kesehatan anak, Psikologi anak, Ebook Kedokteran,

Tampilkan postingan dengan label Dunia kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dunia kesehatan. Tampilkan semua postingan

Senin, 13 Juni 2016

Kanker ovarium adalah

Setiap wanita memiliki 2 ovarium, yang masing-masing terletak di sebelah uterus. Ukuran ovarium sebesar buah almond, ovarium memproduksi telur dan hormon seks wanita seperti estrogen dan progesteron. Kanker ovarium terjadi saat pertumbuhan sel yang tidak terkontrol dan kebiasaan yang abnormal, sehingga mengakibatkan terbentuknya tumor pada salah satu atau kedua ovarium.(1)
Tumor ganas ovarium merupakan kumpulan tumor dengan histogenesis yang beraneka ragam. Ditemukan sebanyak 8% dari seluruh tumor ganas ginekologik dan diperkirakan 15-25% dari semua tumor ovarium bersifat ganas. Dapat ditemukan pada semua golongan umur, tetapi lebih sering pada usia 50 tahun ke atas. Pada masa reproduksi kira-kira separuh dari itu dan pada usia lebih muda jarang dilihat. Faktor predisposisi ialah tumor ovarium jinak.(1)

Kanker ovarium merupakan kanker terbanyak ke-6 pada wanita. Di Amerika Serikat, sekitar 23.000-25.000 kasus baru didiagnosa setiap tahunnya. Perkiraan insidensi pada 1 tiap 70 wanita mengalami kanker ovarium sepanjang hidupnya. Kanker ovarium sebesar 4% dari seluruh kasus baru kanker. (2,4)
Angka harapan hidup akan lebih baik bila ditemukan pada stadium awal. Tetapi karena penyakit ini sulit dideteksi pada stadium awal, hanya 25% kanker ovarium ditemukan sebelum menyebar pada jaringan dan organ di sekitar ovarium. Seringkali penyakit ini terlebih dahulu menyebar sebelum terdiagnosa. Hal ini yang seringkali menyebabkan kematian akibat dari gejala dan tanda penyakit tersebut yang tidak diketahui (4)
.


DEFINISI


Kanker merupakan tumor ganas dimana terjadi perubahan dalam biologi sel, khususnya nukleus, dan ciri ini ditransmisikan dari sel ke sel melalui generasi-generasi secara tak terbatas.(2) Sel tersebut memiliki derajat pertumbuhan yang mandiri yang lebih besar daripada yang dimiliki oleh sel asalnya. Oleh karena itu, kanker dapat dianggap sebagai kumpulan (massa) sel yang berbeda tidak saja dari sel normal, tetapi juga yang satu dengan yang lain dan dimana terus-menerus timbul bentuk baru sebagai hasil pembelahan sel yang irreguler.(3)
Setiap wanita memiliki 2 ovarium, yang masing-masing terletak di sebelah uterus. Ukuran ovarium sebesar buah almond, ovarium memproduksi telur dan hormon seks wanita seperti estrogen dan progesteron (gambar 1). Kanker ovarium terjadi saat pertumbuhan sel yang tidak terkontrol dan kebiasaan yang abnormal, sehingga mengakibatkan terbentuknya tumor pada salah satu atau kedua ovarium.


Gambar 1. Anatomi organ reproduksi wanita

EPIDEMIOLOGI


Kanker ovarium merupakan keganasan dalam bidang ginekologi yang paling mematikan. Insidensinya meningkat secara gradual dan mencapai puncaknya pada usia sekitar 70 tahun, dimana pada wanita kulit putih 55 per 100.000 tetapi sangat rendah pada wanita kulit hitam. Tumor ganas ovarium merupakan 20% dari semua keganasan alat reproduksi wanita. Insidensi rata-rata dari semua jenis diperkirakan 15 kasus baru per 100.000 populasi wanita setahunnya.(4)
Di Amerika Serikat, kanker ovarium merupakan keganasan ginekologi yang paling banyak menyebabkan kematian. Cancer statistics 2006 melaporkan bahwa sekitar 20.180 kasus baru kanker ovarium terdiagnosa tiap tahun dan sekitar 15.310 mengalami kematian. Besarnya angka kematian tersebut dikarenakan sifat dari kanker ovarium yang asimtomatik sehingga sering disebut The Silent Killer. Secara umum insidensi kanker ovarium di US adalah 33 kasus per 100.000 orang yang berusia 50 tahun. Rata-rata pasien tersebut terdiagnosa pada usia 57 tahun. Sepanjang hidupnya, wanita memiliki resiko untuk terkena kanker ovarium adalah 1 kasus dari 70 wanita.

PENYEBAB


Sampai dengan saat ini belum diketahui apa penyebab dari kanker ovarium. Para peneliti hanya dapat mengetahui beberapa faktor resiko yang dapat merupakan faktor predisposisi terjadinya kanker ovarium. Sejumlah teori telah banyak diajukan untuk menjelaskan sebab terjadinya kanker ovarium. Mereka berpendapat bahwa keganasan ini berhubungan dengan seringnya terjadi ovulasi, dan karena itu wanita yang mengalami ovulasi secara regular merupakan kelompok resiko tinggi. Sedangkan Schildkraut mengamati korelasi antara over ekspresi dari protein p53 yang mengalami mutasi (mutan) pada kanker ovarium dengan riwayat reproduksi dan menemukan bahwa over ekspresi lebih sering ditemukan pada mereka dengan riwayat siklus ovulasi yang tinggi.(5)

PATOLOGI


Letak tumor yang tersembunyi dalam rongga perut dan sangat berbahaya itu dapat menjadi besar tanpa disadari oleh penderita (gambar 2). Karsinoma ovarium dapat menyebar dengan perluasan lokal, invasi limpatik, implantasi intraperitoneum, penyebaran hematogen, dan jalur transdiafragmatika (gambar 3). Penyebaran intraperitoneum sering ditemukan dan merupakan karakteristik kanker ovarium. Sel maligna dapat berimplantasi di berbagai tempat di rongga peritoneum namun seringkali berimplantasi pada lokasi dimana terjadi stasis cairan peritoneum. Penyebaran hematogen secara klinis biasanya jarang, meskipun hal ini tidak jarang pada pasien dengan perkembangan penyakit. Mekanisme penyebaran ini merupakan rasionalisasi stadium untuk dilakukan tindakan pembedahan. (2)


Gambar 2. Pembesaran Ovarium yang sering tidak disadari
Tumor ganas ovarium merupakan kumpulan tumor dengan histiogenesis yang beraneka ragam, dapat berasal dari ketiga dermoblast (ektodermal, entodermal, dan mesodermal) dengan sifat-sifat biologis maupun histologis yang beraneka ragam. Oleh karena itu histiogenesis maupun klasifikasinya masih sering menjadi perdebatan. Klasifikasi kanker ovarium yang paling sering digunakan secara luas adalah berdasarkan World Health Organization dan frekwensi terjadinya masing-masing tipe dapat dilihat pada tabel 1. Tiga tipe dasar dari tumor dibuat berdasarkan dari asal dan bentuk tumor(4):
  • Tumor Epitelial, kira-kira 90% dari kanker ovarium, berkembang di epitelium, lapisan tipis dari jaringan yang menutupi ovarium. Umumnya terjadi pada wanita post-menopause.
  • Tumor sel germinal, tumor ini terjadi pada sel-sel yang memproduksi telur dari ovarium dan umumnya terjadi pada wanita muda.
  • Tumor stroma, tumor ini berkembang pada jaringan yang memproduksi estrogen dan progesteron yang mempengaruhi ovarium secara bersama-sama.
Table 1. Klasifikasi dan Frekwensi Ovarian Neoplasms (World Health Organization Classification)


Gambar 3. Kanker Ovarium Stadium Dini

FAKTOR RESIKO
Beberapa faktor yang dapat meningkatkan resiko wanita mengalami kanker ovarium, dimana secara umum dapat dilihat pada tabel 2. faktor-faktor tersebut antara lain yaitu: (4,7)
o Mutasi gen yang diturunkan (inherited)
Faktor resiko yang paling signifikan dalam menimbulkan kanker ovarium adalah terjadinya mutasi pada salah satu dari dua gen yang disebut breast cancer gene 1 (BRCA 1) dan breast cancer gene 2 (BRCA 2). Kedua gen ini didapatkan pada keluarga yang menderita kanker payudara, namun demikian kedua gen tersebut juga bertanggung jawab sekitar 5-10 % terhadap terjadinya kanker ovarium. Selain itu gen-gen lain yang dapat meningkatkan resiko kanker ovarium adalah Hereditary Non Polyposis Colorectal Carcinoma (HNPCC). Seseorang yang dalam kelurganya memiliki HNPCC meningkatkan resiko terhadap terjadinya kanker pada lapisan endometrium, colon, ovarium, lambung dan usus halus. Namun demikian kanker ovarium lebih kuat hubungannya dengan BRCA dibanding HNPCC. (lihat gambar 4).

Gambar 4. Persentase penyebab genetik dan persentase gen-gen yang didapatkan pada kebanyakan pasien yang beresiko.


o Usia
Kanker ovarium biasanya terjadi setelah menopause, dan wanita yang berusia lebih dari 60 tahun memiliki resiko tertinggi. Walaupun demikian, wanita pre-menopause juga tetap beresiko untuk mendapatkan kanker ovarium.

