kesehatan anak, Psikologi anak, Ebook Kedokteran,

Sabtu, 28 Mei 2016

Hati-hati Melabel Anak Hiperaktif

Kenyataan atau perasaan orangtua?
Banyak kaum ibu yang bertanya apakah anak saya termasuk hiperaktif atau tidak. Bukti yang dijadikan rujukan biasanya adalah perilaku anak yang dinilai sangat aktif, sulit diam, atau baru diajari membaca atau menulis sebentar saja konsentrasinya sudah buyar. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah:
* Sangat aktif menurut siapa?
* Apa ciri-ciri sangat aktif itu?
* Tidak bisa diam menurut siapa?
* Apa ukurannya?
* Berapa menit ukuran sebentar atau lama itu bagi anak-anak?


Jawabannya mungkin tak ada yang seragam. Itu belum lagi kalau ditambah dengan pertanyaan apakah penilaian itu didasarkan pada fakta-fakta atau karena pengaruh kepribadian dan keadaan subyektif orangtua. Misalnya, orangtua yang hidupnya metodik-sistematik bisa saja punya standar penilaian yang berbeda dengan orangtua yang gaya hidupnya lebih ke fleksibel, tidak kagetan, atau serba spontanitas.


Kesulitan lainnya adalah adanya hak anak untuk bebas mengembangkan dirinya melalui bermain. Setiap anak punya hak untuk bermain dan berhak merasa bebas untuk mengekplorasi dan mengembangkan nalurinya melalui bermain itu. Catatan para ilmuwan mengungkap, bermain tidak saja akan berkontribusi memperbaiki kemampuan akademik, tetapi juga akan memantapkan pondasi mentalnya seiring dengan pemahaman dia terhadap hukum-hukum yang bekerja di dunia ini.


Dengan bermain, si anak akan belajar merasakan hasil nyata dari hukum sebab-akibat, hukum usaha dan hasil, hukum menabur dan menuai, dan seterusnya. Seperti kata para ahli, dari bermain mereka akan belajar mengambil keputusan hidup secara mandiri. Ini tentu bagus karena di luar waktu bermain, keputusan anak terhadap dirinya sudah diserobot oleh orangtua, keluarga, guru, atau orang dewasa di sekitarnya.


Intinya, belum tentu anak yang kita katakan hiperaktif itu hiperaktif. Bisa jadi itu penilaian kita yang terpengaruhi oleh suasana batin atau harapan yang terlalu perfeksionis. Atau juga bisa jadi itu adalah energi keingintahuan (curiosity) yang besar dari anak. Jika kita termasuk orang yang memahami hiperaktif itu jelek, maka pemahaman yang didasarkan subyektivitas pribadi itu akan mempengaruhi pendekatan dan perlakuan.


Membangun perspektif yang fair

Dari sejak lahir ke dunia, manusia telah menjadi makhluk yang tidak bisa ditafsirkan secara utuh. Hingga ada yang mengatakan, jiwanya manusia itu lebih bersifat kimiawi yang nisbi. Inilah yang melatarbelakangi munculnya berbagai teori tentang manusia. Umumnya, teori itu didasarkan pada penafsiran satu angle saja atau sebagian angle saja, seperti orang memotret objek.


Ada yang mengatakan, anak-anak itu adalah makhluk yang didominasi dorongan Id yang lebih condong ke negatif karena keputusannya lebih didasarkan pada pertimbangan suka atau tidak suka, bukan baik atau benar. Ada yang mengatakan sebaliknya. Anak-anak adalah makhluk yang ditaburi berbagai potensi positif karena jiwanya belum banyak terkotori dosa. Anak lebih empatik, lebih kreatif, lebih berpikir positif, dan seterusnya.


Apa kaitannya dengan bahasan kita ini? Terkait dengan perilaku anak hiperaktif itu jangan sampai kita gunakan untuk membangun penilaian negatif, apalagi bersifat judgmental (menghakimi). Kenapa? Ini karena bagaimana kita menilai anak akan mempengaruhi bagaimana kita memperlakukannya. Misalnya kita memastikan kesimpulan anak kita hiperaktif dan itu jelek seratus persen. Karena anggapan kita jelek, maka perlakuan yang kita munculkan secara tanpa sadar adalah bagaimana perilaku yang jelek itu dilawan atau dimarahi. Atau, ada pula orang tua yang saking cinta nya pada anak, memaksakan anak untuk di terapi baik secara medis maupun non-medis untuk menanggulangi hiperaktivitas, meski pun ada pendapat yang bertentangan dengan keyakinan orangtua. Mengapa demikian ? tentu bukan karena niat buruk, tapi kita manusia ini punya tendensi takut dipersalahkan, dianggap bukan orang tua yang baik, tidak bertanggung jawab, dsb. Sehingga sebelum itu terjadi, orangtua melakukan tindakan antisipatif yang sebenarnya bersumber dari ego-defense.


