kesehatan anak, Psikologi anak, Ebook Kedokteran,

Tampilkan postingan dengan label Ilmu Kesehatan Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ilmu Kesehatan Anak. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 Juni 2017

sindrom metabolik : konsensus sindrom metabolik IDAI 2014

Konsensus Sindrom Metabolik IDAI 2014


Sindrom metabolik merupakan sekumpulan gejala yang meliputi obesitas abdominal, dislipidemia, hiperglikemia, dan hipertensi. 
Definisi dan kriteria sindrom metabolik pada anak dan remaja sangat sulit ditentukan karena perubahan fisiologis yang terjadi pada pertumbuhan dan perkembangan selama masa anak dan pubertas. Hal ini menyebabkan tidak ada panduan yang menyediakan kriteria diagnostik yang spesifik mengenai sindrom metabolik pada anak dan remaja.1,2








Patofisiologi
Etiologi sindrom metabolik belum dipahami seluruhnya, akan tetapi resistensi insulin dan hiperinsulinemia diduga menjadi penyebab berkembangnya sindrom metabolik dan berperan dalam patogenesis masing-masing komponennya. Walaupun resistensi insulin tampak mempunyai peranan penting dalam mekanisme yang mendasari sindrom metabolik, tidak seluruh individu dengan resistensi insulin berkembang menjadi sindrom metabolik. Hal ini menunjukkan bahwa faktor lain mungkin berkontribusi dalam patogenesis sindrom metabolik. Obesitas, khususnya obesitas abdominal atau viseral, mediator inflamasi, adipositokin, kortisol, stres oksidatif, predisposisi genetik, dan karakteristik gaya hidup seperti aktivitas fisik dan diet diduga terlibat dalam patofisiologi sindrom metabolik.2,14


lebih lengkap tentang : konsensus sindrom metabolik IDAI 2014


Sabtu, 17 Oktober 2009

Evidence-Based Pediatrics By William Feldman (ebook)

Evidence-Based Pediatrics
By William Feldman
2000
Publisher: B.C. Decker
Number Of Pages: 466
Designed for busy clinicians delivering primary health care to children, this is the first book devoted to, evidence-based pediatric diagnosis and treatment. Prevention, diagnosis, therapy, and rehabilitation are all covered in depth.
The emphasis is on those problems, commonly seen in practice. The authors cover evidence-based material on everything from well-child care and management of upper respiratory infections to seizures and severe asthma. In each chapter the reader will find solid evidence to support a specific clinical course of action, with references to pertinent clinical trials. A critical appraisal of the literature is featured.
Key Features:
* Includes well-baby and well-child care
* Presents common problems as well as rare, life threatening situations
* Covers prevention, diagnosis, therapy and rehabilitation from birth to age 18
* Provides evidence necessary to support clinical decision making

untuk download ebook ini, klick di situs di bawah ini :

KLIK DISINI

atau pada url :

https://drive.google.com/file/d/0B7DKxEwySXXGeWp1eHEwN1JlQVU/view?usp=sharing



Ingin download Ebook Kesehatan lainnya ???

Klick DISINI


semoga bermanfaat
jo sembiring

Jumat, 09 Oktober 2009

APLIKASI KURVA PERTUMBUHAN DALAM DETEKSI DINI UNTUK MENINGKATKAN KWALITAS HIDUP ANAK

Eddy Fadlyana
Sub Bagian Tumbuh Kembang/ Pediatri Sosial
Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran/ PERJAN RS Hasan Sadikin, Bandung
I. PENDAHULUAN
Anak memiliki suatu ciri yang khas yaitu yang selalu tumbuh dan berkembang sejak saat konsepsi sampai berakhirnya masa remaja. Pertumbuhan ialah bertambahnya ukuran dan jumlah sel serta jaringan interseluler berarti bertambahnya ukuran fisik dan struktur tubuh dalam arti sebagian atau keseluruhan. Jadi bersifat kwantitas, sehingga dengan demikian dapat kita ukur dengan pempergunakan satuan panjang atau satuan berat.1,2
Menurut data Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT 2001) menunjukkan bahwa prevalensi perawakan pendek 34,3 % pada Balita dan 36% pada anak usia sekolah 5-9 tahun Sedangkan gizi kurang/gizi buruk masih terdapat pada 31% Balita. Oleh karena itu kegiatan deteksi pertumbuhan masih perlu terus ditingkatkan.3
Deteksi pertumbuhan merupakan kegiatan rutin pelayanan kesehatan baik di tingkat pelayanan kesehatan dasar/ Puskesmsas maupun di tempat rujukan/Rumah Sakit, yang dilakukan untuk memantau dan menentukan apakah pertumbuhan seorang anak berjalan sesuai atau tidak, baik dilihat dari segi medis maupun statistik. Anak yang sehat akan menunjukkan pertumbuhan yang optimal, apabila diberikan lingkungan bio-fisiko-psikososial yang adekuat. Deteksi pertumbuhan dimulai dengan cara pengukuran dan menggunakan kurva pertumbuhan yang baku (standard) merupakan dasar utama yang harus dilakukan.4,5 Berbagai kurva pertumbuhan yang dipakai sebagai standar untuk menilai pertumbuhan, pada makalah ini akan dititik beratkan menggunakan baku CDC 2000.


II. DETEKSI PERTUMBUHAN
Untuk melakukan deteksi pertumbuhan seorang anak diperlukan 2 komponen penting yaitu pengukuran antropometri dan kurva pertumbuhan sebagi baku.
A. Ukuran Antropometrik6
1. Berat badan
Berat badan merupakan ukuran antropometik yang terperpenting dipakai pada kesempatan pemeriksaan kesehatan anak pada semua kelompok umur. Berat badan merupakan hasil peningkatan/ penurunan semua jaringan yang ada pada tubuh, antara lain tulang, otot, lemak, cairan tubuh dan lain-lainnya. Berat badan dipakai sebagai indikator pada saat ini untuk mengetahui keadaan gizi dan tumbuh kembang anak, sensitif terhadap perubahan sedikit saja, pengukuran obyektif dan dapat diulangi dan dapat ditimbang dengan alat relatif murah. Kerugian indikator berat badan ini tidak sensitif terhadap proporsi tubuh misalnya pendek gemuk atau tinggi kurus.

2. Panjang badan/ Tinggi badan
Panjang badan/Tinggi badan merupakan ukuran antropometri kedua yang terpening. Keistimewaannnya adalah ukuran panjang/tinggi badan pada masa pertumbuhan meningkat terus sampai tinggi maksimal tercapai. Walaupun kemudian tinggi badan ini berfluktuasi dimana tinggi badan meningkat pesat pada masa bayi kemudian melambat dan menjadi pesat kembali (adolesence growth spurt), selanjutnya melambat lagi dan akhirnya berhenti pada umur 18-20 tahun. tulang-tulang anggota gerak berhenti bertambah panjang.

3. Lingkaran kepala
Lingkaran kepala mencerminkan volume intrakaranial, dipakai untuk menaksir pertumbuhan otak. Apabila otak tidak tumbuh normal, maka kepala akan kecil, sehingga lingkar kepala akan lebih kecil dari normal (mikrosefal) Sebaliknya kalau ada penyumbatan pada aliran cairan serebrospinal pada hidrosefalus akan meningkatkan volume kepala, sehingga lingkaran kepala akan lebih besar dari normal (makrosefal).

4. Lingkaran lengan atas
Lingkaran lengan atas mencerminkan tumbuh kembang jaringan lemak dan otot yang tidak terpengaruh banyak oleh keadaan cairan tubuh dibandingan dengan berat badan. Dapat dipakai untuk menilai keadaan gizi/keadaan tumbuh kembang pada kelompok usia pra sekkolah.

5. Lipatan kulit
Tebalnya lipatan kulit pada daerah triceps dan subskapular merupakan refeleksi tumbuh kembang jaringan lemak bawah kulit, yang mencerminkan kecukupan energi. Dimanfaatkan untuk menilai terdapatnya kadaan gizi lebih, khususnya pada kasus obesitas.

B. Baku patokan
Bebertapa baku antropometrik berat badan dan tinggi badan yang dikenal saat ini adalah sebagai berikut7,8,9,10
a. Baku Boston atau Harvard
Baku Harvard disusun berdasarkan data yang diperoleh dari penelitian Stuart (1930-1939) pada sejumlah anak Kaukasia dengan gisi relatif baik di Ameriksa Serikat. Baku Harvard dipergunakan secara luas pada kartu pertumbuhan di Amerika Latin dan Asia.

b. Baku Tanner
Data yang dipergunakan pada baku Tanner diperoleh dari penelitian di berbagai negara di Eropa yaitu Perancis, Belanda, Swedia, Swiss, dan Inggris. Baku Tanner ini dipakai sebagai baku pertumbuhan untuk Inggris oleh International Children.s Centre UK Study. David Morley, tahun 1975 menggunakan baku Tanner untuk menyusun kartu pertumbuhan anak pertama yang dikenal dengan Rood to Health Chart.

c. Hasil penelitian di Indonesia
Jumadias tahun 1964 mengumpulkan data berat dan tinggi badan anak usia 6-18 tahun dengan menggunakan persentil. Berdasarkan penelitian tersebut didapatkan persentil ke-50 Jumadias berada di bawah 80% persentil ke-50 NCHS. Sedangkan persentil ke-90 Jumadias berada pada persentil ke-50 NCHS.
Husaini YK, dkk, mengumpulkan data berat dan panjang badan bayi usia 0-12 bulan serta berat dan tinggi badan anak usia 12-60 bulan di Klinik gizi Bogor periode 1970-1984 sebagai bahan referensi antropometrik nasional.

d. Baku NCHS
Baku NCHS pertama tahun 1977 disusun berdasarkan data berat badan, tinggi badan pada populasi di Amerika sejak tahun 1860 yang dikumpulkan oleh National Health and Nutrition Examination Survey (NHANES) secara berkala. Baku NCHS ini dipakai oleh WHO.

