kesehatan anak, Psikologi anak, Ebook Kedokteran,

Kamis, 13 Agustus 2009

Kardiak Sianosis




GEJALA SIANOSIS SENTRAL
-         Bibir, kuku, mukosa mulut, konjungtiva, ujung hidung bila saturasi O2 arteri ≤ 85%. (newborn ≤ 90%).
-         Sianosis sentral tanpa gejala distres pernafasan (takipnea) tanpa� disertai pernafasan cuping hidung dan retraksi sela iga serta kadar CO2 yang rendah (tidak selalu tampak begitu setelah lahir)
-         Tes hiperoksia positip
Pemeriksaan yang harus segera dilakukan :
-         Hyperoxitest
-         Pemasangan pulse oxymetri� pada tangan kanan dan kaki (adanya duktus yang masih terbuka mengakibatkan aliran� darah aorta asenden dan desenden berasal dari ventrikel yang tidak sama).
-         PaO2 (arteri radialis kanan/brachialis/temporalis)
-         Hemoglobin dan� gula darah
-         Foto polos dada
-         Elektrokardiografi
-         Ekokardiografi
Pemeriksaan yang harus direncanakan :
-         Pemeriksaan kateterisasi dan angiokardiografi yang dilanjutkan dengan intervensi non bedah.
-         Pemeriksaan mean corpuscular volume (MCV) dan serum ferritin sangat menggambarkan status besi.
TERAPI
-         Penempatan pada lingkungan yang nyaman dan fisiologis (suhu 36,5-37o C dan kelembaban sekitar 50%).
-         Bila curiga cardiac cyanosis, kuhsusnya ductal dependent, segera berikan Prostaglandine E1 (Prostin VR Pediatric) 0,05-0,1 ug/kg/men drip sampai KU membaik lalu turunkan step by step sampai 0,01 ug/kg/men. Bila dosis awal tidak ada respon, naikkan menjadi 0,4 ug/kg/men. Awas apneu-fever-taki/bradi kardia, flushing hipotensi dan cardiac arrest!
-         Pemberian oksigen 2-4 liter per menit dengan masker atau kateter nasal.

Catatan :
1. Pemberian oksigen pada neonatus mengakibatkan vasokonstriksi arteria sistemik dan vasodilatasi arteria pulmonalis, hal ini memperburuk PJB dengan pirau kiri ke kanan. Pemberian oksigen pada neonatus ductus dependent sistemic circulation atau ductus dependent pulmonary� circulation �malah mempercepat penutupan duktus dan memperburuk keadaan. Pada kedua kondisi tersebut lebih baik mempertahankan saturasi oksigen tidak lebih dari 85% dengan� udara kamar (0,21% O2).
-                     Pemberian� cairan dan nutrisi dipertahankan dalam status normovolemik sesuai umur dan berat badan
-                     Masukan oral susu formula/makanan cair dengan porsi kecil tapi sering
-                     Awasi gangguan refleks menghisap dan pengosongan lambung
2. Bedakan dengan Persistent Pulmonary Hypertension of the Newborn (PPHN), berupa gejala sianosis dan respiratory difficulties (takipnu,retraksi,merintih) pada� umur 6-12 jam disertai meconium staining/asfiksia/maternal nonsteroidal anti-inflammatory drugs pada������ trimester III. Berikan Tolazolin (Priscoline) bolus 0,5-1 mg/kg pelan, dilanjutkan drip 2-4 mg/kg/jam, ditambah Dopamin 10 ug/kg/men drip untuk meningkatkan curah jantung. Bila ada gagal jantung, berikan pula Dobutamin 5-8 ug/kg/menit drip.
DAFTAR PUSTAKA
1.      Artman M, Mahoni L, Teitel DF. Initial Evaluation and Treatment of the Newborn with Symptomatic Cardiovascular Disease. Dalam Neonatal Cardiology. The McGraw-Hill Co. 2002; 63-100.
2.      Gessner IH. Cyanotic Newborn. Dalam: Gessner IH, Victorica BE, Ed.Pediatric Cardiology A Problem Oriented Approach. Philadelphia, WB Saunders Company, 1993. h.97-109.
3.      Johnson GL. Neonatal cardiology: clinical examination. Dalam: Long E, Penyunting. Fetal & neonatal cardiology. Philadelphia : Saunders, 1990; 223.
4.      Jordan SC, Scott O. Heart disease in paediatrics; edisi ke-3. London : Butterworths, 1989; 159-211.
5.      Ontoseno T. Diagnosis dan Tatalaksana Penyakit Jantung Bawaan yang Kritis pada Neonatus. Continuing Education Ilmu Kesehatan Anak.No 34, Desember 2004; 166-184.
6.      Ontoseno T. Mekanisme penurunan deformabilitas eritrosit pada pasien tetralogy Fallot dengan defisiensi besi. Disertasi. 2004 Akan dipublikasikan.
7.      Ontoseno T. Evaluasi Bayi sianotik. Naskah Lengkap Kongres Nasional Ilmu Kesehatan anak X Bukitinggi, 16-20 Juni. Hal 39-45. 1996.
8.      Prasodo AM. Cyanotic congenital heart disease without surgical intervention. Maj Kardiol Indones 1988; 3.
9.      Yip WCL. Cyanotic congenital heart disease. Dalam : Yip WCL, Tay SH, Penyunting. A practical manual on acute pediatrics. Singapore : PG Publ, 1989; 85-102.

0 komentar:

EBOOK GRATIS

”buku ”buku ”buku ”diagnosis ”buku

Entri Populer

Arsip Blog