kesehatan anak, Psikologi anak, Ebook Kedokteran,

Kamis, 03 September 2009

Penyiksaan dan Pengabaian Terhadap Anak


Dewasa ini fenomena anak yang disiksa atau ditelantarkan orang tua makin sering kita dengar beritanya, entah karena frekuensi peningkatan kasus atau karena era keterbukaan hingga berita apapun diangkat ke permukaan, atau memang karena keduanya. Pada tahun 2006, PBB mengeluarkan data statistic yang menyebutkan bahwa hampir 53.000 anak di seluruh dunia terbunuh akibat tindakan kekerasan / penyiksaan; lebih dari 80 hingga 98% anak pernah mengalami siksaan fisik sebagai bentuk hukuman dan sepertiga dari jumlah tersebut menerima hukuman fisik dengan menggunakan alat. Pada tahun 2004 di seluruh dunia

terdapat 218 juta anak yang menjadi pekerja di bawah umur dimana 126 juta di antaranya melakukan pekerjaan yang berbahaya. Dan di tahun 2000 terdapat 1.8 juta anak yang terpaksa atau pun dipaksa masuk dalam bisnis prostitusi dan pornografi, dimana 1.2 juta di antara mereka merupakan korban perdagangan anak.

Data PBB tersebut saking fenomenalnya, mungkin terasa begitu jauh dengan kehidupan kita sehari-hari. Padahal, tindakan kekerasan dan pengabaian terhadap anak itu bisa saja terjadi di depan mata kita sehari-hari, atau bahkan di dalam rumah sendiri. Kita mulai berpikir, apakah tindakan kita ini sudah tergolong abusive atau masih wajar. Untuk itu, mari kita telaah dulu definisinya.

Definisi
Menurut James Vander Zanden dalam bukunya Human Development (1989) menyebutkan definisi abuse (kekerasan / penyiksaan) sebagai serangan fisik (bisa menyebabkan luka) dan dilakukan dengan sengaja oleh orang yang seharusnya jadi care taker. David A Wolfe dalam bukunya Child Abuse, mengatakan bahwa maltreatment terhadap anak bisa berbentuk physical abuse, emotional abuse, sexual abuse dan neglect (pengabaian). Pengabaian dapat diartikan sebagai ketiadaan perhatian baik sosial, emosional dan fisik yang memadai, yang sudah selayaknya diterima oleh sang anak. Para psikiater yang terhimpun dalam Himpunan Masyarakat Pencegah Kekerasan Pada Anak di Inggris (1999) berpendapat, bahwa pengabaian terhadap anak juga merupakan sikap penyiksaan namun lebih bersifat pasif. Efek dari penyiksaan maupun pengabaian terhadap anak sama-sama mendatangkan akibat yang buruk.

Pengabaian Terhadap Anak
Mengabaikan anak pun tergolong penyiksaan karena dengan pengabaian, anak tidak mendapatkan hak-hak mereka, entah itu hak untuk dicintai, untuk hidup, tumbuh, untuk mendapatkan pendidikan dan sekolah, rasa aman, kesehatan, perlindungan, memiliki masa depan, dsb. Membiarkan dan atau mendorong anak mengkonsumsi minuman keras, drugs (obat terlarang), rokok serta apapun yang berbahaya bagi kesehatan anak sudah tergolong tindakan pengabaian. Kita tidak bisa mengecilkan dampak pengabaian di bandingkan kekerasan karena sama-sama punya potensi merusak dan membahayakan kelangsungan hidup anak.
Salah satu penelitian tentang pengabaian juga menjelaskan bahwa membiarkan anak melakukan tindakan antisocial, membiarkan anak bolos sekolah atau tidak mau sekolah tanpa sebab, membiarkan anak tanpa pengawasan orang dewas, mengacuhkan anak dan tidak mengajaknya bicara, membeda-bedakan kasih sayang dan perhatian di antara anak-anaknya itu sendiri sudah dikategorikan pengabaian.

