ada lagi Purba Siborom Tanjung, Pakpak, Girsang, Tondang, Sihala, Raya.

Pada abad ke-18 ada beberapa marga Simamora dari Bakkara melalui Samosir untuk kemudian menetap di Haranggaol dan mengaku dirinya Purba. Purba keturunan Simamora (kemungkinan Purba Sigulang Batu) ini kemudian menjadi Purba Manorsa dan tinggal di Tangga Batu dan Purbasaribu. Sebagian orang percaya bahwa keturunan Simamora inilah yang menjadi leluhur marga Purba yang ada di daerah Simalungun. Keturunan Simamora ini menetap dan beranak cucu di daerah tersebut dan keturunannya dianggap sebagai orang Simalungun dan bukan lagi keturunan orang Toba (beda dengan Purba Sigulang Batu), yang menjadi leluhurnya. semakin lama keturunan Purba ini semakin banyak hingga jumlahnya menjadi lebih besar dari Purba Sigulang Batu yang tidak merantau ke tanah Simalungun.

Pada tahun 1996, salah satu putra dari Raja Siboro diculik dan dinyatakan menghilang berserta ketiga saudaranya.

Raja-Raja Kerajaan Purba

1. Tuan Pangultop Ultop (1624-1648)
2. Tuan Ranjiman (1648-1669)
3. Tuan Nanggaraja (1670-1692)
4. Tuan Batiran (1692-1717)
5. Tuan Bakkaraja (1718-1738)
6. Tuan Baringin (1738-1769)
7. Tuan Bona Batu (1769-1780)
8. Tuan Raja Ulan (1781-1769)
9. Tuan Atian (1800-1825)
10. Tuan Horma Bulan (1826-1856)
11. Tuan Raondop (1856-1886)
12. Tuan Rahalim (1886-1921)
13. Tuan Karel Tanjung (1921-1931)
14. Tuan Mogang (1933-1947)

Submarga Purba
Purba terdiri dari banyak sub-marga, antara lain:

1. Girsang
1. Girsang Jabu Bolon
2. Girsang Na Godang
3. Girsang Parhara
4. Girsang Rumah Parik
5. Girsang Bona Gondang
2. Pakpak
3. Raya
4. Siboro
5. Siborom Tanjung
6. Sidasuha
1. Sidadolog
2. Sidagambir
7. Sigumonrong
8. Sihala
9. Silangit
10. Tambak
11. Tambun Saribu
12. Tanjung
13. Tondang
14. Tua

Selain dari sub marga di atas, beberapa suku yang hidup di sekitar daerah Simalungun juga berbaur dengan penduduk bermarga Purba dan mengakibatkan timbulnya afiliasi marga-marga lain dengan marga Purba, antara lain: Manorsa, Simamora, Sigulang Batu, Parhorbo, Sitorus dan Pantomhobon.

Purba Tanjung
Purba Tanjung berasal dari Sipinggan, Simpang Haranggaol, Kecamatan Purba, Kabupaten Simalungun. Beberapa sumber menyatakan bahwa "Tanjung" pada marga ini berasal dari lokasi kampung Sipinggan yang merupakan sebuah Tanjung di Danau Toba, arah Haranggaol.

Keturunan Purba Tanjung berasal dari garis keturunan Ompung Marsahan Omas (dalam bahasa Indonesia berarti Bercawan Emas, karena kebiasaannya minum dari cawan Emas), yang adalah keturunan Purba Parhorbo. Marsahaan Omas memiliki keturunan bernama Bongguran yang memiliki kebiasaan "maranggir" (mandi air jeruk purut) di sekitar kampung Nagori, dengan menggunakan cawan emas.

Marsahan Omas memiliki 3 keturunan:

1. Tuan Siborna
2. Nahoda Raja
3. Namora Soaloon

Nahoda Raja memiliki anak bernama Raja Omo yang merupakan Purba Tanjung pertama yang bermukim di Sipinggan.

