kesehatan anak, Psikologi anak, Ebook Kedokteran,

Rabu, 05 Agustus 2009

Tips Mudah Agar Si Kecil Suka Sayur

Menyukai makan sayur bukan merupakan perkara mudah bagi buah hati Anda, bahkan untuk orang dewasa sekalipun. Mungkin karena penyajiannya yang kurang menarik atau rasanya yang ‘begitu-begitu’ saja. Padahal seperti Anda ketahui, kandungan gizi dalam sayur-sayuran akan sangat bermanfaat bagi pertumbuhan si kecil. Berikut ini adalah tips mudah agar si kecil menyukai makan sayur:
1. Biasakan menghadirkan ragam sayuran dalam setiap menu harian buah hati Anda.
2. Untuk bayi di atas usia 9 bulan, variasikan sajian sayur dalam bentuk camilan (finger food) seperti puding sayur, cookies sayuran dan sayur yang dikukus atau direbus empuk.
3. Sambil memberinya makan, ajaklah berkomunikasi. Dengan bahasa yang sederhana, ceritakan pentingnya makan sayur. Ini akan terekam di memorinya.
4. Kenali penybab ketidaksukaan si kecil pada sayuran. Jika tidak suka karena teksturnya yang kasar, Anda bisa menghaluskan kembali atau mencincangnya lebih halus.
5. Jika tidak suka satu jenis sayur, bukan berarti Anda menghapusnya dalam menu harian si kecil. perkenalkanlah di lain waktu.


Facebook : Keuntungan dan Kerugiannya

Fenomena facebook akhir-akhir ini memang cukup meningkat.Banyak surat kabar, TV dan internet terutama blog membahas ini,tak terkecuali blog ini. Facebook merupakan salah satu web site yang menyediakan fasilitas pertemanan. Didalam facebook sendiri banyak sekali fasilitas yang disediakan antara lain chat. Fasilitas chat inilah yang membedakan facebook dengan web social networking lainnya seperti friendster. Walapun terhitung baru, facebook kini sudah menjalar kesemua lapisan masyarakat terutama remaja. Tanpa facebook remaja bisa disebut kuper alias kurang pergaulan. Wabah inilah yang membawa Forum Komunikasi Pondok Pesantren Putri (FMP3) berniat untuk mengkaji situs pertemanan facebook. Berikut beberapa keuntungan dan kerugian penggunan facebook menurut pengamatan penulis.
Diawali dengan aspek kerugiaannya:

Kerugian

1. Mengurangi waktu efektif anda (karena anda bisa bermain facebook berjam-jam).
2. Pornografi (facebook sangat memungkinkan untuk penyebaran poto-poto yang berbau pornografi)
3. Menghabiskan uang Anda (silahkan cek billing warnet ketika anda bermain facebook diwarnet,awas tak terasa uang anda sudah banyak terpakai)
4. Tugas sekolah terbengkelai (bagi pelajar, awalnya pergi ke internet sih cari data buat tugas. Tetapi setelah sampai didepan komputer. Yang pertama dibuka adalah facebook, yang kedua facebook, dan yang ketiga facebook, facebookan terus deh. … akhirnya lupa deh tujuan awal ke internet)
5. Individualistik.(bagaimanapun silaturahmi tatap muka lebih kena di hati)
6. Kerjaan terbengkelai (bagi para bos, sering awasi karyawan anda, kalau tidak ingin kerjaan dikantor anda berantakan)
7. Meningkatkan rasa cemburu diantara suami/istri (pernah ada rekan kerja saya (cewek). Karena difacebook dia banyak teman pria waktu kuliah dulu yang sering menuliskan komentar . suaminya jadi cemberut katanya.)
8. Menimbulkan pertengkaran keluarga. (karena status di facebook tidak diganti sesuai dengan kenyataan. Awas pertengkaran keluarga mengintai anda.)
9. Black campaign (Say no to ….. , Katakan tidak untuk …… itulah yang akhir-akhir ini banyak muncul di facebook).
10. Spionase. (Shin Bet selaku lembaga keamanan israel memperingatkan penduduk Israel agar ekstra hati-hati kala memakai Facebook. Pasalnya, Shine Bet menemukan bukti bahwa musuh-musuhnya, yakni organisasi teror di negara-negara Arab memakai situs jejaring seperti Facebook untuk merekrut mata-mata atau bahkan membunuh orang Israel. User Facebook di Israel pun diperingatkan untuk tidak memberi nomor telepon atau membalas pesan orang asing.) (pen: jangan-jangan andalah yang memakai startegi itu yahudi!)

Keuntungan

1. Menjalin silaturahmi (Islam menganjurkan kita untuk saling manjaga tali silaturahmi antar sesama umat islam)
2. Tempat belajar (banyak game pembelajaran disini, seperti mencoba tes toefl dan lain sebagainya.)
3. Refreshing (facebook bisa digunakan untuk sedikit refreshing ditengah kepenatan anda bekerja dikantor, misalnya, seperti bermain game di facebook)
4. Bisnis (bagi orang yang bermata bisnis, facebook merupakan salah satu ladang bisnis yang cukup menggiurkan, lihat saja kolom iklan facebook, sepertinya tidak pernah sepi dari iklan, malah makin banyak saja yang beriklan.)
5. Tempat curhat (facebook bisa menjadi sarana curhat, kita tinggal menuliskan sepenggal kalimat yang menggirukan di kolom keadaan anda. Pasti deh komentar banyak berdatangan.)
6. Praktis (facebook mempunyai banyak fasilitas dibandingkan dengan situs jejaring lainnya. Sehingga lebih praktis dan komplit.contoh fasilitas yang todak da pada situs jejarin lainnya adalah chatting.)
7. Cari jodoh (facebook merupakan salah satu tempat yang bisa diandalkan untuk tempat mencari jodoh, pada bagian inilah Pondok Pesantren se Jawa-Madura yang tergabung dalam Forum Komunikasi Pondok Pesantren Putri (FMP3) mengharamkannya, larangan tersebut ditekankan pada adanya hubungan pertemanan spesial yang berlebihan. Apabila hubungan pertemanan spesial tersebut dilakukan untuk mengenal karakter seseorang dalam kerangka keinginan menikahinya dengan keyakinan keinginannya akan mendapatkan restu dari orang tua, hal tersebut tetap diperbolehkan. Dalam penentuan pernyataan tersebut, FMP3 menggunakan sejumlah dasar. Antara lain Kitab Bariqah Mahmudiyah halaman 7, Kitab Ihya’ Ulumudin halaman 99, Kitab Al-Fatawi Al-Fiqhiyyah Al-Kubra halaman 203, serta sejumlah kitab dan tausyiyah dari ulamak besar. Bagaimana dengan MUI ?. “Kami menghargai pendapat ulama itu, tapi menurut saya yang diharamkan itu kontennya yang bermuatan gosip, dan mengumbar keburukan privasi orang lain bahkan lebih parah lagi adanya gambar porno,” tandas Amidhan saat dihubungi detikINET, Senin (25/5/2009). Menurut Amidhan, ulama-ulama dari Jawa Timur tersebut tidak termasuk dalam wadah MUI pusat. Amidhan menambahkan, haramnya konten dalam Facebook berbeda dengan haramnya babi. “Kalau babi kan zatnya haram, kalau Facebook mau dipegang atau dimakan sah-sah saja.)
8. Tempat kampanye politik paling murah (bulan-bulan ini adalah waktunya untuk pemilu. Kampanye adalah hal biasa yang sering muncul setiap hari. Termasuk difacebook. Bila dibandingkan dengan media lainnya. Facebooklah yang paling murah digunakan untuk melakukan kampanye politik. Di iran , pemerintah Iran diisukan dengan pemblokiran facebook karena digunakan oleh pihak oposisi untuk kampanye menjelang pemilu presiden 12 juni. Tetapi hal itu dibantah oleh Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad, menyangkal laporan yang menyebutkan negaranya telah ‘mengharamkan’ Facebook. Ahmadinejad mengatakan dirinya percaya pada kebebasan berekspresi.)

Bagaimana cara penggunaan facebook adalah terserah anda. Karena menggunakan facebook adalah sebuah pilihan.

Jumat, 26 Juni 2009

Tips Efektif Atasi Anak/Balita Susah Makan

Apabila anak Anda susah makan apalagi sampai berlarut-larut, akan mengganggu kesehatan si kecil. Tak jarang, ketika disuapi, tak jarang anak menolak dengan cara menampik atau menyemburkan makanan yang telah masuk ke dalam mulut. Jangan langsung dimarahi,
karena mungkin saja Si Anak sedang kehilangan nafsu makan atau sedang mengalami perubahan selera makan, yang wajar terjadi pada masa pertumbuhan,Penyebab lainnya bisa berasal dari sikap orang tua yang memaksa anak harus makan ini-itu dengan porsi yang sudah ditentukan, tapi ibu justru melupakan unsur psikologis-nya yang sedang menuju proses kemandirian, yaitu ia ingin egonya diakui, Faktor psikososial berupa ketergantungan pemberian makan pada seseorang, seperti balita yang biasa disuapi pembantu, nafsu makannya akan berkurang, ketika harus makan bersama-sama ibunya yang selama ini sibuk di kantor. Berikut ini tips mengatasi anak yang susah makan:
1. Hindari kebiasaan menenangkan anak yang sedang rewel dengan cara membelikan jajanan yang padat kalori, serpti permen, minuman ringan (soft drink) dan coklat
2. Ubahlah variasi makanan sebanyak mungkin agar menggugah seleranya dan sajikan dengan menarik
3. Perhatikan camilan atau jajanan yang disukainya dan jangan biarkan ia kekenyangan gara-gara makanan ringan
4. Biasakan anak makan pagi untuk menghindarkan kebiasaan jajan
5. Jangan berikan makanan lain sebelum anak makan makanan utama (pagi, siang, sore/malam)
6. Jangan mulai membiasakan anak mengonsumsi makanan pembuka atau selingan yang tinggi kalori
7. Kalau tidak terpaksa, jangan biasakan anak makan makanan siap saji (fast food) karena kurang seimbang gizinya