Kembali ke pembahasan semula, secara teori, anak yang sering kita lawan dan kita marahi karena alasan-alasan subyektif yang kita bangun sendiri, akan berpotensi membuat anak itu menjadi apa yang disebut "Rejected Child" (Merasa tertolak / Ditolak). Menurut bukunya Judith Rich Harris, dkk (The Child: 1991), anak yang MERASA ditolak atau ditolak oleh lingkungannya itu akan cenderung lebih nakal, lebih suka menentang, dan kurang bisa mendengarkan nasehat dengan baik.


Baiknya bagaimana? Apa harus kita anggap baik-baik saja walaupun tidak sesuai kenyataan? Tidak juga. Yang terpenting di sini adalah jangan sampai kita kehilangan perspektif yang fair dan obyektif terhadap anak. Maksudnya, selain perlu melihat sisi-sisi Id-nya yang negatif, perlu juga melihat apa yang dikatakan Charles L. Whitfield (1989) disebut The Real-self-nya. Real-self semua manusia adalah positif.


Misalnya kita melihat perilaku anak yang menurut kita luar biasa aktifnya itu sebagai wujud dari dorongan dia untuk ingin tahu dan ingin merasakan pengalaman belajar, ingin mengasah kreativitasnya, ingin menikmati kebebasan dia dalam mengembangkan diri, dan seterusnya. Jika ini kita bangun juga, maka secara tidak sadar kita akan terdikte untuk memfasilitasi proses pembelajarannya melalui optimalisasi pengasuhan.


Kalau melihat teori kreativitas, orang dewasa yang kreatif itu tidak langsung bisa mencapai tingkat kreativitas yang bagus, dalam arti bisa langsung memunculkan ide baru, kreasi baru, cara baru dan punya nilai plus. Prosesnya bisa jadi harus menempuh cara-cara yang dipandang orang lain sebagai aksi pengrusakan, penentangan, pembongkar-pasangan, bahkan ada yang dinilai "kegilaan" seperti yang dialami Edison. Bisa kita bayangkan, kalau orang dewasa saja begitu, lebih-lebih anak-anak.


Pengertian Hiperaktif

Mengacu ke beberapa rujukan dalam kajian psikologi, hiperaktif itu pengertiannya adalah anak yang mudah terkejutkan oleh sesuatu, baik di dalam atau di luar dirinya, dan menampilkan reaksi keaktifan yang melebih kelaziman, entah dari frekuensinya dan skalanya. Sebagian tanda yang bisa diamati antara lain:

* Tidak bisa diam, tangan dan kakinya usil terus ketika disuruh duduk tenang
* Berlari-lari kesana-kemari, melompat, atau pindah-pindah tempat ketika diminta tenang
* Ketika sedang ditanya sudah menjawab duluan, atau memotongnya dan menentangnya sebelum didengarkan dengan baik
* Sulit menunggu giliran atau antrean atau tak sabaran menunggu


Kalau kita amati tanda-tanda di atas, apa ada anak kecil yang bebas seratus persen atau sebagiannya? Hampir pasti tidak ada. Yang namanya anak itu pasti menampilkan sifat-sifat yang pantas untuk disebut tidak bisa diam, tidak sabaran, atau kurang bisa mencerna pertanyaan dan ucapan orangtuanya. Karena itu, saran beberapa ahli, yang berhak mendefinisikan ke-hiperaktif-an anak adalah profesional di bidangnya melalui serangkaian tes. Dan itu pun belum bisa dijadikan patokan seratus persen. Ini karena, beda rujukan, beda pendekatan, dan beda pandangan hidup seorang profesional sangat mungkin akan menghasilkan kesimpulan yang berbeda.


Secara umum, anak yang akhirnya dinyatakan hiperaktif itu biasanya dikaitkan dengan apa yang disebut ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder), atau bisa dipahami sebagai kelainan. Ciri-ciri yang paling dominan adalah: a) tidak bisa berkonsentrasi secara konsisten menurut ukuran yang normal, b) terlalu reaktif sehingga perilakunya impulsif-reaktif dan c) terus menerus bergerak (Sarah Michelle Moore, The Ohio State University: 2007).


Pertanyaannya, apa yang menyebabkan anak mengalami hiperaktivitas di atas? Sebabnya pun tidak tunggal. Ada sebab yang bisa dikategorikan bersifat permukaan (surface) dan ada yang bersifat inti (mendalam). Yang tergolong permukaan itu misalnya situasi baru, teman baru, atau perubahan mood sesaat. Sedangkan yang tergolong sebab inti ini tidak tunggal juga.