e. CDC 2000
Kurva CDC, dipublikasikan pada bulan Mei 2000, merupakan perbaikan/revisi dari Kurva yng dibuat olleh National Center for Health Statistics (NCHS) pada tahun 1977 dan terdapat tambahan berupa Kurva Indeks Masa Tubuh terhadap umur. CDC menganjurkan penggunakan kurva IMT/U untuk semua anak berusia 2 samapi 20 tahun menggantikan kurva sebelumnya (1977) berat terhadan umur


III. DETEKSI PERTUMBUAHAN MENGGUNAKAN KMS (Kartu Menuju Sehat)
David Morley merupakan pelopor yang menggunakan kartu pertumbuhan anak yang disebut “ road to health chart” pada tahun 1975 di desa Imesim Nigeria. Kartu ini merupakan gambar kurva berat badan anak berusia 0-5 tahun. Kartu ini juga dilengkapi dengan beberapa atribut penyuluhan dan catatan yang penting untuk diingat dan diperhatikan oleh ibu/ petugas kesehatan, antara lain riwayat kelahiran, imunisasi, pemberian ASI, dll.7 Oleh UNICEF kartu ini diadopsi sebagai komponen integral pada pelayanan kesehatan primer secara menyeluruh yang sangat bermanfaat bagi negara-negara berkembang.
Garis acuan yang digambarkan pada KMS Morley dipakai persentil sesuai dengan International Children’s Centre UK Study yaitu sebagai berikut:
a. Garis atas adalah persentil ke-50 berat badan rata-rata untuk laki-laki
b. Garis bawah adalah persentil ke-3 berat badan anak wanita.

KMS yang ada di Indonesia pada saat ini berdasarkan perbaikan yang dilakukan pada tahun 1995, dimana Standar Harvard diganti dengan standar WHO-NCHS, Grafik pada KMS dimulai dari yang terkecil 70% (garis merah) sampai dengan sebesar 120% baku Median Standar WHO-NCHS.


IV. DETEKSI PERTUMBUHAN MENGGUNAKAN CDC 2000

Langkah deteksi pertumbuhan menggunakan CDC 20008,10


A. Hitung Umur Anak
Cara menghitung umur anak adalah dengan cara mengurangi tanggal pemeriksaan terhadap tanggal lahir.
Mengihitung umur anak yang lahir prematur
Untuk bayi prematur, dalam mengukur berat, panjang dan lingkaran kepala harus digunakan umur koreksi sampai anak berusia 2 tahun. Cara menghitung umur koreksi adalah dengan cara mengurangi umur kronologis terhadap jumlah minggu prematur.
Contoh:
Bayi Ani lahir pada tanggal 20 Desember 2002, lahir dengan umur gestasi 33 minggu, dengan berat lahir 2000 gram.

Tanggal pemeriksaan 5 Juli 2004                2004           07              05
Tanggal lahir 20 Desember 2002:                2002           12               20
Umur kronologis:                                            1             06              15
Prematur 7 minggu:                                                         01              21
Umur koreksi:                                                 1             04              24
Umur anak adalah 1 tahun, 4 bulan, 24 hari dan diplot pada 16 ½ bulan

B. Plot hasil pengukuran ke dalam Kurva Pertumbuhan
CDC menyediakan 2 macam Kurva, yiatu Kurva Individual dan Kurva Klinik. Kurva klinik digunakan oleh petugas kesehatan yang merupakan gabungan beberapa kurva Individual:

Kurva Klinik
Umur 0-36 bln: BB/U; TB/U; BB/TB; LK/U
Umur 2-20 th: BB/U; TB/U; IMT/U

Tabel 1. Kurva Klinik CDC 2000
        Jenis kelamin dan umur                                    Kurva
Laki-laki, lahir sampai 36 bulan                 PB/U dan BB/U ,BB/TB dan LK/U
Perempuan, lahir sampai 36 bulan              PB/U dan BB/U, BB/TB dan LK/U
Laki-laki, 2 - 20 tahun                               TB/U dan BB/U, IMT/U
Perempuan, 2 – 20 tahun                           TB/U dan BB/U, IMT/U

C. Menilai hasil pertumbuhan
Dalam menilai pertumbuhan diperlukan beberapa kali pengukuran, hal ini untuk melihat arah pertumbuhan. Pada neonatus sebaiknya dilakukan pada minggu ke-1, ke-2 dan ke-4, selanjutnya dianjurkan melakukan pengukuran antropometri setiap bulan satu kali.
Berikut di bawah ini beberapa kriteria yang digunakan untuk menilai bahwa terdapat masalah dalam pertumbuhan.
  1. Hasil pengukuran PB/U; TB/U; BB/TB; IMT/U di bawah persentil 5
  2. Arah pertumbuhan menurun melewati dua batas persentil, misalnya dari persentil 75 turun menjadi persentil 25 dalam beberapa bulan pengamatan
  3. Kecepatan pertumbuhan di bawah persntil 5
Pada kurva CDC hanya dapat menggunakan kriteria 1 dan 2.

Tabel 2. Indikator Status Gizi
Indeks antropometri      Batasan                Indkiator status gizi
IMT/U                             > 95th                           Overweight
BB/PB; BB/TB                 >  95th                          Overweight
IMT/U                              > 85th dan < 95th         Risiko Overweight
IMT/U; BB/PB                 < 5th                             Underweight
TB/U; PB/U                       < 5th                            Short stature
LK/U                                < 5th ; >95th                  Masalah perkembangan

V. TINDAK LANJUT
Sesuai dengan batasan deteksi pertumbuhan merupakan suatu upaya dalam skrining untuk menentukan suatu penyimpangan pertumbuhan, apabila hasil skrining tersebut menunjukkan adanya masalah pertumbuhan maka harus dilakukan tindak lanjut untuk menentukan diagnosis dan terapi. Kegiatan ini memerlukan pengamatan yang lebih teliti mulai dari anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Di negara berkembang, gangguan pertumbuhan sebagian besar oleh karena faktor gizi. Secara garis besar hal-hal yang dapat mengganggu pertumbuhan adalah seperti dalam tabel di bawah ini2.

Tabel 3 . Faktor-raktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan
I. Faktori dalam (internal)                           II. Faktor eksternal/ lingkungan
1. Perbedaan ras/etnik atau bangsa     1. Faktor Pranatal: Gizi, mekanis,
                                                           toksin/ zat kimia, endokrin,
                                                           radiasi, infeksi, kelaianan imunologi,
                                                           anoksia embrio, psikologi ibu
2. Keluarga                                        2. Faktor Persalinan
3. Umur                                             3. Pasca natal:
4. Jenis kelamin                               Gizi, penyakit kronis/kelainan kongenital
5. Kelainan genetik                          lingkungan fisik dan kimia,
6. Kelainan kromosom                     psikologis, endokrin, sosi-ekonomi,
                                                       lingkungan pengasuhan, stimulasi,
                                                       obat-obatan

VII. KESIMPULAN
Tujuan dilakukan pemantuan pertumbuhan adalah menjaga agar pertumbuhan anak selalu sesuai dengan potensi sehingga akan menunjang kwalitas hidup anak yang lebih baik. Pemantauan pertumbuhan anak merupakan kegiatan rutin yang dilakukan oleh masyarakat di Posyandu menggunakan KMS (Kartu Menuju Sehat), sedangkan oleh dokter selain menggunakan KMS, diharapakan dapat menggunakan kurva pertumbuhan. Setiap penyimpangan pertumbuhan tentunya harus ditindaklanjuti dengan upaya diagnostik agar anak memperoleh penanganan yang tepat.

DAFTAR PUSTAKA
1. Watson EH, Lowrey GH. Growth and Development of Children 4 ed. 1962. Year book medical publisher.
2. Tanuwidjaja S. Konsep umum tumbuh dan kembang. Dalam: Narendra MB, Sularyo TS, Soetjiningsih, Suyitno H, Ranuh IGD, penyunting. Tumbuh kembang anak dan remaja 2002:1-12.
3. Survei Kesehatan Rumah Tangga 2001
4. Narendra MB, Soeparto H, Isa S, Kusandrini. Deteksi dini dan tindak lanjut penyimpangan tumbuh kembang anak. Simposium Standar penyimpangan dan tindak lanjut tumbuh kembang saat konsepsi sampai remaja. Surabaya 19 Januari 2004.
5. WHO 1978. A growth chart for international use in maternal and child health care: guidelines for primary health care personnel. Geneva: World Health Organization.
6. Suyitno H, Narendra BM. Pertumbuhan fisik anak. Dalam: Narendra MB, Sularyo TS, Soetjiningsih, Suyitno H, Ranuh IGD, penyunting. Tumbuh kembang anak dan remaja 2002:51-62.
7. Soetjiningsih. Penilaian pertumbuhan fisik anak. Dalam: IG N Gde Ranuh, penyunting. Tumbuh Kembang Anak 1995:37-54.
8. Needelman RD. Assessment of growth. Dalam: Behrman RE, Kleigman RM, dan Jenson HB, penyunting. Nelson Textbook of Pediatrics. Philadelphia: W.B Saunders. 2004:58-62.
9. Elvira J, Sekartini R, Sudiyanto. Antropometri anak Indonesia. Simposium Standar, penyimpangan dan tindak lanjut tumbuh kembang saat konsepsi sampai remaja. Surabaya 19 Januari 2004.
10. Maternal and Child Health Bureau (MCHB) Training Module. Growth Chart Training
Diajukan pada acara Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan V (Continuing Medical Education), Banjarmasin, 18-19 Februari 2006




