APA ITU HORMON?

Minggu, 14 Maret 2010

Hormon adalah zat kimiawi yang dihasilkan tubuh secara alami. Begitu dikeluakan, hormon akan dialirkan oleh dara menuju berbagai jaringan sel dan menimbulkan efek tertentu sesuai dengan fungsinya masing-masing. Contoh efek hormon pada tubuh manusia:
1. Perubahan Fisik yang ditandai dengan tumbuhnya rambut di daerah tertentu dan bentuk tubuh yang khas pada pria dan wanita (payudara membesar, lekuk tubuh feminin pada wanita dan bentuk tubuh maskulin pada pria).

2. Perubahan Psikologis: Perilaku feminin dan maskulin, sensivitas, mood/suasana hati.

3. Perubahan Sistem Reproduksi: Pematangan organ reproduksi, produksi organ seksual (estrogen oleh ovarium dan testosteron oleh testis).

Di balik fungsinya yang mengagumkan, hormon kadang jadi biang keladi berbagai masalah. Misalnya siklus haid yang tidak teratur atau jerawat yang tumbuh membabi buta di wajah. Hormon pula yang kadang membuat kita senang atau malah sedih tanpa sebab. Semua orang pasti pernah mengalami hal ini, terutama saat pubertas.Yang pasti, setiap hormon memiliki fungsi yang sangat spesifik pada masing-masing sel sasarannya. Tak heran, satu macam hormon bisa memiliki aksi yang berbeda-beda sesuai sel yang menerimanya saat dialirkan oleh darah.

Pada dasarnya hormon bisa dibagi menurut komposisi kandungannya yang berbeda-beda sebagai berikut:

· Hormon yang mengandung asam amino (epinefrin, norepinefrin, tiroksin dan triodtironin).

· Hormon yang mengandung lipid (testosteron, progesteron, estrogen, aldosteron, dan kortisol).

· Hormon yang mengandung protein (insulin, prolaktin, vasopresin, oksitosin, hormon pertumbuhan (growth hormone), FSH, LH, TSH).

Hormon-hormon ini bisa dibuat secara sintetis. Di antaranya adalah hormon wanita yaitu estrogen dan progesteron yang dibuat dalam bentuk pil. Pil ini merupakan bentuk utama kontrasepsi yang digunakan wanita seluruh dunia untuk memudahkan mereka menentukan saat yang tepat: kapan harus mempunyai anak dan jarak usia tiap anak.

HORMON WANITA

Hormon wanita terutama dibentuk di ovarium (hormon pria dibentuk di testis). Baik pria maupun wanita, pada dasarnya memiliki jenis hormon yang relatif sama. Hanya kadarnya yang berbeda. Hormon seksual wanita antara lain progesteron dan estrogen. Hormon seksual pria antara lain androstenidion dan testosteron (androgen). Pada wanita, hormon seksual kewanitaannya lebih banyak ketimbang pria. Begitu pula sebaliknya.

ESTROGEN

Estrogen merupakan bentukan dari androstenidion (hormon seksual pria yang utama) yang dihasilkan ovarium. Selain androstenidion, ovarium juga mengeluarkan testosteron dan dehidroepiandrosteron, tapi dalam jumlah yang sedikit.

HORMON PROGESTERON.

Hormon ini merupakan bentukan dari pregnenolon yang dihasilkan oleh kelenjar dan berasal dari kolesterol darah.

TESTOSTERON dan DEHIDROEPIANDROSTERON.

Hormon ini yang juga diproduksi oleh ovarium tetapi dalam jumlah yang sangat sedikit. Hormon ini dibutuhkan oleh wanita karena berhubungan dengan daya tahan tubuh dan libido (gairah seksual).

EFEK HORMON TERHADAP WANITA

Hormon-hormon pada tubuh wanita berperan penting dalam perjalanan hidupnya termasuk pada keindahan kulit. Berikut ini adalah peran ketiga hormon utama wanita:

=> Hormon Estrogen:

- Mempertahankan fungsi otak.

- Mencegah gejala menopause (seperti hot flushes) dan gangguan mood.

- Meningkatkan pertumbuhan dan elastisitas serta sebagai pelumas sel jaringan (kulit, saluran kemih, vagina, dan

pembuluh darah).

- Pola distribusi lemah di bawah kulit sehingga membentuk tubuh wanita yang feminin.

- Produksi sel pigmen kulit.

Estrogen juga mempengaruhi sirkulasi darah pada kulit, mempertahankan struktur normal kulit agar tetap lentur,

menjaga kolagen kulit agar terpelihara dan kencang serta mampu menahan air.

=> Hormon Progesteron:

Sebenarnya hormon ini tidak terlalu berhubungan langsung dengan keadan kulit tetapi sedikit banyak ada

pengaruhnya karena merupakan pengembangan estrogen dan kompetitor androgen. Fungsi utama hormon

progesteron lebih pada sistem reproduksi wanita, yaitu:

- Mengatur siklus haid.

- Mengembangkan jaringan payudara.

- Menyiapkan rahim pada waktu kehamilan.

- Melindungi wanita pasca menopause terhadap kanker endometrium.

=> Hormon Androgen:

Hormon ini berfungsi untuk:

- Merangsang dorongan seksual.

- Merangsang pembentukan otot, tulang, kulit, organ seksual dan sel darah merah.

Hormon ini cukup berpengaruh pada penampilan kulit dan pertumbuhan rambut, yaitu dengan menstimulasi akar rambut dan kelenjar sebum (kelenjar minyak) yang terletak di bagian atas akar rambut.

Kelenjar sebum menghasilkan sekresi lemak atau minyak yang berfungsi melumasi rambut dan kulit. Tetapi bila berlebihan minyak ini akan memicu tumbunya akne atau jerawat, sehingga mengganggu keindahan penampilan kulit. Gangguan kelenjar sebum juga bisa mengakibatkan alopesia androgenika (kebotakan), terutama pada pria. Sebaliknya pada wanita, ketidakseimbangan hormon Androgen (hormonal imbalance) bisa menyebabkan hirsutisme di mana rambut tumbuh berlebihan di daerah-daerah yang tidak semestinya.

Aktivitas kelenjar sebum sangat dipengaruhi hormon androgen. Kerja kelenjar ini memuncak pada saat seseorang mencapai masa pubertas. Semakin tinggi tingkat kerjanya, semakin banyak pula sekresi yang dihasilkan kelenjar ini. Sekresi kelenjar sebum pada pria lebih tinggi secara signifikan ketimbang pada wanita. Tak heran kulit wajah pria tampak lebih berminyak dibanding wanita. Efek kerja kelenjar sebum mulai berkurang pada wanita sesaat menjelang menopause.

Hiper-androgen pada wanita dengan ciri-ciri aktivitas hormon androgen melebihi normal ternyata merupakan masalah yang cukup umum terjadi walaupun belum diketahui penyebabnya dan mempengaruhi 10-20% wanita usia reproduktif.

Gejala Hiper-Androgen pada kulit wanita.

Seperti telah dijelaskan sebelumnya, hormon androgen yang berlebih akan mengakibatkan efek negatif pada kulit dan kecantikan wanita. Walaupun bukan merupakan kondisi yang fatal tetapi bisa berefek sosial-psikologis dan mengurangi rasa percaya diri bahkan mempengaruhi kualitas hidup. Gejala-gejala itu antara lain:

+ Kulit berminyak dan komedo. Kondisi ini merupakan cikal bakal gejala yang lebih parah seperti ketombe dan jerawat.

Berlebihnya produksi minyak di kulit wajah dipengaruhi oleh:

- Tingginya kadar androgen bebas yang akan memicu aktivitas kelenjar minyak dan sebum.

- Meningkatnya kepekaan target organ atau sebum terhadap androgen sehingga walaupun kadar androgen bebas dalam

batas normal aktivitas sebum tetap meningkat.

+ Akne / Jerawat. Banyak faktor yang dapat memicu timbulnya jerawat antara lain komedo, minyak dan peradangan

(inflamasi). Belum lagi ada pula pengaruh dari luar seperti pemakaian kosmetik yang bisa menyumbat aliran sekresi

kelenjar sebum ke permukaan apa lagi dalam jangka panjang ditambah kondisi iklim tropis yang panas

dan lembab.

+ Hirsutisme. Sekitar 5-8% wanita usia reproduktif menderita hirsutisme yaitu pola pertumbuhan atau distribusi rambut

menyerupai pria (male hair pattern), misalnya di atas bibir, dagu, dada, pinggang dan paha. Ada 40-80% dari penderita

ini menunjukkan peningkatan produksi testosteron dari 200-300 juta (microgram) per hari menjadi 700-800 juta per hari.

+ Alopesia Androgenika (kebotakan). Gejala ini merupakan kebalikan dari hirsutisme.

Penyebabnya sama:ketidakseimbangan androgen. Masalah kebotakan ini biasa dialami oleh pria. Rambut hilang

secara perlahan-lahan di daerah dahi, terus menjalar ke daerah ubun-ubun dan meluas secara lambat atau cepat ke

seluruh bagian atas kepala.

Gejala Hiper-Androgen secara sistemik.

Selain gangguan pada kulit, ketidakseimbangan hormon androgen juga berpengaruh secara sistemik yang ditandai dengan gejala-gejala seperti pada sistem reproduksi berupa:

+ Gangguan siklus menstruasi, a-menore (nyeri haid), dan an-ovulasi.

Siklus haid yang tidak teratur merupakan gejala ketidakseimbangan hormonal dan sedikit banyak berpengaruh pada

tingkat kesuburan seorang wanita. Jika siklus haid Anda tidak teratur lebih dari 3 bulan berturut-turut, sebaiknya

konsultasikan dengan ginekolog, karena jika tidak mendapat penanganan yang serius dapat menyebabkan berbagai

perubahan morfologis pada rahim yang disebut PCOS (Poly – Cystic - Ovarian – Syndrome) dan dalam jangka panjang

bisa menyebabkan infertilitas (mandul).

+ Abnormalitas metabolisme tubuh. Gejala yang tampak antara lain:

- Profil lemak yang tidak normal (obesitas atau terlalu kurus).

- Resistensi insulin sehingga berakibat peningkatan resiko kencing manis (diabetis mellitus).

- Peningkatan resiko penyakit jantung (kardiovaskular).

sumber: http://members.tripod.com/layananebook/hormon.htm

Klick disini untuk baca selengkapnya....

