kesehatan anak, Psikologi anak, Ebook Kedokteran,

Kamis, 13 Agustus 2009

Renjatan Hipovolemi Pada Anak (syok hipovolemik)

DEFINISI
Renjatan adalah sindroma klinis akibat kegagalan sirkulasi dalam memenuhi kebutuhan oksigen dan nutrisi jaringan baik pasokan maupun penggunaannya dalam metabolisme seluler. Renjatan hipovolemik terjadi karena berkurangnya volume intravaskular.
Penyebabnya bisa karena kehilangan cairan dan elektrolit (diare, muntah, diabetes mellitus, luka bakar), perdarahan, kehilangan plasma (luka bakar, sindroma nefrotik, demam berdarah dengue).

PATOFISIOLOGI
Bila terjadi hipovolemi maka tubuh akan malakukan kompensasi melalui mekanisme neurohumoral yang akan meningkatkan kemampuan kardiovaskuler sehingga tekanan darah bisa dipertahankan. Akibat kompensasi ini maka terjadi takikardia, vasokonstriksi, penyempitan tekanan nadi, akral dingin dan penurunan produksi urin.     

MANIFESTASI KLINIS  
Tergantung pada : penyakit primer penyebab renjatan, kecepatan dan jumlah cairan yang hilang, lama renjatan serta kerusakan jaringan yang terjadi, tipe dan stadium renjatan.
Secara klinis perjalanan renjatan dapat dibagi dalam 3 fase yaitu fase kompensasi, dekompensasi, dan ireversibel.
Tanda klinis        Kompensasi                          Dekompensasi                          Ireversibel
Blood loss ( % )      Sampai 25                                      25  - 40                                    > 40
Heart rate                Takikardia +                             Takikardia ++                        Taki/bradikardia
Tek. Sistolik          normal                                     Normal/menurun                           Tidak terukur
Nadi ( volume )     Normal/menurun                         Menurun +                                Menurun ++
Capillary refill       Normal/meningkat 3-5 detik Meningkat > 5detik                        Meningkat ++
Kulit                      Dingin, pucat                          Dingin/mottled                        Dingin+/deadly pale
Pernafasan            Takipneu                                   Takipneu +                           Sighing respiration
Kesadaran        Gelisah                                         Lethargi                                 Reaksi / hanya bereaksi terhadap nyeri

PEMERIKSAAN LABORATORIUM   
1.  Hb dan hematokrit : meningkat pada hipovolumi karena kehilangan cairan atau plasma
2.  Urin : produksi urin menurun, lebih gelap dan pekat, BJ meningkat > 1,020
3.  Pemeriksaan gas darah
4.  Pemeriksaan elektrolit serum
5.  Pemeriksaan fungsi ginjal
6.  Pemeriksaan mikrobiologi dilakukan hanya pada penderita yang  dicurigai
7. Pemeriksaan faal hemostasis.
8. Pemeriksaan-pemeriksaan lain untuk menentukan penyakit penyebab.  

TATALAKSANA
1.      Bebaskan jalan nafas,  oksigen 100%.
2.      Infus RL atau koloid 20 ml/kg BB dalam 10-15 menit, dapat diulang 2-3 kali. Bila akses vena sulit pada anak balita bisa dilakukan akses intraosseous di pretibia. Pada renjatan berat pemberian cairan bisa mencapai > 60 ml/kg BB dalam 1 jam. Bila resusitasi cairan sudah mencapai 2-3 kali tapi respon belum adekuat, maka  dipertimbangkan untuk intubasi dan bantuan ventilasi. Bila tetap hipotensi sebaiknya dipasang kateter tekanan vena sentral (CVP).
3.      Inotropik, indikasi : renjatan refrakter terhadap pemberian cairan, renjatan kardiogenik.     
   Dopamin         : 2-5 �g/kg BB/ menit.
     Epinephrine   : 0,1 �g/kg BB/ menit IV, dosis bisa ditingkatkan bertahap sampai efek yang diharapkan, pada kasus-kasus berat bisa sampai 2-3 �g/kg BB/ menit.
     Dobutamin                  : 5 �g/kg BB/ menit IV, ditingkatkan bertahap sampai 20 �g/kg BB/ menit.
     Norepinephrine: 0,1 �g/kg BB/ menit IV, dapat ditingkatkan sampai efek yang diharapkan.
4. Kortikosteroid  :
   Kortikosteroid yang diberikan adalah hidrokortison dengan dosis 50 mg/kg BB IV bolus dilanjutkan dengan dosis yang sama dalam 24 jam secara continous infusion.

KOMPLIKASI
-         Gagal ginjal akut
-         ARDS (acute respiratory distress syndrome/shock lung)
-         Depresi miokard-gagal jantung
-         Gangguan koagulasi/pembekuan
-         SSP dan Organ lain
Evaluasi gejala sisa SSP sangat penting, mengingat organ ini sangat sensitif terhadap hipoksia yang dapat terjadi pada renjatan berkepanjangan.
-         Renjatan irreversible.                



KEPUSTAKAAN

1.      Kline JA. Shock. In: Marx JA, Hockberger RS, Wall RM eds. Rosen�s Emergency   Medicine :th ed.St Louis : Mosby, 2002; 34-47. Concepts and clinical practice 5
2.      Wetzel R C . Shock. In  : Rogers MC, ed. Textbook of Pediatric Intensive Care. Baltimore :  William & Wilkins, 1996 : 555-605.
3.      Advance pediatric life support, the practical approach : shock (chapter 10) 2nd ed.  Advance  life support group, BMG Publisher, London, 1997.
4.      Sendel J, Scherung A, Salzberg D. Shock. In : Crain EF, Gershel JC. Clinical Manual of Emergency Pediatrics, 4th ed. NewYork : McGraw-Hill, 2003; 18-22.
5.      Gould SA, Sehgal LR, Sehgal HL, Moss GS. Hypovolemic shock. Crit Care Clin 1993; 9   (2) : 239-49.
6.      Carcillo JA. Management of pediatric septic shock. In : Holbrook PR.ed. Textbook of pediatric critical care. Philadelphia : WB Saunders, 1993; 114-42.

0 komentar:

EBOOK GRATIS

”buku ”buku ”buku ”diagnosis ”buku

Entri Populer

Arsip Blog