Selasa, 29 September 2009

Pemeriksaan C-Reaktif Protein pada Sepsis

Sepsis merupakan keadaan yang serius tetapi jarang menular karena disebabkan oleh bakteri. Hal ini terjadi apabila bakteri (yang dapat berasal dari paru, usus, traktus urinarius) mengeluarkan toksin yang menyebabkan system imun tubuh melawan organ dan jaringan tubuh sendiri.(1)
Sepsis dapat menimbulkan kondisi yang menakutkan karena jika tidak teratasi dapat menimbulkan komplikasi yang serius yang dapat merusak ginjal, paru, otak dan pendengaran. Tetapi dengan mempelajari dan mengenali tanda-tanda sepsis maka kondisi buruk tersebut dapat teratasi dan anak dapat sembuh sempurna.(1)
Berbagai kelompok umur dapat mengalami sepsis, tetapi prevalensi tertinggi terserang sepsis adalah bayi dan anak-anak dimana system imunnya tidak cukup kuat untuk melawan infeksi yang sangat berat. Orang dewasa yang mengalami immuno compromise, sebagaimana kondisi pada penderita penyakit kronis dan HIV, juga lebih mudah mengalami sepsis.(1)
Mortalitas sepsis berat di negara sudah berkembang sudah menurun sampai hanya 9% akan tetapi di negara sedang berkembang seperti Indonesia masih sangat tinggi yaitu 50-70%, dan apabila sudah terjadi syok septik dan disfungsi organ multipel angka mortalitas 80%.(2)
Saat ini patogenesis sepsis dan syok septic sudah lebih dimengerti. Keseimbangan antara pro- dan anti-inflamasi dan mediator-mediator yang dilepaskan merupakan suatu jaring-jaring yang kompleks dan menyebabkan manifestasi klinis dengan derajat yang berbeda.(2)
Konsep terbaru penanganan sepsis berat, dan syok septik yaitu meliputi: early goal directed therapy dalam waktu 6 jam sejak ditegakkan diagnosis di rumah sakit dengan terapi cairan agresif, obat-obatan inotropik, dan vasopresor dapat menurunkan angka kematian. Sebaliknya resusitasi cairan yang terlambat, menyebabkan ekspresi gen inflamasi, aktivasi endotel, trombosis, dan disfungsi/gagal organ multiple.(2)
Tanda-tanda sepsis pada anak sulit dinilai sehingga peranan laboratorium sangat penting untuk menegakkan diagnosa sepsis. Salah satu pemeriksaan laboratorium yang digunakan sebagai pemeriksaan penunjang pada sepsis adalah serum CRP (C-Reactive Protein). Protein ini diproduksi oleh hepar apabila terjadi proses peradangan pada tubuh kita.(1,3,4)
Pemeriksaan CRP ini sangat umum digunakan untuk mendiagnosa dan memonitor aktivitas peradangan dan keadaan infeksi. Kadar CRP berkurang pada kondisi dengan terapi kortikosteroid atau terapi lain yang mendepresi sistem immune. CRP juga dapat digunakan untuk memonitor pada pemberian terapi kanker dan infeksi karena kadarnya dapat meningkat dan kembali normal dengan cepat.(1,4)
Berdasarkan penelitian yang dilakukan William (1998), pemeriksaan kadar CRP serial sangat berguna dalam evaluasi diagnostik pada bayi-bayi dengan dugaan infeksi.(5)

TINJAUAN PUSTAKA

Definisi

Sepsis adalah kumpulan gejala klinis dari kelainan yang disebabkan oleh karena adanya bakterimia.(6)
Sepsis merupakan keadaan gawat darurat yang sering ditemukan di ruang perawatan intensif anak. Penyulit yang sering adalah syok septic dan disfungsi organ multipel.(2)
CRP (C-Reaktif Protein)
Pemeriksaan CRP adalah pemeriksaan darah dengan cara melihat kadar CRP dalam darah. CRP merupakan petanda radang (inflammatory marker) dimana substansi ini akan muncul jika tubuh mengalami respon peradangan.(7,8,9)
Kadar CRP yang tinggi di dalam darah menunjukkan adanya proses peradangan pada tubuh tetapi tidak dapat diketahui penyebab dan lokasinya.(7,8,9)

Protein C-reaktif (CRP)
Protein C-reaktif (CRP) adalah suatu alfa-globulin yang diproduksi di hepar dan kadarnya akan meningkat dalam 6 jam di dalam serum bila terjadi proses inflamasi akut. Kadar CRP dalam plasma dapat meningkat dua kali lipat sekurang-kurangnya setiap 8 jam dan mencapai puncaknya setelah kira-kira 50 jam. Setelah pengobatan yang efektif dan rangsangan inflamasi hilang, maka kadar CRP akan turun secepatnya, kira-kira 5-7 jam waktu paruh plasma dari CRP eksogen(2,8)
Protein ini disebut demikian karena ia bereaksi dengan C-polisakaride yang terdapat pada pneumokokus. Semula disangka bahwa timbulnya protein ini merupakan respons spesifik terhadap infeksi pneumokokus, tetapi ternyata sekarang bahwa protein ini adalah suatu reaktan fase akut, yaitu indicator nonspesifik untuk inflamasi, sama halnya seperti LED. Tetapi berbeda dengan LED, kadar CRP tidak dipengaruhi oleh anemia, kehamilan atau hiperglobulinemia. Pada penderita dengan inflamasi yang berkaitan dengan kelainan imunologis, kadar CRP kembali normal bila pengobatan immunosupresif berhasil.(2,8)
Pemeriksaan CRP lebih sensitive dibandingkan dengan LED karena pada keadaan inflamasi kadar CRP lebih cepat meningkat yaitu dalam 6 jam dari awal terjadinya inflamasi. Sedangkan LED kadarnya meningkat setelah satu minggu dari awal terjadinya inflamasi. Kadar CRP dapat berbeda dari berbagai laboratorium tetapi menurut standar internasional kadar normal CRP adalah 0 – 1,0 mg/dL atau <10mg/L (SI unit).(4) Faktor yang mempengaruhi akurasi pemeriksaan CRP adalah: (4,8,9,10,11,12) 
1. Aktivitas / latihan yang berlebihan Aktivitas yang berlebihan dapat menimbulkan cedera jaringan. Selain itu latihan atau aktivitas yang berlebihan dapat meningatkan panas tubuh dimana kemungkinan terburuk adalah terjadinya heat stoke. Suhu tubuh yang tinggi cenderung menggandakan semua reaksi kimia intraselular, sehingga pada pemeriksaan CRP kadarnya meningkat.
2. Penggunaan terapi hormone, misalnya kontrasepsi oral Yaitu terapi untuk mencegah kehamilan dengan mengubah siklus reproduksi. Terapi ini biasanya memberikan hasil positif palsu pada pemeriksaan CRP. Reaksi ini akan dikenali sebagai reaksi inflamasi walaupun sebenarnya tidak terjadi proses peradangan.
3. Penggunaan IUD Pemasangan alat kontrasepsi dalam rahim biasanya akan menimbulkan reaksi peradangan karena masuknya benda asing dalam tubuh akan merangsang respon inflamasi., sehingga kadar CRP dalah darah maningkat
4. Hamil Reaksi hormonal yang terjadi pada wanita hamil akan dikenali sebagai reaksi inflamasi. Sehingga pada pemeriksaan CRP kadarnya akan meningkat. Range normal kadar CRP pada wanita hamil <20 mg/L
5. Obesitas Obesitas berhubungan dengan hipertensi dan penyakit jantung. Pemeriksaan CRP sangat sensitive terhadap penyakit jantung.
6. Penggunaan obat-obatan anti inflamasi non steroid (NSID), aspirin, atau kortikosteroid. Obat-obat anti inflamasi akan menekan respon peradangan.
7. Penggunaan Pravastin, obat-obat penurun kolesterol. Profil lemak dalam darah sangat berhubungan dengan risiko penyakit jantung koroner dan stroke dimana sangat berhubungan dengan reaksi peradangan. Penggunaan obat-obat penurun kolesterol menurunkan risiko penyakit jantung koroner dan stroke, sehingga kadar CRP dalam darah juga berkurang.
Cara Pemeriksaan CRP Sebelum dilakukan pemeriksaan CRP, pasien harus berpuasa selama 12 jam. Spesimen diambil dari darah vena ± 5 ml, dikumpulkan dalam botol tanpa anti koagulan. Selanjutnya segera dikirimkan ke Laboratorium Patologi Klinik atau laboratorium khusus immunology. Immunologi Sepsis Sepsis berkaitan dengan Sindroma Respon Radang Sistemik (SRRS). Sekarang diduga bahwa SRRS disebabkan oleh sepsis akibat dari cedera jaringan pasca respon hospes terhadap produk-produk bakteri misalnya endotoksin dari bakteri gram negative dan kompleks asam lipoteikoat-peptidoglikan dari bakteri gram positif. Manifestasi kardiopulmonal pada sepsis gram negative (H. influinzae, N. meningitides, E. coli, Pseudomonas) dapat ditiru dengan injeksi endotoksin atau faktor nekrosis tumor (FNT). Hambatan kerja FNT oleh antibody monoclonal anti-FNT sangat memperlemah manifestasi syok septic pada model percobaan. Bila komponen dinding sel bakteri dilepaskan ke dalam aliran darah, sitokin teraktivasi, dan selanjutnya dapat menyebabkan kekacauan fisiologis lebih lanjut. Jumlah sitokin yang terkait dengan SRRS terus bertambah dan sekarang mencakup factor nekrosis tumor (FNT), interleukin (IL)-1, -6, dan -8, factor pengaktif trombosit (platelet-activiting factor = PAF) dan interferon.(2,7)
Baik sendirian ataupun kombinasi, produk-produk bakteri dan sitokin proradang dalam kombinasi, produk-produk bakteri dan sitokin proradang memicu respon fisiologis untuk menghentikan penyerbu (invander) mikroba. Respon ini adalah :
(1) aktivasi system komplemen;
(2) aktivasi faktor Hageman (factor XII), yang kemudian mencetuskan tingkatan-tingkatan koagulasi;
(3) peepasan hormon adrenokortikotropin dan beta-endorfin,
(4) rangsangan neutrofil polimorfonuklear, dan
(5) rangsangan system kalikrein-kinin. FNT dan mediator radang lain meningkatkan permeabilitas vaskuler, menimbulkan kebocoran kapiler difus, mengurangi tonus vaskuler, dan terjadinya ketidakseimbangan antara perfusi dan kenaikan kebutuhan metabolic jaringan. Aktivitas mediator radang atau respon yang berlebihan berperan dalam patogenesis sepsis.(2,7,8)