Tips Tepat Cara Mendisiplinkan Anak

Membuat si kecil disiplin terhadap pertauran memang tidak mudah. Terkadang Anda harus lebih bersabar dalam mendisiplinkan mereka. Beberapa cara yang diambil orang tua kadang justru membuat si kecil makin bandel atau sebaliknya menjadi penakut.
Misalnya, dengan ditakut-takuti dengan hantu atau kecoa. Untuk itu berikut ini tips tepat cara mendisiplinkan Anak:
1. Sebaik-baiknya orang tua adalah yang lebih banyak memberi pengetahuan dibandingkan hukuman. hukuman fisik tidak akan menghasilkan sikap yang baik. Sebanyak mungkin ajarkan apa yang seharusnya kepada mereka daripada sekedar menghukum.
2. Tujuan utama disiplin adalah mengajarkan mereka tingkah laku yang dapat diterima. Memukul anak bukanlah mengajarkan tingkat laku yang benar. Tapi mengajarkan “apa yang dibenarkan” dan tidak akan menyelesaikan masalah.
3. Pandangan seorang anak berperilaku menyimpang, adalah penilaian yang salah. Akan lebih mudah, bila kita berpikir bagaimana mengubah tingkah laku mereka untuk bersika benar.
4. Berika konsekuensi dari sikap buruk mereka. Jika si kecil mengotori ruangan, ia juga yang harus membersihkan
5. Buat peraturan, tapi pastikan peraturan tersebut sesuai dengan usia dan tingkat perkembangan si kecil
6. Pastikan konsekuensi itu bersifat jalas dan masuk akal
7. Jangan berdebat atau permisive tentang peraturan tersebut. Jika ia melanggar, ingatkan si kecil akan konsekuensi yang akan ia terima.
8. Saat Anda memberikan perintah, bicaralah dengan kata yang tegas dan terus ingatkan padanya.
9. Jika sikap buruknya terlalu banyak, jangan mencoba merubah seluruh perilakunya dalam waktu singkat. Cobalah untuk merubah perilakunya secara bertahap. Pertama-tama, ubahlah perilakunya yang paling memprihatinkan menurut Anda.
10. Jelaskan mengapa sikapnya itu tidak baik, berikan konsekuensi akibat ulahnya ini dan berika alternatif tingkahlaku yang lebih baik

DIBERI LABEL OLEH LINGKUNGAN

Kadang, label diberikan bukan oleh orang tua, melainkan lingkungan. Sepulang bermain, si kecil lantas "mengadu", "Ayah, tadi aku dikatain anak nakal sama ibunya Doni." Nah, bagaimana reaksi Anda?
"Sebaiknya orang tua segera menganulirnya, Tidak, Nak, kamu tidak nakal, hanya terlalu aktif.," saran Enny Hanum. Dengan demikian, anak akan berpikir, "Oh, aku enggak nakal, kok."
Tapi sebelumnya orang tua harus tanya dulu, "Mengapa kamu dibilang nakal?" Misalnya, karena ia berlari-larian di rumah sang teman. Nah, jelaskan padanya, "Buat keluarga Doni, lari-larian di dalam rumah itu enggak boleh tapi kalau di rumah ini boleh. Kenapa begitu? Ya, karena begitu peraturannya. Di sana rumah Doni, punya aturan yang berbeda."

Menurut Enny, label yang diberikan oleh lingkungan atau orang yang tak dekat secara emosi dengan anak tak begitu berpengaruh pada anak. "Toh, ia bisa bilang ke orang tuanya dan orang tua bisa segera menganulirnya." Lain halnya bila label datang dari orang yang kehidupan sehari-harinya dekat dan tiap hari didengarnya, "anak akan berpikiran, Oh, aku memang begitu."
Jadi, saran Enny, tak usah terlalu dicemaskan bila anak mendapat label dari lingkungan. Juga tak perlu sampai orang tua melarang anak bermain ke luar rumah atau memindahkannya "sekolah" ke lain tempat. "Kalau kita memang ingin anak menjadi pribadi yang kuat, sebaiknya didik anak untuk mengatasi problem di lingkungannya. Kalau tidak, besarnya nanti ia tak akan bisa bermasyarakat. Jadi, lebih baik menguatkan dia agar lebih survive dalam menghadapi masyarakat."

Caranya, ya, dengan memberi pemahaman atau menganulirnya bahwa ia tak seperti label yang diberikan tersebut. Misalnya, "Betul bahwa kamu keliru, tapi keliru itu bisa diperbaiki. Disebut nakal bila kamu sudah diberitahu mana yang boleh dan tak boleh, tapi dengan sengaja melakukannya terus-menerus. Nah, itu yang namanya nakal. Tapi kamu sebenarnya enggak nakal, kok, kamu anak baik. Karena kamu anak baik, maka kamu tahu itu keliru, kan?" Tentunya minta agar ia tak berbuat keliru lagi, sehingga ia tak akan lagi disebut nakal. "Papa-Mama pernah keliru, kamu juga pernah keliru. Tapi karena kamu anak baik, maka kamu tak akan lakukan lagi." Nah, dengan meng-handle perasaannya terlebih dulu, maka dampak konsep diri yang salah pun tak akan terjadi.
Bila anak diberi label negatif oleh lingkungan namun orang tua tak tahu, maka orang tua harus peka. "Anak, kan, pasti merasa tak nyaman dengan diberi label negatif. Nah, ini akan jelas terlihat dari perilakunya walaupun ia tak bilang ke orang tuanya." Misalnya, ia tak mau main lagi ke luar rumah. Orang tua yang peka tentunya akan melihat perubahan tersebut, lalu tanyakan pada si anak. Dari situlah orang tua bisa tahu dan memberikan penjelasan padanya.

NAMA KESAYANGAN BUKAN LABEL

Seringkali orang tua memanggil anaknya dengan nama kesayangan yang tak ada kaitan sama sekali dengan nama sebenarnya si anak, seperti si Unyil, Cipluk, Gendut, dan sebagainya. Kendati nama-nama tersebut juga tak nyaman didengar, namun menurut Enny Hanum, dampaknya berbeda bagi anak,
"karena saat orang tua mengucapkan nama itu, anak menangkap situasi yang berbeda, yaitu dalam kondisi kesayangan. Jadi, anak akan mengasosiasikannya dengan kedekatan dan rasa sayang orang tua, sehingga tak ada perasaan tak nyaman pada diri anak kala nama itu diucapkan."

Memang, lanjut Enny, bila anak sudah mempunyai kelompok bermain kerap kali tak mau dipanggil dengan nama tersebut karena ledekan teman-temannya. "Tapi jangan lupa, lo, di rumah kadang anak hanya mau dipanggil dengan nama kesayangannya itu. Bahkan sampai anak besar pun masih suka dipanggil dengan nama kesayangannya karena adanya hubungan yang intim, yang punya arti khusus." Jadi, berbeda dengan label negatif, panggilan kesayangan tak akan mengubah konsep diri anak.

"DASAR ANAK BANDEL"

ati-hati, lo, memberi label/cap negatif pada anak akan membentuk konsep diri yang salah. Pemberian label/cap yang positif semisal "pintar" dan "cantik" juga bisa berpengaruh negatif, lo.
"Kamu ini gimana, sih? Sudah dikasih tahu jangan gangguin adik tapi masih juga diganggu. Kamu ngerti enggak, sih, kalau Mama lagi repot? Dasar anak bandel!"
Sering, kan, mendengar sang ibu atau ayah berkata demikian kala marah pada buah hatinya. Dalam keadaan "lupa diri" akibat emosi yang meluap kerap terlontar kata-kata yang memberi label pada anak. Entah "anak bandel", "anak penakut", "anak cengeng", dan sebagainya.

Menurut ahli, pemberian label/cap atau juga disebut stigma akan memberi bekas dalam diri anak dan mempengaruhi pembentukan konsep dirinya. Karena bagi anak, label tersebut adalah suatu imej diri bahwa aku seperti itu. Jadi, lama-lama akan terbentuk dalam benaknya, "Oh, aku ini bandel, toh."

Apalagi, kata dra. S.Z. Enny Hanum, bila si pemberi label adalah orang yang mempunyai kedekatan emosi dengan anak semisal orang tua atau pengasuhnya, pengaruhnya akan sangat besar dan cepat buat anak. "Anak akan jadi ragu pada dirinya sendiri, Oh, jadi aku seperti itu. Orang tuaku sendiri mengatakan demikian, kok."

JADI NGOMPOL LAGI

Sekalipun di usia prasekolah anak belum memahami makna sebenarnya dari kata-kata label itu, namun ia bisa merasakan sesuatu yang tak nyaman dengan dilontarkannya label itu. "Ia seakan-akan tak diterima dengan adanya label itu, ada sesuatu yang ditolak," terang Enny.
Jadi, anak tak tahu apa itu label baginya. Ia hanya merasakan sebagai sesuatu yang tak mengenakkan, merasa tak nyaman. Namun bukan berarti ia akan diam saja. Ia akan melampiaskan perasaan tak nyaman itu dengan berbagai cara sebagai bentuk protes. Tapi bentuk protesnya berbeda dengan anak remaja yang kalau dibilang "nakal" malah sengaja dibikin nakal, "Ah, sekalian aja aku nakal karena aku sudah kadung dicap demikian." Melainkan dalam bentuk mengompol (padahal sebelumnya anak sudah tak mengompol), mimpi buruk, menangis, menggigit-gigit kuku, menolak mengerjakan sesuatu, dan sebagainya.
Penting diketahui, perilaku/reaksi demikian juga akan muncul bila anak menemukan suatu situasi yang hampir mirip dengan di rumah. Misalnya, ia diperlakukan tak adil atau tak dimengerti di luar, maka ia akan mengompol lagi, menggigit-gigit kuku lagi, mengambek lagi, dan sebagainya. Tak demikian halnya bila ia menemukan situasi dimana ia merasa dipahami, dimengerti, dan komunikasinya menyenangkan, maka perilaku protesnya tak akan keluar.
Nah, bila anak semakin sering protes dan orang tua pun jadi makin sering marah, tentunya label tersebut akan juga semakin sering dilontarkan. Kalau sudah begitu, lambat laun akhirnya anak percaya bahwa dirinya memang nakal, misalnya. Konsep dirinya jadi salah. Kita tentu tak ingin si Upik atau si Buyung memiliki konsep diri yang salah, bukan?