Bayi yang terpisah dari orang tua dan tidak mendapatkan replacement (misal, orangtua baru yang juga mencintai dan melindunginya, memberi rasa aman dan bisa membangun kelekatan emosional), kemungkinan berpotensi mengalami problem adapatasi di kemudian hari. Menurut Wenar (1991), ketiadaan pengasuhan yang memadai setelah terbentuknya ikatan cinta kasih di antara anak dengan pengasuh akan menyebabkan perilaku yang menyimpang, karena dampak dari kehilangan tersebut sangatlah dirasakan sebagai suatu penolakan atau pun pengabaian. Dengan kapasitas pemahaman yang masih terbatas akan suatu peristiwa, sang anak akan menterjemahkan kejadian tersebut sebagai bentuk penolakan atas dirinya, ia merasa tidak cukup berharga sehingga tidak pantas untuk dicintai. Hal ini jika berlanjut tanpa sempat diperbaiki, akan menimbulkan masalah terutama dalam pembentukan identitas seseorang serta penyesuaian diri dalam kehidupannya di lingkungan

Penyiksaan Terhadap Anak
Semua orang tua pasti sekali waktu merasa marah terhadap anaknya. Mengatasi perilaku anak memang bukan perkara mudah. Hanya dengan bilang "tidak" saja belum tentu dapat meredam sikap yang menjengkelkan tersebut. Dalam menghadapi sikap dan perilaku anak yang menyulitkan tersebut banyak orang tua yang lepas kendali sehingga mengatakan atau melakukan sesuatu yang membahayakan anak sehingga kemudian mereka sesali. Jika situasi ini sering berulang, hal ini yang dikatakan sebagai penyiksaan anak, baik secara fisik maupun mental.


Definisi penyiksaan ini berlaku bagi kekerasan / penyiksaan dengan tingkat dan intensitas serta  tindakan  dan dampak yang beragam. Tindakan bisa mencubit, menampar, memukul, melempar, membakar, menyulut dengan rokok, menyerang anak secara agresif, menghukum secara berlebihan, membanting dan banyak tindakan dasyat lainnya, sementara penyiksaan emosional bisa dilakukan dalam bentuk bentuk kritikan, celaan, hinaan, dsb; atau pelecehan seksual. Dampak fisik mulai dari luka ringan, luka berat hingga luka yang menyebabkan kematian, sementara dampak psikologis seperti rasa rendah diri, trauma, dan bentuk lain yang akan dibahas secara detil di bagian lain pada artikel ini.

Faktor Penyebab

Mengapa sampai ada orang tua yang tega menyiksa atau mengabaikan anaknya? Menurut logika awam dan ditunjang oleh pendapat beberapa ahli, orang tua yang melakukan hal itu tentunya punya latar belakang alasan tertentu, atau kesejarahan yang berpotensi memicu tindakan kekerasan tidak hanya terhadap anak, mungkin juga terhadap pasangan. Mari kita coba telaah kondisi apa saja yang bisa mendorong child abuse ini.

1. Pola asuh yang tidak sehat
Orang tua yang sangat otoriter, tidak memberikan peluang anaknya untuk berekspresi, bahkan seringkali orang tua memaksakan kehendak pada anak tanpa melihat compatibility dengan situasi , kebutuhan dan karakter anak. Sikap memaksakan pola kebiasaan, ritual dan peraturan tanpa memberikan ruang untuk pembaharuan dan fleksibilitas dapat memicu ketegangan antara orang tua dengan anak.

2. Karakter immature
Banyak dari pelaku tindakan kekerasan ini adalah orang tua yang kekanak-kanakkan. Meski umurnya tua tapi pola pikir, sikap, tindakan masih seperti anak-anak, seperti impulsive, reaktif, emosional, tantrum, dsb. Seorang remaja (bahkan orang yang sudah cukup umur pun), berpotensi mengalami masalah seperti ini saat membesarkan anaknya kalau ia sendiri masih ingin jadi pusat perhatian.

3. Problem emosional
Problem berkepanjangan yang tidak selesai bisa menyebabkan stress hingga melampaui ambang batas daya tahan mental orang tua yang memicu baik tindakan kekerasan maupun pengabaian. Apalagi jika ambang batas ketahanan mental orang tua rendah, maka gampang sekali emosi orang tua jebol hingga mereka kehilangan kendali diri.

4. Penggunaan obat terlarang
Keluarga yang alkoholis cenderung lebih tidak stabil dan tidak dapat diramalkan perilakunya. Segala aturan main dapat saja berubah setiap waktu, dan seringkali mudah mengingkari janji-janji yang pernah dibuat. Demikian pula dengan pola asuh orang tua terhadap anak. Pola asuh yang diterapkan seringkali berubah-ubah secara tidak konsisten; dan tidak ada ruang bagi anggota keluarganya untuk mengekspresikan perasaannya secara apa adanya karena banyaknya batasan dan larangan untuk membahas "keburukan" keluarga.