PERMASALAHAN REPRODUKSI REMAJA DAN ALTERNATIF JALAN KELUARNYA

Dengan kemajuan pembangunan, masalah kependudukan di Indonesia sekarang tidak lagi sepenuhnya terpusat pada jumlah penduduk melainkan pada kualitas penduduknya. Remaja merupakan aset bangsa untuk terciptanya generasi mendatang yang baik. Perubahan alamiah dalam diri remaja sering berdampak pada permasalahan remaja yang cukup serius. Tulisan ini khusus membahas tentang masalah perilaku reproduksi remaja dan pemikiran untuk mencari jalan keluarnya
Perubahan di masa remaja

Membahas masalah perilaku reproduksi remaja tidak dapat dilepaskan dari pertumbuhan dan perkembangan yang sedang terjadi pada diri mereka. Terdapat tiga area perubahan vital yang terjadi pada masa remaja, yaitu perubahan dalam pertumbuhan fisik menyangkut pertumbuhan dan kematangan organ reproduksi, perubahan bersosialisasi dan perubahan kematangan kepribadian.

Perubahan Fisiologis

Perkembangbiakan atau reproduksi pada mamalia ditandai oleh beberapa tahapan spesifik, dimulai dengan tahap immaturitas atau masa bayi dan anak-anak, tahap pubertas yaitu masa sekolah dan pra-remaja, tahap maturitas atau masa remaja, dewasa muda dan dewasa tahap menopause atau masa baya, tahap ketuaan dan berakhir dengan kematian.

Pada wanita, mulai berfungsi system reproduksi ditandai dengan datangnya haid pertama yang lazim disebut “menarche” umumnya terjadi di usia 10-14 tahun. Tanda pertama kepriaan adalah terjadinya ereksi, orgasmus dan eyakulasi. Fungsi reproduksi pria dapat bertahan sampai tua (70 bahkan 80 tahun) namun hanya sampai usia 45-50 tahun pada wanita.

Perineum adalah daerah pada tulang kemaluan dengan anus. Pada perineum terdapat terdapat organ genitalia eksternal wanita, terdiri dari: mons veneris, clitoris, labia mayora, labia minoravestibula, dan clitoris. Organ reproduksi wanita yang terletak di dalam panggul adalah rahim atau uterus, vagina, saluran fallopi dan ovarium (indung sel telur)

Pada pria, organ genitalia eksternal terdiri dari penis, dan scrotum. Organ reproduksi pria yang terletak di dalam panggul adalah vas deferens, vasikula seminalis, dan kelenjar prostate. Sementara cairan sperma dikeluarkan oleh kelenjar prostate ini, berbentuk kelenjar yang melingkari uretha tepat di bawah kandung kemih.

Organ utama dari reproduksi mamalia disebut gonad, yaitu ovarium pada wanita dan testis pada pria. Ovarium membentuk ovum (telur) yang siap dibuahi oleh hormon estrogen serta progesterone, yang diperlukan untuk mengembangkan dan memelihara sifat-sifat kewanitaan, termasuk mempersiapkan kehamilan. Testes yang terletak di dalam scrotum pria, memproduksi dan menyimpan sperma dan hormone androgen (terutama hormone testosterone) yang berfungsi mengembangkan dan memelihara sifat-sifat kepriaan.

Ciri seksual sekunder baik pada pria maupun pada wanita belum muncul sampai dengan masa pubertas yaitu pada umur 10-14 tahun. Secara fisik cirri seksual sekunder tampak nyata pada masa remaja, di mana pada pria terjadi perubahan suara, tumbuh kumis jenggot tumbuh dan bentuknya rambut pubis timbulnya jakun dan semakin melebarnya bentuk otot-otot bahu dan dada. Pada wanita tumbuh dan terbentuknya rambut pubis, bulu ketiak dan pembesaran payudara.

Pertumbuhan system reproduksi pada pria terjadi lima tahap yaitu tahap infatil, tahapan pembesaran scrotum, penyempurnaan bentuk serta perubahan warna scrotum dan diakhiri dengan tahapan pematangan. Tahap kedua pada umumnya tercapai pada umur 12 tahun sedang tahap kelima tercapai sekitar 17 tahun.

Proses Sosialisasi

Manusia adalah mahluk hidup yang terikat dengan manusia sekitarnya. Perkembangan proses bersosialisasi pada masa remaja dan pemuda di tandai dengan mulai terjadinya hubungan antar jenis. Mereka yang pada tahap pubertas cenderung lebih berkawan dengan lawan jenis, pada masa ini mulai menaruh perhatian pada lawan jenis. Pengaruh hormone dan pertumbuhan bentuk fisik yang mulai memberi ciri wanita dan pria yang mulai menyebabkan para remaja mulai mengalihkan perhatiannya kepada lawan jenis.

Beberapa penelitian mengenai penelitian heteroseksual remaja kota mengungkapkan bahwa remaja kota masa kini cenderung mempunyai system nilai yang lebih longgar dalam interkasi heteroseksualnya dibandingkan dengan beberapa tahun lalu.

Perkembangan proses heteroseksual remaja merupakan bagian penting dari perkembangan hubungan gejalanya secara menurun. Proses ini merupakan hasil komples dari interaksi biologis , psikologis, dan norma sosial yang berlaku.

Perkembangan kepribadian

Pada masa remaja, labilnya emosi erat kaitannya dengan hormon dalam tubuh. Sering terjadi letusan emosi dalam bentuk amarah, sensitif, bahkan perbuatan nekad. Dennis dan Hasol menyebutnya sebagai “time of upheavel and turbulence “.

Ketidak stabilan emosi menyebabkan mereka mempunyai rasa ingin tahu dan dorongan untuk mencari tahu. Pertumbuhan kemampuan intelektualisme pada para remaja membuat mereka cenderung bersikap kritis, tersalur melalui perbuatan-perbuatan yang bersifat eksperimen dan eksploratif. Tindakan dan sikap semacam ini bila dibimbing dan diarahkan dengan baik tentu berakibat konstruktif dan berguna. Masalahnya adalah sering remaja jatuh ke dalam “peer group” atau sekelompok orang yang bukannya mengarahkan namun cenderung memanfaatkan potensi tersebut untuk perbuatan yang negatif sehingga mereka terjerumus ke dalam kegiatan-kegiatan yang tidak bermanfaat, menggangu, membahayakan bahkan destruktif.
Pengaruh-pengaruh luar dan perilaku reproduksi remaja.

Dalam GBHN tahun 1943 telah digariskan bahwa sasaran kebijaksanaan pengembangan kualitas penduduk adalah terwujudnya kualitas penduduk sebagai sumber daya insani guna pembangunan yang berkelanjutan.

Meningkat dan makin eratnya hubungan antar bangsa di dunia ini merupakan salah satu faktor positif dari globalisasi, dan turut mendorong pembangunan bangsa. Salah satu dampak nyata pembangunan di Indonesia adalah meningkatnya status gizi dan makin meratanya pelayanan kesehatan di Indonesia. Berbagai penelitian telah membuktikan bahwa terdapat korelasi positif antara peningkatan status gizi dengan membaiknya pertumbuhan dan kematangan fungsi sistem reproduksi manusia. Dengan gizi yang lebih baik, menarche terjadi pada usia yang lebih muda dan menopause terjadi pada usia yang lebih tua. Di masa reproduksi seseorang akan menjadi lebih panjang. Hormon seksual juga bekerja lebih lama dan proses penuaanpun diperlambat. Dalam 10 tahun ini usia wanita dan pria di Indonesia meningkat jauh dibandingkan dengan beberapa tahun sebelumnya.

Akibat lain adalah terjadinya suatu transisi demografi menimbulkan perubahan/ memberikan gambaran khas dalam struktur penduduk di mana transisi sementara adalah adanya kelompok usia remaja/pemuda dalam persentase besar dan diikuti dengan perubahan penuaan penduduk yang menetap. Menurut Proyeksi Penduduk Indonesia 10) jumlah penduduk di bawah usia 15 tahun akan mengalami penurunan sekitar 2 % selama 5 tahun (1 993 – 1 998) ini, atau sekitar 0,4 % setahunnya. Sebaliknya, jumlah penduduk usia produktif, yaitu penduduk usia 15 – 60 tahun justru mengalami kenaikan sebesar 12,6 % selama 5 tahun ini atau sekitar 2,5 % setahunnya.

Penundaan usia kawin di kalangan remaja dan pemudi merupakan salah satu perubahan yang signifikan di Asia dalam abad ke 20 ini., Di Korea misalnya, pada tahun 1930, hanya 1 dari 3 wanita usia 1 5 – 1 9 tahun belum menikah, namun di tahun 1980, ketiganya belum menikah. Data menunjukkan bahwa perubahan usia kawin ini lebih menonjol terjadi pada kaum wanita. Di Bangladesh dan Thailand, perubahan rasio pria dan wanita remaja yang belum menikah menurun drastis sebagai berikut: untuk Bangladesh, rasio 12,7 di tahun 1950 menjadi 2,17 di tahun 1990. Di Thailand, rasio 1,81 di tahun 1950 menjadi 1.16 di tahun 1990.

Remaja dan pemuda belum menikah menjadi katagori sosial yang sangat penting. Penundaan usia kawin diasumsikan akan berakibat pada penundaan kehamilan, yang merupakan potensi untuk mengurangi laju pertumbuhan penduduk. Seorang pakar kebidanan menyatakan bahwa walaupun ibu dalam kondisi sehat. 3 % dari ibu-ibu yang baru pertama kali hamil pada usia di atas 35 tahun melahirkan bayi dengan kelainan yang disebut ” Down Syndrome” yaitu kelainan yang ditandai dengan rendahnya kecerdasan anak dan adanya pertumbuhan gangguan fisik.

Dalam dua decade terakhir ini, muncul penyakit yang paling ditakuti yaitu AIDS sejalan dengan makin dekatnya hubungan antar Negara dan makin berkembangnya sengit pariwisata AIDS merambah terus keberbagai negara. Selain ancaman AIDS dengan aktifnya perilaku seksual remaja, merekapun tidak luput dari resiko penyakit-penyakit yang ditularkan memalui hubungan seksual seperti gonnorhoea, syphilis, veruca vaginalis, dan sebagainya.

Menarik sekali untuk diketahui justru dengan adanya AIDS, persentase remaja Amerika Serikat yang melakukan hubungan seksual pranikah mengalami penurunan, dari 54% pada tahun 1990 menjadi 33% pada tahun 1993. Survei ini juga memperlihatkan 92% remaja AS mengaku waspada terhadap virus AIDS, serta 80% dari yang pernah melakukan hubungan seksual pranikah mengaku selalu memakai kondom.