BERLAKUKAN ATURAN

Itulah mengapa, Enny tak setuju orang tua memberi label pada anak. Jikapun memberi label, "sebaiknya dijelaskan dalam hal apa ia nakal atau jeleknya karena bisa saja anak melakukan sesuatu dalam niatan yang lain," terangnya. Misalnya, ia hendak membuatkan minuman sirup untuk ibunya. Selama ini ia sering melihat pembantunya kalau membuat sirup dengan cara menuang botol sirup ke dalam gelas. Nah, ia pun menirunya tapi ia tak tahu berapa takarannya sehingga dituangnya sirup itu segelas penuh. Si ibu yang melihatnya langsung marah-marah dan mengatakannya nakal, main-main dengan sirup. Padahal, si anak, kan, tidak nakal; ia hanya tak tahu berapa takarannya. Tapi akibatnya, anak jadi tak merasa nyaman, "Aku mau bikin sirup buat Ibu, kok, dibilang nakal?"
Jadi, tandas Enny, orang tua harus menyebutkan apa kesalahan anak sehingga ia dikatakan nakal. "Kalau ia mengganggu adik, misalnya, jelaskan bahwa kamu mengganggu adik padahal waktunya adik tidur. Jadi, anak diberi tahu, nakalnya kamu itu karena mengganggu adik." Dengan demikian anak tahu kenapa dirinya dikatakan nakal, sehingga dapat mencegah terjadinya pembentukan konsep diri yang salah.
Selain itu, lanjut Enny, sebaiknya orang tua juga memberlakukan berbagai aturan di rumah. Bila aturan dilanggar, ada sangsinya; sebaliknya, bila dikerjakan, ada rewards. Tentu sebelumnya aturan tersebut sudah dibicarakan dengan anak sehingga ia memahaminya. Misalnya, sebelum tidur ada aturan harus gosok gigi. Nah, bila dikerjakan, berilah pujian. Tapi bila dilanggar, jangan buru-buru bilang, "Dasar kamu anak nakal, sukanya melanggar aturan," melainkan tanyakan dulu, "Kenapa kamu enggak gosok gigi?" Siapa tahu lantaran odolnya terlalu pedas buat anak atau mulutnya lagi sariawan.
Kemudian, sebelum memberi sangsi, orang tua juga harus memberitahukan letak kesalahannya. Misalnya, ia mengambil mainan adiknya. "Biasanya anak melakukannya karena spontanitas bermain. Nah, orang tua bisa memberitahukan, Kamu mengambil milik adikmu, itu enggak boleh. Kamu harus minta izin dulu. Kalau kamu terus melakukan perbuatan itu, nanti kamu jadi anak nakal." Jadi, anak diberi tahu perilaku apa yang menyimpang.
Anak usia prasekolah, tutur konsultan psikologi anak dan keluarga ini, sudah bisa mengerti asal diberi tahu dengan bahasanya. "Kalaupun tak mengerti, orang tua harus mengulang-ulang lagi. Bukankah proses mendidik tak bisa sekali jadi melainkan harus terus-menerus?"
LABEL POSITIF
Selain memberikan label negatif, tak jarang orang tua juga memberikan label positif semisal "anak pintar", "anak cantik", "anak manis", dan sebagainya. Dibanding label negatif, pemberian label positif akan berdampak positif pula, yaitu memberi sugesti atau memacu anak untuk berperilaku seperti apa yang disebutkan. Misalnya, label "anak pintar". "Bagi anak, apa yang dilontarkan itu seolah-olah harapan orang lain padanya, sehingga ia pun akan berusaha untuk jadi anak yang pintar," tutur Enny. Jadi, label positif semacam rewards buat anak, "Oh, ternyata aku anak pintar," sehingga motivasinya besar sekali untuk belajar dan menjadi pintar.
Tapi, jangan salah, lo, pemberian label positif tak selamanya akan berdampak positif pula. "Pemberian label positif juga bisa berdampak negatif. Antara lain, anak jadi kehilangan spontanitasnya karena ada dorongan untuk memenuhi harapan orang tua. Padahal, spontanitas inilah yang menjadi ciri anak seusianya." Misalnya, ia selalu dikatakan sebagai anak manis sehingga ia pun mencoba untuk memenuhi harapan tersebut. Dalam berbagai pertemuan, ia harus menahan diri agar berperilaku sebagai anak manis. Bila anak lain berlarian ke sana ke mari dengan bebas, misalnya, ia akan duduk manis bak putri kerajaan. "Hal itu dilakukannya karena ia ingin menyenangkan orang tuanya, memenuhi harapan orang tuanya sebagai anak manis".
Jangan lupa, ingat Enny, pada usia prasekolah konsep diri anak masih kabur. "Ia belum punya kesadaran, aku ini siapa? Konsep dirinya sedang dibentuk sehingga aku ini kekurangannya di mana tak diketahuinya." Oleh karena itu, bila terjadi hal demikian, saran Enny, orang tua harus segera memperbaikinya. "Terangkan pada anak bahwa ia keliru menangkap maksud orang tua." Katakan, misalnya, "Yang Bunda maksud manis itu bukan berperilaku seperti itu." Lalu jelaskan "manis"nya itu seperti apa dan bahwa ia masih punya hak untuk bermain, "Kalau dalam acara pernikahan, kamu memang boleh bersikap demikian karena itu adalah bagian dari tata krama. Tapi di luar pesta perkawinan, kamu tak harus selalu bersikap demikian. Kamu bebas berlarian dan bermain bersama teman-temanmu." Dengan demikian, anak tahu persis kapan ia harus bersikap manis dan sikap manis seperti apa yang dikehendaki orang tuanya.
Label positif juga akan berdampak negatif bila tak sesuai realitasnya. "Bila anak terus menerus ingin memenuhi harapan orang tuanya sementara kemampuannya tak ada, tentu bisa melelahkan dan membuatnya frustrasi," terang Enny. Memang, orang tua bermaksud baik dengan memberikan label positif walupun orang tua tahu tak sesuai realitasnya, yaitu demi mendorong agar anak jadi pintar atau rajin. "Tapi kalau orang tua memberikan label diluar ukurannya, anak jadi kurang kepercayaan dirinya. Misalnya, ia obesitas atau kegemukan tapi orang tuanya bilang ia anak cantik, langsing, dan sebagainya," lanjutnya. Konsep dirinya juga jadi salah, kan!
Jadi, Bu-Pak, hati-hati, ya, dalam memberikan label positif dan terlebih lagi label negatif.