Manifestasi Klinis 
Manifestasi Klinis yang menjadi dasar diagnostik pada sepsis adalah sebagai berikut: (1,6,9) 
1. Keadaan umum : menurun (not doing well), malas minum (poor feeding), hipo/hipertermia, edema, sklerema.
2. Sistem susunan saraf pusat : hipotonia, irritable, high pitch cry, kejang, letargi, tremor, fontanella cembung. 3. system saluran pernafasan : pernafasan tidak teratur, napas cepat (>60 x/menit), apnea, dispnea, sianosis.
4. system kardiovaskuler : takikardia (>160 x/menit), bradikardia (< 100 x/menit), akral dingin, syok.
5. Sistem saluran cerna : retensi lambung, hepatomegali, mencret, muntah, kembung.
6. system hematology : kuning, pucat, splenomegali, ptekie, purpura, perdarahan.
Adapun penggolongan sepsis berdasarkan manifestasi klinis adalah sebagai berikut: (6,9) 
1. early onset : terjadi 5 hari pertama pasca lahir, dengan gejala klinis yang timbulnya mendadak, serta gejala sistemik yang berat. Terutama mengenai system saluran nafas, sifatnya progresif dan akhirnya syok
2. late onset: timbul setelah umur 5 hari, sering disertai manifestasi klinis adanya gangguan system susunan saraf pusat
3. nosocomial infection : yaitu infeksi yang terjadi pada neonatus tanpa risiko infeksi, yang timbul lebih dari 48 jam saat dirawat di Rumah Sakit. Kriteria Diagnostik Kriteria diagnostik sepsis dikelompokkan sebagai berikut: (5,6,9)
1. Possible suspect sepsis : bila terdapat 3 gejala klinis dari 6 kelompok di atas
2. Probable sepsis : bila terdapat 3 gejala klinis dan adanya kelainan laboratories
3. Proven sepsis : bila terdapat 3 gejala klinis dan kultur darah positif Pemeriksaan Penunjang
Bila sindroma klinis mengarah ke sepsis, perlu dilakukan evaluasi sepsis secara menyeluruh. Hal ini termasuk biakan darah, pungsi lumbal, analisis dan kultur urin, serta foto dada.(1,6,9) Diagnosis sepsis ditegakkan dengan ditemukannya kuman pada biakan darah. Pada pemeriksaan darah tepi dapat ditemukan neutropenia dengan pergeseran ke kiri (imatur:total seri granulosit > 0,2). Selain itu dapat dijumpai pula trombositopenia. Adanya peningkatan reaktans fase akut seperti C-reactive protein (CRP) memperkuat dugaan sepsis. Diagnosis sebelum terapi diberikan (sebelum hasil kultur pasitif) adalah tersangka sepsis.(1,6,9)

Penatalaksanaan
Adapun penatalaksanaan sepsis adalah sebagai berikut: (6,9)
1. Suportif.
Lakukan monitoring cairan, elektrolit, dan glukosa; berikan koreksi jika terjadi hipovolemia, hiponatremia, hipokalsemia dan hipoglikemia. Bila terjadi SIADH (Syndrome of appropriate antidiuretic hormone), batasi cairan. Atasi syok, hipoksia dan asidosis metabolic. Awasi adanya hiperbilirubinemia, lakukan transfuse tukar bila perlu. Pertimbangkan nutrisi parenteral bila pasien tidak dapat menerima nutrisi enteral.
2. Kausatif. 
Antibiotik diberikan sebelum kuman penyebab diketahui. Biasanya digunakan golongan penisilin sepeti ampisilin ditambah aminoglikosida seperti gentamisin. Pada sepsis nosokomial antibiotic dibarikan dengan mempertimbangkan flora di ruang perawatan, namun sebagai terapi inisial biasanya diberikan vankomisin dan aminoglikosida atau sefalosporin generasi ketiga. Setelah didapat hasil biakan dan uji sensitivitas, diberikan antibiotic yang sesuai. Terapi dilakukan selama 10-14 hari. Bila terjadi meningitis antibiotic diberikan selama 14-21 hari dengan dosis sesuai untuk meningitis.
Surviving Sepsis Campaigne pada tahun 2004, merekomendasikan penatalaksanaan sepsis berat, dan syok septic sebagai berikut: (2)
1. Early Goal Directed Therapy (EGDT)
Resusitasi cairan agresif dengan koloid dan atau kristaloid, pemberian obat-obatan inotropik, atau vasopresor dalam waktu 6 jam sesudah diagnosis ditegakkan di unit gawat darurat sebelum masuk ke PICU. Resusitasi awal 20 ml/kgBB 5-10 menit dan dapat diulang beberapa kali sampai lebih dari 60 ml/kgBB cairan dalam waktu 6 jam. Pada syok septic dengan tekanan nadi sangat sempit, koloid lebih efektif daripada kristaloid.
Kristaloid dan koloid dapat dipakai pada syok septic, akan tetapi apabila ditinjau dari segi patofisiologi dan patogenesis sepsis yaitu terdapat kebocoran sel endotel dengan meningkatnya molekul adhesi ICAM-1 dan VCAM-1, koloid yang mempunyai efek menyumpal (sealing effect) dan anti-inflamasi dengan menghambat aktivitas ICAM-1 dan VCAM-1 seperti hidroxyethylstarch molekul sedang (BM 100.000-300.000), direkomendasikan sebagai cairan awal pada sepsis dan syok berat. Apabila mempergunakan kristaloid diperlukan jumlah yang lebih banyak dengan risiko bertambahnya edema interstitial.
Kontroversi timbul masalah pemilihan koloid atau kristaloid untuk ekspansi ruang intravascular. Yang pro-koloid mengatakan bahwa koloid akan mempertahankan tekanan osmotic koloid plasma dan meminimalkan akumulasi cairan interstisial. Kristaloid akan menurunkan tekanan osmotic koloid plasma dan cenderung menimbulkan edema paru. Yang pro-kristaloid mencela biaya dan risiko terapi koloid (reaksi anafilaksis, efek pada koagulasi, akumulasi jaringan, dan efek pada ginjal). Pemberian koloid untuk resusitasi volume maksimal 33 ml/kgBB. Penelitian terdahulu randomized control study oleh Tatty ES pada DSS terbukti bahwa resusitasi awal dengan HES 200.000 dapat menurunkan angka kematian secara bermakna. Peneliti lain Zikria dkk, yaitu pada tikus dengan kerusakan endotel akibat terbakar menunjukkan bahwa fraksi HES 200/0,5 bertndak sebagai penyumpal lebih baik daripada 4 grup control yang menerima albumin 5%, RL dan HES dengan BM <50.000 atau HES BM >300.000. Target resusitasi volume adalah: Tekanan Vena Sentral (TVS) 8-12 mmHg; Tekanan arteri rata-rata (Mean Arterial Pressure/ MAP) sesuai umur, tekanan perfusi normal sesuai umur (tekanan arteri rata-rata/TVS); saturasi vena sentral >70%; perfusi jaringan baik; kesadaran baik; jumlah uri >1 ml/kgBB/jam, laktat serum <2 mmol/L, denyut jantung normal sesuai umur, ekstremitas hangat, perbadaan suhu oesofagus (core) dan suhu jempol kaki > 20C.
2. Inotropik/vasopresor/vasodilator
Apabila terjadi refrakter terhadap resusitasi volume, dan MAP kurang dari normal, diberikan vasopresor; Dopamin merupakan pilihan pertama. Apabila refrakter terhadap pemberian Dopamine, maka dapat diberikan epinephrine atau norepinephrine. Dobutamin dapat diberikan pada keadan curah jantung yang rendah. Vasodilator diberikan pada keadaan tahanan pembuluh darah perifer yang meningkat dengan MAP tinggi sesudah resusitasi volume dan pemberian inotropik. Nitrosovasodilator (ntrogliserin, atau nitropusid) diberikan apabila terjadi curah jantung yang rendah dan tahanan pembuluh darah sistemik yang meningkat disertai syok.
Apabila curah jantung masih rendah, akan tetapi normotensi dan tahanan pembuluh darah sistemik meningkat, maka dipikirkan pemberian phosphodiesterase inhibitor. Vasopresin yaitu ADH, adrenocorticotrophic hormone yang dikeluarkan oleh hipotalamus, sebagai vasokonstriktor pada otot polos pembuluh darah dosis 0,01-0,04 u/menit diberikan pada penderita yang refrakter terhadap vasopresor konvensional dosis tinggi.
3. Extra Corporeal Membrane Oxygenation
ECMO dilakukan pada syok septic pediatric yang refrakter terhadap terapi cairan, inotropik, vasopresor, vasodilator dan terapi hormone. Terdapat 1 penelitian yang menganalisis 12 penderita sepsis meningococcus dengan ECMO, 8 hidup dimana 6 dapat hidup normal sampai 1 tahun pemantauan.
4. Suplemen Oksigen
Intubasi endotrakheal dini dengan atau tanpa ventilator mekanik sangat bermanfaat pada bayi dan anak dengan sepsis berat/syok septic, karena kapasitas residual fungsional yang rendah. Volume tidal 6 ml/kgBB dengan permissive hypercapnea dan posisi tengkurap dapat memberikan oksigenasi jaringan yang baik.
5. Koreksi Asidosis
Terapi bikarbonat untuk memperbaiki hemodinamik atau mengurangi kebutuhan akan vasopresor, tidak dianjurkan pada keadaan asidosis laktat dan pH < 7,15 dengan hemodinamik dan kebutuhan akan vasopresor, dan pengaruhnya terhadap kaluaran pada pH rendah.
6. Terapi Antibiotika
Pemberian antibiotika segera setelah satu jam ditegakkan diagnosis sepsis dan pengambilan kultur darah. Terapi antibiotika empiris spectrum luas dosis inisial penuh, satu atau beberapa obat berdsarkan dugaan kuman penyebab dan dapat berpenetrasi ke daam sumber infeksi. Terdapat hubungan antara pemberian antibiotika yang inadekuat dengan tingginya mortalitas. Pada keadaan dimana fokus infeksi tidak jelas, maka antibiotika harus diberikan pada keadaan penderita mengalami perburukan, status imunologik yang buruk, adanya kateter intravena berdasarkan dugaan kuman penyebab dan tes kepekaan. Antibiotika golongan beta-lactams seperti penicillin, carbapenem seperti meropenem, imipenem, cephalosporin dan aminoglikosida. Extended spectrum Penicillin yaitu carboxy penicillins dan ureido-penicillins diberikan untuk infeksi Pseudomonas aeruginosa atau bakteri gram negative lain. Carboxy penicillins termasuk carbenicillin dan ticarcilin dapat diberikan pada infeksi MRSA dan spesies Klebsiella.
Evaluasi pemberian antibiotika dilakukan sesudah 48-72 jam berdasarkan data klinis dan mikrobiologi dengan mempergunakan antibiotika spectrum sempit untuk mengurangi resistensi bakteri, menurunkan toksisitas dan biaya. Lama pemberian antibiotika 7-10 hari dipandu oleh respon manifestasi klinis.
7. Sumber infeksi
Eradikasi sumber infeksi sangat penting, seperti drainase abses, debridement jaringan nekrosis, alat-alat yang terinfeksi dilepas. Kontrol sumber infeksi harus dilaksanakan secepatnya mengikuti resusitasi volume inisial.
8. Terapi kortikosteroid
Penelitian oleh Annane dkk, pada syok septic dewasa dengan insufisiensi adrenal yang refrakter terhadap vasopresor, hydrocortisone 50 mg etiap 6 jam dan dikombinasi dengan fludrocortisone 50 ug diberikan 7 hari, dapat menurunkan angka kematian absolute sebanyak 15%. Dosis yang direkomendasikan untuk syok septic pediatric adalah 1-2 mg/kgbb (berdasarkan gejala klinis insufisiensi adrenal) sampai 50mg/kg untuk terapi empiris syok septic diikuti dosis sama diberikan 24 jam. Terapi hydrocortisone pada syok septic pediatric perlu diberika pada penderita yang resisten terhadap katekolamin, dan terbukti adanya insuffisiensi adrenal, penderita yang berisiko termasuk syok septic dengan purpura, dengan riwayat pemberian steroid untuk penyakit kronis, atau adanya gangguan pada kelenjar adrenal atau hipofise.
9. Anti-inflamasi
Penelitian mengenai terapi anti-inflamasi pada pediatric masih sangat sedikit, dan dengan sa,pel yang kecil.
10. Granulocyte Macrophage Colony Stimulating Factor (GMCSF)
Penelitian IVIG pada pediatric masih sangat sedikit dengan sample kecil, dilaporkan dapat menurunkan angka kematian.
11. Transfusi Tukar
Transfusi tukar tidak disebut dalam Surviving Sepsis Campaign guidline. Keuntungan transfuse tukar adalah mengeluarkan endotoksin bakteri dan mediator inflamasi, meningkatkan transport oksigen, memperbaiki fungsi granulosit daklam melakukan lisis bakteri dan aktifitas opsonin, memperbaiki koagulopati dan gangguan elektrolit. Penelitian sebanyak 31 studi kasus (1995-1996) pada bayi sepsis yang dilakukan hemofiltrasi, didapatkan angka hidup sebanyak 50%.
12. Terapi suportif
PENUTUP