Daftar silsilah Purba Tanjung adalah sebagai berikut:

1. Raja Omo
2. Raja Girahma
3. Raja Na Ijombai Gabur
4. Raja Napinajongjong
5. Raja Silou
6. Raja Daniel Igor Jakarta (3 bersaudara), menghilang
7. Raja Pusia
8. Paulus Purba Tanjung (6 bersaudara)
9. Markus Purba Tanjung (P Siantar)
10. James M. Purba Tanjung (Bandung)
11. Gabriel Radewa Purba Tanjung (Bandung)

Tokoh terkenal
  • Pdt. Belman Purba Dasuha, Ephorus GKPS 2005-2010
  • Ir. Guntur S. Siboro, ME,MBA, Professional, mantan Direktur PT. Indosat, Tbk
  • Drs. Jabintang Siboro, Birokrat dan Tokoh Marga Siboro se - JABODETABEK
  • Drs. James P. Siboro, Konsultan Keuangan dan Tokoh Marga Siboro se - JABODETABEK
  • Juniver Girsang, Advokat
  • Junimart Girsang, Advokat
  • Kompol Kolestra Siboro, SH (Polri)
  • Ir. Laras Siboro, Professional, PT. Telkom, Tbk
  • Drs. Makmur Adrianus Siboro., MEngSc, Birokrat
  • AKBP. Mestron Siboro, SH
  • Polim Siboro,SH, Birokrat
  • Rusman Purba Siboro, SH, Ahli Hukum
  • Drs. Slamat Purba Siboro, Birokrat Keuangan
  • Kapten (Mar) Suparman Siboro
  • Yan Apul H. Girsang, Advokat dan Pengajar
  • Rudiaman Purba Tamsar,General Manajer GWK Jambi
  • Jan Horas Veryady Purba



Artikel Terkait



Comments

2 Responses to “ASAL USUL MARGA_MARGA SIMALUNGUN”
Post a Comment | Poskan Komentar (Atom)

Trims Bang Jhony Pehulisa Sembiring atas topic yang bertanggungjawab. :-)

Tidak pada kebanyakan pada topic2 ttg sejarah batak toba yang "raja batak"nya tak jelas hidup tahun berapa. Sungguh dalam pembelajaran ttg Sejarah, logika penanggalan harus jelas. Sejarah Saragih Garingging dalam buku karangan Taralamsyah membuktikan bahwa Saragih Garingging sama sekali bukan lah diaspora dari PARNA (mereka sebut keturunan Raja Nai Ambaton).

Sesungguhnya, sangat dongkol rasanya jika marga kami (Saragih Garingging - Sumbayak dan beberapa lainnya di Simalungun) selalu dikaitkan dgn mitologi sebuah kepercayaan spt kata mereka. Klaim2 seperti itu sudah lama menjadikan banyak keturunan Saragih Garingging kehilangan identitas kebesaran leluhurnya dan hilang jati diri sebagai seorang Simalungun.

DAn hal itu juga dirasakan oleh Orang Karo yang sejarahnya sering diklaim oleh crita2 penganut Pusuh Buhit - isme.

Thanks
Dany Tupama Saragih
-Garingging-
(bukan PARNA)

atensi penuh atas peran serta bung jhony. Tapi ada baiknya uraian anda yang cenderung retorik akademis disertai referensi ilmiah yang kuat. agar tidak terkesan tuturan dongeng yang di dapat dari foklor tetua. Lebih baik lagi bila disertai bukti ilmiah. Namun gitupun kita puji apresiasi anda. Mengingat dari 3 (tiga) turunan marga sinaga, yang kami tau dari kitab simalungun dohot boruna, terdapat 11 turunan marga sinaga. Semoga ini menjadi masukan positif. dragonmedan

 
mejuah juah | Blogger Template Design By LawnyDesigns Powered by Blogger