AYAH-IBU, JANGANLAH MENGHUKUM ANAK

banyak orang tua cenderung menerapkan hukuman kala si anak nakal atau berbuat salah. Padahal, hukuman sangat merugikan anak. Nah, bagaimana sebaiknya?
Menurut penelitian, dalam sehari semalam anak mendapatkan 460 kali kritikan dari orang dewasa, termasuk di dalamnya hukuman. Sementaran pujian, cuma 70 kali dalam sehari semalam. Duh, betapa "malang"nya si kecil!
Tapi, kenapa, sih, orang tua menghukum anak? Ada dua alasan, seperti dipaparkan psikolog Ery Soekresno. Pertama, karena orang tua punya target atau standar tingkah laku untuk anaknya, "Namun ternyata standar itu tak dilakukan oleh anak." Kedua, ada tingkah laku tertentu yang ingin dihentikan oleh orang tua. "Mungkin tingkah laku itu baik, tapi karena berlebihan, jadi harus dihentikan."
Selain itu, lanjut Ery, orang tua juga sering menghukum anak karena tak punya alternatif lain untuk menghentikan suatu tingkah laku anak.
"SESUAI" KESALAHANNYA
Menurut Ery, hukuman sudah bisa diberikan sejak sedini mungkin, yakni saat anak mulai membangkang. "Misalnya, nggak mau mandi, nggak mau makan, dan sebagainya. Pokoknya, apa saja enggak! Nah, itu berarti ia sudah mulai membangkang."
Namun dalam memberi hukuman, Ery mengingatkan, haruslah disesuaikan dengan "kesalahan" si anak. Misalnya, anak asyik menonton VCD sampai lupa waktu. Nah, hukumannya adalah ia dilarang menonton lagi. "Tapi jangan langsung melarangnya nonton VCD selama 3 bulan, misalnya. Itu namanya sewenang-wenang. Cukup misalnya, kalau hari ini nonton terlalu lama maka besoknya ia tak boleh nonton lagi."
Kemudian, beri anak kesempatan. Misalnya, setelah dihukum sehari, esoknya ia diperbolehkan menonton VCD lagi namun dibatasi cuma menonton satu judul. "Kita lihat, apakah anak bisa menepati janji. Kalau ternyata enggak bisa, esoknya jangan izinkan si anak menonton lagi." Kalau besok ia bisa menepati janji, berilah bonus boleh menonton dua judul.
Yang harus diperhatikan, ujar Ery, saat memberi hukuman kita juga harus melihat diri sendiri. Maksudnya, tega apa enggak. "Kalau enggak tega, ya, jangan beri hukuman yang berat-berat. Nanti kita malah jadi enggak konsekuen." Akibatnya, kita bisa dijadikan bulan-bulanan oleh anak. Celaka, kan!
Sering terjadi, kita suka mengancam anak, "Awas, kalau Kakak nakal lagi, nanti Bunda pergi." Tapi sering pula ancaman tersebut tak kita lakukan. Nah, cara seperti ini, menurut Ery, akan membuat anak memandang rendah ancaman. "Ah, paling Bunda cuma ngomong doang," begitu pikir si anak. "Jangan salah, lo, kemampuan anak untuk mengobservasi gerak tubuh dan mimik orang tua sangat tajam," kata Ery yang tak setuju orang tua menerapkan ancaman.
Jadi, tandas Ery, kalau memang kita sedang marah, ya, marahlah beneran. Jangan kita marah tapi muka tersenyum. Sebaliknya, jangan pula kita bilang sayang tapi nyubit atau memukul. "Itu, kan, nggak sinkron. Orang tua harus belajar membedakan antara marah dan sayang."
Yang tak kalah penting, tambah Ery, jangan pernah memberi label jika ada tingkah laku anak yang tak sesuai. "Orang tua harus memisahkan tingkah laku dan pelakunya. Tapi yang terjadi, kadang orang tua tak sadar dan membenci pelakunya."
DISIPLIN 
Sebenarnya Ery lebih setuju kita menerapkan konsekuensi ketimbang hukuman. Sebab, konsekuensi berkaitan dengan disiplin, tak demikian halnya dengan hukuman. "Orang tua sering menyamakan kedua hal ini, padahal sebenarnya berbeda sekali. Hukuman adalah kontrol dari luar, sedangkan disiplin adalah kontrol dari anaknya sendiri," terangnya.
Disiplin atau disciple dalam bahasa Latin berarti belajar. Jadi, disiplin memberikan pelajaran kepada anak tentang bagaimana bertingkah laku yang seharusnya. "Dalam disiplin ada aturan, komunikasi dan penguat positif. Kalau aturan dijalankan dengan baik, anak akan mendapat hadiah. Misalnya, dipuji, dipeluk dan sebagainya, yang bisa memperkuat tingkah laku baik si anak." Sebaliknya, bila anak tak menjalankan aturan, ia akan mendapat konsekuensi.
Dengan disiplin, kita juga sekaligus menyatakan harapan kita kepada anak. "Biasanya anak akan merasa nyaman, tenang, dan damai, karena ia tahu apa yang diharapkan oleh orang tuanya." Misalnya, "Bunda ingin Kakak membereskan mainan setelah bermain." Atau sebelum bertamu ke rumah orang, kita bisa bilang, "Kita akan bertamu di rumah orang. Kalau belum dipersilakan, Kakak enggak boleh mengambil makanannya dulu, ya."
Disiplin harus diterapkan sejak dini dengan memperkenalkan beberapa aturan. Misalnya, melarang anak menyentuh stop kontak. "Tapi untuk anak yang masih dini, sebaiknya ruanganlah yang didisiplinkan," ujar Ery. Maksudnya, kita harus menciptakan lingkungan yang aman buat anak. Misalnya, kalau kita ingin vas bunga tak dipecahkan oleh anak, maka pindahkan vas tersebut ke tempat yang lebih aman. "Daripada orang tua bolak-balik bilang jangan ke anak."
Lain halnya pada anak yang lebih besar, orang tua harus mulai memberi aturan. Misalnya, "Kakak tak boleh memukul Adik karena dipukul itu sakit. Konsekuensinya, kalau Kakak memukul Adik berarti Kakak harus bermain sendiri." Atau, anak melempar mainannya, katakan, "Tidak boleh melempar-lempar mainan, karena mainan bisa rusak. Kalau Kakak melempar lagi, akan Mama ambil mainan itu untuk disimpan."
Jadi, tandas Ery, kita harus selalu berada dalam posisi membantu anak untuk bertingkah laku baik. "Jangan langsung memberi hukuman. Tapi ajarkan sebab-akibatnya, bahwa kalau ia bertingkah laku tertentu maka konsekuensinya begini."
KONSEP DIRI NEGATIF
Hukuman, terang Ery, hanya memberi tahu anak tentang kesalahannya tapi tak memberi tahu bagaimana ia seharusnya bertingkah laku. "Anak hanya tahu bahwa ia salah, tapi setelah itu so what, lalu apa? Ia tak diajarkan harus bagaimana."
Apalagi jika anak sampai diberi hukuman fisik yang juga disertai kata-kata menyakitkan. "Itu bisa membuatnya sakit hati, merasa direndahkan dan tak diberi kesempatan untuk memperbaiki tingkah lakunya." Biasanya anak akan tumbuh menjadi pendendam lantaran ia tak pernah didengar dan dihargai. "Mereka juga cenderung tak bisa menyelesaikan masalah dengan baik tapi dengan hukuman juga." 
Yang lebih parah, hukuman dapat merusak konsep diri anak. "Anak jadi memiliki konsep diri negatif sehingga membuatnya tak percaya diri. Bawaannya takut melulu, enggak berani tampil, takut salah, dan sebagainya. Ia merasa bahwa yang ia miliki adalah kejelekan. Ia tak bisa menemukan aspek positif dari dirinya," papar Ery.
Ery mengingatkan, usia 3 sampai sekitar 6 tahun merupakan usia pembentukan (formative years) dan biasa disebut sebagai masa keemasan (golden years) seorang anak. "Masa ini tak mungkin terulang," tukasnya. Nah, bila di masa ini anak sering dihukum berarti ia banyak dilarang. Otomatis, kebutuhan anak untuk menjelajah, berinisiatif dan memupuk rasa ingin tahu menjadi terhambat. "Anak jadi tak punya inisiatif dan tak punya pendirian."
Dampak lainnya, anak menjadi conform, selalu berpendapat sama dengan orang lain. "Ia takut berbeda dengan orang lain. Karena kalau berbeda, ia takut diomeli." Disamping, potensi anak tak terealisir. "Anak jadi tak kreatif. Ia akan takut mencoba karena sudah penuh dengan ancaman."
POPULER DI KALANGAN TEMAN
Lain halnya dengan disiplin, anak akan tahu apa konsekuensi dari tingkah lakunya. "Sehingga anak akan selalu memandang bahwa berbuat baik itu menyenangkan dan berbuat tak baik itu tak menyenangkan," bilang Ery.
Merujuk data penelitian, orang tua yang banyak melatih anak dengan batasan-batasan dan konsekuensi, biasanya akan memiliki anak yang lebih populer di kalangan teman-temannya. "Karena mereka tahu apa yang harus mereka kerjakan, kontrol dirinya bagus, tak mudah diombang-ambingkan orang."
Anak-anak yang demikian, lanjut Ery, memiliki prinsip dan biasanya kelak menjadi pemimpin. "Mereka tahu bahwa mereka punya kelebihan tapi juga punya kekurangan. Berbeda dengan anak-anak yang sering dihukum, tahunya cuma dirinya jelek saja."
Akhirnya Ery menyarankan kita agar mencoba untuk lebih sabar dan lembut dalam menghadapi anak. "Ini memang susah. Tapi ingatlah, kesabaran kita akan berbuah bahwa anak kita juga akan menjadi orang yang sabar."
Anak adalah "potret" orang tua. Iya, kan!

Rabu, 20 Mei 2009

Merga-merga dalam suku karo



Untuk memperluas dan meningkatkan wawasan tentang marga2 dalam suku karo di sini di tulis sedikit rincian tentang marga2 dalam suku karo ,,,
karena tulisan tentang marga2 karo jarang di publikasikan ,, sehingga yg banyak di kenal itu adalah marga2 dari teman kita batak toba,,,
mari sebagai orang karo jg harus bangga dan melestarikan budaya karo ,,,,
Adapun marga2 dalam suku karo ada 5 induk : yaitu :
1. Merga Ginting
Merga Ginting terdiri atas beberapa Sub Merga seperti :
a. Ginting Pase
Ginting Pase menurut legenda sama dengan Ginting Munthe. Merga Pase juga ada di Pak-Pak, Toba dan Simalungun. Ginting Pase dulunya mempunyai kerajaan di Pase dekat Sari Nembah sekarang. Cerita Lisan karo mengatakan bahwa anak perempuan (puteri) Raja Pase dijual oleh bengkila (pamannya) ke Aceh dan itulah cerita cikal bakal kerajaan Samudera Pasai di Aceh. Untuk lebih jelasnya dapat di telaah cerita tentang Beru Ginting Pase.

b. Ginting Munthe
Menurut cerita lisan karo, Merga Ginting Munthe berasal dari Tongging, kemudian ke Becih dan Kuta Sanggar serta kemudian ke Aji Nembah dan terakhir ke Munthe. Sebagian dari merga Ginting Munthe telah pergi ke Toba (Nuemann 1972 : 10), kemudian sebagian dari merga Munthe dari Toba ini kembali lagi ke Karo. Ginting Muthe di Kuala pecah menjadi Ginting Tampune.

c. Ginting Manik
Ginting Manik menurut cerita masih saudara dengan Ginting Munthe. Merga ini berasal dari Tongging terus ke Aji Nembah, ke Munthe dan Kuta Bangun. (R.U. GINTING, SH). Merga Manik juga terdapat di Pak-pak dan Toba.

d. Ginting Sinusinga
Menurut penulis, sejarah Ginting Sinusinga belum lagi jelas, akan tetapi mereka adalah pendiri kampung Singa.

e. Ginting Seragih
Menurut J.H. Neumann, Ginting Seragih termasuk salah satu merga Ginting yang tua dan menyebar ke Simalungun menjadi Saragih, di Toba menjadi Seragi.

f. Ginting Sini Suka
Menurut cerita lisan Karo berasal dari Kalasan (Pak-Pak), kemudian berpindah ke Samosir, terus ke Tinjo dan kemudian ke Guru Benua, disana dikisahkan lahir Siwah Sada Ginting, yakni :

- Ginting Babo
- Ginting Sugihen
- Ginting Guru Patih
- Ginting Suka ( ini juga ada di Gayo / Alas)
- Ginting Beras
- Ginting Bukit (juga ada di Gayo / Alas)
- Ginting Garamat (di Toba menjadi Simarmata)
- Ginting Ajar Tambun, dan
- Ginting Jadi Bata.

Kesembilan orang merga Ginting ini mempunyai seorang saudara perempuan bernama “ Bembem br Ginting”, yang menurut legenda tenggelam ke dalam tanah ketika sedang menari di Tiga Bembem atau sekarang Tiga Sukarame, kecamatan Munte.

g. Ginting Jawak
Menurut cerita Ginting Jawak berasal dari Simalungun. Merga ini hanya sedikit saja di daerah Karo.

h. Ginting Tumangger
Hingga sampai saat ini penulis belum mengetahui asal-usulnya, akan tetapi merga ini juga ada di Pak Pak, yakni merga Tumanggor.

i. Ginting Capah
Penulis juga belum mengetahui asal-usulnya, akan tetapi Capah berarti “tempat makan besar terbuat dari kayu”, atau piring tradisional Karo.



2. Merga Karo-Karo

Merga Karo-Karo terbagi atas beberapa Sub Merga, yaitu :
a. Karo-Karo Purba
Merga Karo-Karo Purba menurut cerita berasal dari Simalungun. Dia disebutkan beristri dua orang, seorang puteri umang dan seorang ular. Dari isteri umang lahirlah merga-merga :

~ Purba
Merga ini mendiami kampung Kabanjahe, Berastagi dan Kandibata.