Mortalitas sepsis berat dan syok septic di Negara sedang berkembang termasuk di Indonesia, masih tinggi, perlu peningkatan kewaspadaan dalam diagnosis dini dan penatalaksanaan yang akurat dan cepat. Dengan lebih memahami akan patofisiologi dan patogenesis sepsis, diharapkan dapat menurunkan angka mortalitas syok septik.(2)
Surviving sepsis Campaign guidelines tahun 2004 untuk penatalaksanaan sepsis berat dan syok septic dapat dipakai dan disebarluaskan di seluruh Indonesia, meliputi: Early Directed Goal Therapy dengan terapi cairan agresif, support inotropik, vasopresor, vasodilator dan mempertahankan hemodinamik dalam waktu 6 jam sesudah ditegakkan Diagnosis, pemberian antibiotika 1 jam sesudah resusitasi volume, source control, intubasi dini dengan atau tanpa ventilator, anti-inflamasi dengan rh-APC, imunoterapi dan imunonutrisi dan terapi suprtif terhadap disfungsi organ ginjal, paru, disfungsi koagulasi, dan saluran cerna.(2)
Pemeriksaan CRP sangat umum digunakan untuk mendiagnosa dan memonitor aktivitas peradangan dan keadaan infeksi. Kadar CRP berkurang pada kondisi dengan terapi kortikosteroid atau terapi lain yang mendepresi sistem immune. CRP juga dapat digunakan untuk memonitor pada pemberian terapi kanker dan infeksi karena kadarnya dapat meningkat dan kembali normal dengan cepat.(6 jam dari awal inflamasi)(1,3) . Pemeriksaan kadar CRP serial sangat berguna dalam evaluasi diagnostik pada bayi-bayi dengan dugaan infeksi.(5)

DAFTAR PUSTAKA
 1. Homeler, Barbara. Sepsis. http://www.emedicine.com

2. Ermin, Tatty. Penetalaksanaan Syok Septik Pada Anak. Dalam: Simposium Nasional Perinatologi dan Pediatri Gawat Darurat. Banjarmasin: IDAI Kalimantan Selatan, 2005

3. Widmann, Frances.K. Protein C-Reaktif. Jakarta: EGC, 1995

4. Nissl, Jan. C-Reactive Protein. http://www.medplus.com

5. Benitz,William.E. Serial Serum C-Reactive Protein Levels in the Diagnosis of Neonatal Infection. http://www.pediatrics.org

6. Yunanto,Ari et al. Sepsis. Dalam : Pedoman Diagnosis dan Terapi. Banjarmasin : Bagian/SMF Ilmu Kesehatan Anak RSUD Ulin-FK UNLAM, 2004

7. Nelson, Waldo E. Sepsis. Dalam : Nelson Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta : EGC, 1999

8. Reeves, Glenn. C Reactive Protein. http://www.medplus.com/immunologyHAPS/topic1998.htm

9. Mansjoer A et al. Sepsis. Dalam : Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : Media Aesculapius FKUI, 2000

10. Mirkin. Summary. http://www.drmirkin.com

11. Guyton. Fisiologi Kedokteran. Jakarta: EGC, 1997

12. Ganong. Fisiologi Kedokteran. Jakarta: EGC, 1997


Senin, 21 September 2009

KELUMPUHAN LOWER MOTOR NEURON (Sindrom Guillain-Barré)

BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
Lower Motor Neuron merupakan susunan saraf tepi dari sumsum tulang belakang sampai jari atau otot. Kelumpuhan pada LMN bersifat flaksid, ditandai dengan menurunnya atau menghilangnya refleks fisiologis, refleks patologis yang negatif, dan atropi otot. Kelumpuhan pada LMN antara lain polio, mielitis transversa dan Sindrom Guillain-Barré (SGB).

Sindrom Guillain-Barré (SGB) merupakan salah satu penyakit yang mengenai sistem saraf akibat kerusakan struktur selubung mielin sel saraf.1,2 SGB merupakan penyakit paralisis akut dengan angka kejadian setiap tahun sebanyak 1 - 3 per 100.000 orang. SGB dapat terjadi pada semua kelompok umur, terutama pada usia remaja dan dewasa muda. Selain itu, kelainan ini juga dapat mengenai orang tua dan anak-anak.3
Pada kelompok anak di bawah usia 4 tahun, SGB merupakan penyebab utama kelumpuhan.4 Kelumpuhan yang terjadi umumnya bersifat simetris dan seringkali dimulai dari ekstremitas bawah dan kemudian berkembang secara ascending. Pada tahap lanjut perjalanan penyakit, akan terjadi neuropati yang menyeluruh. Keadaan yang seringkali dikhawatirkan pada anak adalah terlibatnya otot-otot pernapasan yang selanjutnya akan menimbulkan hambatan dalam bernapas. Selain itu, pada beberapa kasus, kelainan ini dapat menyisakan gangguan saraf yang menetap.5
Sindrom Guillain-Barré merupakan salah satu kelainan dengan penyebab yang belum jelas. Berbagai studi ilmiah mengenai kelainan ini lebih mengarahkan patogenesis SGB adalah akibat interpretasi sistem imun yang keliru terhadap struktur selubung mielin dan akson. Akibatnya dapat terjadi demielinisasi dan degenerasi aksonal. Mekanisme autoimun tersebut dapat dipicu oleh berbagai faktor, misalnya infeksi dan vaksinasi. Hal ini terkait dengan adanya kemiripan struktur antigen dengan struktur yang ada pada mielin dan akson.6-8
Mengingat pentingnya pengetahuan mengenai sindrom Guillain-Barré, maka berikut ini akan dipaparkan hal-hal yang berkenaan dengan sindrom Guillain-Barré pada anak, mencakup klasifikasi, etiologi dan patogenesis, manifestasi klinis, diagnosis, serta terapi yang efektif pada pasien dengan sindrom Guillain-Barré.
1.2 Tujuan
Penulisan makalah tinjauan kepustakaan ini bertujuan memberikan informasi mengenai sindrom Guillain-Barré pada anak.