Media masa dan media cetak seringkali memegang peranan yang tidak kecil dalam hal khayalan seksual remaja dengan perlu meyadari bahwa informasi selain memperluas wawasan dan pengetahuan juga membawa nilai-nilai dari Negara asal informasi tersebut. Adanya kecenderungan pada daya tarik fisik dan seksual dalam berbagai media periklanan, membuat remaja makin sulit mengontrol dorongan seksualnya.

Kehamilan pranikah di usia muda merupakan salah satu dampak negatif dari globalisasi di mana pergaulan bebas, longgarnya norma-norma sosial serta derasnya arus informasi menjadi beberapa faktor penyebab.

Kehamilan merupakan salah satu trauma psikis, terutama bila dialami pertama kali oleh wanita yang masih belum stabil. Implikasi kehamilan muda usia dapat bersifat medik dan sosial. Beberapa penelitian secara signifikan menyatakan bahwa Berat Badan Lahir Rendah dan kematian perinatal cenderung lebih banyak dialami oleh bayi-bayi yang dilahirkan oleh ibu usia muda.

Implikasi sosial yang sering terjadi adalah menarik diri dari sekolah, bahkan menarik diri dari lingkungan keluarga, dengan cara pindah-pindah ke kota lain yang justru menghadapkanya pada permasalahan baru.

Untuk konteks Indonesia, besar dan dampak perubahan-perubahan akibat globalisasi kiranya perlu dibedakan menurut ukuran pedesaan dan perkotaan, terlebih-lebih dalam kaitannya membina keluarga. Seleksi pengaruh terasa lebih besar di keluarga-keluarga pedesaan, yang memang terjadi karena terbatasnya sentuhan langsung moderanisasi dibandingkan dengan di kota.

Namun perlu difikirkan, bahwa lambat atau cepat industrialisasi akan merambah desa; dan imbas moderenisasi kota sampai kepedesaan sebab padatnya kota akan menyebabkan masyarakat kota tinggal di pedesaan.

Alternatif Jalan keluarnya.

Empowering keluarga untuk meningkatkan ketahanan non fisik menghadapi arus globalisasi dengan cara memperkuat sistem agama, nilai dan norma di dalam keluarga merupakan alternatif utama. Dalam hal ini target sasaran pertama adalah para orang tua, diberi informasi dan pengertian akan pentingnya dan sekaligus bahaya-bahaya yang mengancam kehidupan para remaja, sehingga mereka dapat turut berpartisipasi sebagai change agent, Target sasaran kedua adalah remaja, dalam peranannya sebagai anggota keluarga.

Selain keluarga, reference group lain dari para remaja adalah lingkungan kelompok sebaya (peer group) dan lingkungan sekolah. Tidak jarang, norma dan nilai sosial yang diperoleh remaja dari ketiga lingkungan tersebut berbeda, bahkan berbenturan. Salah satu cara. memperkecil benturan tersebut adalah dengan mengusahakan kebijaksaan pemukiman terpadu, di mana suatu wilayah pemukiman diusahakan homogen secara sosial ekonomi, dilengkapi dengan sarana dan fasilitas pendidikan serta rekreasi yang sekaligus dapat dimanfaatkan oleh para remaja yang bermukim di sana.

Komitmen politis dalam bentuk Landasan Hukum Pengembangan Keluarga Sejahtera Indonesia: UU 1992 no1993, hendaknya diteruskan dengan berbagai kegiatan nyata; salah satunya adalah lebih meningkatkan kerja sama pemerintah dengan masyarakat cq. lembaga-lembaga sosial dan keluarga dalam pembinaan remaja.

Dari pihak keluarga, ukuran kecintaan terhadap generasi masa depan bangsa dapat dilihat secara tidak langsung dari kecintaan orang tua terhadap generasi penerus, yaitu keinginan kuat agar generasi bangsa berikutnya lebih maju dari generasi sebelumnya. Karenanya, keluarga bertugas mempertebal iman remaja dan pemuda dengan meningkatkan pemahaman nilai-nilai agama, norma, budi pekerti dan sopan santun. Dari pihak pemerintaii diharapkan adanya kegiatan berwawasan nasional misalnya memperketat sensor arus informasi dan budaya asing, menunjang pembentukan sarana bagi pengembangan remaja dan lain-lain.

Kehamilan pra nikah pada para remaja, terutama di kota besar, cenderung makin merupakan ancaman. Kondisi ini merupakan resultants dari faktor-faktor biologis, psikologis dan sosial. Upaya pencegahannya perlu dilakukan secara multi dan interdisiplin dengan mempertimbangkan ketiga faktor tersebut.

Tulisan ini ingin memperkuat usul dan saran-saran yang sudah sering dibicarakan tentang pentingnya pemberian informasi reproduksi sehat kepada remaja secara bertanggung jawab yang disepakati oleh berbagai pihak (kalangan agama, pendidik, orang tua). Survei Litbangkes. Depkes menunjukkan bahwa 66,4% siswa SLTA dan Mahasiswa PT. yang diambil sebagai sampel penelitian di DKI dan Yogyakarta mengusulkan perlunya pendidikan seks secara resmi dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah. Sebanyak 42,8% responden mengatakan perlu memasukkannya sebab mereka ingin mendapat pengetahuan seks dari sumber berwenang dan bertanggung jawab. Pelaksanaanya dapat dilakukan melalui institusi formal dalam bentuk pengajaran yang sesuai dengan budaya Indonesia. Substansinya meliputi reproduksi sehat, penjelasan tentang KB, dan penyakit-penyakit yang berisiko seperti penyakit kelamin dan AIDS. Bila kesepakatan telah tercapai, penyuluhan terhadap pendidik, orang tua dan pihak lain yang terlibat menjadi kenyataan awal sebelum dilakukannya penyuluhan kepada target sasaran remaja.

Perlu diingat, bahwa di Indonesia, partisipasi remaja putri pada pendidikan formal SD ke atas, terutama di pedesaan, masih rendah. Karena itu perlu pula difikirkan cara lain, misalnya penyuluhan informal tentang reproduksi sehat khususnya bagi remaja putri putus atau tidak melanjutkan sekolah lagi.

Berikut adalah sebuah contoh tujuan yang ditetapkan untuk menangani masalah pendidikan dan penyuluhan reproduksi sehat Meningkatkan paling sedikit 85 % proporsi kelompok pra-remaja dan remaja usia 10-18 tahun yang pernah membicarakan dengan orang tua mereka tentang masalah seksualitas, termasuk nilai dan norma sosial yang berhubungan dengan seksualitas, dan pernah menerima informasi tentang seksualitas dari sumber lain di luar rumah seperti : kelompok sebaya atau peer group, dari sekolah atau dari penyuluhan agama.

Sebuah survei tentang aktivitas seksual remaja di AS menemukan bahwa dari 72 % remaja yang mengatakan pernah mendapat pendidikan seks di sekolah, 91 % mendukung pelaksanaan program tersebut.

Senantiasa mencari terobosan baru dalam upaya mengembangkan kegiatan-kegiatan yang mampu memsublimasikan gejolak seksualitas remaja ke arah perbuatan-perbuatan yang positif harus terus di cari. Kegiatan sublimasi ini di tunjukkan untuk mengimbangi dorongan seksual ilmiah yang sedang besar, sekaligus memanfaatkan seoptimal mungkin potensi internal. Sudah saatnya mencari keluarga-keluarga atau remaja yang dapat dijadikan role model untuk dijadikan contoh dan panutan.

Tidak dapat dipungkiri, wanita sering dijadikan objek yang sangat merugikan harkat wanita. Ditambah dengan masih lebih kecilnya kesempatan menikmati pendidikan dibandingkan pria, menyebabkan wanita berada dalam posisi yang sulit dan lemah. Aspek gender masih penting pada penanganan reproduksi masalah remaja.

Diatas telah diuraikan bahwa masalah remaja tidak luput dari gangguan organic dan gangguan psikologis, terutama yang berhubungan dengan pertumbuhan dan kematangan fungsi reproduksi, proses bersosialisasi serta pengembangan dan kematangan kepribadian. Karena itu perlu adanya sarana pelayanan kesehatan khusus remaja yang menagani masalah organic dan psikologi reproduksi, pengaturan gizi remaja agar mencapai tumbuh kembang reproduksi yang optimal dan sarana konseling di mana remaja bebas mengemukakan keluhan dan gangguan kesehatan/psikis yang dialami.

Kondisi yang berperan dalam intervensi

Di dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan intervensi perlu diingat beberapa kondisi di bawah ini:

Karena kompleksnya permasalahan, hampir selalu remaja diperlakukan sebagai target sasaran tahu objek. Padahal remaja mempunyai banyak potensi yang berguna yang dapat diikutsertakan dalam pembangunan. Dilihat dalam kodratnyapun setiap remaja memiliki kemampuan untuk bereproduksi, sehingga dengan demikian juga mempunyai tanggung jawab untuk menghasilkan generasi penerus yang bekualitas. Sebaiknya, bila remaja dianggap sebagai subjek ia akan terlihat penuh dalam turut memikul tanggung jawab pembangunan, sehat dan produktif , memiliki iman, ilmu dan kepribadian, berprestasi dan mempunyai harga diri.

Konteks perbedaan suasana pedesaan dan perkotaan sampai saat ini memang masih “valid” untuk dipakai sebagai salah satu factor di dalam membina reproduksi sehat remaja. Imbalan dan pengaruh yang dating dari luar mungkin sama, Tetapi kadar penerimaan atau penolakan terhadap pengaruh tersebut berbeda dipedesaan dan perkotaan.

Intervensi akan lebih berhasil bila dilakukan melalui upaya menghilangkan atau memperkecil factor penyebab. Sebaliknya bila interfensi yang hanya dilakukan secara dangkal dengan target menghilangkan atau memperkecil gejala yang timbul, cenderung untuk memberi hasil sementara dan tidak memuaskan.

PENUTUP

Keluarga merupakan suatu institusi informal yang sifatnya “life-long learning center”. la mempunyai fungsi dan peranan yang sangat penting dalam membangun landasan moral bangsa. Kekukuhan institusi keluarga merupakan salah satu persyaratan utama untuk menghasilkan generasi penerus yang berkualitas.

Aristoteles mengakui pentingnya keluarga sebagai mediator yang efektif untuk mengantar manusia ke gerbang kehidupan bermasyarakat yang kompleks. Menurutnya, binatang dapat “survive” dengan menggunakan nalurinya, sedangkan manusia memerlukan institusi untuk membentuk kematangan, intelektualisme dan kepribadianya.