Table 2. Faktor-faktor yang dapat meningkatkan dan menurunkan resiko terjadinya kanker ovarium.

o Riwayat Keluarga
Kadang-kadang kanker ovarium dapat terjadi pada lebih dari satu anggota keluarga tetapi pada mereka tidak didapatkan adanya gen-gen mutasi yang diturunkan. Bila seseorang memiliki riwayat keluarga dengan kanker ovarium akan meningkatkan resikonya terhadap kanker ovarium, namun tentunya dengan derajat yang lebih kecil dibandingkan bila terdapat gen-gen mutan yang diturunkan. Seseorang dengan keluarga pada derajat pertama (ibu, saudara perempuan atau anak perempuan) menderita kanker ovarium akan meningkatkan resiko sebanyak 5 % sepanjang hidupnya.
o Status/Paritas
Wanita yang pernah mengalami hamil setidaknya 1 kali memiliki resiko yang lebih rendah mendapatkan kanker ovarium. Penggunaan kontrasepsi oral menunjukkan perlindungan untuk mendapatkan kanker ovarium. Penggunaan obat-obat penyubur yang digunakan untuk menimbulkan ovulasi dapat meningkatkan resiko kanker ovarium, begitu juga dengan penggunaan Hormon Replacement Therapy (HRT).
o Infertilitas
Jika terdapat masalah infertilitas atau mendapatkan anak pertama pada usia yang lanjut memiliki resiko yang meningkat mengalami kanker ovarium. Walaupun hubungan ini belum dapat dipahami namun banyak ahli mendukung teori ini.
o Obesitas
Wanita yang mengalami obesitas pada usia 18 tahun akan meningkatkan resiko untuk mendapat kanker ovarium sebelum menopause. Obesitas juga akan menyebabkan agresifitas dari kanker ovarium sehingga memperpendek waktu relaps dan menurunkan angka ketahanan hidup secara keseluruhan.
Beberapa wanita dengan kista ovarium yang tidak ditemukan gejala, tetapi kista ditemukan oleh dokter selama pemeriksaan pelvis. Pembentukan kista merupakan suatu bagian yang normal dari ovulasi pada wanita pra menopause. Meskipun begitu, kista yang terjadi setelah menopause memerlukan evaluasi lebih lanjut (4)
Tidak ada tes yang spesifik yang dapat membedakan secara akurat antara pertumbuhan kanker ovarium atau kista jinak/ganas. Meskipun demikian, karaktreristik-karakteristik di bawah ini dapat membantu menegakkan diagnosa:
• Ukuran kista. Kista yang ukurannya kurang dari 2 inci kecendrungan menjadi ganas adalah kecil. Tetapi semakin besar ukuran dari kista maka kecenderungan untuk menjadi ganas menjadi lebih besar. Resiko kanker ovarium dapat meningkat lebih dari 60% jika pertumbuhannya lebih dari 4 inci.
• Usia. Usia 50 tahun atau lebih memiliki kecenderungan keganasan 25% tapi jika mencapai usia 80 tahun, kemungkinan menjadi ganas menjadi lebih signifikan.
• Post menopause. Hanya sekitar 10% dari kista ovarium post menopause merupakan kista fungsional, sisanya dapat berupa tumor jinak/ganas.


Gambar 5. Perbedaan Kista Ovarium dan Kanker Ovarium


MANIFESTASI KLINIS
Karsinoma ovarium sering tidak menimbulkan gejala, sehingga disebut the silent killer (pembunuh diam). Gejala dan tanda umumnya menyerupai tumor ovarium jinak. Anemia dan penurunan berat badan biasanya baru terjadi pada tingkat lanjut. Tumor sel granulosa dan tumor sel teka yang memproduksi hormon akan menimbulkan pubertas prekoks pada anak, perdarahan abnormal pada masa reproduksi, dan perdarahan pada masa balik. Maskulinisasi dapat terjadi pada arenoblastoma.(1)
Pada stadium awal, kanker ovarium sering menjadi kondisi yang tenang, jika ada, tanda dan gejala akan sulit untuk diperhatikan. Tumor yang tumbuh di ovarium akan memberikan tekanan pada kandung kemih, usus besar, dan organ-organ lainnya pada rongga abdomen yang akan menimbulkan gejala yang sulit dibedakan dengan keadaan lain(4).
Banyak gejala akan menunjukkan kondisi berbahaya yang lain, tetapi jika gejala tersebut menetap maka akan dapat mengindikasikan adanya kanker ovarium, jika terdapat beberapa atau semua dari gejala ini(4):
- Pembesaran abdomen
- Nyeri abdomen
- Bloating
- Sukar menelan, kembung, atau mual
- Rasa tertekan pada pada pelvis
- Frequent urination
- Perubahan pola BAB yang tidak dapat dijelaskan
- Penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan
- Rasa penuh meskipun makan sedikit
- Perdarahan pervaginam yang abnormal
- Dispareunia

DIAGNOSIS

Tidak ada standarisasi dalam screening dalam mendeteksi kanker ovarium saat ini. Dokter melakukan pemeriksaan vagina, rektum, dan abdomen bagian bawah terhadap adanya massa atau pertumbuhan. Berapapun usia seseorang, dijadwalkan untuk pemeriksaan pelvis setiap tahunnya. Apabila pasien telah diangkat uterusnya, namun masih memiliki ovarium, tetap dilaksanakan pemeriksaan pelvis setiap tahunnya (4).
Melihat topografi ovarium maka hampit tidak memungkinkan kita melakukan deteksi dini tumor ganas ovarium oleh karena letaknya sangat tersembunyi. Diagnosis didasakan atas 3 gejala/tanda yang biasanya muncul dalam perjalanan penyakitnya yang sudah agak lanjut :
a). Gejala desakan yang dihubungkan dengan pertumbuhan primer dan infiltrasi ke jaringan sekitar.
b). Gejala diseminasi/penyebaran yang diakibatkan oleh perlekatan peritoneal dan bermanifestasi adanya ascites.
c). Gejala hormonal yang bermanifestasi sebagai defeminisasi, maskulinisasi atau hiperestrogenisme; gejala ini sangat bervariasi dengan tipe histologik tumor dan usia penderita.


Gambar 6. Penyebaran kanker ovarium melalui sistem limfatik. Jalur penyebaran primer pada nodus limpatikus pelvis dan paraaorta.
Diagnosa penunjang yang dapat dilaksanakan pada kasus kanker ovarium yang dapat digunakan antara lain:
1. Ultrasonography
2. CT Scan
3. Barium Enema (untuk melihat adanya gambaran area yang abnormal atau tumor, apabila sudah ada proses desak ruang ke organ lain)
4. Intra Venous Pyelography (bila ada gangguan/penekanan ke traktus urinarius)
Pengukuran substansi CA-125 dalam darah. Substansi ini disebut tumor marker, dapat diproduksi oleh sel-sel kanker ovarium. Bagaimanapun, CA-125 tidak selalu hadir pada wanita dengan kanker ovarium, dan CA-125 kemungkinan dapat muncul pada wanita dengan kondisi ovarium yang jinak. Test darah ini tidak dapat digunakan sendiri untuk mendiagnosa kanker ovarium(8). Diagnosis pasti ditentukan dengan pemeriksaan histopatologik. Penyebaran umumnya terjadi secara cepat dan langsung (per kontinuitatum), tetapi dapat pula secara implantasi di peritoneum kavum Douglas dan diafragma. Kelenjar limfa regional merupakan kelenjar hipogastrik (obturator), iliaka, sakrum, praaorta, dan inguinal(1,8).
Apabila hasil pemeriksaan pelvis diduga kanker ovarium, maka diperlukan operasi untuk diagnosa. Prosedur ini disebut dengan laparotomi, yaitu dengan mengeksplorasi kavum abdomen untuk mencari keberadaan kanker. Jika diagnosa kanker telah pasti, maka ahli bedah dan ahli Patologi Anatomi dapat mengidentifikasi tipe dan penyebaran dari tumor tersebut. Hal ini akan membantu untuk menentukan stadium kanker dan untuk penatalaksanaan kanker (4).

Gambar 7. Kanker ovarium sulit untuk didiagnosa pada stadium awal sampai kanker tersebut telah menyebar melalui sistem limfe atau secara langsung ke organ lain

KLASIFIKASI
Klasifikasikasi menurut FIGO(2) :
• Stage I – Pertumbuhan terbatas pada ovarium
o Stage Ia – Pertumbuhan terbatas pada 1 ovarium, tidak ada ascites, tidak ada tumor pada permukaan luar, kapsul intak
o Stage Ib – Pertumbuhan pada kedua ovarium, tidak ada ascites, tidak ada tumor pada permukaan luar, kapsul intak
o Stage Ic - Tumor sama dengan grade Ia atau Ib tetapi ada tumor pada permukaan salah satu atau kedua ovarium, kapsul ruptur, adanya ascites dengan adanya sel-sel keganasan
• Stage II – Pertumbuhan temasuk salah satu atau kedua ovarium dengan ekstensi pelvis
o Stage IIa - Ekstensi dengan/atau metastase ke uterus atau tuba
o Stage IIb - Ekstension pada jaringan pelvis lainnya
o Stage IIc - Stage IIa atau IIb tetapi dengan tumor pada permukaan salah satu atau kedua ovarium, kapsul ruptur, ascites dengan sel-sel keganasan
• Stage III - Tumor pada salah satu atau kedua ovarium dengan implan pada peritoneal di luar pelvis dan/atau nodus inguinal retroperitoneal; metastase liver superficial sama dengan stage III
o Stage IIIa - Tumor terbatas pada pelvis, tidak ada nodus limfe tetapi histologi membuktikan adanya kerusakan mikroskopis pada permukaan peritoneal abdomen
o Stage IIIb – Konfirmasi adanya implan di luar pelvis pada permukaan peritoneal abdomen; tidak ada implan dengan diameter lebih 2 cm dan tidak ada pada nodus limfe
o Stage IIIc – Implan pada abdomen lebih besar dari 2 cm dengan/atau positif pada nodus limfe
• Stage IV – Metastase jauh; effusi pleura harus positif pada pemeriksaan sitologi; metastase pada parenkim hati