BAB II
ISI

2.1 Sindrom Guillain-Barré pada Anak
Sindrom Guillain-Barre (SGB) merupakan penyakit diduga autoimun. Pada keadan ini, sistem imun tubuh menyerang bagian dari sistem saraf tepi sehingga terjadi demielinasi dan degenerasi aksonal. SGB ditandai dengan polineuropati yang menyeluruh, yaitu paralisis ekstremitas, badan atas dan wajah, menghilangnya refleks tendon, berkurangnya fungsi sensoris (nyeri dan suhu) dari badan ke otak, disfungsi otonom, hingga depresi pernafasan.2,8
Gejalanya biasanya perlahan, mulai dari bawah ke atas. Jadi gejala awalnya biasanya tidak bisa berjalan, atau gangguan berjalan. Sebaliknya penyembuhannya diawali dari bagian atas tubuh ke bawah, sehingga bila ada gejala sisa biasanya berupa gangguan berjalan. SGB dapat terjadi dalam hitungan jam, hari atau bahkan bulan.2,9,10

2.2 Etiopatogenesis Sindrom Guillain-Barré
Penyebab pasti dari SGB tidak diketahui. Banyak penelitian menyatakan terjadinya reaksi autoimun pada mielin saraf tepi dan nervus kranial yang diserang oleh makrofag dan sel-T, dihubungkan dengan infeksi virus atau bakteri, adanya vaksinasi, dan penyakit sistemik lainnya. Infeksi bakteri yang dihubungkan dengan SGB, seperti Campylobacter jejuni, Haemophilus influenza, Mycoplasma pneumoniae dan Borrelia burgdorferi. Infeksi virus seperti cytomegalovirus, Ebstein-Barr virus dan saat serokonversi dengan HIV (human immunodeficiency virus). Berdasarkan penelitian, diketahui terdapat hubungan antara pemberian vaksin dengan SGB, seperti vaksinasi influenza, vaksinasi polio secara oral, vaksinasi tetanus toxoid, vaksin hepatitis-B, vaksin measles, menactra meningococcal conjugate vaccine, Vaksin streptococcus grup A, vaksin rabies dan vaksin flu babi.10,11
Banyak kasus terjadi beberapa hari sampai beberapa minggu setelah infeksi seperti common cold, radang tenggorokan, sakit perut karena virus disertai dengan muntah dan diare. Virus menginduksi terjadinya demielinasi melalui possible mimicry (kemiripan) antara efektor virus dan ganglioside manusia. Sebuah penelitian menemukan struktur lipopolisakarida dari beberapa strain Campylobacter jejuni, khususnya struktur terminal dari inti oligosakarida, menyerupai ganglioside manusia GM1 dan GD1a. Kemiripan juga terdapat antara protein NS2 influenza A dan regio rangkaian protein P2(mielin) manusia.12
Dari penelitian serologis diketahui bahwa 20-40% penderita SGB sebelumnya telah menderita infeksi C. Jejuni. SGB ini disebabkan oleh mekanisme autoimun dimana tubuh yang seharusnya menyerang C. Jejuni tetapi justru menyerang jaringan saraf tubuh host sendiri (disebut antigenic mimicry). Kesalahan ini disebabkan permukaan C. Jejuni mengandung polisakarida yang mirip glycoconjugates jaringan saraf manusia. Mekanisme imun seluler dan humoral juga ikut berperan. Kemiripan pada struktur mikroba dan antigen host ini sama-sama dikenali oleh sel B dan reseptor sel-T. Hal inilah yang mencetuskan reaksi silang antibodi atau sel T yang menyebabkan terjadinya mekanisme autoimun.13-15
Gangliosid banyak terdapat pada membran sel saraf manusia yang juga mengandung ceramide dan bagian polar yang terdiri dari glukosa (Glu), galaktosa (Gal), N-asetilgalaktosamin (GalNac), dan N-asam asetilneuramic (NeuAc). Bagian luar membran sel C. Jejuni terdapat lipopolisakarida yang mengandung tiruan gangliosid. Struktur biokimia ini memegang peranan penting pada patogenesis SGB.14
Antibodi yang dibentuk tubuh terhadap infeksi C. Jejuni disebut antibodi anti-gangliosid yang juga menyerang gangliosid normal yang berada pada jaringan saraf perifer. Gangliosid GM1 adalah autoantigen untuk Ig G pada pasien SGB yang dikenal dengan anti-GMI Ig G. Terjadi kenaikan titer anti GMI Ig G pada 20-50% kasus yang disebabkan oleh C. Jejuni.14,16
Berdasarkan penelitian diketahui bahwa antigen mielin saraf tepi yang menjadi target respon imun pada SGB dan CIDP (chronic inflammatory demielinating polyradiculoneuropathy) adalah P0, P1 (yaitu seperti mielin basic protein pada saraf pusat), P2 dan PMP22. Sebuah penelitian juga menunjukan bahwa ditemukan peningkatan level antibodi dan sel T spesifik P2 pasien SGB dan CIDP, meskipun penelitian lain tidak menyetujui. Pada penelitian tersebut disebutkan bahwa terdapat peningkatan reaktivitas sel T terhadap P0 pada minoritas pasien SGB. Terjadinya respon antibodi terhadap PMP22 juga dilaporkan baik pada neuropati inflamasi dan non inflamasi, meskipun hal ini masih menjadi kontroversi.17
Penelitian lain menemukan struktur lipopolisakarida dari beberapa strain Campylobacter jejuni, khususnya struktur terminal dari inti oligosakarida, menyerupai ganglioside manusia GM1 dan GD1a. Kemiripan struktur tersebut dapat dilihat pada gambar 1.12

Gambar 1. Struktur Biokimia Sel Saraf Manusia dan C.jejuni.14
Pasien SGB mengalami kenaikan serum dan konsentrasi (IL)-2 di cairan serebrospinal, suatu agen yang membantu regulasi natrium dan mekanisme membran sel. Reseptor IL-2, IL-6 dan TNF-Alfa, serta sitokin terlibat dalam pengrusakan dini sawar darah saraf. Peningkatan regulasi dari adhesi molekul endotel, merupakan syarat untuk leukosit ditranspor ke jaringan saraf, terjadinya aktivasi makrofag dan terjadi kerusakan pada mielin. Secara bersamaan terjadi pula penurunan regulasi dari transformasi faktor pertumbuhan Beta 1 (TGF-Beta 1), yaitu suatu molekul imunosupresif yang merupakan antagonis IL-1, IL-2, TNF-alfa dan IFN-gamma. Konsentrasi TGF-beta 1 cenderung menurun selama sakit dan meningkat secara progresif dari konsentrasi kontrol di awal penyembuhan. Jadi, TNF-alfa yang mulai menghancurkan sawar darah saraf diikuti dengan produksi antibodi untuk bakteri yang menyerang jaringan saraf sendiri. Saat virus atau bakteri menyerupai anti-gangliosid, dalam darah terdapat bahan neuritogenik. Tempat di mana bakteri dilumpuhkan dengan cara pengrusakan sawar darah saraf, maka akson di tempat itu cenderung mengalami kerusakan.14
Penurunan fungsi secara klinis disebabkan kegagalan konduksi serabut saraf yang umumnya disebabkan demielinasi akson saraf. Penurunan sensoris kadang-kadang terjadi tapi tidak selalu ada. Demielinasi mengikuti pola sentripetal, terjadi pertama kali di bagian distal dari saraf dan meningkat ke akar serabut saraf spinalis, lebih sering mengenai serabut saraf yang mielinnya sedikit. Sistem saraf pusat atau perifer mengalami peralihan regio dan yang paling banyak mengalami kerusakan secara umum adalah akar serabut saraf spinal.14
Penyembuhan secara klinis dimulai dengan remielinasi akar serabut saraf spinalis. Kadang-kadang, degenerasi akson akan terjadi sendiri atau bersamaan dengan demielinasi. Regenerasi akson berlangsung lambat, tapi terjadi perbaikan. Jadi, blok konduksi saraf merupakan sebab utama terjadinya paralisis akut dan hilangnya fungsi sensoris, sedangkan degenerasi akson merupakan penyebab disabilitas.14

2.3 Klasifikasi Sindrom Guillain-Barré
Sindrom guillain-barré dapat diklasisifikasikan menjadi beberapa tipe. Saharso membagi kelainan ini menjadi 2, yaitu:9
(1) Tipe axonal, terjadi degenerasi akson tanpa proses demielinasi atau peradangan.
(2) Tipe demielinating, terjadi demielinasi segmental saraf tepi yang disebabkan oleh infiltrasi sel-sel radang. Pengklasifikasian lain SGB dilakukan oleh Japardi I, yang membagi SGB menjadi 5 tipe, yaitu:4