Sering para anggota yang lain dituntut menjaga rahasia supaya tidak ada yang tahu. Situasi ini tentu saja membuat perasaan tertekan, frustrasi, marah, tidak nyaman dan kegelisahan di hati anak-anaknya. Sering anak berpikir bahwa mereka telah melakukan sesuatu kekeliruan yang menyebabkan orang tua punya kebiasaan buruk. Akibatnya, rasa tidak percaya, kesulitan mengekspresikan emosi secara tepat, serta kesulitan menjalin hubungan sosial yang erat dan sejati, menjadi masalah yang terbawa hingga dewasa. Menurut penelitian beberapa ahli, anak-anak dari keluarga ini lebih beresiko mengembangkan kebiasaan alkoholismenya di masa dewasa dari pada anak-anak yang bukan berasal dari keluarga alkoholis.

Menurut penelitian Chaffin, Kelleher dan Hollenberg (1996), pecandu obat terlarang dilaporkan menjadi faktor yang paling umum dianggap menjadi penyebab penyiksaan dan pengabaian terhadap anak-anak serta melakukan pengasuhan dengan cara yang tidak benar atau keliru. Apalagi kalau sudah pada taraf ketergantungan, mudah sekali kehilangan akal sehat. Kalau sudah kehilangan akal sehat, apapun bisa terjadi, entah memukul istri dan anak, menghabiskan jatah uang operasional keluarga, mengeluarkan kata-kata kasar dan menyakitkan, menghancurkan benda-benda yang bernilai maknanya bagi anak (mainan, radio, dsb). Payahnya, setelah melakukan tindakan itu orang sering bersembunyi di balik kata khilaf, padahal waras dan sadar waktu memutuskan untuk minum dan nge-drugs.

5. Masalah kejiwaan orang tua
Masalah kejiwaan yang menghinggapi salah satu dari orang tua sudah tentu membawa dampak bagi pertumbuhan dan perkembangan jiwa anak-anaknya. Tidak hanya itu, masalah kejiwaan orang tua pasti mempengaruhi pola interaksi dan komunikasi yang terjalin di dalam keluarga. Dalam tinjauan teori sistem, jika salah seorang anggota keluarga mengalami masalah kejiwaan, otomatis akan mempengaruhi anggota keluarga yang lain dan menyebabkan perubahan-perubahan di berbagai segi kehidupan keluarga.

Seorang peneliti bernama Rose Cooper Thomas yang melakukan penelitian terhadap hubungan antara ibu dan anak, menemukan bahwa ibu yang mengalami gangguan jiwa Schizophrenia (dengan kecenderungan perilaku yang acuh tak acuh), maka cenderung menghasilkan anak yang perilakunya suka memberontak, jahat, menyimpang atau bahkan anti sosial. Namun sebaliknya ada pula yang anaknya jadi suka menarik diri, pasif, tergantung dan terlalu penurut. Peneliti lain juga menemukan, gangguan jiwa sang ibu berakibat pada terganggunya perkembangan identitas sang anak.

Penemuan yang sama juga mengungkapkan bahwa gangguan Obsesif Kompulsif yang dialami orang tua sangat berkaitan erat dengan sikap pengabaian mereka terhadap anaknya. Sebab, gangguan Obsesif Kompulsif ini menjadikan individu nya lebih banyak memikirkan dan melakukan ritual-ritualnya dari pada tanggung jawab mengasuh anaknya. Penelitian lain dilakukan oleh Chaffin, Kelleher dan Hollenberg (1996) terhadap anak-anak yang orang tuanya mengalami depresi atau pun psikopatologi. Menurut mereka, orang tua yang depresif ditemukan sering melakukan penyiksaan secara fisik terhadap anak-anak mereka. Anak-anak mereka juga dilaporkan mengalami masalah seperti depresi, masalah interpersonal, perilaku yang aneh-aneh dan mengalami masalah di sekolah atau dalam belajar.
Munchausen's Syndrome by Proxy
Munchausen Syndrome by Proxy (MSbP) adalah gangguan mental yang biasanya dialami oleh wanita, dalam hal ini seorang ibu terhadap anaknya (biasanya pada bayi atau anak-anak di bawah usia 6 tahun) dan biasanya berakibat sang anak harus mendapatkan perawatan serius di rumah sakit. Dalam penyakit yang digambarkan pertama kali oleh Meadow pada tahun 1977 ini dideteksi adanya unsur kebohongan yang bersifat patologis dalam kehidupan sehari-hari sang ibu sejak dahulu hingga sekarang.