Di negara-negara Timur, khususnya di Indonesia, reproduksi manusia masih erat kaitannya dengan norma dan tata nilai bangsa; karenanya kewaspadaan selalu diperlukan didalam menghadapi pengaruh luar yang dapat mengancam hubungan reproduksi dengan norma sosial. Sebaliknya, karena reproduksi erat hubungannya dengan tata nilai di masyarakat, menjadikan substinsi dan penyebarluasan informasi tentang reproduksi lebih sulit dikembangkan dibandingkan dengan substansi lain. Perlu kesepakatan berbagai pihak (pemuka agama-orang tua-pendidik – sosiolog tenaga medis – psikolog – perwakilan remaja) untuk menemukan substansi reproduksi yang paling tepat untuk diinformasikan secara luas kepada para remaja.

Bagaimanapun, peningkatan Meridian formal baik untuk remaja pria maupun wanita masih merupakan syarat utama yang sangat diperlukan. Berbagai penelitian telah membuktikan bahwa dengan makin meningkatnya jenjang pendidikan formal seseorang, makin meningkat pula pengetahuan serta sikapnya dalam berperilaku sehat

Klick disini untuk baca selengkapnya....

Legenda Lau Kawar

Minggu, 14 Februari 2010

Legenda Lau Kawar merupakan sebuah legenda yang berkembang di Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Kabupaten yang memiliki wilayah seluas 2.127,25 km, ini terletak di dataran tinggi Karo, Bukit Barisan, Sumatera Utara.
Oleh karena daerahnya terletak di dataran tinggi, sehingga kabupetan ini dijuluki Taneh Karo Simalem. Kabupaten ini memiliki iklim yang sejuk dengan suhu berkisar antara 16o sampai 17oC dan tanah yang subur. Maka tidak heran, jika daerah ini sangat kaya dengan keindahan alamnya. Salah satunya adalah keindahan Danau Lau Kawar, yang terletak di Desa Kuta Gugung, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo. Air yang bening dan tenang, serta bunga-bunga anggrek yang indah, yang mengelilingi danau ini menjadi pesona alam yang mengagumkan.
Menurut masyarakat setempat, sebelum terbentuk menjadi sebuah danau yang indah, Danau Lau Kawar adalah sebuah desa yang bernama Kawar. Dahulu, daerah tersebut merupakan kawasan pertanian yang sangat subur. Mata pencaharian utama penduduknya adalah bercocok tanam. Hasil pertanian mereka selalu melimpah ruah, meskipun tidak pernah memakai pupuk dan obat-obatan seperti sekarang ini. Suatu waktu, terjadi malapetaka besar, sehingga desa Kawar yang pada awalnya merupakan sebuah desa yang subur menjelma menjadi sebuah danau. Apa sebenarnya yang terjadi dengan desa Kawar itu? Ingin tahu jawabannya? Ikuti kisahnya dalam cerita rakyat berikut ini!....

Pada zaman dahulu kala, tersebutlah dalam sebuah kisah, ada sebuah desa yang sangat subur di daerah Kabupaten Karo. Desa Kawar namanya. Penduduk desa ini umumnya bermata pencaharian sebagai petani. Hasil panen mereka selalu melimpah ruah. Suatu waktu, hasil panen mereka meningkat dua kali lipat dari tahun sebelumnya. Lumbung-lumbung mereka penuh dengan padi. Bahkan banyak dari mereka yang lumbungnya tidak muat dengan hasil panen. Untuk mensyukuri nikmat Tuhan tersebut, mereka pun bergotong-royong untuk mengadakan selamatan dengan menyelenggarakan upacara adat.
Pada hari pelaksanaan upacara adat tersebut, Desa Kawar tampak ramai dan semarak. Para penduduk mengenakan pakaian yang berwarna-warni serta perhiasan yang indah. Kaum perempuan pada sibuk memasak berbagai macam masakan untuk dimakan bersama dalam upacara tersebut.
Pelaksanaan upacara juga dimeriahkan dengan pagelaran Gendang Guro-Guro Aron, musik khas masyarakat Karo. Pada pesta yang hanya dilaksanakan setahun sekali itu, seluruh penduduk hadi dalam pesta tersebut, kecuali seorang nenek tua renta yang sedang menderita sakit lumpuh. Tidak ketinggalan pula anak, menantu maupun cucunya turut hadir dalam acara itu.
Tinggallah nenek tua itu seorang sendiri terbaring di atas pembaringannya.
“Ya, Tuhan! Aku ingin sekali menghadiri pesta itu. Tapi, apa dayaku ini. Jangankan berjalan, berdiri pun aku sudah tak sanggup,” ratap si nenek tua dalam hati.
Dalam keadaan demikian, ia hanya bisa membayangkan betapa meriahnya suasana pesta itu. Jika terdengar sayup-sayup suara Gendang Guro-guro Aron didendangkan, teringatlah ketika ia masih remaja. Pada pesta Gendang Guro-Guro Aron itu, remaja laki-laki dan perempuan menari berpasang-pasangan. Alangkah bahagianya saat-saat seperti itu. Namun, semua itu hanya tinggal kenangan di masa muda si nenek. Kini, tinggal siksaan dan penderitaan yang dialami di usia senjanya. Ia menderita seorang diri dalam kesepian. Tak seorang pun yang ingin mengajaknya bicara. Hanya deraian air mata yang menemaninya untuk menghilangkan bebannya. Ia seakan-akan merasa seperti sampah yang tak berguna, semua orang tidak ada yang peduli padanya, termasuk anak, menantu serta cucu-cucunya.
Ketika tiba saatnya makan siang, semua penduduk yang hadir dalam pesta tersebut berkumpul untuk menyantap makanan yang telah disiapkan. Di sana tersedia daging panggang lembu, kambing, babi, dan ayam yang masih hangat. Suasana yang sejuk membuat mereka bertambah lahab dalam menikmati berbagai hidangan tersebut. Di tengah-tengah lahabnya mereka makan sekali-kali terdengar tawa, karena di antara mereka ada saja yang membuat lelucon. Rasa gembira yang berlebihan membuat mereka lupa diri, termasuk anak dan menantu si nenek itu. Mereka benar-benar lupa ibu mereka yang sedang terbaring lemas sendirian di rumah.
Sementara itu, si nenek sudah merasa sangat lapar, karena sejak pagi belum ada sedikit pun makanan yang mengisi perutnya. Kini, ia sangat mengharapkan anak atau menantunya ingat dan segera mengantarkan makanan. Namun, setelah ditunggu-tunggu, tak seorang pun yang datang.
“Aduuuh… ! Perutku rasanya melilit-lilit. Tapi, kenapa sampai saat ini anak-anakku tidak mengantarkan makanan untukku?” keluh si nenek yang badannya sudah gemetar menahan lapar. Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, ia mencoba mencari makanan di dapur, tetapi ia tidak mendapatkan apa-apa. Rupanya, sang anak sengaja tidak memasak pada hari itu, karena di tempat upacara tersedia banyak makanan.
Akhirnya, si nenek tua terpaksa beringsut-ingsut kembali ke pembaringannya. Ia sangat kecewa, tak terasa air matanya keluar dari kedua kelopak matanya. Ibu tua itu menangisi nasibnya yang malang.
“Ya, Tuhan! Anak-cukuku benar-benar tega membiarkan aku menderita begini. Di sana mereka makan enak-enak sampai kenyang, sedang aku dibiarkan kelaparan. Sungguh kejam mereka!” kata nenek tua itu dalam hati dengan perasaan kecewa.
Beberapa saat kemudian, pesta makan-makan dalam upacara itu telah usai. Rupanya sang anak baru teringat pada ibunya di rumah. Ia kemudian segera menghampiri istrinya. “Isriku! Apakah kamu sudah mengantar makanan untuk ibu?” tanya sang suami kepada istrinya.
“Belum?” jawab istrinya.
“Kalau begitu, tolong bungkuskan makanan, lalu suruh anak kita menghantarkannya pulang!” perintah sang suami.
“Baiklah, suamiku!‘ jawab sang istri. Wanita itu pun segera membungkus makanan lalu menyuruh anaknya, “Anakku! Antarkan makanan ini kepada nenek di rumah!” perintah sang ibu.
“Baik, Bu!” jawab anaknya yang langsung berlari sambil membawa makanan itu pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah, anak itu segera menyerahkan makanan itu kepada neneknya, lalu berlari kembali ke tempat upacara.
Alangkah senangnya hati sang nenek. Pada saat-saat lapar seperti itu, tiba-tiba ada yang membawakan makanan. Dengan perasaan gembira, sang nenek pun segera membuka bungkusan itu. Namun betapa kecewanya ia, ternyata isi bungkusan itu hanyalah sisa-sisa makanan. Beberapa potong tulang sapi dan kambing yang hampir habis dagingnya.
“Ya, Tuhan! Apakah mereka sudah menganggapku seperti binatang. Kenapa mereka memberiku sisa-sisa makanan dan tulang-tulang,” gumam si nenek tua dengan perasaan kesal.
Sebetulnya bungkusan itu berisi daging panggang yang masih utuh. Namun, di tengah perjalanan si cucu telah memakan sebagian isi bungkusan itu, sehingga yang tersisa hanyalah tulang-tulang. Si nenek tua yang tidak mengetahui kejadian yang sebenarnya, mengira anak dan menantunya telah tega melakukan hal itu. Maka, dengan perlakuan itu, ia merasa sangat sedih dan terhina. Air matanya pun tak terbendung lagi. Ia kemudian berdoa kepada Tuhan agar mengutuk anak dan menantunya itu.
“Ya, Tuhan!” Mereka telah berbuat durhaka kepadaku. Berilah mereka pelajaran!” perempuan tua itu memohon kepada Tuhan Yang Mahakuasa.
Baru saja kalimat itu lepas dari mulut si nenek tua, tiba-tiba terjadi gempa bumi yang sangat dahsyat. Langit pun menjadi mendung, guntur menggelegar bagai memecah langit, dan tak lama kemudian hujan turun dengan lebatnya. Seluruh penduduk yang semula bersuka-ria, tiba-tiba menjadi panik. Suara jerit tangis meminta tolong pun terdengar dari mana-mana. Namun, mereka sudah tidak bisa menghindar dari keganasan alam yang sungguh mengerikan itu.
Dalam sekejap, desa Kawar yang subur dan makmur tiba-tiba tenggelam. Tak seorang pun penduduknya yang selamat dalam peristiwa itu.
Beberapa hari kemudian, desa itu berubah menjadi sebuah kawah besar yang digenangi air. Oleh masyarakat setempat, kawah itu diberi nama Lau Kawar.
Demikianlah cerita tentang Asal Mula Lau Kawar dari daerah Tanah Karo, Sumatera Utara.