Gambar 8. Penyebaran Kanker Ovarium ke organ lain

Gambar 9. Penyebaran kanker ovarium pada peritoneum

Gambar 10. Transvaginal dan sonogram Doppler pada kanker ovarium stadium I

PENATALAKSANAAN

Umumnya pengelolaan tumor ganas ovarium didasarkan atas tingkat klinis, jenis tumor, dan gambaran histopatologik. Pada tingkat klinis I dan II dilakukan pembedahan dasar dengan pengangkatan uterus, adneksa, omentum, dan apendiks. Pada tingkat klinis III dan IV dilakukan pembedahan dasar ditambah dengan pengangkatan tumor sebanyak mungkin, dan sebagai terapi lanjutan diberikan kemoterapi. Radiasi dianggap efektif pada tumor yang sensitif terhadap sinar. Dapat pula diberikan terapi gabungan radiasi dan kemoterapi.(1)


Gambar 11. Transvaginal doppler sonogram memperlihatkan massa solid pada ovarium kiri. Impedansi yang rendah terlihat pada massa tersebut yang menunjukkan suatu kanker ovarium

Jika seseorang masih menginginkan untuk mempunyai anak dan apabila tumornya terdiagnosa pada stadium awal, maka ahli bedah akan membuang ovarium dan tuba fallopii yang terdapat kanker ovariumnya saja, sedangkan ovarium dan tuba fallopii lainnya akan dipertahankan, namun keadaan ini jarang. Kebanyakan tipe tumor akan mengenai kedua ovarium dan bahkan uterus, tuba fallopii, kelenjar getah bening terdekat, dan lipatan jaringan lemak seperti omentum, tempat di mana kanker ovarium sering bermetastase. Ahli bedah akan mengambil sampel dari jaringan ikat dan cairan dari abdomen untuk memeriksa adanya sel kanker. Evaluasi ini penting untuk mengidentifikasi stadium dari kanker dan menentukan apakah seseorang memerlukan terapi tambahan. Setelah terapi bedah, maka dilakukan pula terapi kombinasi dengan obat-obatan. Kombinasi obat-obatan terbaru menunjukkan peningkatan harapan hidup. Selama bertahun-tahun, terapi standar pada kanker ovarium adalah kombinasi dari 2 kemoterapi, yaitu cisplati (Platinol) dan cyclophospamide (Cytoxan)(3,4). Sekarang ini, kombinasi obat-obatannya yaitu cisplatin atau carboplatin (Paraplatin) dengan obat paclitaxel (Taxol) dapat meningkatkan angka harapan hidup pada wanita dengan kanker ovarium (4,5).
Efek samping yang dapat terjadi pada penggunaan kemoterapi: (6)
o Mual dan muntah
o Kehilangan napsu makan
o Kerontokan rambut
o Ruam-ruam pada tangan dan kaki
o Kerusakan ginjal atau saraf
o Nyeri di daerah mulut
o Meningkatnya kemungkinan infeksi
o Perdarahan akibat luka yang kecil
o Kelemahan

PENCEGAHAN

Beberapa faktor yang menekan resiko terkena kanker ovarium antara lain :
• Kontrasepsi oral (Pil pengontrol kehamilan). Penggunaan kontrasepsi oral dapat menurunkan resiko wanita terkena kanker ovarium sekitar 60%. Penggunaannya sekurang-kurangnmya 5 tahun.
• Ibu menyusui dan kehamilan. Melahirkan satu anak atau lebih, terutama jika anak pertama lahir sebelum berusia 30 tahun dan menyusui dapat menurunkan resiko terkena kanker ovarium.
• Histerektomi. Histerektomi adalah operasi pengangkatan uterus. Tergantung kondisi seseorang, ahli bedah dapat juga mengangkat organ dan jaringan ikat lain yang berhubungan dengan uterus. Dokter menyebutkan bahwa seseorang tidak perlu melakukan histerektomi hanya untuk menghindari resiko ia terkena kanker ovarium, tapi jika ia melakukan histerektomi untuk alasan medis seperti memiliki riwayat keluarga yang menderita kanker ovarium atau kanker payudara atau berusia lebih dari 40 tahun maka ia dapat mengkonsultasikan dengan dokter untuk melakukan pengangkatan ovarium.
• Ligasi Tuba. Pada prosedur operasi ini tuba fallopii telah diikat untuk mencegah kehamilan. Ligasi tuba tidak melindungi secara maksimal terhadap kanker ovarium.

Bagimana angka kesembuhan kanker ovarium??

PROGNOSIS
Secara keseluruhan prognosis kanker ovarium jelek, dengan tingkat rata-rata bertahan 5 tahun sebesar 50%. Sekitar 15.000 wanita meninggal setiap tahunnya di Amerika Serikat akibat kanker ovarium. Prognosis kanker ovarium berhubungan erat dengan stadium pada saat terdiagnosis. (2)
Tingkat survival lima tahun sebagai berikut: (2)
o Stadium I 73%
o Stadium II 45%
o Stadium III 21%
o Stadium IV kurang dari 5%


Tabel 3. Angka harapan hidup kanker ovarium di Amerika Serikat


DAFTAR PUSTAKA
1. Sjamsuhidajat R, Wim de Jong (ed). Tumor Ganas Ovarium. Dalam: Buku Ajar Ilmu Bedah, edisi revisi. Jakarta, Penerbit EGC. 1997; 990-2
2. Garcia AA. Ovarian Cancer. eMedicine, 2004. Available at URL: http://www.emedicine.com/med/topic1698.htm
3. Tjay TH, Kirana Rahardja. Sitostatika. Dalam: Obat-obat Penting. Jakarta, Elex Media Komputindo. 2002; 205-27
4. Mayo Clinic Staff. Ovarian Cancer. MayoClinic.Com, 2003. Available at URL: http://www.mayoclinic.com
5. ACS. Chemoterapy After Surgery for Ovarian Cancer May Save Lives. American Cancer Society, 2004. Available at URL: http://www.cancer.org
6. ACS. How Is Ovarian Cancer Treated. American Cancer Society, 2003. Available at URL: http://www.cancer.org
7. Farlex. Ovarian Cancer. The Free Dictionary, 2004. Available at URL: http://www.TheFreeDictionary.com
8. National Cancer Institute. Diagnosis and Staging, 2004. Available at URL: http://www.cancerlinksusa.com/ovary/wynk/diagnosis.htm

Minggu, 14 Maret 2010

APA ITU HORMON?

Hormon adalah zat kimiawi yang dihasilkan tubuh secara alami. Begitu dikeluakan, hormon akan dialirkan oleh dara menuju berbagai jaringan sel dan menimbulkan efek tertentu sesuai dengan fungsinya masing-masing. Contoh efek hormon pada tubuh manusia:
1. Perubahan Fisik yang ditandai dengan tumbuhnya rambut di daerah tertentu dan bentuk tubuh yang khas pada pria dan wanita (payudara membesar, lekuk tubuh feminin pada wanita dan bentuk tubuh maskulin pada pria).

2. Perubahan Psikologis: Perilaku feminin dan maskulin, sensivitas, mood/suasana hati.

3. Perubahan Sistem Reproduksi: Pematangan organ reproduksi, produksi organ seksual (estrogen oleh ovarium dan testosteron oleh testis).

Di balik fungsinya yang mengagumkan, hormon kadang jadi biang keladi berbagai masalah. Misalnya siklus haid yang tidak teratur atau jerawat yang tumbuh membabi buta di wajah. Hormon pula yang kadang membuat kita senang atau malah sedih tanpa sebab. Semua orang pasti pernah mengalami hal ini, terutama saat pubertas.Yang pasti, setiap hormon memiliki fungsi yang sangat spesifik pada masing-masing sel sasarannya. Tak heran, satu macam hormon bisa memiliki aksi yang berbeda-beda sesuai sel yang menerimanya saat dialirkan oleh darah.

Pada dasarnya hormon bisa dibagi menurut komposisi kandungannya yang berbeda-beda sebagai berikut:

· Hormon yang mengandung asam amino (epinefrin, norepinefrin, tiroksin dan triodtironin).

· Hormon yang mengandung lipid (testosteron, progesteron, estrogen, aldosteron, dan kortisol).

· Hormon yang mengandung protein (insulin, prolaktin, vasopresin, oksitosin, hormon pertumbuhan (growth hormone), FSH, LH, TSH).

Hormon-hormon ini bisa dibuat secara sintetis. Di antaranya adalah hormon wanita yaitu estrogen dan progesteron yang dibuat dalam bentuk pil. Pil ini merupakan bentuk utama kontrasepsi yang digunakan wanita seluruh dunia untuk memudahkan mereka menentukan saat yang tepat: kapan harus mempunyai anak dan jarak usia tiap anak.


Hormon wanita terutama dibentuk di ovarium (hormon pria dibentuk di testis). Baik pria maupun wanita, pada dasarnya memiliki jenis hormon yang relatif sama. Hanya kadarnya yang berbeda. Hormon seksual wanita antara lain progesteron dan estrogen. Hormon seksual pria antara lain androstenidion dan testosteron (androgen). Pada wanita, hormon seksual kewanitaannya lebih banyak ketimbang pria. Begitu pula sebaliknya.

ESTROGEN

Estrogen merupakan bentukan dari androstenidion (hormon seksual pria yang utama) yang dihasilkan ovarium. Selain androstenidion, ovarium juga mengeluarkan testosteron dan dehidroepiandrosteron, tapi dalam jumlah yang sedikit.