Pada kasus yang parah, sang anak secara terus menerus dihadapkan pada situasi yang mengancam keselamatan jiwanya; dan sang ibu yang melakukannya dari luar justru kelihatan lemah lembut dan tulus. Gangguan jiwa yang berbahaya ini bisa berakibat pada kematian anaknya karena pada banyak kasus ditemukan bahwa sang ibu sampai hati menyekap (atau mencekik) dan meracuni anaknya sebagai bukti pada dokter bahwa anaknya benar-benar sakit.

Memang, pada kasus-kasus ini sering ditemukan adanya sejarah gangguan perilaku antisosial pada sang ibu, yang disebabkan dirinya sendiri mengalami pola asuh yang salah dari orang tuanya dahulu. Pada kasus lain ditemukan bukti bahwa ternyata sang ibu mengalami gangguan somatis seperti contohnya (menurut istilah medis) gangguan neurotik, hypochondria, atau gangguan yang bersifat semu lainnya). Ditemukan pula, bahwa ibu-ibu yang tega melakukan hal ini terhadap anaknya ternyata mengalami gangguan kepribadian yang cukup parah.

Gangguan jiwa yang dialami orang tua apalagi yang bersifat agresif seringkali mendatangkan suasana teror dalam kehidupan sang anak, terutama jika kekejaman atau pun kekerasan tersebut terjadi secara random dan tidak dapat diprediksikan kemunculannya. Akibatnya tentu saja sulit bagi anak untuk bisa mengembangan rasa percaya diri dan kepercayaan pada orang lain karena mereka sulit menemukan lingkungan yang memberikan rasa aman.

6. Masalah perkawinan
Salah satu kebahagiaan terbesar dalam hidup adalah merasakan hubungan yang hangat dan penuh dengan kasih sayang yang diperoleh dari orang-orang yang dicintai. Namun tidak selamanya setiap orang dapat merasakan hal ini, terutama jika mereka berada dalam keluarga yang mengalami masalah pelik yang tidak hanya mempengaruhi keharmonisan keluarga, namun pengaruhnya sampai pada kehidupan emosional para anggotanya.

Akibatnya, setiap anggota keluarga merasakan bertambahnya beban mental atau tekanan emosional yang terus menerus bertambah dari hari ke hari. Beban mental ini akan semakin berat kalau suasana dalam keluarga serasa mencekam, seperti di kuburan, tidak ada satu orang pun yang berani mengemukakan emosi dan pikirannya, dan tidak ada keleluasaan untuk bertindak. Tidak ada suasana keterbukaan ini hanya akan meningkatkan ketegangan dari setiap anggota keluarga.

Para ahli yang menganut faham teori sistem berpandangan, bahwa yang sebenarnya, jika orang melihat seorang anak yang kelihatannya bermasalah, entah itu masalah penyesuaian diri, masalah belajar atau masalah lainnya, sebenarnya yang harus dicari tahu sumber penyebabnya bukanlah pada diri si anak, tapi lebih pada orang tua dan interaksi yang terjadi di dalam keluarga itu. Karena, anak bermasalah sebenarnya merupakan pertanda adanya ketidakberesan dalam hubungan keluarga itu sendiri. Jadi, masalah yang ditampilkan oleh anak merepresentasikan disfungsi yang terjadi di dalam kehidupan keluarganya.