Cerita di atas termasuk cerita rakyat teladan yang mengandung pesan-pesan moral. Sedikitnya ada tiga pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas, yaitu pandai mensyukuri nikmat, menjauhi sifat durhaka kepada orang tua, dan menyia-nyiakan amanat.
Pertama, pandai mensyukuri nikmat. Sifat ini tercermin pada sikap penduduk Desa Karo yang telah melaksanakan selamatan setelah mendapat hasil panen yang melimpah ruah. Sifat ini sangat diutamakan dalam kehidupan orang-orang Melayu. Dalam tunjuk ajar Melayu dikatakan:
wahai ananda dengarlah manat,
besyukurlah engkau beroleh nikmat
karunia Allah wajib diingat
supaya hidupmu beroleh rahmat
Kedua, pesan agar menjauhi sifat durhaka kepada orang tua. Kedurhakaan tersebut tercermin pada perilaku anak, menantu, dan cucu si nenek tua renta itu yang telah mengabaikannya. Sifat durhaka kepada orang tua sangat dipantangkan dalam kehidupan orang Melayu. Dalam ungkapan Melayu dikatakan:
kalau durhaka ke orangtua,
dunia akhirat akan merana
Ketiga, sifat menyia-nyiakan amanah. Sifat ini tercermin pada si cucu yang tidak menyampaikan amanah dari ibunya. Dalam kehidupan orang-orang Melayu, sifat ini juga sangatlah dipantangkan. Sebagaimana dikatakan dalam ungkapan orang tua-tua Melayu berikut:
kalau hendak tahu orang durjana,
dia berbuat orang yang kena


Klick disini untuk baca selengkapnya....

Obat Puyer adalah solusi

Secara kompetensi seharusnya apotekerlah yang paling berhak membicarakan masalah bentuk sediaan puyer. Karena dari semua tenaga kesehatan yang ada, hanya apoekerlah yang mempelajari sifat kimia fisik bahan obat. Tetapi kenyataannya tidak hanya apoteker yang mebicarakan masalah bahaya sediaan puyer, sehingga terjadi kekawatiran berlebih dari sebagian masyarakat. Puyer yang seharusnya menjadi salah satu solusi dalam ilmu pengobatan yang seharusnya malah menentramkan masyarakat, justru menjadi sesuatu yang sangat menakutkan karena dibahas dengan cara yang salah.
Dan selanjutnya pembicaraan puyer bisa jadi akan lebih sangat membahayakan bila pemahaman dari masyarakat terhadap bentuk sediaan puyer ini semakin salah
Dari bahasan bahaya sediaan puyer yang saya tangkap, banyak hal-hal yang seharusnya bukan permasalahan formulasi sediaan puyer, tetapi bentuk sediaan puyerlah yang menjadi kambing hitam. Sebagai contoh masalah polifarmasi. Polifarmasi bisa saja terjadi pada peresepan dengan obat dengan bentuk sediaan apapun juga, karena polifarmasi adalah ketrampilan dari dokter dalam terapi yang diwujudkan dalam bentuk resep. Bila ketrampilan dokter dalam mengambil keputusan profesinya lebih mengarah pada poli farmasi, meskipun mereka memberikan resep dalam bentuk sediaan bukan puyerpun sering kali poli farmasi juga terjadi. Disini jelas-jelas bahwa poli farmasi bukan salahnya bentuk sediaan puyer, tetapi masalah ketrampilan dan kemampuan dokter dalam pengobatan
Bila kita menginginkan polifarmasi tidak terjadi, maka solusinya adalah dengan meningkatkan ketrampian dokter. Bila ketrampilan dokter cukup dalam menghindari polifarmasi maka tidak akan ada polifarmasi dalam sediaan puyer, Kecuali apoteker diberi kewenangan sampai merubah obat atau mengurangi obat. Atau juga suatu semisal dokter hanya menulis diagnosa saja, maka apoteker bisa mengatasi masalah polifarmasi dalam puyer. Disini kelihatan bahwa masalah polifarmasi dinegara kita bukan masalah kefarmasian khususnya bentuk sediaan, tetapi masalah ketrampilan dokter dalam mengambil keputusan. Dan selanjutnya kontroversi masalah bentuk sediaan puyer terkait polifarmasi seharusnya tidak perlu terjadi apalagi sampai pada pelarangan bentuk sediaan puyer
Pada kaitan puyer dengan masalah kaidah kefarmasian seperti : stabilitas bahan obat, kebersihan ruangan, kebersihan alat, interaksi obat dsb, memang masalah kefarmasian yang seharusnya memang menjadi bagian dalam kegiatan apoteker di apotek. Yang menjadi permasalahan disini adalah tidak hanya apoteker yang melakukan kegiatan pembuatan sediaan puyer ini. Dan secara umum bahasan yang terkait puyer ini juga termasuk kegiatan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan lain bukan apoteker.
Seperti pada kasus mortir yang tidak dicuci. Disini sangat jelas bila masalah ini adalah terkait dengan kaidah kefarmasian. Bila puyer dilakukan diapotek sangat dimungkinkan bila setiap habis dipakai untuk membuat sediaan puyer mortir selalu dicuci seperti pada apotek saya, tetapi bagaimana bila pada praktek dokter dan bidan desa atau polindes yang tempat cucinya mungkin tidak menjadi satu dengan ruangan racik yang umumnya juga menjadi satu dengan ruang praktek ? Bila ada kasus seperti ini seharusnya juga menjadi tanggung jawab dari dinas kesehatan sebagai pembina dan pemberi ijin praktek. Seharusnya pada masalah ini dinas kesehatan yang mengambil alih dan menjamin akan melakukan pembinaan sehingga akan terjamin suatu produk layanan kesehatan yang sesuai standart layanan. Dan mungkin yang menjadi masalah pada dinas kesehatan adalah kekurangan jumlah apoteker sebagai pembina yang berkompeten terhadap masalah kefarmasian.
Stabilitas obat. sering kali juga terjadi obat yang tidak stabil juga diinginkan digerus oleh dokter dalam resepnya. Saya terkadang harus menolak dengan persetujuan pasien karena alasan obat kurang rasional untuk digerus. Disini seharusnya dokter tunduk pada aturan kefarmasian, bila apoteker secara keilmu kefarmasian menyatakan obat tidak stabil, maka keputusan profesi ada ditangan apoteker.
Pada kasus yang lain yang terkait kefarmasian seharusnya dokter sebagai penulis resep juga tunduk pada aturan kefarmasian, karena apoteker memang mempunyai kompetensi untuk itu. Disinilah pentingnya untuk saling menghargai diantara para profesi kesehatan demi meningkatkan derajat kesehatan bangsa.
Dari uraian saya ini sebaiknya kita sebagai tenaga kesehatan yang diakui oleh pemerintah seharusnya bekerja sama dalam membangun bangsa tanpa mementingkan kelompok kita sendiri, tetapi kia harus lebih mementingkan kepetingan dari masyarakat. Seperti pada kasus sediaan puyer ini, seharusya puyer menjadi bagian dari solusi bagi pengembangan kesehatan di negara kita. Yang tidak harus dihilangkan, tetapi justru harus dikembangkan dengan arah pengembangan yang lebih rasional. Demikian juga pada kasus dispensing obat oleh dokter dan tenaga kesehatan lain seharusnya mereka dengan rendah hati mau menyadari bila memproduksi puyer atau obat yang lain mempunyai masalah yang sangat rumit yang seharusnya dilakukan atas suatu kompetensi yang dapat dipertanggung jawabkan.
Bukannya kita tidak suka dokter melakukan dispensing, tetapi memproduksi obat atau mencampur obat bukanlah kompetensi dari dokter. Hal yang sangat baik bagi perkembangan keilmuan dan pembangunan kesehatan bangsa bila kita saling menghargai antar profesi kesehatan. Bagaimanapun juga meracik obat puyer merupakan salah satu proses produksi obat yang kompetensinya melekat pada apoteker dan yang boleh meracik obat seharusnya hanya apoteker. Dan selanjutnya bila puyer yang ada diapotek saja masih dianggap ada masalah, bagaimana dengan yang ada diluar apotek yang tidak didasari dengan kompetensi ?
Sudah seharusnya bagi kita untuk melihat kedalam diri kita masing-masing, apakah puyer masih boleh diproduksi atau tidak. Dan seandainya boleh, sudah seharusnya pula kita memikirkan dan menentukan siapa saja yang boleh dan mempunyai kompetensi untuk membuat sediaan puyer. Agar puyer tetap bisa menjadi salah satu alternati dalam mencari solusi dalam pengobatan.


Klick disini untuk baca selengkapnya....

Bagaimana hubungan industri farmasi dan dokter ?

Bagaimana hubungan industri farmasi dan dokter ? Kita dapat memandang hubungan ini dari berbagai segi. Media massa sering memberitakannya sebagai hubungan yang kurang sehat dan menjadi salah satu faktor yang menyebabkan harga obat di Indonesia semakin tak terjangkau. Industri farmasi melalui perusahaan yang memasarkan obatnya dituduh dengan berbagai cara membujuk dokter untuk meresepkan produknya. Sedangkan dokter diduga telah mengambil keuntungan dari peresepan obat tersebut. Opini publik mengenai hubungan seperti itu cukup kuat seolah memang sebagaian besar dokter melakukannya.
Upaya profesi kedokteran dan farmasi untuk menegakkan etik dalam peran masing-masing sebenarnya cukup nyata. Ikatan Dokter Indonesia berkali-kali mengingatkan anggotanya agar berpihak pada masyarakat lemah dan tidak tergoda bujuk rayu perusahaan farmasi.