~ Ketaren
Dahulu rupanya merga Karo-Karo Purba memakai nama merga Karo-Karo Ketaren. Ini terbukti karena Penghulu rumah Galoh di Kabanjahe, dahulu juga memakai merga Ketaren. Menurut budayawan Karo, M.Purba, dahulu yang memakai merga Purba adalah “Pa Mbelgah”. Nenek moyang merga Ketaren bernama “Togan Raya” dan “Batu Maler” ( referensi K.E. Ketaren).

~ Sinukaban
Merga Sinukaban ini sekarang mendiami kampung Kaban. Mungkin sekali yang disebut ibu umang tersebut, karena kemudian ia menghilang tak diketahui rimbanya.

Sementara dari isteri ular lahirlah anak-anak yakni merga-merga :

* Karo-Karo Sekali
Karo-Karo sekali mendirikan kampung Seberaya dan Lau Gendek, serta Taneh Jawa.

* Sinuraya / Sinuhaji
Merga ini mendirikan kampung Seberaya dan Aji Siempat, yakni Aji Jahe, Aji Mbelang dan Ujung Aji.

* Jong / Kemit
Merga ini mendirikan kampung Mulawari.

* Samura, di Samura dan

* Karo-Karo Bukit, di Bukit.

Kelima Sub Merga ini menurut cerita tidak boleh membunuh ular. Ular dimaksud dalam legenda Karo tersebut, mungkin sekali menggambarkan keadaan lumpuh dari seseorang sehingga tidak bisa berdiri normal.

b. Karo-Karo Sinulingga
Merga ini berasal dari Lingga Raja di Pak-Pak, disana mereka telah menemui Merga Ginting Munthe. Sebagian dari Merga Karo-Karo Lingga telah berpindah ke Kabupaten Karo sekarang dan mendirikan kampung Lingga.
Merga ini kemudian pecah menjadi sub-sub merga, seperti :

- Kaban
Merga ini mendirikan kampung Pernantin dan Bintang Meriah,

- Kacaribu
Merga ini medirikan kampung Kacaribu.

- Surbakti
Merga Surbakti membagi diri menjadi Surbakti dan Gajah. Merga ini juga kemudian sebagian menjadi Merga Torong.

Menilik asal katanya kemungkinan Merga Karo-karo Sinulingga berasal dari kerajaan Kalingga di India. Di Kuta Buloh, sebagian dari merga Sinulingga ini disebut sebagai “Karo-Karo Ulun Jandi”. Merga Lingga juga terdapat di Gayo / Alas dan Pak Pak.

c. Karo-Karo Kaban
Merga ini menurut cerita, bersaudara dengan merga Sinulingga, berasal dari Lingga Raja di Pak-Pak dan menetap di Bintang Meriah dan Pernantin.

d. Karo-Karo Sitepu
Merga ini menurut legenda berasal dari Sihotang (Toba) kemudian berpindah ke si Ogung-Ogung, terus ke Beras Tepu, Naman, Beganding, dan Sukanalu. Merga Sitepu di Naman sebagian disebut juga dengan nama Sitepu Pande Besi, sedangkan Sitepu dari Toraja (Ndeskati) disebut Sitepu Badiken. Sitepu dari Suka Nalu menyebar ke Nambiki dan sekitar Sei Bingai. Demikian juga Sitepu Badiken menyebar ke daerah Langkat, seperti Kuta Tepu.

e. Karo-Karo Barus
Merga Karo-Karo barus menurut cerita berasal dari Baros (Tapanuli Tengah). Nenek moyangnya “Sibelang Pinggel” (atau Simbelang Cuping) atau si telinga lebar. Nenek moyang merga Karo-Karo Barus mengungsi ke Karo karena diusir kawan sekampung akibat kawin sumbang (incest). Di Karo ia tinggal di Aji Nembah dan diangkat saudara oleh merga Purba karena mengawini impal merga Purba yang disebut “Piring Piringen Kalak Purba”. Itulah sebabnya mereka sering pula disebut Suka Piring.

f. Karo-Karo Manik
Di Buluh Duri Dairi (Karo Baluren), terdapat Karo Manik.

3. Merga Peranginangin

Merga Peranginangin terbagi atas beberapa sub merga, yakni :
a. Peranginangin Sukatendel
Menurut cerita lisan, merga ini tadinya telah menguasai daerah Binje dan Pematang Siantar. Kemudian bergerak ke arah pegunungan dan sampai di Sukatendel (Suka => Cuka, , Tendel => Tebal ). Di daerah Kuta Buloh, merga ini terbagi menjadi :

~ Peranginangin Kuta Buloh
Mendiami kampung Kuta Buloh, Buah Raja, Kuta Talah (sudah mati), dan Kuta Buloh Gugong serta sebagian ke Tanjung Pura (Langkat) dan menjadi Melayu.

~ Peranginangin Jombor Beringen
Merga ini mendirikan, kampung-kampung, Lau Buloh, Mburidi, Belingking,. Sebagian menyebar ke Langkat mendirikan kampung Kaperas, Bahorok, dan lain-lain.

~ Peranginangin Jenabun
Merga ini juga mendirikan kampong Jenabun,. Ada cerita yang mengatakan mereka berasal dari keturunan nahkoda (pelaut) yang dalam bahasa karo disebut Anak Koda Pelayar. Di kampung ini sampai sekarang masih ada hutan (kerangen) bernama Koda Pelayar, tempat petama nahkoda tersebut tinggal.

b. Peranginangin Kacinambun
Menurut cerita, Peranginangin Kacinambun datang dari Sikodon-kodon ke Kacinambun.

c. Peranginangin Bangun
Alkisah Peranginangin Bangun berasal dari Pematang Siantar, datang ke Bangun Mulia. Disana mereka telah menemui Peranginangin Mano. Di Bangun Mulia terjadi suatu peristiwa yang dihubungkan dengan “Guru Pak-pak Pertandang Pitu Sedalanen”. Dimana dikatakan Guru Pak-pak menyihir (sakat) kampung Bangun Mulia sehingga rumah-rumah saling berantuk (ersepah), kutu anjing (Kutu biang) mejadi sebesar anak babi. Mungkin pada waktu itu terjadi gampa bumi di kampung itu. Akibatnya penduduk Bangun Mulia pindah. Dari Bangun Mulia mereka pindah ke Tanah Lima Senina, yaitu Batu Karang, Jandi Meriah, Selandi, Tapak, Kuda dan Penampen. Bangun Penampen ini kemudian mendirikan kampung di Tanjung. Di Batu Karang, merga ini telah menemukan merga “Menjerang” dan sampai sekarang silaan di Batu Karang bernama Sigenderang. Merga ini juga pecah menjadi :

* Keliat
Menurut budayawan Karo, Paulus Keliat, merga Keliat merupakan pecahan dari rumah Mbelin di Batu Karang. Merga ini pernah memangku kerajaan di Barus Jahe, sehingga sering juga disebut Keliat Sibayak Barus Jahe.

* Beliter
Di dekat Nambiki (Langkat), ada satu kampung bernama Beliter dan penduduknya menamakan diri Peranginangin Beliter. Menurut cerita, mereka berasal dari merga Bangun. Di daerah Kuta Buluh dahulu juga ada kampung bernama Beliter tetapi tidak ditemukan hubungan anatara kedua nama kampung tersebut. Penduduk kampung itu di sana juga disebut Peranginangin Beliter.

d. Peranginangin Mano
Peranginangin Mano tadinya berdiam di Bangun Mulia. Namun, Peranginangin Mano sekarang berdiam di Gunung, anak laki-laki mereka dipanggil Ngundong.

e. Peranginangin Pinem
Nenek moyang Peranginangin Pinem bernama “Enggang” yang bersaudara dengan “Lambing”, nenek moyang merga Sebayang dan “Utih”nenek moyang merga Selian di Pakpak.

f. Sebayang
Nenek Moyang merga ini bernama Lambing, yang datang dari Tuha di Pak-pak, ke Perbesi dan kemudian mendirikan kampung Kuala, Kuta Gerat, Pertumbuken, Tiga Binanga, Gunung, Besadi (Langkat), dan lain-lain.
Merga Sembayang (Sebayang) juga terdapat di Gayo / Alas.
g. Peranginangin Laksa
Menurut cerita datang dari Tanah Pinem dan kemudian menetap di Juhar.

h. Peranginangin Penggarun
Penulis juga belum mengetahui asal-usulnya, akan tetapi Penggarun berarti mengaduk, biasanya untuk mengaduk nila (suka/telep) guna membuat kain tradisional suku karo.

i. Peranginangin Uwir

j. Peranginangin Sinurat
Menurut cerita yang dikemukakan oleh budayawan karo bermarga Sinurat seperti Karang dan Dautta, merga ini berasal dari Peranginangin Kuta Buloh. Ibunya beru Sinulingga, dari Lingga bercerai dengan ayahnya lalu kawin dengan merga Pincawan. Sinurat dibawa ke Perbesi menjadi juru tulis merga Pincawan (Sinurat). Kemudian merga Pincawan khawatir merga Sinurat akan menjadi Raja di Perbesi, lalu mengusirnya. Pergi dari Perbesi, ia mendirikan kampung dekat Limang dan diberi nama sesuai perladangan mereka di Kuta Buloh, yakni Kerenda.

k. Peranginangin Pincawan
Nama Pincawan berasal dari Tawan, ini berkaitan dengan adanya perang urung dan kebiasaan menawan orang pada waktu itu. Mereka pada waktu itu sering melakukan penawanan-penawanan dan akhirnya disebut Pincawan.

l. Peranginangin Singarimbun
Peranginangin Singarimbun menurut cerita budayawati Karo, Seh Ate br Brahmana, berasal dari Simaribun di Simalungun. Ia pindah dari sana berhubung berkelahi dengan saudaranya. Singarimbun kalah adu ilmu dengan saudaranya tersebut lalu sampailah ia di tanjung Rimbun (Tanjong Pulo) sekarang. Disana ia menjadi gembala dan kemudian menyebar ke Temburun, Mardingding, dan Tiga Nderket.



m. Peranginangin Limbeng
Peranginangin Limbeng ditemukan di sekitar Pancur Batu. Merga ini pertama kali masuk literatur dalam buku Darwan Prinst, SH dan Darwin Prinst, SH berjudul “Sejarah dan Kebudayaan Karo”.

n. Peranginangin Prasi
Merga ini ditemukan oleh Darwan Prinst, SH dan Darwin Prinst, SH di desa Selawang-Sibolangit. Menurut budayawan Karo Paulus Keliat, merga ini berasal dari Aceh, dan disahkan menjadi Peranginangin ketika orang tuanya menjadi Pergajahen di Sibiru-biru.