Salah satu yang oleh WHO (Improving Mother-child Interacation to Promote Better Psychosocial Development in Children: 1993) perlu kita perhatikan adalah kualitas interaksi orangtua, khususnya ibu. Kualitas ini tidak selalu ditentukan oleh kuantitas interaksi. Kualitas interaksi diindikatori oleh sejauhmana kehangatan interaksi itu muncul. Walaupun sering berinteraksi, tapi cuek-cuek saja atau sering bertentangan karena kurang bisa mengontrol diri, mungkin kehangatannya bisa mengalami defisit.

Menurut hasil studi mereka, anak yang kehangatan kasih sayangnya dengan ibu masih belum cukup, akan berpotensi melahirkan hal-hal di bawah ini:

* Kurang bisa menciptakan kebahagian dengan keadaan yang ada atau cenderung mudah stress dan depresi
* Apatis terhadap keadaan
* Cenderung mudah gelisah
* Hiperaktif
* Kurang bisa berkonsentrasi
* Terlalu sering merengek di luar kewajaran

Terlepas kita setuju atau tidak, yakin atau tidak, sikap yang paling tepat dalam membaca laporan di atas adalah menjadikan perilaku anak sebagai materi belajar bagi orangtua untuk membenahi diri, meneliti perilaku diri sendiri agar mampu melakukan upaya-upaya untuk meningkatkan kualitas pengasuhan. Dengan begitu, kita harus mengubah diri kita lebih dulu sebelum mengubah diri anak-anak. Kita akan bersedia menjadi murid yang baik bagi anak-anak sebelum kita menjadi guru bagi mereka.


Pencegahan & Pembelajaran

Terlepas anak kita punya ciri-ciri yang pas dinyatakan hiperaktif atau tidak, tapi kalau keaktifannya sudah sangat berpotensi mendatangkan keburukan, kerugian, dan ancaman bahaya, memang kita perlu mengambil langkah-langkah penting untuk mengantisipasi dan memberi solusi perbaikan. Beberapa langkah antisipatif yang sangat penting dilakukan segera itu antara lain:

1. Menjauhkan dia dari benda-benda yang berbahaya, misalnya colokan listrik, alat dapur, atau lainnya
2. Mengatur tata letak perabot rumah tangga, seperti tata letak kursi, meja, dan lain-lain. Akan lebih aman kalau disimpan untuk sementara sehingga dia bebas bergerak tanpa ancaman bahaya
3. Memperpaiki desain rumah dengan melihat keadaan anak, misalnya tangga yang licin atau tajam
4. Aturlah cara dan waktu dalam membelikan permainan. Jangan sampai langsung dibelikan banyak dan sekaligus diberikan.
5. Konsultasikan dengan dokter atau ahli gizi mengenai jenis makanan / minuman yang berpotensi menyebabkan perilaku hiperaktif


Tentu tidak cukup hanya dengan melakukan langkah-langkah antisipatif. Yang justru lebih penting adalah melatih dia untuk mengontrol dirinya melalui langkah-langkah edukatif. Ini antara lain:

1. Intensifkan pengawasan dan pendampingan lalu catat dan amatilah perilakunya, misalnya berapa menit dia sanggup berkonsentrasi, makanan yang dia konsumsi dan apa reaksinya, tontonan, dan lain-lain. Catatan ini penting untuk modal berkonsultasi dengan dokter atau tenaga profesional atau minimalnya untuk bahan perbandingan dengan anak-anak orang lain.
2. Latih dia untuk menjalani rutinitas tertentu melalui penegakan disiplin agar dia terfasilitasi untuk meningkatkan kemampuan kontrol dirinya, misalnya bangun pagi, mandi, waktu belajar, sikat gigi sebelum tidur, cuci tangan sebelum makan, merapikan dan menyiapkan sendiri perlengkapan sekolah, merapikan tempat tidur, merapikan mainan dan menyelesaikan PR.
3. Tingkatkan kehangatan dalam berinteraksi dan berkomunikasi, misalnya menjaga diri agar tak cepat mengeluarkan reaksi emosional, penyerangan, dan semisalnya. Kalau perlu, rutinkan dia untuk tidur bersama kita sampai ada tanda-tanda perbaikan
4. Catat perkembangannya melalui latihan riil, misalnya hari ini dia mampu berkonsentrasi 7 menit dalam belajar membaca atau berhitung. Minggu depan kita tingkatkan sampai 10 menit atau 12 menit. Kalau perlu, ini kita tunjukkan dan kita sepakati dengan dia untuk menunjukkan bahwa dia mampu dan bisa.
5. Gunakan figur orang lain, entah dari keluarga atau guru privat untuk memfasilitasi berbagai pembelajaran. Di mata anak, terkadang kita kurang berwibawa dibanding gurunya. Ini bisa kita jadikan jalan untuk melatih dia memperbaiki kemampuan kontrolnya.


Semoga bermanfaat

0 komentar:

EBOOK GRATIS

”buku ”buku ”buku ”diagnosis ”buku

Entri Populer