Di lain pihak profesi kepfarmasian serta perhimunan industri farmasi juga telah menyusun etik pemasaran yang pada dasarnya mencegah pemasaran obat dengan cara hubungan tak sehat dengan dokter. Pada panduan pemasaran tersebut jelas disebutkan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan dalam pemasaran obat yang berkaitan dengan hubungan industri farmasi dengan dokter. Pemberian hadiah apalagi uang dilarang. Perusahaan farmasi dapat mendukung program pengembangan profesi dokter namun dukungan tersebut tidak dilakukan untuk perorangan tapi untuk pengembangan

Jika profesi kedokteran dan kefarmasian sudah mempunyai rambu-rambu dalam hubungan industri farmasi dan dokter kenapa masih ada kecurigaan masyarakat

Masyarakat merasakan beban harga obat yang semakin tinggi. Meski mereka memahami biaya untuk penemuan obat baru amat mahal namun mereka juga merasakan bahwa banyak obat sekarang ini yang harganya sudah lebih tinggi daripada emas. Obat yang sudah habis masa patennya di Indonesia tak kunjung turun harganya. Padahal di negeri lain obat tersebut harganya diturunkan secara nyata. Beban yang dipikul masyarakat semakin terasa berat karena sebagian besar anggota masyarakat harus membayar harga tersebut dengan uang dari kantong mereka sendiri. Jumlah peserta asuransi kesehatan di negeri kita belumlah seperti yang diharapkan.

Mungkinkan hubungan industri farmasi-dokter dikembangkan untuk kepentingan yang lebih luas yaitu masyarakat. Industri farmasi memproduksi obat yang bermutu serta biaya pemasarannya tidak tinggi. Dokter menggunakan obat secara rasional dan tidak terpengaruh oleh bujukan perusahaan farmasi. Persaingan yang sehat di kalangan industri farmasi akan memperkuat industri farmasi. Sedangkan penggunaan obat secara rasional sesuai dengan prinsip profesi keberpihakkan kepada masyarakat luas (altruisme). Maukah industri farmasi di Indonesia meningkatkan kemampuannya sehingga lebih mampu bersaing? Maukah kalangan kedokteran menghapus berbagai privilege yang mungkin ada selama ini sebagai efek samping persaingan pemasaran obat yang tidak sehat ? Nampaknya jawabannya hanya satu yaitu : harus mau. Kalau tidak kepercayaan masyarakat kepada industri farmasi dan profesi kedokteran di negeri kita akan semakin pudar


Klick disini untuk baca selengkapnya....