4. Merga Sembiring
Merga Sembiring secara umum membagi diri menjadi dua kelompok yaitu Sembiring yang memakan anjing dan Sembiring yang berpantang memakan anjing.

a. Sembiring Siman Biang

- Sembiring Kembaren
Menurut Pustaka Kembaren, asal-usul merga ini terdiri dari Kuala Ayer Batu, kemudian pindah ke Pagaruyung terus ke Bangko di Jambi dan selanjutnya ke Kutungkuhen di Alas. Nenek moyang mereka bernama Kenca Tampe Kuala, berangkat bersama rakyatnya menaiki perahu dengan membawa pisau kerajaan bernama “Pisau Bala Bari”. Keturunannya kemudian mendirikan kampung Silalahi, Paropo, Tumba dan Martogan. Dari sana kemudian menyebar ke Liang Melas, saperti Kuta Mbelin, Sampe Raya, Pola Tebu, Ujong Deleng, Negerijahe, Gunong Meriah, Longlong, Tanjong Merahe, Rih Tengah dan lain-lain. Merga ini juga tersebar luas di Kab. Langkat saperti Lau Damak, Batu Erjong-Jong, Sapo Padang, Sijagat, dll.

- Sembiring Keloko
Menurut cerita, Sembiring Keloko masih satu keturunan dengan Sembiring Kembaren. Merga Sembiring Keloko tinggal di “Rumah Tualang”, sebuah desa yang sudah ditinggalkan antar Pola Tebu dengan Sampe Raya. Merga ini sekarang terbanyak tinggal di Pergendangen, beberapa keluarga di Buah Raya dan Limang.

- Sembiring Sinulaki
Sejarah merga Sembiring Sinulaki dikatakan juga sama dengan sejarah Sembiring Kembaren, karena mereka masih dalam satu rumpun. Merga Sinulaki berasal dari Silalahi.

- Sembiring Sinupayung
Merga ini menurut cerita bersaudara dengan Sembiring Kembaren. Mereka ini tinggal di Juma Raja dan Negeri.

Keempat merga ini boleh memakan anjing sehingga disebut Sembitng Siman Biang.

b. Sembiring Singombak
Adalah kelompok merga Sembiring yang menghanyutkan abu-abu jenasah keluarganya yang telah meniggal dunia dalam perahu kecil melalui Lau Biang (Sungai Wampu). Adapun kelompok merga Sembiring Singombak tersebut adalah sebagai berikut :

~ Sembiring Brahmana
Menurut cerita lisan Karo, nenek moyang merga Brahmana ini adalah seorang keturunan India yang bernama “Megit”dan pertama kali tinggal di Talu Kaban. Anak-anak dari Megit adalah, Mecu Brahmana yang keturunannya menyebar ke Ulan Julu, Namo Cekala, dan kaban Jahe. Mbulan Brahmana menjadi cikal bakal kesain Rumah Mbulan Tandok Kabanjahe yang keturunannya kemudian pindah ke Guru Kinayan dan keturunannya mejadi Sembiring Guru Kinayan. Di desa Guru Kinayan ini merga Brahmana memperoleh banyak kembali keturunan. Dari Guru Kinayan, sebagian keturunananya kemudian pindah ke Perbesi dan dari Perbesi kemudian pindah ke Limang.

~ Sembiring Guru Kinayan
Sembiring Guru Kinayan terjadi di Guru Kinayan, yakni ketika salah seorang keturunan dari Mbulan Brahmana menemukan pokok bambo bertulis (Buloh Kanayan Ersurat). Daun bambo itu bertuliskan aksara Karo yang berisi obat-obatan. Di kampung itu menurut cerita dia mengajar ilmu silat (Mayan) dan dari situlah asal kata Guru Kinayan (Guru Ermayan). Keturunannya kemudian menjadi Sembiring Guru Kinayan.

~ Sembiring Colia
Merga Sembiring Colia, juga menurut sejarah berasal dari India, yakni kerajaan Cola di India. Mereka mendirikan kampung Kubu Colia.

~ Sembiring Muham
Merga ini juga dikatakan sejarah, berasal dari India, dalam banyak praktek kehidupan sehari-hari merga ini sembuyak dengan Sembiring Brahmana, Sembiring Guru Kinayan, Sembiring Colia, dan Sembiring Pandia. Mereka inilah yang disebut Sembiring Lima Bersaudara dan itulah asal kata nama kampung “Limang”. Menurut ahli sejarah karo. Pogo Muham, nama Muham ini lahir, ketika diadakan Pekewaluh di Seberaya karena perahunya selalu bergempet (Muham).

~ Sembiring Pandia
Sebagaimana sudah disebutkan di atas, bahwa merga Sembiring Pandia, juga berasal dari kerajaan Pandia di India. Dewasa ini mereka umumnya tinggal di Payung.

~ Sembiring Keling
Menurut cerita lisan karo mengatakan, bahwa Sembiring Keling telah menipu Raja Aceh dengan mempersembahkan seekor Gajah Putih. Untuk itu Sembiring Keling telah mencat seekor kerbau dengan tepung beras. Akan tetapi naas, hujan turun dan lunturlah tepung beras itu, karenanya terpaksalah Sembiring Keling bersembunyi dan melarikan diri. Sembiring Keling sekarang ada di Raja Berneh dan Juhar.

~ Sembiring Depari
Sembiring Depari menurut cerita menyebar dari Seberaya, Perbesi sampai ke Bekacan (Langkat). Mereka ini masuk Sembiring Singombak, di daerah Kabupaen Karo nama kecil (Gelar Rurun) anak laki-laki disebut Kancan, yang perempuan disebut Tajak. Sembiring Depari kemudian pecah menjadi Sembiring Busok. Sembiring Busok ini terjadi baru tiga generasi yang lalu. Sembiring Busok terdapat di Lau Perimbon dan Bekancan.

~ Sembiring Bunuaji
Merga ini terdapat di Kuta Tengah dan Beganding.

~ Sembiring Milala
Sembiring Milala, juga menurut sejarah berasal dari India, mereka masuk ke Sumatera Utara melalui Pantai Timur di dekat Teluk Haru. Di Kabupaten Karo penyebarannya dimulai dari Beras Tepu. Nenek moyang mereka bernama Pagit pindah ke Sari Nembah. Merka umumnya tinggal di kampung-kampung Sari Nembah, Raja Berneh, Kidupen, Munte, Naman dan lain-lain. Pecahan dari merga ini adalah Sembiring Pande Bayang.

~ Sembiring Pelawi
Sejarah mengatakan,bahwa Sembiring Pelawi diduga berasa dari India (Palawa). Pusat kekuasaan merga Pelawi di wilayah Karo dahulu di Bekancan. Di Bekancan terdapat seorang Raja, yaitu “Sierkilep Ngalehi”, menurut cerita, daerahnya sampai ke tepi laut di Berandan, seperti Titi Pelawi dan Lau Pelawi. Di masa penjajahan Belanda daerah Bekancan ini masuk wilayah Pengulu Bale Nambiki. Kampung-kampung merga Sembiring Pelawi adalah : Ajijahe, Kandibata, Perbesi, Perbaji, Bekancan dan lain-lain.
~ Sembiring Sinukapor
Sejarah merga ini belum diketahui secara pasti, mereka tinggal di Pertumbuken, Sidikalang, dan Sarintonu.

~ Sembiring Tekang
Sembiring Tekang dianggap dekat / bersaudara dengan Sembiring Milala. Di Buah Raya, Sembiring Tekang ini juga menyebut dirinya Sembiring Milala. Kedekatan kedua merga ini juga terlihat dari nama Rurun anak-anak mereka. Rurun untuk merga Milala adlah Jemput (laki-laki di Sari Nembah) / Sukat (laki-laki di Beras Tepu) dan Tekang (wanita). Sementara Rurun Sembiring Tekang adlah Jambe (laki-laki) dan Gadong (perempuan). Kuta pantekennya adalah “Kaban”, merga ini tidak boleh kawin-mengawin dengan merga Sinulingga, dengan alas an ada perjanjian, karena anak merga Tekang diangkat anak oleh merga Sinulingga.

5. Merga Tarigan
Ada cerita lisan (Darwin Prinst, SH. “Legenda Merga Tarigan” dalam bulletin KAMKA No. 010/Maret 1978) yang menyebutkan merga Tarigan ini tadinya berdiam di sebuah Gunung, yang berubah mejadi Danau Toba sekarang. Mereka disebut sebagai bangsa Umang. Pada suatu hari, isteri manusia umang Tarigan ini melahirkan sangat banyak mengeluarkan darah. Darah ini, tiba-tiba menjadi kabut dan kemudian jadilah sebuah danau. Cerita ini menggambarkan terjadinya Danau Toba dan migrasi orang Tarigan dari daerah tersebut ke Purba Tua, Cingkes, dan Tongtong Batu. Tiga orang keturunan merga Tarigan kemudian sampai ke Tongging yang waktu itu diserang oleh burung “Sigurda-Gurda” berkepala tujuh. Untuk itu Tarigan memasang seorang anak gadis menjadi umpan guna membunuh manok Sigurda-gurda tersebut. Sementar di bawah gadis itu digali lobang tempat sebagai benteng merga Tarigan. Ketika burung Sigurda-gurda datang dan hendak menerkam anak gadis itu, maka Tarigan ini lalu memanjat pohon dan menyumpit (eltep) kepala burung garuda itu. Enam kepala kena sumpit, akan tetapi satu kepala tesembunyi di balik dahan kayu. Salah seorang merga Tarigan ini lalu memanjat pohon dan menusuk kepala itu dengan pisau. Maksud cerita ini mungkin sekali, bahwa pada waktu itu sedang terjadi peperangan, atau penculikan anak-anak gadis di Tongging. Pengulu Tongging merga Ginting Manik lalu minta bantuan kepada merga Tarigan untuk mengalahkan musuhnya tersebut. Beberapa generasi setelah kejadian ini, tiga orang keturunan merga Tarigan ini diberi nama menurut keahliannya masing-masing, yakni ; Tarigan Pertendong (ahli telepati), Pengeltep (ahli menyumpit) dan Pernangkih-nangkih (ahli panjat). Tarigan pengeltep kawin dengan beru Ginting Manik. Diadakanlah pembagian wilayah antara penghulu Tongging dengan Tarigan Pengeltep. Tarigan menyumpitkan eltepnya sampai ke Tongtong Batu. Tarigan lalu pergi kesana, dan itulah sebabnya pendiri kampung (Simantek Kuta) di Sidikalang dan sekitarnya adalah Tarigan (Gersang). Tarigan Pertendong dan Tarigan Pernangkih-nangkih tinggal di Tongging dan keturunannya kemudian mejadi Tarigan Purba, Sibero, dan Cingkes, baik yang di Toba maupun yang di Simalungun. Beberapa generasi kemudian berangkatlah dua orang Merga Tarigan dari Tongtong Batu ke Juhar, yang kemudian di Juhar dikenal sebagai Tarigan Sibayak dan Tarigan Jambor Lateng. Tarigan Sebayak mempunyai nama rurun Batu (laki-laki) dan Pagit (perempuan). Sementara nama rurun Tarigan Jambor Lateng adalah Lumbung (laki-laki) dan Tarik (perempuan). Kemudian datang pulalah Tarigan Rumah Jahe dengan nama rurun Kawas (laki-laki) dan Dombat (wanita).
Adapun cabang-cabang dari merga Tarigan ini adalah sebagai berikut :