7. Problem pribadi lainnya
Jaman sekarang ini banyak masalah yang bisa dijadikan alasan tindakan emosional dan irasional seseorang, seperti krisis ekonomi, terlilit hutang, harga barang naik, harga sewa naik, sementara harga diri turun karena tidak punya pekerjaan dan penghasilan. Namun sekali lagi, kemampuan orang tua menemukan jalan keluar yang tepat dan sehat, tergantung pada factor internal, seperti kreativitas, daya tahan mental dan daya juang, motivasi, pengendalian diri, dan beberapa factor lain (lihat artikel : berkelit di masa sulit).
Di masa sekarang ini, penyiksaan dan pengabaian terhadap anak tidak hanya terjadi di rumah, namun bisa juga terjadi di sekolah dan di organisasi. Kasus bunuh diri dan pembunuhan serta penyiksaan yang terjadi di lingkungan sekolah sudah menjadi bukti bahwa tindakan kekerasan terhadap siapapun pihak yang lebih lemah, sudah meluas. Sudah saatnya setiap orang melihat ke depan, apa dampak jangka panjang penyiksaan dan pengabaian terhadap anak supaya tidak mengecilkan arti setiap insiden. Sebuah insiden mungkin tidak signifikan buat seseorang, tapi bisa traumatis buat anak-anak yang sense of self nya masih lemah, dan banyak tergantung pada orang-orang dewasa di sekeliling mereka. Oleh karena besarnya pengaruh lingkungan terhadap pembentukan karakter dan kepribadian mereka, maka sejak dini kita perlu tahu apa dampak dari perilaku abusive supaya kita bisa berpikir dahulu sebelum bertindak, tidak murah meriah mengucapkan kata khilaf.

Dampak Child Abuse

Menurut berbagai lembaga penanganan terhadap anak-anak yang mendapat perlakuan negatif dari orang tua, ada beberapa faktor yang mempengaruhi besar kecilnya dampak atau efek dari penyiksaan atau pengabaian terhadap kehidupan sang anak. Faktor-faktor tersebut adalah:
  • Jenis perlakuan yang dialami oleh sang anak
  • Seberapa parah perlakuan tersebut dialami
  • Sudah berapa lama perlakuan tersebut berlangsung
  • Usia anak dan daya tahan psikologis anak dalam menghadapi tekanan
  • Apakah dalam situasi normal sang anak tetap memperoleh perlakuan atau pengasuhan yang wajar
  • Apakah ada orang lain atau anggota keluarga lain yang dapat mencintai, mengasihi, memperhatikan dan dapat diandalkan oleh sang anak
Sementara itu penyiksaan dan atau pengabaian yang dialami oleh anak dapat menimbulkan permasalahan di berbagai segi kehidupannya seperti:
  1. Masalah Relational
  2. Masalah Emosional
  3. Masalah Kognisi
  4. Masalah Perilaku
Masalah Relational
  • Kesulitan menjalin dan membina hubungan atau pun persahabatan
  • Merasa kesepian
  • Kesulitan dalam membentuk hubungan yang harmonis
  • Sulit mempercayai diri sendiri dan orang lain
  • Menjalin hubungan yang tidak sehat, misalnya terlalu tergantung atau terlalu mandiri
  • Sulit membagi perhatian antara mengurus diri sendiri dengan mengurus orang lain
  • Mudah curiga, terlalu berhati-hati terhadap orang lain
  • Perilakunya tidak spontan
  • Kesulitan menyesuaikan diri
  • Lebih suka menyendiri dari pada bermain dengan kawan-kawannya
  • Suka memusuhi orang lain atau dimusuhi
  • Lebih suka menyendiri
  • Merasa takut menjalin hubungan secara fisik dengan orang lain
  • Sulit membuat komitmen
  • Terlalu bertanggung jawab atau justru menghindar dari tanggung jawab
Masalah Emosional
  • Merasa bersalah, malu
  • Menyimpan perasaan dendam
  • Depresi
  • Merasa takut ketularan gangguan mental yang dialami orang tua
  • Merasa takut masalah dirinya ketahuan kawannya yang lain
  • Tidak mampu mengekspresikan kemarahan secara konstruktif atau positif
  • Merasa bingung dengan identitasnya
  • Tidak mampu menghadapi kehidupan dengan segala masalahnya
Masalah Kognisi
  • Punya persepsi yang negatif terhadap kehidupan
  • Timbul pikiran negatif tentang diri sendiri yang diikuti oleh tindakan yang cenderung merugikan diri sendiri
  • Memberikan penilaian yang rendah terhadap kemampuan atau prestasi diri sendiri
  • Sulit berkonsentrasi dan menurunnya prestasi di sekolah
  • Memiliki citra diri yang negatif
Masalah Perilaku
  • Muncul perilaku berbohong, mencuri, bolos sekolah
  • Perbuatan kriminal atau kenakalan
  • Tidak mengurus diri sendiri dengan baik
  • Menunjukkan sikap dan perilaku yang tidak wajar, dibuat-buat untuk mencari perhatian
  • Muncul keluhan sulit tidur
  • Muncul perilaku seksual yang tidak wajar
  • Kecanduan obat bius, minuman keras, dsb
  • Muncul perilaku makan yang tidak normal, seperti anorexia atau bulimia
Tidak semua anak akan memperlihatkan tanda-tanda tersebut di atas karena mereka merasa malu, atau takut untuk mengakuinya. Bisa saja mereka diancam oleh pelakunya untuk tidak membicarakan kejadian yang dialami pada orang lain. Jika tidak, maka mereka akan mendapatkan hukuman yang jauh lebih hebat. Tidak menutup kemungkinan, anak-anak tersebut justru mencintai pelakunya. Mereka ingin menghentikan tindakannya tetapi tidak ingin pelakunya ditangkap atau dihukum, atau melakukan suatu tindakan yang membahayakan keutuhan keluarga.