a. Acute inflamatory demyelinating polyradiculoneuropathy (AIDP)
Bentuk ini merupakan yang terbanyak dilaporkan, yaitu sekitar 90% kasus. Di Amerika Serikat, frekuensinya adalah 0.6-1.7 kasus per 100.000 per tahun, angka kematian berkisar 2-6%. AIDP dapat terjadi pada semua ras dan di seluruh belahan dunia. Insidensi kasus AIDP pada laki-laki dan perempuan dengan perbandingan 1,1-1,7:1.18
AIDP merupakan penyakit akut monofasik dari sistem saraf perifer yang menyebabkan kelemahan tungkai arefleks secara ascending yang progresif dan terjadi gangguan ringan dari sistem saraf sensorik. Gangguan sistem saraf autonomik terjadi pada 2/3 pasien, berupa takikardi, hipotensi postural yang mengarah ke arah presyncope, keringat berlebih, dan konstipasi. Adanya rasa nyeri yang ringan pada punggung atau pinggung adakalanya mendahului serangan kelemahan. Nyeri yang hebat dilaporkan terjadi pada 15% pasien. Sekitar 20% penderita AIDP akhirnya mengalami gagal nafas. Progresivitas penyakit ini seringkali mencapai maksimal pada akhir minggu ke-4.18
Pada tipe AIDP, sel-sel makrofag secara langsung menyerang komponen membran abaxonal sel Schwann dan diikuti oleh demielinasi vesicular. Terjadinya demielinisasi saraf tepi akibat sel radang pada AIDP ini dapat dibuktikan secara elektrofisiologis. Proses demielinasi inflamasi ini mungkin disertai dengan hilangnya akson saraf. Hampir semua penderita GBS hanya mengalami 1 kali serangan akibat auto-imun pada waktu permulaan, setelah itu terjadi fase penyembuhan. Proses remielinasi terjadi setelah reaksi imun berhenti.3,19,20
b. Acute motor axonal neuropathy (AMAN)
Pada tipe ini, terjadi degenerasi aksonal pada axon saraf motorik dengan sedikit demyelinasi atau infiltrasi sel limfosit. Pada awalnya, proses terjadi pada nodus Ranvier serabut saraf diikuti dengan ditemukannya IgG dan deposit komplemen pada axolemma.20
Secara klinis Acute motor axonal neuropathy (AMAN) ditandai dengan gangguan sistem motorik sesuai akson yang terkena. Bentuk ini menyebabkan kelemahan atau kelumpuhan yang progresif dan seringkali menyebabkan gagal nafas. Pada penelitian Visser et al (1995), penderita GBS tipe AMAN tidak mengalami gangguan sensorik selama enam bulan masa follow up. Dibandingkan dengan tipe GBS yang lain, penderita tipe AMAN mempunyai onset yang lebih cepat (3,9 vs 6,1 hari), puncaknya juga lebih awal (6,3 vs 9,1 hari), didahului adanya gangguan gastrointestinal (41% vs 13%) dan pada umumnya disebabkan oleh Campylobacter jejuni (67% vs 28%).3,19,21
Hasil penelitian Kusunoki et al (1994) menunjukkan bahwa Ga1Nac-GD1a merupakan molekul target dari serum antibodi pada penderita Acute motor axonal neuropathy (AMAN). Oleh sebab itu, pada tipe ini memperlihatkan titer anti-Ga1Nac-GD1a yang tinggi. Selain itu, titer anti-GM1 dan anti GD1a juga tinggi. Pasien dengan anti-Ga1Nac-GD1a memperlihatkan amplitudo yang lemah pada potensial aksi otot.22
Acute motor axonal neuropathy juga dapat didahului oleh infeksi E.Coli. Hal ini dibuktikan dengan hasil penelitian Kono et al (2007) yang memperlihatkan bahwa pasien setelah 18 hari mengalami urosepsis akibat infeksi E.Coli menunjukkan titer anti-GM1, anti GD1a, dan anti-Ga1Nac-GD1a yang tinggi.23
Kasus GBS tipe AMAN banyak dilaporkan di daerah pedesaan di China, khususnya pada anak-anak dan dewasa muda selama musim panas. Prognosis tipe ini cukup baik dan fase penyembuhannya berlangsung cepat.3,19
c. Acute motor sensory axonal neuropathy (AMSAN)
Pada tipe ini, terjadi degenerasi aksonal seperti pada Acute motor axonal neuropathy. Namun, pada AMSAN tidak hanya mengenai serabut saraf motorik tetapi juga serabut saraf sensorik. Pada tipe ini terjadi proses inflamasi yang minimal dan demielinasi. Secara elektrofisiologi ditandai dengan adanya penurunan kecepatan konduksi pada serabut saraf dan penurunan potensial aksi pada otot dan saraf sensorik. Pada penderita AMSAN ditemukan anti-GM1, anti GM1b, dan anti-GD1a IgG.19,24,25
Secara klinis ditandai dengan gangguan sistem motorik dan sensorik, fulminan, penyebaran paralisis yang lambat. Proses penyembuhan pada tipe AMSAN juga lambat dan tidak sempurna. Biasanya tipe ini terjadi pada pasien dewasa.24,25
d. Miller Fisher Syndrome
Miller Fisher Syndrome merupakan bentuk GBS yang jarang terjadi. Di Barat, insidensi tipe ini cukup rendah, yaitu sekitar 2%-7%, tetapi di dunia bagian timur insidensinya + 19% kasus. Miller Fisher Syndrome atau Acute Disseminated Encephalomyeloradiculopaty ditandai dengan trias gejala neurologis berupa oftalmoplegi, ataksia, dan arefleksia yang kuat : hilangnya refleks tendon, gangguan koordinasi, kesukaran berjalan dan berdiri, serta adanya problem penglihatan. Pasien MFS mengalami double vision akibat kerusakan saraf kranial yang menyebabkan kelemahan otot-otot mata. Selain itu, kerusakan saraf kranial juga menyebabkan kelemahan otot-otot muka. Gejala-gejala lain yang bisa didapatkan pada Miller Fisher Syndrome yaitu kebas, dizzines, nausea.19,26
Penyebab Miller Fisher Syndrome diduga akibat abnormalitas dari batang otak saja atau dalam kombinasi dengan kerusakan saraf perifer. Pada MFS terjadi demielinasi dan inflamasi dari nervus kranialis III dan IV, ganglia spinal, dan saraf perifer. Keterlibatan sistem saraf pusat pada MFS dibuktikan dengan adanya gejala-gejala yakni mengantuk, tanda-tanda optalmologi seperti ptosis, Bulbar palsy, Bell’s palsy dan gambaran imaging batang otak yang abnormal. Tipe ini terkait dengan anti-GQb1 antibodi IgG yang timbul pada neuromuscular junction, sehingga menyebabkan hambatan transmisi neuromuscular junction. GQ1b banyak terdapat pada nervus kranialis yang menginervasi otot ekstraokuler. Proses resolusi pada tipe ini terjadi dalam 1-3 bulan.19,26
e. Chronic inflamatory demyelinating polyneuropathy (CIDP)
Tipe ini juga disebut Recurrent Guillain Barre Syndrome. Tipe ini merupakan bentuk lanjut dari AIDP, yang terjadi lebih dari 4 minggu paska serangan awal. Patologi CIDP yaitu terjadinya demielinasi primer dan infiltrasi makrofag dan limfosit T pada saraf perifer. Studi elektrodiagnosa menunjukkan adanya proses konduksi yang lambat pada saraf motorik dan sensorik, dan terjadi hambatan konduksi fokal. Pada tipe ini, keterlibatan saraf otonom juga sering terjadi, menyebabkan gangguan simpatis dan parasimpatis. Chronic inflamatory demyelinating polyneuropathy (CIDP) mempunyai onset yang cepat dengan fase penyembuhan yang hampir sempurna.19
Kriteria Chronic inflamatory demyelinating polyneuropathy (CIDP) yakni:27
1. Terjadi relaps disfungsi motorik dan sensorik saraf perifer yang progresif yang mengenai lebih dari 1 tungkai dalam waktu > 2 bulan.
2. Dissosiasi sitologi-albumin.
3. Adanya bukti elektrofisologi dari proses demyelinasi yang didapat.
Terjadinya kelumpuhan atau disabilitas pada CIDP maksimal selama 4-5 bulan. Pada penelitian Chieng et al (2007), CIDP pada subyek penelitian terjadi setelah reaktivasi infeksi EBV. Hal ini didukung oleh titer DNA-EBV yang tinggi dan anti-EBNA IgG positif pada pemeriksaan PCR.27
Pada pemeriksaan cairan serebrospinal dapat diperoleh hasil berupa kadar protein yang normal saat terjadinya rekurensi. Puncak defisit dan durasi serangan bervariasi, tetapi distribusi kelemahan tetap konstan. Tipe ini mempunyai respon yang jelek terhadap terapi immunosupresif.27




2.4 Berbagai Manifestasi Klinis Sindrom Guillain-Barré
Sindrom Guillain-Barré sering didahului oleh beberapa hal berikut:
1) infeksi pernapasan atau saluran cerna (pada dua pertiga kasus),
2) vaksinasi,
3) keganasan,
4) obat-obatan, dan
5) kehamilan.
Dari terjadinya keadaan-keadaan tersebut hingga timbulnya gejala klinis, terdapat masa bebas gejala yang berkisar antara beberapa hari hingga beberapa minggu. Sebagian kasus menunjukkan adanya parestesia sebagai gejala awal. Kelemahan motorik memiliki pola yang khas, yaitu dimulai dari ekstremitas bagian bawah dan secara ascending mempengaruhi pula bagian tubuh yang berada di atas, terutama ekstremitas bagian atas.4
Kelemahan yang terjadi bersifat simetris. Berbeda dengan polineuropati lain, misalnya pada beri-beri dan intoksikasi, pada SGB kelemahan otot bagian proksimal sama beratnya dengan yang distal. Kelumpahan tersebut bersifat flaccid, dengan refleks tendon menurun tanpa disertai atrofi otot.28
Gejala yang pertama kali muncul adalah kelemahan atau perasaan menggelitik pada kaki. Pada fase ini, anak biasanya menjadi irritabel. Kelumpuhan dapat didahului hepestesia, anestesia disertai nyeri, atau parestesia. Kelemahan akan memburuk menjadi bentuk kelumpuhan total, yang sering mengenai keempat ekstremitas (tetraplegia flaksid).29
Seringkali gejala yang ada pada SGB juga melibatkan saraf otonom, sehingga terjadi gangguan saraf simpatis dan parasimpatis. Gejala yang dapat terlihat berupa ketidakstabilan tekanan darah secara mendadak, keluarnya keringat pada suhu lingkungan yang rendah, dan flushing. Selain saraf otonom, saraf kranial juga dapat terkena.28
Keterlibatan saraf kranial didapatkan pada 45 – 75% kasus. Gangguan yang paling sering didapatkan, yaitu kelumpuhan saraf fascialis, paresis bulbar, gangguan mastikasi, dan kelainan okular. Berbeda dengan manifestasi pada ekstremitas, keterlibatan saraf kranial seringkali asimetris.7 Keterlibatan bulbar terjadi pada separuh kasus. Selain itu, dapat pula timbul insufisiensi pernapasan. Disfagia dan kelemahan wajah sering menjadi tanda awal terjadinya gagal napas. Keadaan ini akan mempengaruhi asupan makanan dan meningkatkan risiko aspirasi. Keterlibatan otot bulbar dan pernapasan dapat mengakibatkan kematian jika tidak segera diantisipasi dan diatasi.17
Sebagai akibat gangguan motorik dan otonom, dapat pula terjadi gangguan sistem kardiopulmonar. Gangguan dapat diawali napas yang berat akibat kelemahan otot bantu napas dan gangguan ritmik akibat keterlibatan saraf otonom. Fungsi paru akan terganggu dengan compliance yang menurun. Selanjutnya, keadaan tersebut akan menurunkan kapasitas paru dan atelektasis, dan dapat diperberat lagi oleh infeksi paru (pneumonia).17
Gejala-gejala tersebut akan tetap tampak sekurang-kurangnya dua minggu setelah timbul. Kemudian, gejala tersebut akan berhenti secara bertahap dengan sendirinya. Penyembuhan dapat terjadi secara total tanpa menyisakan gejala, namun bila selama serangan terjadi kerusakan badan sel saraf, maka dapat terjadi kelainan yang menetap.5