HORMON PROGESTERON.

Hormon ini merupakan bentukan dari pregnenolon yang dihasilkan oleh kelenjar dan berasal dari kolesterol darah.

TESTOSTERON dan DEHIDROEPIANDROSTERON.

Hormon ini yang juga diproduksi oleh ovarium tetapi dalam jumlah yang sangat sedikit. Hormon ini dibutuhkan oleh wanita karena berhubungan dengan daya tahan tubuh dan libido (gairah seksual).


Hormon-hormon pada tubuh wanita berperan penting dalam perjalanan hidupnya termasuk pada keindahan kulit. Berikut ini adalah peran ketiga hormon utama wanita:

Hormon Estrogen:

- Mempertahankan fungsi otak.

- Mencegah gejala menopause (seperti hot flushes) dan gangguan mood.

- Meningkatkan pertumbuhan dan elastisitas serta sebagai pelumas sel jaringan (kulit, saluran kemih, vagina, dan pembuluh darah).

- Pola distribusi lemah di bawah kulit sehingga membentuk tubuh wanita yang feminin.

- Produksi sel pigmen kulit.

Estrogen juga mempengaruhi sirkulasi darah pada kulit, mempertahankan struktur normal kulit agar tetap lentur, menjaga kolagen kulit agar terpelihara dan kencang serta mampu menahan air.


Sebenarnya hormon ini tidak terlalu berhubungan langsung dengan keadan kulit tetapi sedikit banyak ada pengaruhnya karena merupakan pengembangan estrogen dan kompetitor androgen. Fungsi utama hormon progesteron lebih pada sistem reproduksi wanita, yaitu:

- Mengatur siklus haid.

- Mengembangkan jaringan payudara.

- Menyiapkan rahim pada waktu kehamilan.

- Melindungi wanita pasca menopause terhadap kanker endometrium.


Hormon ini berfungsi untuk:

- Merangsang dorongan seksual.

- Merangsang pembentukan otot, tulang, kulit, organ seksual dan sel darah merah.

Hormon ini cukup berpengaruh pada penampilan kulit dan pertumbuhan rambut, yaitu dengan menstimulasi akar rambut dan kelenjar sebum (kelenjar minyak) yang terletak di bagian atas akar rambut.

Kelenjar sebum menghasilkan sekresi lemak atau minyak yang berfungsi melumasi rambut dan kulit. Tetapi bila berlebihan minyak ini akan memicu tumbunya akne atau jerawat, sehingga mengganggu keindahan penampilan kulit. Gangguan kelenjar sebum juga bisa mengakibatkan alopesia androgenika (kebotakan), terutama pada pria. Sebaliknya pada wanita, ketidakseimbangan hormon Androgen (hormonal imbalance) bisa menyebabkan hirsutisme di mana rambut tumbuh berlebihan di daerah-daerah yang tidak semestinya.

Aktivitas kelenjar sebum sangat dipengaruhi hormon androgen. Kerja kelenjar ini memuncak pada saat seseorang mencapai masa pubertas. Semakin tinggi tingkat kerjanya, semakin banyak pula sekresi yang dihasilkan kelenjar ini. Sekresi kelenjar sebum pada pria lebih tinggi secara signifikan ketimbang pada wanita. Tak heran kulit wajah pria tampak lebih berminyak dibanding wanita. Efek kerja kelenjar sebum mulai berkurang pada wanita sesaat menjelang menopause.

Hiper-androgen pada wanita dengan ciri-ciri aktivitas hormon androgen melebihi normal ternyata merupakan masalah yang cukup umum terjadi walaupun belum diketahui penyebabnya dan mempengaruhi 10-20% wanita usia reproduktif.

Gejala Hiper-Androgen pada kulit wanita.

Seperti telah dijelaskan sebelumnya, hormon androgen yang berlebih akan mengakibatkan efek negatif pada kulit dan kecantikan wanita. Walaupun bukan merupakan kondisi yang fatal tetapi bisa berefek sosial-psikologis dan mengurangi rasa percaya diri bahkan mempengaruhi kualitas hidup. Gejala-gejala itu antara lain:

+ Kulit berminyak dan komedo.
Kondisi ini merupakan cikal bakal gejala yang lebih parah seperti ketombe dan jerawat.
Berlebihnya produksi minyak di kulit wajah dipengaruhi oleh:

- Tingginya kadar androgen bebas yang akan memicu aktivitas kelenjar minyak dan sebum.
- Meningkatnya kepekaan target organ atau sebum terhadap androgen sehingga walaupun kadar androgen bebas dalam batas normal aktivitas sebum tetap meningkat.

+ Akne / Jerawat.
Banyak faktor yang dapat memicu timbulnya jerawat antara lain komedo, minyak dan peradangan (inflamasi). Belum lagi ada pula pengaruh dari luar seperti pemakaian kosmetik yang bisa menyumbat aliran sekresi kelenjar sebum ke permukaan apa lagi dalam jangka panjang ditambah kondisi iklim tropis yang panas dan lembab.

+ Hirsutisme.
Sekitar 5-8% wanita usia reproduktif menderita hirsutisme yaitu pola pertumbuhan atau distribusi rambut menyerupai pria (male hair pattern), misalnya di atas bibir, dagu, dada, pinggang dan paha. Ada 40-80% dari penderita ini menunjukkan peningkatan produksi testosteron dari 200-300 juta (microgram) per hari menjadi 700-800 juta per hari.

+ Alopesia Androgenika (kebotakan).

Gejala ini merupakan kebalikan dari hirsutisme.

Penyebabnya sama:ketidakseimbangan androgen. Masalah kebotakan ini biasa dialami oleh pria. Rambut hilang secara perlahan-lahan di daerah dahi, terus menjalar ke daerah ubun-ubun dan meluas secara lambat atau cepat ke seluruh bagian atas kepala.

Gejala Hiper-Androgen secara sistemik.

Selain gangguan pada kulit, ketidakseimbangan hormon androgen juga berpengaruh secara sistemik yang ditandai dengan gejala-gejala seperti pada sistem reproduksi berupa:

+ Gangguan siklus menstruasi, a-menore (nyeri haid), dan an-ovulasi.

Siklus haid yang tidak teratur merupakan gejala ketidakseimbangan hormonal dan sedikit banyak berpengaruh pada tingkat kesuburan seorang wanita. Jika siklus haid Anda tidak teratur lebih dari 3 bulan berturut-turut, sebaiknya konsultasikan dengan ginekolog, karena jika tidak mendapat penanganan yang serius dapat menyebabkan berbagai perubahan morfologis pada rahim yang disebut PCOS (Poly – Cystic - Ovarian – Syndrome) dan dalam jangka panjang bisa menyebabkan infertilitas (mandul).

+ Abnormalitas metabolisme tubuh.
Gejala yang tampak antara lain:

- Profil lemak yang tidak normal (obesitas atau terlalu kurus).

- Resistensi insulin sehingga berakibat peningkatan resiko kencing manis (diabetis mellitus).

- Peningkatan resiko penyakit jantung (kardiovaskular).

sumber: http://members.tripod.com/layananebook/hormon.htm

PERMASALAHAN REPRODUKSI REMAJA DAN ALTERNATIF JALAN KELUARNYA




Dengan kemajuan pembangunan, masalah kependudukan di Indonesia sekarang tidak lagi sepenuhnya terpusat pada jumlah penduduk melainkan pada kualitas penduduknya. Remaja merupakan aset bangsa untuk terciptanya generasi mendatang yang baik. Perubahan alamiah dalam diri remaja sering berdampak pada permasalahan remaja yang cukup serius. Tulisan ini khusus membahas tentang masalah perilaku reproduksi remaja dan pemikiran untuk mencari jalan keluarnya
Perubahan di masa remaja

Membahas masalah perilaku reproduksi remaja tidak dapat dilepaskan dari pertumbuhan dan perkembangan yang sedang terjadi pada diri mereka. Terdapat tiga area perubahan vital yang terjadi pada masa remaja, yaitu perubahan dalam pertumbuhan fisik menyangkut pertumbuhan dan kematangan organ reproduksi, perubahan bersosialisasi dan perubahan kematangan kepribadian.


Perkembangbiakan atau reproduksi pada mamalia ditandai oleh beberapa tahapan spesifik, dimulai dengan tahap immaturitas atau masa bayi dan anak-anak, tahap pubertas yaitu masa sekolah dan pra-remaja, tahap maturitas atau masa remaja, dewasa muda dan dewasa tahap menopause atau masa baya, tahap ketuaan dan berakhir dengan kematian.
Pada wanita, mulai berfungsi system reproduksi ditandai dengan datangnya haid pertama yang lazim disebut “menarche” umumnya terjadi di usia 10-14 tahun. Tanda pertama kepriaan adalah terjadinya ereksi, orgasmus dan eyakulasi. Fungsi reproduksi pria dapat bertahan sampai tua (70 bahkan 80 tahun) namun hanya sampai usia 45-50 tahun pada wanita.

Perineum adalah daerah pada tulang kemaluan dengan anus. Pada perineum terdapat terdapat organ genitalia eksternal wanita, terdiri dari: mons veneris, clitoris, labia mayora, labia minoravestibula, dan clitoris. Organ reproduksi wanita yang terletak di dalam panggul adalah rahim atau uterus, vagina, saluran fallopi dan ovarium (indung sel telur)

Pada pria, organ genitalia eksternal terdiri dari penis, dan scrotum. Organ reproduksi pria yang terletak di dalam panggul adalah vas deferens, vasikula seminalis, dan kelenjar prostate. Sementara cairan sperma dikeluarkan oleh kelenjar prostate ini, berbentuk kelenjar yang melingkari uretha tepat di bawah kandung kemih.

