kesehatan anak, Psikologi anak, Ebook Kedokteran,

Kamis, 13 Agustus 2009

Gagal Hati Fulminan Pada Anak

PENDAHULUAN
Gagal hati fulminan adalah suatu sindrom klinik yang disebabkan oleh nekrosis sel hati yang luas, diikuti kegagalan fungsi hati secara mendadak, yang ditandai dengan ensefalopati yang timbul dalam waktu kurang dari 8 minggu setelah gejala pertama penyakit hati.

PATOFISIOLOGI
Berdasar interval waktu antara timbulnya ikterus dan ensefalopati, gagal hati dibagi menjadi 3 kategori : hiper akut, akut, dan sub akut.
Klasifikasi Gagal Hati Akut
Interval jaundice- Ensefalopati
Edema Otak
Prognosis
Penyebab
Hiper-akut
<7 hari
Sering
Sedang
Virus A,B
Acetaminophen
Akut
8-28 hari
Sering
Jelek
Non-A/B/C;obat
Sub-akut
29 hari - 12 mg
Sering
Jelek
Non-A/B/C;obat

 

GEJALA KLINIS
Gejala klinis sangat bervariasi, merupakan gabungan antara gejala kelainan hati dan ensefalopati, mulai yang ringan sampai koma. Pada bayi perjalanan penyakit progresif dan bayi meninggal sebelum ikterus tampak.
Gejala hepatitis : lemah, panas, anoreksia, muntah, nyeri perut, ikterus, kencing keruh, tinja akolis.
Gejala neurologi : gangguan tingkah laku, pusing, sakit kepala, perubahan irama tidur, gangguan koordinasi dengan flapping tremor, refleks tendon yang meningkat, dan refleks Babinsky positif, hingga fase akhir terjadi hipotoni dan refleks-refleks menghilang.


Gradasi koma hepatikum yang terjadi adalah sebagai berikut :

Gradasi

Tingkat kesadaran
Kejiwaan
Tanda Neurologi

Gangguan EEG

0
Normal
Normal
Tidak ada
Tidak ada
Sub-klinis
Normal
Normal
Gangguan tes psikometrik
Tidak ada
1
Gangguan pola tidur
Gelisah
Lupa
Bingung
Agitasi
Iritabel
Tremor
Apraksia
Inkordinasi
Tidak bisa menulis
Gelombang tiga fase
(5 Hz)
2
Lethargy
Respons lambat
Disorientasi waktu
Hilang hambatan
Kelakuan tak terkontrol
Asteriksis
Disarthria
Ataksia
Refleks hipoaktif
Gelombang tiga fase
(5 Hz)
3
Somnolence
Confusion
Disorientasi tempat
Agresif
Asteriksis
Kekakuan otot
Tanda Babinsky
Refleks hiperaktif
Gelombang tiga fase
(5 Hz)
4
Koma
Tidak ada
Deserebrasi
Aktifitas gelombang Delta/ lambat

DIAGNOSIS

Selain anamnesis, pemeriksaan fisik dan neurologis, beberapa pemeriksaan penunjang juga diperlukan dalam menegakkan diagnosis :

Pemeriksaan laboratorium

a.       Serum transaminase : meningkat  70-100 kali
b.      Bilirubin direk dan total : bilirubin > 4 mg/dl menunjukkan prognosis buruk
c.       Alkali fosfatase : normal atau meningkat
d.      Faal hemostasis : memanjang
e.       Albumin serum : fase awal normal dan menurun pada fase lanjut. Kadar albumin rendah menunjukkan prognosis buruk
f.        Hipoglikemia, khususnya pada bayi
g.       Peningkatan kadar serum kreatinin signifikan mengarah pada hepatorenal syndrome
h.       Hiponatremia dan hipokalemia
i.         Kadar fosfat rendah
j.        Kadar serum ammonia meningkat secara dramatis
k.      Peningkatan serum laktat sebagai akibat gangguan perfusi jaringan dan penurunan klirens oleh hati
l.         Analisis gas darah : asidosis metabolik atau alkalosis respiratorik sebagai akibat dari hepatopulmonary syndrome
m.     Pemeriksaan serologi terhadap etiologi gagal hati fulminan

 Pemeriksaaan penunjang lain

a.       EEG
b.      USG hati  (Doppler)
c.       CT scan atau MRI abdomen.
d.      CT scan kepala
e.       Biopsi hati