INA-DRG

Minggu, 24 Januari 2010

ini adalah beberapa hasil diagnosa dari INA-DRG
huhh.. gi belajar nich ,,,

Cholera due to Vibrio cholerae 01, biovar cholerae
Typhoid fever
Paratyphoid fever A
Paratyphoid fever, unspecified
Acute amoebic dysentery
Amoebic liver abscess
Rotaviral enteritis
Viral intestinal infection, unspecified
Diarrhoea and gastroenteritis of presumed infectious origin
Tuberculosis of lung, confirmed by sputum microscopy with or withoutculture
Tuberculosis of lung, confirmed by culture only
Tuberculosis of lung, confirmed by unspecified means
Tuberculous pleurisy, confirmed bacteriologically andhistologically
Respiratory tuberculosis unspecified, confirmed bacteriologicallyand histologically
Tuberculosis of larynx, trachea and bronchus, withoutmention of bacteriological or histological conf
Tuberculous meningitis (G01*)
Tuberculosis of bones and joints
Tuberculosis of intestines, peritoneum and mesenteric glands
Rat-bite fever, unspecified
Other bacterial diseases, not elsewhere classified,   Gas gangrene
Congenital syphilis, unspecified
Dengue haemorrhagic fever
Chikungunya virus disease
Other specified mosquito-borne viral fevers
Mosquito-borne viral fever, unspecified
Other specified viral haemorrhagic fevers
Varicella with other complications
Zoster encephalitis (G05.1*)
Measles complicated by otitis media (H67.1*)
Enteroviral vesicular pharyngitis
Hepatitis A with hepatic coma
Hepatitis A without hepatic coma
Other specified acute viral hepatitis
Chronic viral hepatitis, unspecified
Unspecified viral hepatitis without hepatic coma
HIV disease resulting in other specified conditions
Tinea corporis
Tinea cruris
Other dermatophytoses
Ascariasis, unspecified
Malignant neoplasm of other and unspecified major salivary glands,   Submandibular gland
Malignant neoplasm of nasopharynx,   Superior wall of nasopharynx
Malignant neoplasm of nasopharynx,   Overlapping lesion of nasopharynx
Malignant neoplasm of nasopharynx,     Nasopharynx, unspecified
Malignant neoplasm of stomach,   Stomach, unspecified
Malignant neoplasm of colon,   Colon, unspecified
Malignant neoplasm of rectum
Malignant neoplasm of liver and intrahepatic bile ducts,   Liver, unspecified
Malignant neoplasm of accessory sinuses,   Maxillary sinus
Malignant neoplasm of bronchus and lung,   Overlapping lesion of bronchus and lung
Malignant neoplasm of bronchus and lung, Bronchus or lung, unspecified
Malignant neoplasm of heart, mediastinum and pleura,   Mediastinum, part unspecified
Malignant neoplasm of other connective and soft tissue,   Connective and soft tissue, unspecified
Malignant neoplasm of breast, Upper-inner quadrant of breast
Malignant neoplasm of breast, Breast, unspecified
Malignant neoplasm of vulva,   Vulva, unspecified
Malignant neoplasm of cervix uteri,   Cervix uteri, unspecified
Malignant neoplasm of other and unspecified female genital organs,   Uterine adnexa, unspecified
Malignant neoplasm of other and ill-defined sites,   Upper limb
Malignant neoplasm of other and ill-defined sites, Lower limb
Leukaemia of unspecified cell type,   Leukaemia, unspecified
Carcinoma in situ of cervix uteri,    Cervix, unspecified
Carcinoma in situ of other and unspecified sites,   Eye
Benign neoplasm of mouth and pharynx,   Floor of mouth
Benign neoplasm of mouth and pharynx,     Tonsil
Benign neoplasm of major salivary glands, Parotid gland
Benign neoplasm of major salivary glands, Other major salivary glands
Benign neoplasm of other and ill-defined parts of digestive system,   Stomach
Benign neoplasm of other and ill-defined parts of digestive system,   Duodenum
Benign neoplasm of other and ill-defined parts of digestive system,    Ill-defined sites within the digestive system
Benign neoplasm of middle ear and respiratory system, Middle ear, nasal cavity and accessory sinuses
Benign neoplasm of other and unspecified intrathoracic organs, Mediastinum
???
Benign neoplasm of other and unspecified intrathoracic organs,   Intrathoracic organ, unspecified
Benign neoplasm of bone and articular cartilage, Short bones of upper limb
Benign lipomatous neoplasm of skin and subcutaneous tissue of head,face and neck
Benign lipomatous neoplasm of skin and subcutaneous tissue of trunk
Benign lipomatous neoplasm of skin and subcutaneous tissue of otherand unspecified sites
Benign lipomatous neoplasm of intra-abdominal organs
Benign lipomatous neoplasm of other sites
Benign lipomatous neoplasm, unspecified
Haemangioma, any site
Other benign neoplasms of connective and other soft tissue,   Connective and other soft tissue of head, face and neck
Other benign neoplasms of connective and other soft tissue,    Connective and other soft tissue of lower limb, including hip
Other benign neoplasms of connective and other soft tissue,   Connective and other soft tissue of trunk, unspecified
Other benign neoplasms of connective and other soft tissue,   Connective and other soft tissue of head, face and neck
Benign neoplasm of breast
Leiomyoma of uterus, unspecified
Benign neoplasm of ovary
Benign neoplasm of other and unspecified female genital organs, Other specified female genital organs
Benign neoplasm of male genital organs, Testis
Neoplasm of uncertain or unknown behaviour of other and unspecifiedsites, Connective and other soft tissue
Iron deficiency anaemia,   Iron deficiency anaemia, unspecified
Thalassaemia,   Other thalassaemias
Anaemia in other chronic diseases classified elsewhere**
Other anaemias,   Hereditary sideroblastic anaemia
Other anaemias,   Anaemia, unspecified
Other nontoxic goitre, Nontoxic diffuse goitre
Other nontoxic goitre, Nontoxic single thyroid nodule
Thyrotoxicosis [hyperthyroidism], Thyrotoxicosis with diffuse goitre
Thyrotoxicosis [hyperthyroidism], Thyrotoxicosis, unspecified
Non-insulin-dependent diabetes mellitus with renal complications
Non-insulin-dependent diabetes mellitus with neurologicalcomplications
Non-insulin-dependent diabetes mellitus with peripheral circulatorycomplications
Non-insulin-dependent diabetes mellitus with other specifiedcomplications
Non-insulin-dependent diabetes mellitus with multiple complications
Non-insulin-dependent diabetes mellitus with unspecifiedcomplications
Non-insulin-dependent diabetes mellitus without complications
???? (  Nondiabetic hypoglycaemic coma)
Protein-energy malnutrition of moderate and mild degree,   Mild protein-energy malnutrition
Unspecified protein-energy malnutrition
????
Other nutritional deficiencies, Nutritional deficiency, unspecified
Disorders of purine and pyrimidine metabolism,   Hyperuricaemia without signs of inflammatory arthritis andtophaceous disease
Cystic fibrosis, V
Other disorders of fluid, electrolyte and acid-base balance
Vascular dementia,  Dementia in other specified diseases classified elsewhere
Schizophrenia, Simple schizophrenia
Reaction to severe stress, and adjustment disorders, Acute stress reaction
Nonorganic sleep disorders, Nonorganic insomnia
Meningitis due to other and unspecified causes,   Meningitis, unspecified
Encephalitis, myelitis and encephalomyelitis, Encephalitis, myelitis and encephalomyelitis in other infectious andparasitic diseases classified el
Epilepsy, Grand mal seizures, unspecified (with or without petit mal)
Epilepsy, unspecified
Migraine with aura [classical migraine]
Migraine, unspecified
Cluster headache syndrome
Vascular headache, not elsewhere classified
Tension-type headache
Other headache syndromes, Other specified headache syndromes
Disorders of other specified cranial nerves
Nerve root and plexus compressions in diseases classified elsewhere,   Nerve root and plexus compressions in neoplastic disease (C00-D48+)
Other paralytic syndromes, Other specified paralytic syndromes
Disorders of autonomic nervous system, Disorder of autonomic nervous system, unspecified
Other disorders of brain, Anoxic brain damage, not elsewhere classified
Other disorders of brain, Encephalopathy, unspecified
Other disorders of eyelid,   Ptosis of eyelid
Disorder of eyelid, unspecified
Acute conjunctivitis, unspecified
Conjunctivitis, unspecified
Pterygium
  Keratitis, Corneal ulcer
Senile cataract, Other senile cataract
Glaucoma, unspecified
Other vitreous opacities
Disorders of refraction and accommodation, Myopia
Disorders of refraction and accommodation, Disorder of refraction, unspecified
Other disorders of eye and adnexa,   Ocular pain
Other disorders of eye and adnexa,  Disorder of eye and adnexa, unspecified
Otitis externa,   Other infective otitis externa
Other disorders of external ear, Impacted cerumen
Nonsuppurative otitis media,Other acute nonsuppurative otitis media
Nonsuppurative otitis media, Other chronic nonsuppurative otitis media
Suppurative and unspecified otitis media, Other chronic suppurative otitis media
Suppurative and unspecified otitis media, Suppurative otitis media, unspecified
Mastoiditis and related conditions, Chronic mastoiditis
Disorders of vestibular function, Other peripheral vertigo
Other hearing loss, Hearing loss, unspecified
Hypertensive heart disease without (congestive) heart failure
???
Rheumatic fever with heart involvement, Acute rheumatic heart disease, unspecified
Rheumatic mitral valve diseases, Other mitral valve diseases
Rheumatic aortic valve diseases, Rheumatic aortic valve disease, unspecified
Multiple valve diseases, Other multiple valve diseases
Multiple valve disease, unspecified
  Other rheumatic heart diseases, Rheumatic heart disease, unspecified
????Essential (primary) hypertension
Hypertensive heart disease with (congestive) heart failure
Hypertensive heart disease without (congestive) heart failure
Hypertensive heart and renal disease with both (congestive) heartfailure and renal failure
Angina pectoris,   Unstable angina
Angina pectoris, unspecified
Other acute ischaemic heart diseases, Coronary thrombosis not resulting in myocardial infarction
Chronic ischaemic heart disease,  Atherosclerotic heart disease
Chronic ischaemic heart disease, Old myocardial infarction
Chronic ischaemic heart disease,   Chronic ischaemic heart disease, unspecified
Other pulmonary heart diseases,   Pulmonary heart disease, unspecified
Nonrheumatic mitral valve disorders, Nonrheumatic mitral valve disorder, unspecified
Heart failure,   Congestive heart failure
Heart failure, Heart failure, unspecified
Complications and ill-defined descriptions of heart disease, Heart disease, unspecified
Subarachnoid haemorrhage, Subarachnoid haemorrhage from intracranial artery, unspecified
Subarachnoid haemorrhage, unspecified
Intracerebral haemorrhage in hemisphere, subcortical
Intracerebral haemorrhage in hemisphere, cortical
Intracerebral haemorrhage, unspecified
Other nontraumatic intracranial haemorrhage,   Intracranial haemorrhage (nontraumatic), unspecified
Cerebral infarction, Cerebral infarction due to thrombosis of cerebral arteries
Cerebral infarction, Cerebral infarction due to embolism of cerebral arteries
Cerebral infarction,   Other cerebral infarction
Cerebral infarction, Cerebral infarction, unspecified
Stroke, not specified as haemorrhage or infarction
????
Sequelae of cerebrovascular disease, Sequelae of stroke, not specified as haemorrhage or infarction
Other peripheral vascular diseases, Thromboangiitis obliterans [Buerger]
Varicose veins of lower extremities with ulcer
Internal haemorrhoids without complication
External haemorrhoids with other complications
External haemorrhoids without complication
Unspecified haemorrhoids with other complications
Unspecified haemorrhoids without complication
Hypotension,   Orthostatic hypotension
Hypotension, unspecified
Acute sinusitis,   Acute maxillary sinusitis
Acute sinusitis, Other acute sinusitis
Acute sinusitis, unspecified
Acute pharyngitis,   Acute pharyngitis, unspecified
Acute upper respiratory infections of multiple and unspecified sites, Acute upper respiratory infection, unspecified
Bacterial pneumonia, not elsewhere classified, Bacterial pneumonia, unspecified
Pneumonia, organism unspecified,     Bronchopneumonia, unspecified
Pneumonia, organism unspecified,   Pneumonia, unspecified
Acute bronchitis, unspecified
Chronic sinusitis,    Chronic maxillary sinusitis
Nasal polyp,   Polyp of nasal cavity
Nasal polyp, unspecified
Other disorders of nose and nasal sinuses, Other specified disorders of nose and nasal sinuses
Chronic diseases of tonsils and adenoids,   Chronic tonsillitis
Other diseases of upper respiratory tract, Disease of upper respiratory tract, unspecified
Bronchitis, not specified as acute or chronic
Simple and mucopurulent chronic bronchitis,   Simple chronic bronchitis
Simple and mucopurulent chronic bronchitis, Mucopurulent chronic bronchitis
Emphysema, Emphysema, unspecified
Other chronic obstructive pulmonary disease, Chronic obstructive pulmonary disease with acute exacerbation,unspecified
Other chronic obstructive pulmonary disease, Other specified chronic obstructive pulmonary disease
Other chronic obstructive pulmonary disease, Chronic obstructive pulmonary disease, unspecified
Bronchiectasis
Pulmonary oedema
Other interstitial pulmonary diseases, Other specified interstitial pulmonary diseases
Pneumothorax,   Pneumothorax, unspecified
Other pleural conditions,   Pleural condition, unspecified
Other respiratory disorders, Pulmonary collapse
Other acute sinusitis
Gastric ulcer, acute without haemorrhage or perforation
Gastric ulcer, unspecified as acute or chronic, without haemorrhageor perforation
Duodenal ulcer, unspecified as acute or chronic, without haemorrhageor perforation
Peptic ulcer, acute with haemorrhage
Peptic ulcer, acute with both haemorrhage and perforation
Peptic ulcer, unspecified as acute or chronic, without haemorrhageor perforation
Gastrojejunal ulcer, acute with both haemorrhage and perforation
Gastrojejunal ulcer, acute without haemorrhage or perforation
Other acute gastritis
 Gastritis and duodenitis, Gastritis, unspecified
Dyspepsia
Acute appendicitis with generalized peritonitis
Acute appendicitis with peritoneal abscess
Acute appendicitis,   Acute appendicitis, unspecified
Other diseases of appendix,   Disease of appendix, unspecified
Inguinal hernia,   Unilateral or unspecified inguinal hernia, with obstruction, withoutgangrene
Inguinal hernia, Unilateral or unspecified inguinal hernia, with gangrene
Inguinal hernia, Unilateral or unspecified inguinal hernia, without obstruction or gangrene
  Femoral hernia, Unilateral or unspecified femoral hernia, without obstruction organgrene
???
Crohn's disease of small intestine
Paralytic ileus and intestinal obstruction without hernia, Paralytic ileus
Paralytic ileus and intestinal obstruction without hernia,  Ileus, unspecified
Other functional intestinal disorders,   Constipation
Other diseases of anus and rectum, Haemorrhage of anus and rectum
Peritonitis,   Acute peritonitis
Hepatic failure, not elsewhere classified,   Acute and subacute hepatic failure
Hepatic failure, not elsewhere classified,  Chronic hepatitis, unspecified
Fibrosis and cirrhosis of liver, Biliary cirrhosis, unspecified
Fibrosis and cirrhosis of liver,  Other and unspecified cirrhosis of liver
Other inflammatory liver diseases,   Abscess of liver
Cholelithiasis,   Calculus of gallbladder with acute cholecystitis
Other cholelithiasis
Other diseases of pancreas,   Cyst of pancreas
Postprocedural disorders of digestive system, not elsewhereclassified, Vomiting following gastrointestinal surgery
Other diseases of digestive system, Gastrointestinal haemorrhage, unspecified
Other diseases of digestive system, Disease of digestive system, unspecified
Cutaneous abscess, furuncle and carbuncle of face
Cutaneous abscess, furuncle and carbuncle of trunk
Cutaneous abscess, furuncle and carbuncle of limb
Cutaneous abscess, furuncle and carbuncle of other sites
Cutaneous abscess, furuncle and carbuncle, unspecified
Acute lymphadenitis of lower limb
Acute lymphadenitis, unspecified
Allergic contact dermatitis, unspecified cause
Dermatitis due to substances taken internally, Generalized skin eruption due to drugs and medicaments
Dermatitis due to substances taken internally, Localized skin eruption due to drugs and medicaments
Urticaria,   Allergic urticaria
Other erythematous conditions, Toxic erythema
Follicular cysts of skin and subcutaneous tissue, Follicular cyst of skin and subcutaneous tissue, unspecified
Other disorders of pigmentation, Disorder of pigmentation, unspecified
Transepidermal elimination disorders, Transepidermal elimination disorder, unspecified
Decubitus ulcer
???
Lupus erythematosus, Subacute cutaneous lupus erythematosus
  Lupus erythematosus, Other local lupus erythematosus
Ulcer of lower limb, not elsewhere classified
Pyogenic arthritis, Other streptococcal arthritis and polyarthritis
Gout, unspecified
Other arthritis, Arthritis, unspecified
Other joint disorders, not elsewhere classified,   Pain in joint
???Ankylosing spondylitis
???
Spondylosis,   Other spondylosis with radiculopathy
Spondylosis, unspecified
Dorsalgia, Cervicalgia
Dorsalgia, Low back pain
???
Dorsalgia, unspecified
Myositis, Foreign body granuloma of soft tissue, not elsewhere classified
Synovitis and tenosynovitis, Calcific tendinitis
Synovial cyst of popliteal space [Baker]
Pseudosarcomatous fibromatosis
Shoulder lesion, unspecified
Other soft tissue disorders, not elsewhere classified,   Myalgia
Other soft tissue disorders, not elsewhere classified,   Unspecified osteoporosis with pathological fracture
Nephrotic syndrome, unspecified
Chronic tubulo-interstitial nephritis, Nonobstructive reflux-associated chronic pyelonephritis
Other renal tubulo-interstitial diseases,   Renal tubulo-interstitial disease, unspecified
Chronic renal failure, unspecified
Calculus of kidney and ureter,   Calculus of kidney
Calculus of kidney and ureter, Urinary calculus, unspecified  
Calculus of lower urinary tract, Calculus in urethra
Calculus of lower urinary tract, unspecified
Unspecified renal colic
Other disorders of bladder,   Vesicointestinal fistula
Urethral stricture, unspecified
Urethral disorder, unspecified
Urinary tract infection, site not specified,    Other disorders of urinary system
Hyperplasia of prostate
Inflammatory diseases of prostate, Acute prostatitis
Inflammatory disease of prostate, unspecified
Disorder of prostate, unspecified
Hydrocele and spermatocele, Encysted hydrocele
Orchitis, epididymitis and epididymo-orchitis with abscess
Orchitis, epididymitis and epididymo-orchitis without abscess
Fibroadenosis of breast,   Benign mammary dysplasia
Inflammatory disorders of breast
Disorder of breast, unspecified
Inflammatory disease of uterus, except cervix, Inflammatory disease of uterus, unspecified
Inflammatory disease of cervix uteri
Female pelvic inflammatory disease, unspecified
Female pelvic inflammatory disorders in other diseases classifiedelsewhere
Cyst of Bartholin's gland
Abscess of vulva
Endometriosis of uterus
Endometriosis, unspecified
Noninflammatory disorders of ovary, fallopian tube and broadligament,   Follicular cyst of ovary
Other and unspecified ovarian cysts
Endometrial adenomatous hyperplasia
Absent, scanty and rare menstruation, Primary oligomenorrhoea
Excessive, frequent and irregular menstruation,   Excessive and frequent menstruation with irregular cycle
Other abnormal uterine and vaginal bleeding, Postcoital and contact bleeding
Abnormal uterine and vaginal bleeding, unspecified
Pain and other conditions associated with female genital organs andmenstrual cycle, Dysmenorrhoea, unspecified
Ectopic pregnancy, unspecified
Other abnormal products of conception, Blighted ovum and nonhydatidiform mole
Other abnormal products of conception,  Missed abortion
Failed attempted abortion, Failed medical abortion, complicated by delayed or excessivehaemorrhage
Failed medical abortion, with other and unspecified complications
Failed medical abortion, without complication
Other and unspecified failed attempted abortion, complicated bygenital tract and pelvic infection
Other and unspecified failed attempted abortion, complicated bydelayed or excessive haemorrhage
Other and unspecified failed attempted abortion, with other andunspecified complications
Other and unspecified failed attempted abortion, withoutcomplication
Complications following abortion and ectopic and molar pregnancy, Genital tract and pelvic infection following abortion and ectopicand molar pregnancy
Delayed or excessive haemorrhage following abortion and ectopic andmolar pregnancy
???
Gestational [pregnancy-induced] hypertension with significantproteinuria,   Severe pre-eclampsia
Haemorrhage in early pregnancy, unspecified
Excessive vomiting in pregnancy, Mild hyperemesis gravidarum
Hyperemesis gravidarum with metabolic disturbance
Vomiting of pregnancy, unspecified
Maternal care for other conditions predominantly related topregnancy,   Pregnancy-related condition, unspecified
Abnormal findings on antenatal screening of mother, Abnormal ultrasonic finding on antenatal screening of mother
Abnormal findings on antenatal screening of mother, Abnormal finding on antenatal screening of mother, unspecified
Twin pregnancy
Maternal care for known or suspected malpresentation of fetus, Maternal care for unstable lie
Maternal care for known or suspected malpresentation of fetus, Maternal care for breech presentation
Maternal care for known or suspected malpresentation of fetus, Maternal care for transverse and oblique lie
Maternal care for known or suspected disproportion,   Maternal care for disproportion due to deformity of maternal pelvicbones
Maternal care for disproportion due to inlet contraction of pelvis
Premature rupture of membranes, onset of labour within 24 hours
Malformation of placenta
Placenta praevia specified as without haemorrhage
Placenta praevia with haemorrhage
Antepartum haemorrhage with coagulation defect
Antepartum haemorrhage, unspecified
Prolonged pregnancy
Preterm delivery
Primary inadequate contractions
Hypertonic, incoordinate, and prolonged uterine contractions
Long labour, unspecified
Obstructed labour due to breech presentation
Other obstructed labour, Failed trial of labour, unspecified
Obstetric trauma, unspecified
  Postpartum haemorrhage, Third-stage haemorrhage
Other immediate postpartum haemorrhage
Delayed and secondary postpartum haemorrhage
Retained placenta and membranes, without haemorrhage, Retained placenta without haemorrhage
Retained portions of placenta and membranes, without haemorrhage
Single spontaneous delivery,   Spontaneous vertex delivery
Other single spontaneous delivery
Single spontaneous delivery,   Single spontaneous delivery, unspecified
Delivery by caesarean section, unspecified
Multiple delivery, all by caesarean section
Other puerperal infections, Other genitourinary tract infections following delivery
Venous complications in the puerperium, Haemorrhoids in the puerperium
Other maternal diseases classifiable elsewhere but complicatingpregnancy, childbirth and the puerper,,,Diseases of the circulatory system complicating pregnancy,childbirth and the puerperium
Fetus and newborn affected by unspecified maternal condition
Fetus and newborn affected by other complications of labour and delivery, by other malpresentation, malposition anddisproportion during labour and
Fetus and newborn affected by caesarean delivery
Fetus and newborn affected by other specified complications oflabour and delivery
Small for gestational age
Slow fetal growth, unspecified
Extremely low birth weight
Disorders related to short gestation and low birth weight, notelsewhere classified,   Other low birth weight
Exceptionally large baby
Intracranial laceration and haemorrhage due to birth injury, Subarachnoid haemorrhage due to birth injury
Birth asphyxia, Severe birth asphyxia
Birth asphyxia, Mild and moderate birth asphyxia
Respiratory distress syndrome of newborn
Transient tachypnoea of newborn
Neonatal aspiration syndrome, unspecified
Haemorrhagic disease of fetus and newborn
Other perinatal digestive system disorders, Noninfective neonatal diarrhoea
Hypothermia of newborn, unspecified
Other conditions of integument specific to fetus and newborn, Congenital hydrocele
Feeding problems of newborn,   Vomiting in newborn
Congenital absence, atresia and stenosis of anus without fistula
Congenital malformations of gallbladder, bile ducts and liver, Atresia of bile ducts
Hypospadias, penile
Hypospadias, unspecified
Down's syndrome, unspecified
  Haemorrhage from respiratory passages, Epistaxis
Abnormalities of breathing,   Dyspnoea
Abdominal and pelvic pain,   Pain localized to other parts of lower abdomen
Other and unspecified abdominal pain
Hepatomegaly and splenomegaly, not elsewhere classified,   Splenomegaly, not elsewhere classified
Ascites
Other symptoms and signs involving the urinary system, Other difficulties with micturition
Fever of unknown origin,   Fever with chills
Fever of unknown origin,   Fever with chills
Fever of unknown origin,   Fever, unspecified
Convulsions, not elsewhere classified,   Febrile convulsions
Abnormal findings on diagnostic imaging of central nervous system,   Intracranial space-occupying lesion
Superficial injury of head,   Superficial injury of scalp
Superficial injury of nose
Multiple superficial injuries of head
Superficial injury of other parts of head
Superficial injury of head, Superficial injury of head, part unspecified
Open wound of head, Open wound of lip and oral cavity
Multiple open wounds of head
Open wound of other parts of head
Open wound of head, part unspecified
Fracture of base of skull
Fracture of nasal bones
Fractures of other skull and facial bones
Injury of eye and orbit, Ocular laceration without prolapse or loss of intraocular tissue
  Injury of eye and orbit, Penetrating wound of eyeball without foreign body
Intracranial injury, Concussion
Other and unspecified injuries of head,   Multiple injuries of head
Unspecified injury of head
Injury of nerves and spinal cord at neck level, Injury of brachial plexus
Fracture of rib(s), sternum and thoracic spine,   Fracture of thoracic vertebra
Open wound of abdomen, lower back and pelvis, Open wound of other and unspecified parts of abdomen
Injury of nerves and lumbar spinal cord at abdomen, lower back andpelvis level, Concussion and oedema of lumbar spinal cord
Superficial injury of shoulder and upper arm, unspecified
Open wound of shoulder
Dislocation, sprain and strain of joints and ligaments of shouldergirdle,  Dislocation of acromioclavicular joint
Superficial injury of forearm, unspecified
Open wound of forearm, part unspecified
Fracture of upper end of ulna
Injury of flexor muscle and tendon of thumb at forearm level
Multiple open wounds of wrist and hand
Traumatic amputation of other single finger (complete)(partial)
Unspecified injury of wrist and hand
Fracture of femur, part unspecified
Superficial injury of lower leg, unspecified
Fracture of patella
Fracture of shaft of tibia
Fracture of upper end of tibia
Superficial injury of ankle and foot, Contusion of other and unspecified parts of foot
Multiple superficial injuries of ankle and foot
Other superficial injuries of ankle and foot
Superficial injury of ankle and foot, unspecified
Open wound of toe(s) without damage to nail
Open wound of other parts of foot
Multiple open wounds of ankle and foot
Fracture of calcaneus
 