Organ utama dari reproduksi mamalia disebut gonad, yaitu ovarium pada wanita dan testis pada pria. Ovarium membentuk ovum (telur) yang siap dibuahi oleh hormon estrogen serta progesterone, yang diperlukan untuk mengembangkan dan memelihara sifat-sifat kewanitaan, termasuk mempersiapkan kehamilan. Testes yang terletak di dalam scrotum pria, memproduksi dan menyimpan sperma dan hormone androgen (terutama hormone testosterone) yang berfungsi mengembangkan dan memelihara sifat-sifat kepriaan.

Ciri seksual sekunder baik pada pria maupun pada wanita belum muncul sampai dengan masa pubertas yaitu pada umur 10-14 tahun. Secara fisik cirri seksual sekunder tampak nyata pada masa remaja, di mana pada pria terjadi perubahan suara, tumbuh kumis jenggot tumbuh dan bentuknya rambut pubis timbulnya jakun dan semakin melebarnya bentuk otot-otot bahu dan dada. Pada wanita tumbuh dan terbentuknya rambut pubis, bulu ketiak dan pembesaran payudara.

Pertumbuhan system reproduksi pada pria terjadi lima tahap yaitu tahap infatil, tahapan pembesaran scrotum, penyempurnaan bentuk serta perubahan warna scrotum dan diakhiri dengan tahapan pematangan. Tahap kedua pada umumnya tercapai pada umur 12 tahun sedang tahap kelima tercapai sekitar 17 tahun.


Manusia adalah mahluk hidup yang terikat dengan manusia sekitarnya. Perkembangan proses bersosialisasi pada masa remaja dan pemuda di tandai dengan mulai terjadinya hubungan antar jenis. Mereka yang pada tahap pubertas cenderung lebih berkawan dengan lawan jenis, pada masa ini mulai menaruh perhatian pada lawan jenis. Pengaruh hormone dan pertumbuhan bentuk fisik yang mulai memberi ciri wanita dan pria yang mulai menyebabkan para remaja mulai mengalihkan perhatiannya kepada lawan jenis.

Beberapa penelitian mengenai penelitian heteroseksual remaja kota mengungkapkan bahwa remaja kota masa kini cenderung mempunyai system nilai yang lebih longgar dalam interkasi heteroseksualnya dibandingkan dengan beberapa tahun lalu.

Perkembangan proses heteroseksual remaja merupakan bagian penting dari perkembangan hubungan gejalanya secara menurun. Proses ini merupakan hasil komples dari interaksi biologis , psikologis, dan norma sosial yang berlaku.


Pada masa remaja, labilnya emosi erat kaitannya dengan hormon dalam tubuh. Sering terjadi letusan emosi dalam bentuk amarah, sensitif, bahkan perbuatan nekad. Dennis dan Hasol menyebutnya sebagai “time of upheavel and turbulence “.

Ketidak stabilan emosi menyebabkan mereka mempunyai rasa ingin tahu dan dorongan untuk mencari tahu. Pertumbuhan kemampuan intelektualisme pada para remaja membuat mereka cenderung bersikap kritis, tersalur melalui perbuatan-perbuatan yang bersifat eksperimen dan eksploratif. Tindakan dan sikap semacam ini bila dibimbing dan diarahkan dengan baik tentu berakibat konstruktif dan berguna. Masalahnya adalah sering remaja jatuh ke dalam “peer group” atau sekelompok orang yang bukannya mengarahkan namun cenderung memanfaatkan potensi tersebut untuk perbuatan yang negatif sehingga mereka terjerumus ke dalam kegiatan-kegiatan yang tidak bermanfaat, menggangu, membahayakan bahkan destruktif.
Pengaruh-pengaruh luar dan perilaku reproduksi remaja.

Dalam GBHN tahun 1943 telah digariskan bahwa sasaran kebijaksanaan pengembangan kualitas penduduk adalah terwujudnya kualitas penduduk sebagai sumber daya insani guna pembangunan yang berkelanjutan.

Meningkat dan makin eratnya hubungan antar bangsa di dunia ini merupakan salah satu faktor positif dari globalisasi, dan turut mendorong pembangunan bangsa. Salah satu dampak nyata pembangunan di Indonesia adalah meningkatnya status gizi dan makin meratanya pelayanan kesehatan di Indonesia. Berbagai penelitian telah membuktikan bahwa terdapat korelasi positif antara peningkatan status gizi dengan membaiknya pertumbuhan dan kematangan fungsi sistem reproduksi manusia. Dengan gizi yang lebih baik, menarche terjadi pada usia yang lebih muda dan menopause terjadi pada usia yang lebih tua. Di masa reproduksi seseorang akan menjadi lebih panjang. Hormon seksual juga bekerja lebih lama dan proses penuaanpun diperlambat. Dalam 10 tahun ini usia wanita dan pria di Indonesia meningkat jauh dibandingkan dengan beberapa tahun sebelumnya.

Akibat lain adalah terjadinya suatu transisi demografi menimbulkan perubahan/ memberikan gambaran khas dalam struktur penduduk di mana transisi sementara adalah adanya kelompok usia remaja/pemuda dalam persentase besar dan diikuti dengan perubahan penuaan penduduk yang menetap. Menurut Proyeksi Penduduk Indonesia 10) jumlah penduduk di bawah usia 15 tahun akan mengalami penurunan sekitar 2 % selama 5 tahun (1 993 – 1 998) ini, atau sekitar 0,4 % setahunnya. Sebaliknya, jumlah penduduk usia produktif, yaitu penduduk usia 15 – 60 tahun justru mengalami kenaikan sebesar 12,6 % selama 5 tahun ini atau sekitar 2,5 % setahunnya.

Penundaan usia kawin di kalangan remaja dan pemudi merupakan salah satu perubahan yang signifikan di Asia dalam abad ke 20 ini., Di Korea misalnya, pada tahun 1930, hanya 1 dari 3 wanita usia 1 5 – 1 9 tahun belum menikah, namun di tahun 1980, ketiganya belum menikah. Data menunjukkan bahwa perubahan usia kawin ini lebih menonjol terjadi pada kaum wanita. Di Bangladesh dan Thailand, perubahan rasio pria dan wanita remaja yang belum menikah menurun drastis sebagai berikut: untuk Bangladesh, rasio 12,7 di tahun 1950 menjadi 2,17 di tahun 1990. Di Thailand, rasio 1,81 di tahun 1950 menjadi 1.16 di tahun 1990.

Remaja dan pemuda belum menikah menjadi katagori sosial yang sangat penting. Penundaan usia kawin diasumsikan akan berakibat pada penundaan kehamilan, yang merupakan potensi untuk mengurangi laju pertumbuhan penduduk. Seorang pakar kebidanan menyatakan bahwa walaupun ibu dalam kondisi sehat. 3 % dari ibu-ibu yang baru pertama kali hamil pada usia di atas 35 tahun melahirkan bayi dengan kelainan yang disebut ” Down Syndrome” yaitu kelainan yang ditandai dengan rendahnya kecerdasan anak dan adanya pertumbuhan gangguan fisik.

Dalam dua decade terakhir ini, muncul penyakit yang paling ditakuti yaitu AIDS sejalan dengan makin dekatnya hubungan antar Negara dan makin berkembangnya sengit pariwisata AIDS merambah terus keberbagai negara. Selain ancaman AIDS dengan aktifnya perilaku seksual remaja, merekapun tidak luput dari resiko penyakit-penyakit yang ditularkan memalui hubungan seksual seperti gonnorhoea, syphilis, veruca vaginalis, dan sebagainya.

Menarik sekali untuk diketahui justru dengan adanya AIDS, persentase remaja Amerika Serikat yang melakukan hubungan seksual pranikah mengalami penurunan, dari 54% pada tahun 1990 menjadi 33% pada tahun 1993. Survei ini juga memperlihatkan 92% remaja AS mengaku waspada terhadap virus AIDS, serta 80% dari yang pernah melakukan hubungan seksual pranikah mengaku selalu memakai kondom.

Media masa dan media cetak seringkali memegang peranan yang tidak kecil dalam hal khayalan seksual remaja dengan perlu meyadari bahwa informasi selain memperluas wawasan dan pengetahuan juga membawa nilai-nilai dari Negara asal informasi tersebut. Adanya kecenderungan pada daya tarik fisik dan seksual dalam berbagai media periklanan, membuat remaja makin sulit mengontrol dorongan seksualnya.

Kehamilan pranikah di usia muda merupakan salah satu dampak negatif dari globalisasi di mana pergaulan bebas, longgarnya norma-norma sosial serta derasnya arus informasi menjadi beberapa faktor penyebab.

Kehamilan merupakan salah satu trauma psikis, terutama bila dialami pertama kali oleh wanita yang masih belum stabil. Implikasi kehamilan muda usia dapat bersifat medik dan sosial. Beberapa penelitian secara signifikan menyatakan bahwa Berat Badan Lahir Rendah dan kematian perinatal cenderung lebih banyak dialami oleh bayi-bayi yang dilahirkan oleh ibu usia muda.

Implikasi sosial yang sering terjadi adalah menarik diri dari sekolah, bahkan menarik diri dari lingkungan keluarga, dengan cara pindah-pindah ke kota lain yang justru menghadapkanya pada permasalahan baru.

Untuk konteks Indonesia, besar dan dampak perubahan-perubahan akibat globalisasi kiranya perlu dibedakan menurut ukuran pedesaan dan perkotaan, terlebih-lebih dalam kaitannya membina keluarga. Seleksi pengaruh terasa lebih besar di keluarga-keluarga pedesaan, yang memang terjadi karena terbatasnya sentuhan langsung moderanisasi dibandingkan dengan di kota.