 TATALAKSANA

Tujuan pengobatan adalah mempertahankan fungsi otak, ginjal, pernafasan sampai terjadi regenerasi hati serta mencegah terjadi komplikasi, dengan pengawasan yang intensif dan berkesinambungan, meliputi :
  1. Mempertahankan  keseimbangan  cairan dan elektrolit. 
        Pemberian cairan intravena.
        Mempertahankan kadar Natrium dan Kalium darah.
  1. Diet
Tinggi kalori, tinggi karbohidrat dan cukup lemak. Protein 0,5-1 g/kgBB/hari.
  1. Pengobatan terhadap perdarahan
Timbulnya perdarahan merupakan akibat defisiensi faktor-faktor pembekuan, DIC, dan trombositopenia.
        Vitamin K
        Plasma segar beku
        Faktor pembekuan diberikan bila waktu protrombin memanjang lebih dari 10 detik
        Antasid dan antagonis reseptor H2 20 mg/kgBB/hari
        Bila terjadi perdarahan diberikan darah segar
  1. Pengobatan terhadap ensefalopati
        Neomisin 25 mg/kgBB tiap 8 jam
        Laktulose enema 150cc dalam 500cc air 4 kali sehari
        Laktulose oral 1 ml/kgBB 4 kali sehari
  1. Pemberian sedatif harus dicegah
        Bila kejang diberi flumazenil (benzodiazepine-receptor antagonist)
        Tidak boleh diberikan diazepam karena dapat menekan pusat pernapasan
  1. Antibiotik
Jika diduga infeksi, sesuai hasil kultur.
  1. Edema serebri
        Kortikosteroit masih kontroversi
        Manitol 0.5-1 g/kgBB iv bila tekanan intrakranial lebih dari 30 mmHg, dosis pemeliharaan 0.25-0.5 g/kgBB iv 4 kali sehari.
  1. Gangguan ginjal
Peritoneal dialisis atau hemodialisis bila terjadi gagal ginjal
  1. Gangguan pernafasan
        Intubasi endotrakheal dan ventilasi mekanik bila terjadi gagal nafas
        Asidosis diberi Natrium Bicarbonat karena dapat memperbaiki kesadaran dan meningkatkan aliran darah dan oksigen ke otak
  1. Usaha untuk menunjang fungsi hati
        Tranfusi tukar (exchange transfusion)
        Dialisis peritoneal pada penyakit Wilson untuk membuang tembaga dengan menambah D-penicillamine kedalam dialysate
        Plasmapheresis pada gagal hati fulminan yang menunggu transplantasi
        Charcoal haemoperfusion dengan infus prostacyclin
        Transplantasi hati

PEMANTAUAN
Tekanan darah, nadi, suhu tubuh, produksi urine dan jika memungkinkan dengan tekanan vena sentral. Pemeriksaan  laboratorium : darah lengkap, fungsi ginjal dan fungsi hati, serum  elektrolit,  albumin, analisa gas darah dan

PROGNOSIS

Mortalitas pada anak-anak sebesar 80-90% disebabkan edema serebri, sepsis, dan kerusakan multi organ. Angka keberhasilan hidup adalah sebesar 10-20%. Dipengaruhi oleh derajat koma, macam pengobatan, umur penderita, dan tergantung pada kemampuan regenerasi hati serta komplikasi yang terjadi.

DAFTAR PUSTAKA
1.      Pomeranz AJ, Busey SL et al. Pediatric Decision Making Strategies. 16th ed. Philadelphia : WB Saunders Company. 2002; 134-8.
2.      Schiedt FV, Lee WM. Fulminant liver disease. Clin in Liver Dis. 2003; 2 : 331-49.
3.      Sokol JR, Narkewicz MR. Fulminant Hepatitis. In : Hay WW, Hayward AR et al. Current Pediatric Diagnosis and Treatment. 15th  ed. Newyork : Lange Medical Book/Mc Graw Hill.2001; 585-6.
4.      Suchi JF. Fulminant Hepatic Failure. In: Behrman RE, Kliegman RM et al . Nelson Textbook of Pediatrics. 17th  ed. Philadelphia :  WB Saunders Company. 2004; 1220-2.


Algoritme Tatalaksana Gagal Hati fulminan

Gagal Hati Fulminan

0 komentar:

EBOOK GRATIS

”buku ”buku ”buku ”diagnosis ”buku

Entri Populer

Arsip Blog