a Tarigan Tua, kampong asalnya di Purba Tua dekat Cingkes dan Pergendangen ;
b Tarigan Bondong, di Lingga ;
c Tarigan Jampang, di Pergendangen ;
d Tarigan Gersang, di Nagasaribu dan Beras Tepu ;
e Tarigan Cingkes, di Cingkes ;
f Tarigan Gana-gana, di Batu Karang ;
g Tarigan Peken (pecan), di Sukanalu dan Namo Enggang ;
h Tarigan Tambak, di Kebayaken dan Sukanalu ;
i Tarigan Purba, di Purba ;
j Tarigan Sibero, di Juhar, Kuta Raja, Keriahen Munte, Tanjong Beringen, Selakar, dan Lingga ;
k Tarigan Silangit, di Gunung Meriah (Deli Serdang) ;
l Tarigan Kerendam, di Kuala, Pulo Berayan dan sebagian pindah ke Siak dan menjadi Sultan disana ;
m Tarign Tegur, di Suka ;
n Tarigan Tambun, di Rakut Besi dan Binangara ;
o Tarigan Sahing, di Sinaman

Berdasarkan Keputusan Kongres Kebudayaan Karo. 3 Desember 1995 di Sibayak Interntional Hotel Berastagi merekomendasikan, agar pemakaian merga berdasarkan “merga silima”, yaitu ;
1. Ginting
2. Karo-Karo
3. Peranginangin
4. Sembiring, dan
5. Tarigan
Sementara sub merga, dipakai di belakang merga, sehingga tidak terjadi kerancuan mengenai pemakaian merga dan sub merga tersebut.


Disadur dari Keputusan Kongres Kebudayaan Karo, 3 Desember 1995
Dan Buku – buku Budaya Karo.
























































































Budaya Karoshi, Budaya Karo - sejarah marga-marga, Budaya Karo ibas terang kata dibata, Budaya Karo kerja tahun, Budaya Karo pdf, budaya batak karo, sejarah Budaya Karo, seni Budaya Karo, budaya adat karo, budaya tanah karo, artikel Budaya Karo, budaya suku batak karo, lagu budaya batak Karo mp3 download, budaya adat batak karo, sejarah budaya batak karo, seni budaya batak karo, Perkembangan budaya batak karo, makalah budaya batak karo, unsur budaya batak karo, cerita Budaya Karo, contoh Budaya Karo, budaya daerah karo, filsafat Budaya Karo, jenis Budaya Karo, budaya kabupaten karo, budaya khas karo, budaya kalak karo, sosial budaya kabupaten karo, kesenian budaya karo, gambaran sosial budaya kabupaten karo, keragaman budaya karo, lagu budaya karo, mengenal budaya karo, makalah Budaya Karo, budaya orang karo, pengertian Budaya Karo, pantun Budaya Karo, radio Budaya Karo, pesta Budaya Karo, acara Budaya Karo, musik Budaya Karo, situs Budaya Karo, situs Budaya Karo, website Budaya Karo, tarian Budaya Karo, tenah Budaya Karo, tentang budaya karo.

mp3 lagu karo, lirik lagu karo, lagu karo mp3, lagu perjabun, lagu pengantin mp3, lagu pengantin teks, lirik lagu pengantin karo, download lagu karo, festival lagu karo, teks lagu karo, lagu pengantin karo, lagu pengantin karo mp3, gratis dowload lagu karo, 
Masyarakat karo tempo dulu, Masyarakat karo terobos mendagri,  Masyarakat karo demo bupati, himpunan Masyarakat karo indonesia, tokoh Masyarakat karo, demo Masyarakat karo, sejarah Masyarakat karo, tradisi Masyarakat karo, cerita masyarakat karo, legenda Masyarakat karo, masyarakat adat karo, agama Masyarakat karo, himpunan Masyarakat karo, karakteristik Masyarakat karo, kepercayaan Masyarakat karo, karakter Masyarakat karo, kekerabatan Masyarakat karo, asal usul Masyarakat karo, latar belakang Masyarakat karo, sistem kekerabatan Masyarakat karo, organisasi Masyarakat karo, masyarakat tanah karo.

Jumat, 15 Mei 2009

Sumbang si Siwah pada Masyarakat Karo

Dalam cerita-cerita klasik Karo yang dikenal dengan "Turi-turin si adi" terdapat ungkapan yang berbunyi "jelma si mehamat emkap jelma si banci janah sanggup menekan ras nasapken sumbang si siwah ibas kinigeluhenna nari" yang artinya, "orang yang sopan adalah orang yang dapat serta sanggup menghilangkan dan menghapus larangan yang sembilan dari dalam kehidupannya". Adapun larangan yang sembilan jenis itu adalah


1. Sumbang Perkundul (cara duduk yang tidak sopan)
Tikar merupakan sarana atau tempat duduk umum bagi masyarakat Karo. Bagi orang kebanyakan biasanya cukup dibentangkan tikar yang lebar (amak belang) dan bagi orang-orang terhormat dibentangkan tikar halus (amak cur) di atas tikar yang lebar itu.
Bagi masyarakat Karo cara duduk yang sopan adalah "muncayang" (bersila) dan "terdo" (menjulurkan kedua kaki) bagi wanita yang sedang menyusui atau memangku anak. Disamping itu kita pun harus mengenal "simehangke" (orang yang kita hormati seperti mami, bengkila, turangku, eda dan silih), karena dalam adat Karo dilarang duduk berdampingan apalagi bersenetuhan badan dengan mereka. Banyak hal atau peraturan yang harus dituruti menganai cara duduk ini.

2. Sumbang Pengerana (cara berbicara yang tidak sopan/kasar)
Ada ungkapan yang berbunyi "mulutmu adalah harimaumu", suatu ucapan yang dapat membuat kita dibenci orang dan menambah lawan, sebaliknya mungkin juga membuat orang menyenangi kita dan menambah teman. Dari tutur kata seseorang dapat diketahui apakah dia jujur atau dapat dipercaya yang memberi simpatik kepada orang lain.

3. Sumbang Pengenen (cara melihat yang tidak baik)
Ada bagian-bagian tubuh yang pantang atau tabu untuk dilihat, apalagi dengan saengaja dilihat atau diintip. Dalam bahasa Karo ada ungkapan yang berbunyi "kalak si nggit ngintip tah pe nungkir si la tengka, banci terpiluk matana, janah kalak si rusur ngenen si la mehuli tahpe si mereha banci nge pentang matana".

4. Sumbang Perpan (cara makan yang tidak sopan)
Pada saat makan tidak "ngulcap" (mengeluarkan suara saat mengunyah) dan jangan "merimah" (nasi berjatuhan di luar piring). Juga tidak memakan makanan yang diharamkan oleh aturan adat berdasarkan marga.

5. Sumbang Perdalan (cara berjalan yang tidak baik)
Ketika berjalan langkah kaki tanpa hentakan dan buatlah ayunan tangan yang sewajarnya agar kita tidak terkesan "metumbur" (ceroboh). Cara jalan yang baik dapat menunjukkan perangai seseorang. Seperti lagu muda/i Karo : "pengodakndu e, perdalandu e, erbahan aku bene…" yang artinya cara berjalan itu membuat orang simpatik dan tertarik.

6. Sumbang Pendahin (pekerjaan yang dibenci orang)
Kerjakanlah yang baik dan berguna serta tidak mengganggu ketenteraman orang lain. Seperti nasihat orang tua: "ola lakoken pendahin si la tengka janah ola dadap pendahin si mereha" yang artinya jangan lakukan pekerjaan yang terlarang dan jangan sentuh pekerjaan yang memalukan.

7. Sumbang Perukuren (cara berfikir yang jelek)
Dalam hidup bermasyarakat kita harus saling menghargai dan menghormati antara sesama warga masyarakat dan tidak berprasangka buruh terhadap orang lain.

8. Sumbang Peridi (cara mandi yang dilarang oleh adat istiadat)
Secara tradisional tempat mandi atau pancuran di desa-desa Tanah Karo merupakan pemandian umum. Zaman dulu orang-orang mandi di pancuran tanpa basahan. Terkadang, satu kampung hanya mempunyai satu pancuran saja buat pria dan wanita. Untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan, untuk menjauhkan diri dari sumbang peridi, maka perlu diadakan tata krama tradisional buat umum atau buat setempat/lokal.
Biasanya pemandian di desa terdiri dari satu atau lebih pancuran yang dapat dipakai secara bergantian. Untuk menjaga supaya jangan terjadi sumbang pengenen, maka lazimnya pancuran tradisinal tersebut dilindungi oleh pagar hidup, misalnya bambu cina.
Dengan demikian orang bebas mandi. Disamping itu ada pula giliran mandi buat kaum wanita dan buat kaum pria. Untuk mengetahui giliran siapa yang sedang mandi, apakah pria atau wanita. Maka dibuatlah berupa dialog singkat misalnya seorang pria (A) hendak mengetahui siapa yang sedang mandi (M) dipancuran:

A: "mboah ?" ("siapa ?")
M: "diberu !" ("wanita !")