Namun perlu difikirkan, bahwa lambat atau cepat industrialisasi akan merambah desa; dan imbas moderenisasi kota sampai kepedesaan sebab padatnya kota akan menyebabkan masyarakat kota tinggal di pedesaan.


Empowering keluarga untuk meningkatkan ketahanan non fisik menghadapi arus globalisasi dengan cara memperkuat sistem agama, nilai dan norma di dalam keluarga merupakan alternatif utama. Dalam hal ini target sasaran pertama adalah para orang tua, diberi informasi dan pengertian akan pentingnya dan sekaligus bahaya-bahaya yang mengancam kehidupan para remaja, sehingga mereka dapat turut berpartisipasi sebagai change agent, Target sasaran kedua adalah remaja, dalam peranannya sebagai anggota keluarga.

Selain keluarga, reference group lain dari para remaja adalah lingkungan kelompok sebaya (peer group) dan lingkungan sekolah. Tidak jarang, norma dan nilai sosial yang diperoleh remaja dari ketiga lingkungan tersebut berbeda, bahkan berbenturan. Salah satu cara. memperkecil benturan tersebut adalah dengan mengusahakan kebijaksaan pemukiman terpadu, di mana suatu wilayah pemukiman diusahakan homogen secara sosial ekonomi, dilengkapi dengan sarana dan fasilitas pendidikan serta rekreasi yang sekaligus dapat dimanfaatkan oleh para remaja yang bermukim di sana.

Komitmen politis dalam bentuk Landasan Hukum Pengembangan Keluarga Sejahtera Indonesia: UU 1992 no1993, hendaknya diteruskan dengan berbagai kegiatan nyata; salah satunya adalah lebih meningkatkan kerja sama pemerintah dengan masyarakat cq. lembaga-lembaga sosial dan keluarga dalam pembinaan remaja.

Dari pihak keluarga, ukuran kecintaan terhadap generasi masa depan bangsa dapat dilihat secara tidak langsung dari kecintaan orang tua terhadap generasi penerus, yaitu keinginan kuat agar generasi bangsa berikutnya lebih maju dari generasi sebelumnya. Karenanya, keluarga bertugas mempertebal iman remaja dan pemuda dengan meningkatkan pemahaman nilai-nilai agama, norma, budi pekerti dan sopan santun. Dari pihak pemerintaii diharapkan adanya kegiatan berwawasan nasional misalnya memperketat sensor arus informasi dan budaya asing, menunjang pembentukan sarana bagi pengembangan remaja dan lain-lain.

Kehamilan pra nikah pada para remaja, terutama di kota besar, cenderung makin merupakan ancaman. Kondisi ini merupakan resultants dari faktor-faktor biologis, psikologis dan sosial. Upaya pencegahannya perlu dilakukan secara multi dan interdisiplin dengan mempertimbangkan ketiga faktor tersebut.

Tulisan ini ingin memperkuat usul dan saran-saran yang sudah sering dibicarakan tentang pentingnya pemberian informasi reproduksi sehat kepada remaja secara bertanggung jawab yang disepakati oleh berbagai pihak (kalangan agama, pendidik, orang tua). Survei Litbangkes. Depkes menunjukkan bahwa 66,4% siswa SLTA dan Mahasiswa PT. yang diambil sebagai sampel penelitian di DKI dan Yogyakarta mengusulkan perlunya pendidikan seks secara resmi dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah. Sebanyak 42,8% responden mengatakan perlu memasukkannya sebab mereka ingin mendapat pengetahuan seks dari sumber berwenang dan bertanggung jawab. Pelaksanaanya dapat dilakukan melalui institusi formal dalam bentuk pengajaran yang sesuai dengan budaya Indonesia. Substansinya meliputi reproduksi sehat, penjelasan tentang KB, dan penyakit-penyakit yang berisiko seperti penyakit kelamin dan AIDS. Bila kesepakatan telah tercapai, penyuluhan terhadap pendidik, orang tua dan pihak lain yang terlibat menjadi kenyataan awal sebelum dilakukannya penyuluhan kepada target sasaran remaja.

Perlu diingat, bahwa di Indonesia, partisipasi remaja putri pada pendidikan formal SD ke atas, terutama di pedesaan, masih rendah. Karena itu perlu pula difikirkan cara lain, misalnya penyuluhan informal tentang reproduksi sehat khususnya bagi remaja putri putus atau tidak melanjutkan sekolah lagi.

Berikut adalah sebuah contoh tujuan yang ditetapkan untuk menangani masalah pendidikan dan penyuluhan reproduksi sehat Meningkatkan paling sedikit 85 % proporsi kelompok pra-remaja dan remaja usia 10-18 tahun yang pernah membicarakan dengan orang tua mereka tentang masalah seksualitas, termasuk nilai dan norma sosial yang berhubungan dengan seksualitas, dan pernah menerima informasi tentang seksualitas dari sumber lain di luar rumah seperti : kelompok sebaya atau peer group, dari sekolah atau dari penyuluhan agama.

Sebuah survei tentang aktivitas seksual remaja di AS menemukan bahwa dari 72 % remaja yang mengatakan pernah mendapat pendidikan seks di sekolah, 91 % mendukung pelaksanaan program tersebut.

Senantiasa mencari terobosan baru dalam upaya mengembangkan kegiatan-kegiatan yang mampu memsublimasikan gejolak seksualitas remaja ke arah perbuatan-perbuatan yang positif harus terus di cari. Kegiatan sublimasi ini di tunjukkan untuk mengimbangi dorongan seksual ilmiah yang sedang besar, sekaligus memanfaatkan seoptimal mungkin potensi internal. Sudah saatnya mencari keluarga-keluarga atau remaja yang dapat dijadikan role model untuk dijadikan contoh dan panutan.

Tidak dapat dipungkiri, wanita sering dijadikan objek yang sangat merugikan harkat wanita. Ditambah dengan masih lebih kecilnya kesempatan menikmati pendidikan dibandingkan pria, menyebabkan wanita berada dalam posisi yang sulit dan lemah. Aspek gender masih penting pada penanganan reproduksi masalah remaja.

Diatas telah diuraikan bahwa masalah remaja tidak luput dari gangguan organic dan gangguan psikologis, terutama yang berhubungan dengan pertumbuhan dan kematangan fungsi reproduksi, proses bersosialisasi serta pengembangan dan kematangan kepribadian. Karena itu perlu adanya sarana pelayanan kesehatan khusus remaja yang menagani masalah organic dan psikologi reproduksi, pengaturan gizi remaja agar mencapai tumbuh kembang reproduksi yang optimal dan sarana konseling di mana remaja bebas mengemukakan keluhan dan gangguan kesehatan/psikis yang dialami.

Kondisi yang berperan dalam intervensi

Di dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan intervensi perlu diingat beberapa kondisi di bawah ini:

Karena kompleksnya permasalahan, hampir selalu remaja diperlakukan sebagai target sasaran tahu objek. Padahal remaja mempunyai banyak potensi yang berguna yang dapat diikutsertakan dalam pembangunan. Dilihat dalam kodratnyapun setiap remaja memiliki kemampuan untuk bereproduksi, sehingga dengan demikian juga mempunyai tanggung jawab untuk menghasilkan generasi penerus yang bekualitas. Sebaiknya, bila remaja dianggap sebagai subjek ia akan terlihat penuh dalam turut memikul tanggung jawab pembangunan, sehat dan produktif , memiliki iman, ilmu dan kepribadian, berprestasi dan mempunyai harga diri.

Konteks perbedaan suasana pedesaan dan perkotaan sampai saat ini memang masih “valid” untuk dipakai sebagai salah satu factor di dalam membina reproduksi sehat remaja. Imbalan dan pengaruh yang dating dari luar mungkin sama, Tetapi kadar penerimaan atau penolakan terhadap pengaruh tersebut berbeda dipedesaan dan perkotaan.

Intervensi akan lebih berhasil bila dilakukan melalui upaya menghilangkan atau memperkecil factor penyebab. Sebaliknya bila interfensi yang hanya dilakukan secara dangkal dengan target menghilangkan atau memperkecil gejala yang timbul, cenderung untuk memberi hasil sementara dan tidak memuaskan.



PENUTUP

Keluarga merupakan suatu institusi informal yang sifatnya “life-long learning center”. la mempunyai fungsi dan peranan yang sangat penting dalam membangun landasan moral bangsa. Kekukuhan institusi keluarga merupakan salah satu persyaratan utama untuk menghasilkan generasi penerus yang berkualitas.

Aristoteles mengakui pentingnya keluarga sebagai mediator yang efektif untuk mengantar manusia ke gerbang kehidupan bermasyarakat yang kompleks. Menurutnya, binatang dapat “survive” dengan menggunakan nalurinya, sedangkan manusia memerlukan institusi untuk membentuk kematangan, intelektualisme dan kepribadianya.

Di negara-negara Timur, khususnya di Indonesia, reproduksi manusia masih erat kaitannya dengan norma dan tata nilai bangsa; karenanya kewaspadaan selalu diperlukan didalam menghadapi pengaruh luar yang dapat mengancam hubungan reproduksi dengan norma sosial. Sebaliknya, karena reproduksi erat hubungannya dengan tata nilai di masyarakat, menjadikan substinsi dan penyebarluasan informasi tentang reproduksi lebih sulit dikembangkan dibandingkan dengan substansi lain. Perlu kesepakatan berbagai pihak (pemuka agama-orang tua-pendidik – sosiolog tenaga medis – psikolog – perwakilan remaja) untuk menemukan substansi reproduksi yang paling tepat untuk diinformasikan secara luas kepada para remaja.