Pencegahan

Tindakan pencegahan hingga saat ini merupakan hal terbaik yang bisa dilakukan. Logikanya, makin banyak penduduknya, makin kompleks krisisnya sementara tingkat pengangguran, kemiskinan dan kebodohan masih tinggi, maka potensi terjadinya kekerasan terhadap anak makin besar pula. Berikut ini ada beberapa saran yang bisa dilakukan :
1. Hotline service
Jika ada indikasi maupun pola-pola kekerasan atau pun pengabaian, maka ada institusi yang khusus membantu menangani masalah tersebut. Baik korban maupun anggota keluarga bisa menghubungi nomer hotline agar kasusnya segera ditangani. Salah satu institusi perlindungan bagi anak adalah Komisi Nasional Perlindungan Anak yang bisa dilihat dari website mereka di www.komnaspa.or.id
2. Program pendidikan bagi orang tua
Banyak orang tua yang tidak tahu bahwa eksistensi dirinya dan tindakannya bisa menjadi sumber masalah besar bagi anak di kemudian hari, Pola pikir yang keliru dan pola asuh yang tidak sehat mempengaruhi pola pikir dan karakter anak. Dengan membekali orang tua pengetahuan tentang kejiwaan dan pendidikan anak, bisa mencegah tindakan irasional dan emosional. Selain itu, akan makin bermanfaat kalau orang tua diberikan informasi seputar peraturan dan perundang-undangan tentang anak.
3. Rumah Perlindungan
Keberadaan rumah perlindungan sangat diperlukan untuk menampung dan menjamin keselamatan korban atau pun kelangsungan hidup korban di masa transisi hingga mereka bisa menemukan langkah selanjutnya.
4. Parent support group
Keberadaan dan kerja sama antar orangtua bisa menjadi jarring pengaman yang kuat bagi anak-anak. Komunikasi yang intensif dan luas antara satu orang dengan yang lain di dalam komunitas yang terorganisir dapat membantu mencegah terjadinya kekerasan terhadap anak. Setiap pihak bisa saling menjadi advisor, counselor, protector, helper, motivator sehingga bisa mencegah dan membantu anak-anak mereka yang mengalami kesulitan berkaitan dengan kekerasan atau pengabaian yang dialami.
5. Pusat pelayanan kesehatan mental masyarakat
Peran pusat pelayanan kesehatan mental masyarakat tidak sebatas pada menerima masalah, namun lebih proaktif dalam mendidik masyarakat, membangun kesadaran masyarakat (tidak hanya sekedar kampanye) namun secara kongkrit dan konsisten melaksanakan program-program interaktif yang bisa melibatkan segala unsur masyarakat, dimana masyarakat berpartisipasi secara aktif dan merasa ikut bertanggung jawab menciptakan lingkungan yang sehat mental, baik lingkungan keluarga maupun lingkungan masyarakat. Alangkah baiknya jika program kesehatan mental masyarakat itu diselenggarakan secara komprehensif dan proaktif, hingga aktivitasnya sampai ke sekolah-sekolah, klub remaja, sehingga program ini tidak menjadi program eksklusif diawang-awang yang sulit dimengerti bentuk dan tujuannya, tapi lebih mengena dalam kehidupan sehari-hari.

0 komentar:

EBOOK GRATIS

”buku ”buku ”buku ”diagnosis ”buku

Entri Populer

Arsip Blog