Karena yang sedang mandi ternyata "wanita" maka si pria A harus menanti sampai wanita itu selesai mandi.

Lalau bagai mana halnya kalau yang sedang datang dan yang sedang mandi sama-sama pria atau sama-sama wanita? Apakah yang baru datang bebas masuk ke pancruan? Belum tentu. Ada orang yang walaupun berjenis kelamin sama, tetapi dilarang oleh adat mandi bersama, misalnya mama (mertua laki-laki pria), kalak si ereda (wanita yang beripar), ersilih (pria yang beripar). Untuk mengetahui hubungan itu, digunakan dialog:

A: "Mboah…."
M: "Dilaki….."
A: "Ise e…."
M: "Si Pola… bapa si Gumbar…"

Dengan demikian A dapat mengenal siapa yang sedang mandi tersebut.

9. Sumbang Perpedem (cara tidur yang tidak baik)
Rumah tradisional Karo atau rumah adat karo yang disebut "si waluh jabu" bentuknya seperti ruangan besar yang terbagi atas delapan bagian yang didiami masing-masing oleh satu keluarga, maka tidaklah terdapat kamar-kamar tidur. Yang ada hanya buat orang tua itu pun hanya disekat dengan tikar sebagai dindingnya. Sudah menjadi suatu kebiasaan bahwa anak laki laki yang sudah remaja tidak tidur di rumah adat, tetapi mereka tidur di jambur (pondok remaja) atau di keben (lumbung penyimpanan padi). Sementara para gadis diizinkan tidur di rumah adat, tetapi biasanya berkumpul di jabu nenek atau bibi dan lebih disenangi di jabu ture (keluarga yang dekat beranda) untuk memberi kesempatan kepada mereka berpacaraan.

Disadur dari makalah Sumbang si Siwah pada Masyarakat Karo
Karangan: Prof. Dr. Henry Guntur Tarigan (Alm)
sumber : http://gratis45.com/berita/Artikel08.htm

























































Budaya Karoshi, Budaya Karo - sejarah marga-marga, Budaya Karo ibas terang kata dibata, Budaya Karo kerja tahun, Budaya Karo pdf, budaya batak karo, sejarah Budaya Karo, seni Budaya Karo, budaya adat karo, budaya tanah karo, artikel Budaya Karo, budaya suku batak karo, lagu budaya batak Karo mp3 download, budaya adat batak karo, sejarah budaya batak karo, seni budaya batak karo, Perkembangan budaya batak karo, makalah budaya batak karo, unsur budaya batak karo, cerita Budaya Karo, contoh Budaya Karo, budaya daerah karo, filsafat Budaya Karo, jenis Budaya Karo, budaya kabupaten karo, budaya khas karo, budaya kalak karo, sosial budaya kabupaten karo, kesenian budaya karo, gambaran sosial budaya kabupaten karo, keragaman budaya karo, lagu budaya karo, mengenal budaya karo, makalah Budaya Karo, budaya orang karo, pengertian Budaya Karo, pantun Budaya Karo, radio Budaya Karo, pesta Budaya Karo, acara Budaya Karo, musik Budaya Karo, situs Budaya Karo, situs Budaya Karo, website Budaya Karo, tarian Budaya Karo, tenah Budaya Karo, tentang budaya karo.

mp3 lagu karo, lirik lagu karo, lagu karo mp3, lagu perjabun, lagu pengantin mp3, lagu pengantin teks, lirik lagu pengantin karo, download lagu karo, festival lagu karo, teks lagu karo, lagu pengantin karo, lagu pengantin karo mp3, gratis dowload lagu karo, 
Masyarakat karo tempo dulu, Masyarakat karo terobos mendagri,  Masyarakat karo demo bupati, himpunan Masyarakat karo indonesia, tokoh Masyarakat karo, demo Masyarakat karo, sejarah Masyarakat karo, tradisi Masyarakat karo, cerita masyarakat karo, legenda Masyarakat karo, masyarakat adat karo, agama Masyarakat karo, himpunan Masyarakat karo, karakteristik Masyarakat karo, kepercayaan Masyarakat karo, karakter Masyarakat karo, kekerabatan Masyarakat karo, asal usul Masyarakat karo, latar belakang Masyarakat karo, sistem kekerabatan Masyarakat karo, organisasi Masyarakat karo, masyarakat tanah karo.

Kerja Adat Manteki Perjabun

Mejuah-juah!!!!Ijenda lit tulisen ibas kami nari , kerna manteki perjabun ibas adat Karo. Artikel enda idat kami bas cerita orang tua-orang tuanta nari bage pe ibandingken kami ku piga-piga buku ras situs mengenai Adat Budaya Karo.


Artikel enda perlu iakap kami radu ras sieteh gelah banci kita memperkaya pengetahuan tentang adat Karo si enggo ndube terlupaken akibat perkembangen modernisasi sigundari. Lit 3 erbage gelar kerja petumbukken/perdemuken rikutken peradadaten kalak Karo e me kap :

1. Kerja Erdemu Bayu
2. Kerja Ngeranaken
3. Kerja Petuturken.


Gelar kerja adat enda itentuken arah cibal pertuturen antara si erjabu erpalasken merga si lima. Ertina ngenen kubas merga si dilaki ras beru si diberu, seh kubas beberena duana, ntah kin tuturna rimpal, turang impal, sipemeren, rsd.

1. Erdemu Bayu
 Kalak si erjabu ikataken Erdemu Bayu eme kap adi sekalak anak perana tumbuk ras singuda-nguda anak mamana kal, ntah pe singuda-nguda tersereh man anak bibina kal alu kata si deban ia tumbuk ras impalna kandung. Janah megati me si diberu enda igelari "beru singumban".
Utang adat si empo man anak beru si nereh ikataken "perkembaren" entah pe megati ikataken "ulih ermakan" janah labo banci mbelin ipindo anak beru perkembaren man si empo.

2. Ngeranaken

Kalak si erjabu ikataken Ngeranaken eme kap adi si empo ras si tersereh tumbuk labo ibas tutur rimpal, umpamana:


- Turang Sipemeren, emekap seri beberena duana, entahpe seri beru nande si empo ras beru nande si tersereh.
- Turang Impal, emekap merga si empo seri ras bebere si tersereh, entah pe seri merga bapa si empo ras beru nande si tersereh.
Alu bage ibas pedemukenca lit unsur pelanggaren adat. La arus ia tumbuk, sebab tuturna erturang. Emaka ibahan me utang si empo man anak beru sinereh siigelari "sabe". Janah megati ka pe ipindo anak beru sinereh "pengarusi", maka nggo iarusken pertumbukna. Belinna biasana sepersepuluh tukur.

3. Petuturken

Kalak si erjabu ikataken Petuturken lit dua erbage, emekap:
- Si empo ras si tersereh memang kin gel-gel labo sitandan, erkiteken kuta erkedauhen. Kenca ertutur maka ieteh payo tuhu ia ibas tutur rimpal.
- Si empo ras si tersereh rembang la lit jumpa merga ras beru bagepe beberen duana ibas merga silima, umpamana merga Sembiring bebere Ginting ras beru Karo bebere Tarigan.
Emaka ibahan me tutur rimpal gelah banci ipetumbuk. Ibas kecibal si enda utang si empo nandangi anak beru sinereh igelari "persadan", sebab ije nari maka enggo ersada si empo ndai ras anak beru sinereh.

sumber : http://gratis45.com/berita/Artikel13.htm



















































Budaya Karoshi, Budaya Karo - sejarah marga-marga, Budaya Karo ibas terang kata dibata, Budaya Karo kerja tahun, Budaya Karo pdf, budaya batak karo, sejarah Budaya Karo, seni Budaya Karo, budaya adat karo, budaya tanah karo, artikel Budaya Karo, budaya suku batak karo, lagu budaya batak Karo mp3 download, budaya adat batak karo, sejarah budaya batak karo, seni budaya batak karo, Perkembangan budaya batak karo, makalah budaya batak karo, unsur budaya batak karo, cerita Budaya Karo, contoh Budaya Karo, budaya daerah karo, filsafat Budaya Karo, jenis Budaya Karo, budaya kabupaten karo, budaya khas karo, budaya kalak karo, sosial budaya kabupaten karo, kesenian budaya karo, gambaran sosial budaya kabupaten karo, keragaman budaya karo, lagu budaya karo, mengenal budaya karo, makalah Budaya Karo, budaya orang karo, pengertian Budaya Karo, pantun Budaya Karo, radio Budaya Karo, pesta Budaya Karo, acara Budaya Karo, musik Budaya Karo, situs Budaya Karo, situs Budaya Karo, website Budaya Karo, tarian Budaya Karo, tenah Budaya Karo, tentang budaya karo.
mp3 lagu karo, lirik lagu karo, lagu karo mp3, lagu perjabun, lagu pengantin mp3, lagu pengantin teks, lirik lagu pengantin karo, download lagu karo, festival lagu karo, teks lagu karo, lagu pengantin karo, lagu pengantin karo mp3, gratis dowload lagu karo, 
Masyarakat karo tempo dulu, Masyarakat karo terobos mendagri,  Masyarakat karo demo bupati, himpunan Masyarakat karo indonesia, tokoh Masyarakat karo, demo Masyarakat karo, sejarah Masyarakat karo, tradisi Masyarakat karo, cerita masyarakat karo, legenda Masyarakat karo, masyarakat adat karo, agama Masyarakat karo, himpunan Masyarakat karo, karakteristik Masyarakat karo, kepercayaan Masyarakat karo, karakter Masyarakat karo, kekerabatan Masyarakat karo, asal usul Masyarakat karo, latar belakang Masyarakat karo, sistem kekerabatan Masyarakat karo, organisasi Masyarakat karo, masyarakat tanah karo.

EBOOK GRATIS

”buku ”buku ”buku ”diagnosis ”buku

Entri Populer