Bagaimanapun, peningkatan Meridian formal baik untuk remaja pria maupun wanita masih merupakan syarat utama yang sangat diperlukan. Berbagai penelitian telah membuktikan bahwa dengan makin meningkatnya jenjang pendidikan formal seseorang, makin meningkat pula pengetahuan serta sikapnya dalam berperilaku sehat




























reproduksi remaja pdf, reproduksi remaja ppt, reproduksi remaja adalah, reproduksi remaja putri, reproduksi remaja perempuan, reproduksi remaja wanita, powerpoint reproduksi remaja, kesehatan reproduksi remaja, kesehatan reproduksi remaja ppt, anatomi reproduksi remaja, kesehatan reproduksi remaja bkkbn, 

Minggu, 14 Februari 2010

Obat Puyer adalah solusi

Secara kompetensi seharusnya apotekerlah yang paling berhak membicarakan masalah bentuk sediaan puyer. Karena dari semua tenaga kesehatan yang ada, hanya apoekerlah yang mempelajari sifat kimia fisik bahan obat. Tetapi kenyataannya tidak hanya apoteker yang mebicarakan masalah bahaya sediaan puyer, sehingga terjadi kekawatiran berlebih dari sebagian masyarakat. Puyer yang seharusnya menjadi salah satu solusi dalam ilmu pengobatan yang seharusnya malah menentramkan masyarakat, justru menjadi sesuatu yang sangat menakutkan karena dibahas dengan cara yang salah.
Dan selanjutnya pembicaraan puyer bisa jadi akan lebih sangat membahayakan bila pemahaman dari masyarakat terhadap bentuk sediaan puyer ini semakin salah
Dari bahasan bahaya sediaan puyer yang saya tangkap, banyak hal-hal yang seharusnya bukan permasalahan formulasi sediaan puyer, tetapi bentuk sediaan puyerlah yang menjadi kambing hitam. Sebagai contoh masalah polifarmasi. Polifarmasi bisa saja terjadi pada peresepan dengan obat dengan bentuk sediaan apapun juga, karena polifarmasi adalah ketrampilan dari dokter dalam terapi yang diwujudkan dalam bentuk resep. Bila ketrampilan dokter dalam mengambil keputusan profesinya lebih mengarah pada poli farmasi, meskipun mereka memberikan resep dalam bentuk sediaan bukan puyerpun sering kali poli farmasi juga terjadi. Disini jelas-jelas bahwa poli farmasi bukan salahnya bentuk sediaan puyer, tetapi masalah ketrampilan dan kemampuan dokter dalam pengobatan
Bila kita menginginkan polifarmasi tidak terjadi, maka solusinya adalah dengan meningkatkan ketrampian dokter. Bila ketrampilan dokter cukup dalam menghindari polifarmasi maka tidak akan ada polifarmasi dalam sediaan puyer, Kecuali apoteker diberi kewenangan sampai merubah obat atau mengurangi obat. Atau juga suatu semisal dokter hanya menulis diagnosa saja, maka apoteker bisa mengatasi masalah polifarmasi dalam puyer. Disini kelihatan bahwa masalah polifarmasi dinegara kita bukan masalah kefarmasian khususnya bentuk sediaan, tetapi masalah ketrampilan dokter dalam mengambil keputusan. Dan selanjutnya kontroversi masalah bentuk sediaan puyer terkait polifarmasi seharusnya tidak perlu terjadi apalagi sampai pada pelarangan bentuk sediaan puyer
Pada kaitan puyer dengan masalah kaidah kefarmasian seperti : stabilitas bahan obat, kebersihan ruangan, kebersihan alat, interaksi obat dsb, memang masalah kefarmasian yang seharusnya memang menjadi bagian dalam kegiatan apoteker di apotek. Yang menjadi permasalahan disini adalah tidak hanya apoteker yang melakukan kegiatan pembuatan sediaan puyer ini. Dan secara umum bahasan yang terkait puyer ini juga termasuk kegiatan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan lain bukan apoteker.
Seperti pada kasus mortir yang tidak dicuci. Disini sangat jelas bila masalah ini adalah terkait dengan kaidah kefarmasian. Bila puyer dilakukan diapotek sangat dimungkinkan bila setiap habis dipakai untuk membuat sediaan puyer mortir selalu dicuci seperti pada apotek saya, tetapi bagaimana bila pada praktek dokter dan bidan desa atau polindes yang tempat cucinya mungkin tidak menjadi satu dengan ruangan racik yang umumnya juga menjadi satu dengan ruang praktek ? Bila ada kasus seperti ini seharusnya juga menjadi tanggung jawab dari dinas kesehatan sebagai pembina dan pemberi ijin praktek. Seharusnya pada masalah ini dinas kesehatan yang mengambil alih dan menjamin akan melakukan pembinaan sehingga akan terjamin suatu produk layanan kesehatan yang sesuai standart layanan. Dan mungkin yang menjadi masalah pada dinas kesehatan adalah kekurangan jumlah apoteker sebagai pembina yang berkompeten terhadap masalah kefarmasian.
Stabilitas obat. sering kali juga terjadi obat yang tidak stabil juga diinginkan digerus oleh dokter dalam resepnya. Saya terkadang harus menolak dengan persetujuan pasien karena alasan obat kurang rasional untuk digerus. Disini seharusnya dokter tunduk pada aturan kefarmasian, bila apoteker secara keilmu kefarmasian menyatakan obat tidak stabil, maka keputusan profesi ada ditangan apoteker.
Pada kasus yang lain yang terkait kefarmasian seharusnya dokter sebagai penulis resep juga tunduk pada aturan kefarmasian, karena apoteker memang mempunyai kompetensi untuk itu. Disinilah pentingnya untuk saling menghargai diantara para profesi kesehatan demi meningkatkan derajat kesehatan bangsa.
Dari uraian saya ini sebaiknya kita sebagai tenaga kesehatan yang diakui oleh pemerintah seharusnya bekerja sama dalam membangun bangsa tanpa mementingkan kelompok kita sendiri, tetapi kia harus lebih mementingkan kepetingan dari masyarakat. Seperti pada kasus sediaan puyer ini, seharusya puyer menjadi bagian dari solusi bagi pengembangan kesehatan di negara kita. Yang tidak harus dihilangkan, tetapi justru harus dikembangkan dengan arah pengembangan yang lebih rasional. Demikian juga pada kasus dispensing obat oleh dokter dan tenaga kesehatan lain seharusnya mereka dengan rendah hati mau menyadari bila memproduksi puyer atau obat yang lain mempunyai masalah yang sangat rumit yang seharusnya dilakukan atas suatu kompetensi yang dapat dipertanggung jawabkan.
Bukannya kita tidak suka dokter melakukan dispensing, tetapi memproduksi obat atau mencampur obat bukanlah kompetensi dari dokter. Hal yang sangat baik bagi perkembangan keilmuan dan pembangunan kesehatan bangsa bila kita saling menghargai antar profesi kesehatan. Bagaimanapun juga meracik obat puyer merupakan salah satu proses produksi obat yang kompetensinya melekat pada apoteker dan yang boleh meracik obat seharusnya hanya apoteker. Dan selanjutnya bila puyer yang ada diapotek saja masih dianggap ada masalah, bagaimana dengan yang ada diluar apotek yang tidak didasari dengan kompetensi ?
Sudah seharusnya bagi kita untuk melihat kedalam diri kita masing-masing, apakah puyer masih boleh diproduksi atau tidak. Dan seandainya boleh, sudah seharusnya pula kita memikirkan dan menentukan siapa saja yang boleh dan mempunyai kompetensi untuk membuat sediaan puyer. Agar puyer tetap bisa menjadi salah satu alternati dalam mencari solusi dalam pengobatan.


Bagaimana hubungan industri farmasi dan dokter ?

Bagaimana hubungan industri farmasi dan dokter ? Kita dapat memandang hubungan ini dari berbagai segi. Media massa sering memberitakannya sebagai hubungan yang kurang sehat dan menjadi salah satu faktor yang menyebabkan harga obat di Indonesia semakin tak terjangkau. Industri farmasi melalui perusahaan yang memasarkan obatnya dituduh dengan berbagai cara membujuk dokter untuk meresepkan produknya. Sedangkan dokter diduga telah mengambil keuntungan dari peresepan obat tersebut. Opini publik mengenai hubungan seperti itu cukup kuat seolah memang sebagaian besar dokter melakukannya.
Upaya profesi kedokteran dan farmasi untuk menegakkan etik dalam peran masing-masing sebenarnya cukup nyata. Ikatan Dokter Indonesia berkali-kali mengingatkan anggotanya agar berpihak pada masyarakat lemah dan tidak tergoda bujuk rayu perusahaan farmasi.

Di lain pihak profesi kepfarmasian serta perhimunan industri farmasi juga telah menyusun etik pemasaran yang pada dasarnya mencegah pemasaran obat dengan cara hubungan tak sehat dengan dokter. Pada panduan pemasaran tersebut jelas disebutkan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan dalam pemasaran obat yang berkaitan dengan hubungan industri farmasi dengan dokter. Pemberian hadiah apalagi uang dilarang. Perusahaan farmasi dapat mendukung program pengembangan profesi dokter namun dukungan tersebut tidak dilakukan untuk perorangan tapi untuk pengembangan

Jika profesi kedokteran dan kefarmasian sudah mempunyai rambu-rambu dalam hubungan industri farmasi dan dokter kenapa masih ada kecurigaan masyarakat

Masyarakat merasakan beban harga obat yang semakin tinggi. Meski mereka memahami biaya untuk penemuan obat baru amat mahal namun mereka juga merasakan bahwa banyak obat sekarang ini yang harganya sudah lebih tinggi daripada emas. Obat yang sudah habis masa patennya di Indonesia tak kunjung turun harganya. Padahal di negeri lain obat tersebut harganya diturunkan secara nyata. Beban yang dipikul masyarakat semakin terasa berat karena sebagian besar anggota masyarakat harus membayar harga tersebut dengan uang dari kantong mereka sendiri. Jumlah peserta asuransi kesehatan di negeri kita belumlah seperti yang diharapkan.