Fracture of foot, unspecified
Traumatic amputation of ankle and foot, Traumatic amputation of two or more toes
Traumatic amputation of other parts of foot
Other injuries of lower limb, level unspecified, Traumatic amputation of lower limb, level unspecified
Fracture of unspecified body region
Foreign body on external eye, part unspecified
Foreign body in stomach
Burn and corrosion of head and neck, Burn of second degree of head and neck
Burn of second degree of trunk
Burn of unspecified degree of shoulder and upper limb, except wristand hand
Burn of unspecified degree of hip and lower limb, except ankle andfoot
Burns involving 50-59% of body surface
Superficial frostbite of other and unspecified sites
Toxic effect of alcohol, Alcohol, unspecified
Toxic effect of corrosive substances, Corrosive acids and acid-like substances
Toxic effect of soaps and detergents
Toxic effect of pesticides, 
Snake venom
Toxic effect of contact with unspecified venomous animal
Toxic effect of other and unspecified substances, Toxic effect of other specified substances
Toxic effect of unspecified substance
Sequelae of injuries of head,   Sequelae of fracture of skull and facial bones
Sequelae of intracranial injury
Sequelae of injuries of upper limb, Sequelae of crushing injury and traumatic amputation of upper limb
Medical observation and evaluation for suspected diseases andconditions, Observation for suspected disease or condition, unspecified
Follow-up examination after treatment for conditions other thanmalignant neoplasms, Follow-up examination after surgery for other conditions
Contact with and exposure to communicable diseases, Contact with and exposure to unspecified communicable disease    
 Other surgical follow-up care,   Attention to surgical dressings and sutures
Other surgical follow-up care, Attention to surgical dressings and sutures
Other specified surgical follow-up care
Other surgical follow-up care,   Surgical follow-up care, unspecified
Problems related to lifestyle, Alcohol use
Other postsurgical states,   Other specified postsurgical states


Created by : dr Jhoni Pehulisa Sembiring
www.sembiring-jo.blogspot.com

Klick disini untuk baca selengkapnya....
 
Jhony Pehulisa Sembiring's Blog | Blogger Template Design By LawnyDesigns Powered by Blogger