Mungkinkan hubungan industri farmasi-dokter dikembangkan untuk kepentingan yang lebih luas yaitu masyarakat. Industri farmasi memproduksi obat yang bermutu serta biaya pemasarannya tidak tinggi. Dokter menggunakan obat secara rasional dan tidak terpengaruh oleh bujukan perusahaan farmasi. Persaingan yang sehat di kalangan industri farmasi akan memperkuat industri farmasi. Sedangkan penggunaan obat secara rasional sesuai dengan prinsip profesi keberpihakkan kepada masyarakat luas (altruisme). Maukah industri farmasi di Indonesia meningkatkan kemampuannya sehingga lebih mampu bersaing? Maukah kalangan kedokteran menghapus berbagai privilege yang mungkin ada selama ini sebagai efek samping persaingan pemasaran obat yang tidak sehat ? Nampaknya jawabannya hanya satu yaitu : harus mau. Kalau tidak kepercayaan masyarakat kepada industri farmasi dan profesi kedokteran di negeri kita akan semakin pudar


Kamis, 17 Desember 2009

obat askes

daftar obat2 askes yang sering di gunakan
1. Asam Asetil Salisilat (Asetosal)
2. Fenilbutason
3. Ibuprofen
4. Metampiron
5. Parasetamol
6. Asam Mefenamat
7. Tramado
8. Ketorolac tromethamine
9. Diklofenak Natrium
10. Ketoprofen
11. Meloxicam
12. Piroxicam
13. Allopurinol
14. Probenecid
15. Midazolam
16. Deksametason
17. Difenhidramin
18. Epinefrin (Adrenalin)
19. Klorfeniramin
20. Mebhidrolin Napadisilat
21. Karbo Adsorben
22. Magnesium Sulfat
23. Kalsium Glukonat
24. Natrium Tiosulfat
25. Diazepam
26. Fenitoin Na.
27. Fenobarbital
28. Karbamazepin
29. Natrium Valproat
30. Albendazol
31. Mebendazol
32. Pirantel
33. Dietilkarbamazin
34. Amoksisilin Anhidrat
35. Ampisilin
36. Fenoksimetil Penisilin (Penicilin V)
37. Prokain Benzilpenisilin
38. Benzatin Penisilin
39. Tetrasiklin HCL
40. Oksitetrasiklin HCl.
41. Doksisiklin
42. Kloramfenikol
43. Kotrimoksazol DOEN II (Pediatrik)
44. Kotrimoksazol (Pediatrik) *)
45. Kotrimoksazol DOEN I (Dewasa)
46. Eritromisin
47. Spiramisin
48. Klindamisin
49. Gentamisin
50. Streptomisin
51. Kanamisin
52. Siprofloksasin
53. Sefadroksi
54. Sefotaxim
55. Seftriakson
56. Sulfasalazin
57. Mesalazine
58. Rifampisin
59. Etambutol Hidroklorid
60. Isoniazid
61. Pirazinamid
62. Rifampisin
63. Rifampisin
64. Griseofulvin
65. Ketokonazol
66. Nistatin
67. Nistatin
68. Polikresulen (Kondensasi metakresol Sulfonat & metanal)
69. Boraks Gliserin
70. Gentian Violet
71. Fluconazo
72. Metronidazol
73. Klorokuin
74. Antimalaria DOEN
75. Kuinin
76. Primakuin
77. Kombinasi
78. Asiklovir
79. Ergotamin
80. Triheksifenidil HCl
81. Kombinasi
82. Pramipexole HCl
83. Kombinasi
84. Pyridostigmine
85. Asam Folat
86. Besi (II) Sulfat 7 H2O
87. Sianokobalamin (Vitamin B12)
88. Sianokobalamin (Vitamin B12)
89. Fitomenadion (vitamin K)
90. Heparin
91. Warfarin
92. Asam Traneksamat
93. Nadroparine Calcium
94. Enoxaparine Sodium
95. Fondaparinux
96. Hidrogen Peroksida
97. Kalium Permanganat
98. Povidon Jodida (Iodium Povidon)
99. Asam Pipemidat
100. Etakridin (Rivanol)
101. Etanol 70 %
102. Amilorid HCl
103. Furosemid
104. Hidroklorotiazid (HCT)
105. Manitol
106. Spironolakton
107. Spironolakton
108. Kombinasi
109. Glibenklamid
110. Gliclazide
111. Glikuidon
112. Metformin
113. Acarbose
114. Bromocriptine
115. Etinilestradiol
116. Noretisteron
117. Medroxyprogesterone
118. Larutan Lugol
119. Natrium Tiroksin
120. Propiltiourasil
121. Karbimazol
122. Thiamazol
123. Deksametason
124. Metil Prednisolon
125. Prednison
126. Diltiazem HCl
127. Isosorbid Dinitrat
128. Gliseril Trinitrat
129. Epinefrin (Adrenalin)
130. Propranolol HCl.
131. Amiodaron HCl.
132. Kaptopril
133. Lisinopril
134. Ramipril
135. Imidapril
136. Propranolol HCl.
137. Atenolol
138. Bisoprolol
139. Nifedipin
140. Amlodipin Besylat
141. Amlodipin Maleat
142. Verapamil
143. Diltiazem
144. Valsartan
145. Klonidin HCl.
146. Metildopa
147. Reserpin
148. Terazosin HCl
149. Doxasozin Mesylate
150. Digoksin
151. Bisoprolol
152. Carvedilol
153. Asam Asetil Salisilat (Asetosal)
154. Pentoxyfillin
155. Simvastatin
156. Pravastatin Sodium
157. Gemfibrosil
158. Lotio Kummerfeldi
159. Framisetin Sulfat
160. Natrium Fusidat
161. Perak Sulfadiazin
162. Antifungi DOEN
163. Mikonazol
164. Betametason
165. Hidrokortison Asetat
166. Desoksimetason
167. Diflukortolon Valerat
168. Salep
169. Permethrin
170. Asam Salisilat
171. Urea
172. Polikresulen (Kondensasi metakresol
173. Bedak Salisil
174. Levertran
175. Liquor Faberi
176. Garam Oralit II
177. Kalium Klorida
178. Glukose
179. Natrium Klorida
180. Ringer Laktat
181. Dextrose
182. NaCl
183. KCl
184. Na Lactate
185. Dextrose anyhydrat
186. Natrium Bikarbonat
187. Larutan Nutrisi DOEN IV
188. Asetazolamid
189. Tetrakain HCl.
190. Amfoterisin
191. Gentamisin
192. Idoksuridin
193. Kloramfenikol
194. Oksitetrasiklin
195. Sulfasetamid
196. Polimiksina Sulfat
197. Neomisin Sulfat
198. Deksametason Na fosfat
199. Kromolin Natrium
200. Atropin Sulfat
201. Homatropin Hidrobromid
202. Tropikamid
203. Pilokarpin
204. Timolol
205. Dinatrium Edetat
206. Metilselulose
207. Tetrahidrozolin HCl
208. Kloramfenikol
209. Neomisina
210. Polimiksina
211. Lidokain HCl
212. Fludrokortison Asetat
213. Betametason
214. Benzalkonium Klorida
215. Propilenglikol
216. Karbogliserin
217. Oksimetazolin Hidroklorid
218. Metilergometrin
219. Oksitosin
220. Magnesium Sulfat
221. Isoksuprin HCl
222. Diazepam
223. Klobazam
224. Alprazolam
225. Amitriptilin
226. Imipramina HCl.
227. Maprotilin HCl.
228. Fluoxetine HCl
229. Klomipramin
230. Flufenazin
231. Haloperidol
232. Trifluoperazin
233. Risperidone
234. Clozapine
235. Olanzapine
236. Antasida DOEN
237. Aluminium Hidroksida
238. Magnesium Hidroksida
239. Antasida DOEN
240. Ranitidine
241. Sukralfat
242. Lansoprazol
243. Dimenhidrinat
244. Klorpromazin
245. Metoklopramid
246. Betahistine dihidroklorida
247. Betahistine mesilat
248. Ondansetron
249. Antihemoroid DOEN
250. Atropin Sulfat
251. Hiosin -N Butil Bromid
252. Timepidium Bromid
253. Bisakodil
254. Aminofilin
255. Efedrin
256. Salbutamol
257. Terbutalin Sulfat
258. Teofilin
259. Dekstrometorfan HBr.
260. Kodein
261. Sirop Timi Majemuk
262. Gliseril Guaiakolat
263. Obat Batuk Hitam (O.B.H.)
264. Asam Askorbat (Vitamin C)
265. Kalsium Laktat
266. Piridoksin HCl. (Vitamin B6)
267. Tiamin HCl. (Vitamin B1)
268. Vitamin – B Complex
269. Glucosamin
270. Kalsium Karbonat




































obat askes, obat askes pdf, harga obat askes, daftar obat askes, klaim obat askes, formularium obat askes, jual obat askes, daftar obat askes pdf, pengadaan obat askes, daftar obat bpjs askes, contoh obat askes, obat yang di cover askes, obat dpho askes


EBOOK GRATIS

”buku ”buku ”buku ”diagnosis ”buku

Entri Populer