2.5 Penegakan Diagnosis Sindrom Guillain-Barré
Penegakan diagnosis SGB didasarkan pada anamnesis yang teliti, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang, seperti pungsi lumbal, pemeriksaan seroimunologi, dan neurofisiologi. Dari anamnesis dapat diperoleh lama penyakit, ada tidaknya pencetus, serta pola perjalanan penyakit yang khas. Dari pemeriksaan fisik yang perlu diperhatikan antara lain sesuai dengan kriteria klinis SGB menurut Asbury, yaitu:7
1. Kriteria yang harus ada:
  • Kelemahan progresif lebih dari satu anggota gerak
  • Hiporefleksia atau arefleksia
2. Kriteria yang memperkuat diagnosis:
a. Progresivitas hingga 4 minggu
b. Relatif simetris
c. Gangguan sensoris ringan
d. Keterlibatan saraf kranial (tersering n.VII)
e. Perbaikan klinis dalam 4 minggu
f. Disfungsi otonom ringan
g. Tidak terdapat demam
h. Protein LCS meningkat setelah 1 minggu
i. Leukosit LCS < 10/mm3 j. Perlambatan hantaran saraf

3. Kriteria yang meragukan diagnosis:
a. Asimetris
b. Disfungsi BAB atau BAK
c. Leukosit LCS > 50/mm3
d. Gangguan sensoris berbatas nyata

4. Kriteria eksklusi:
a. Hanya gangguan sensoris saja
b. Terdiagnosis sebagai polineuropati lain

Berikut ini dapat dilihat skala fungsional pada sindrom Guillain-barré:

Tabel 1. Skala Fungsional Hughes untuk SGB
Grading Scale Keterangan
Grade 1 Gejala dan tanda minimal, pasien dapat berlari
Grade 2 Dapat berjalan 5 meter tanpa bantuan
Grade 3 Dapat berjalan 5 meter dengan alat bantu
Grade 4 Hanya duduk atau berbaring
Grade 5 Perlu ventilasi

Gambaran LP pada SGB menunjukkan proses demielinisasi (peningkatan protein LCS) tanpa tanda-tanda infeksi (pletosis). Keadaaan ini disebut disosiasi sitoalbumin. Hasil analisis LCS normal dalam 48 jam pertama, kemudian diikuti peningkatan kadar protein LCS pada minggu ke-2 tanpa atau disertai sedikit kenaikan lekosit (albuminocytologic dissociation).7
Menurut Lambert dan Murder,7 adanya kelainan pada pemeriksaan EMG dapat membantu menegakkan diagnosis. Terdapat perlambatan kecepatan hantar saraf pada EMG. Pada minggu I terjadi pemanjangan atau hilangnya F-response (88%), prolong distal latencies (75%), blok pada konduksi (58%), dan penurunan kecepatan konduksi (50%). Pada minggu II terrjadi penurunan potensial aksi otot (100%), prolong distal latencies (92%), dan penurunan kecepatan konduksi (84%).7
Pemeriksaan MRI juga sangat membantu diagnosis. MRI sebaiknya dilakukan pada hari ke-13 setelah timbulnya gejala SGB. Pemeriksaan MRI dengan menggunakan kontras gadolinium memberikan gambaran peningkatan penyerapan kontras di daerah lumbosakral, terutama di cauda equina. Sensitivitas pemeriksaan ini terhadap SGB adalah 83%.9
Sindrom Guillain-Barré dapat didiagnosis banding dengan beberapa kelainan berikut:
1. Botulisme
Botulisme ditandai dengan kelemahan yang berat, keterlibatan otot ekstraokular, dan konstipasi (perjalanan penyakit cepat).7
2. Poliomielitis
Kelainan ini merupakan gangguan yang mengenai kornu anterior. Onset kelemahan pada poliomielitis cepat dan asimetris atau hanya melibatkan satu anggota gerak saja. Selain itu juga terdapat tanda-tanda rangsang meningeal dan pleositosis pada cairan liquor yang membedakannya dengan SGB.30
3. Polineuropathy postcritical illness
Merupakan polineuropati yang terjadi setelah suatu penyakit yang berat. Secara klinis, penderita mengalami paralisis yang berat, diserrtai refleks yang menurun dan otot-otot bulbar tidak terkena.30


4. Tick paralysis
Kelainan ini disebabkan oleh gigitan kutu. Gambaran klinis yang tampak menyerupai SGB, dan dibedakan dengan riwayat bekerja di suatu daerah hutan kayu dan menemukan kutu. Kutu dapat ditemukan pada kulit kepala penderita. Perbaikan segera terjadi setelah kutu disingkirkan.30
5. Porfiria
Porfiria dapat menyebabkan kelemahan motorik progresif, cramp abdominal, kejang, gejala-gejala psikiatri, dan peningkatan ekskresi asam alfa amino levulenat dan porfobilinogen.30
6. Dipteri
Dipteri diawali dengan infeksi saluran napas atas dan tampak adanya pseudomembran di tenggorokan. Berkembangnya neuropati simetris terjadi pada 1 hingga 2 minggu kemudian. Disfungsi saraf kranial umumnya bisa terjadi, termasuk kelemahan palatum, gangguan akomodasi visual, dan dilatasi pupil. Sindrom ini bersifat reversibel dengan pemberian antibiotik yang tepat.30
7. Intoksikasi arsen dan timah
Menyebabkan neuropati motorik yang predominan, namun progresivitas dari gejala dan tanda-tanda intoksikasi kronik lambat.30
8. Intoksikasi logam berat akut
Dapat disertai ensefalitis dan gejala sistemik lain.30


2.6 Penatalaksanaan Sindrom Guillain-Barré
Penatalaksanaan umum SGB meliputi terapi fisik yang agresif dan rehabilitasi jangka panjang, serta pencegahan komplikasi akibat immobilisasi. Pada sebagian besar kasus, penderita dapat sembuh sendiri. Pengobatan secara umum bersifat simptomatik. Meskipun dapat sembuh sendiri, harus dipertimbangkan pula perawatan yang lama dan kecacatan yang tinggi sehingga pengobatan tetap harus diberikan. Tujuan khusus terapi adalah mengurangi beratnya penyakit, mempercepat penyembuhan, dan mencegah komplikasi dan kecacatan, melalui sistem imunitas (imunoterapi).
1. Plasmaparesis
Plasmaparesis atau plasma exchange bertujuan mengeluarkan faktor autoantibodi yang keluar. Pemakaian plasmaparesis pada SGB memperlihatkan hasil yang baik, berupa perbaikan klinis yang lebih cepat, penggunaan alat bantu napas yang lebih sedikit, dan lama perawatan yang lebih singkat. Pengobatan dilakukan setiap hari selama 5 hari pertukaran 1000 mL setiap kalinya untuk jumlah total 250 mL/Kg. Plasmaparesis lebih bermanfaat bila diberikan saat awal onset gejala (minggu I).4
Penggunaan plasmaparesis memiliki komplikasi berupa ketidakstabilan otonomik, hiperkalsemia, dan perdarahan yang menyebabkan berkurangnya faktor pembekuan.9
2. Imunosupresan (Imunoglobulin iv)
Penggunaan terapi imunoglobulin (Ig) relatif lebih sederhana dan lebih mudah dibandingkan dengan plasma exchange. Kajian yangg dilakukan Brill menunjukkan bahwa penggunaan Ig pada pasien SGB sama efektifnya dengan plasmaparesis, apabila terapi diberikan dalam 2 minggu paska-onset penyakit. Kajian lain yang dilakukan Abe terhadap penggunaan human Ig menunjukkan bahwa hingga sekarang mekanisme aksi Ig masih belum jelas. Kemungkinan mekanisme aksi human Ig adalah blokade Fc-receptor pada monosit/makrofag dan neutrofil, supresi produksi sitokin, dan netralisasi sitokin. Mekanisme aksi lainnya meliputi penghambatan aktivasi komplemen dan menekan fungsi sel T dan sel B.7
3. Kortikosteroid
Kajian yang dilakukan Wijdicks tidak menganjurkan pemberian terapi steroid. Penelitian Ress dkk menunjukkan steroid hanya digunakan pada 4% kasus saja. Sebagian besar penelitian mengatakan bahwa penggunaan preparat steroid tidak memiliki nilai atau manfaat untuk penatalaksanaan SGB.7
Prognosis SGB pada anak umumnya baik. Perbaikan klinis dapat terlihat dalam waktu 7 hingga 10 hari. Namun, penyembuhan sempurna hingga gejala sisa hilang dapat terjadi hingga beberapa minggu hingga bulan.28
Sekitar 95% kasus perjalanan penyakit AIDP monofasik dengan kelemahan progresif 4 – 6 minggu, diikuti suatu penyembuhan motorik yang datar (plateu in strength), lalu perlahan-lahan mengalami perbaikan. Lebih dari 90% pasien mengalami perbaikan tanpa gejala sisa yang bermakna. Namun pada 3-5% kasus dapat berkembang menjadi CIDP atau serangan ulangan (Chronic Recurent Polyneuropathy, CRPN).28,30
2.7 Peranan HSP, TLR, Sitokin dalam SGB
Myelin basic protein (MBP) merupakan protein yang memegang peranan penting dalam proses mielinasi saraf. MBP dipercaya dapat menjadi autoantigen. Jika disuntikkan pada hewan menimbulkan respon imun seluler yang menyebabkan Experimental Auto immune Neuritis (EAN). EAN adalah suatu penyakit demielinasi dari system saraf perifer. Penyakit akut inflamasi ini dimediasi oleh sel T CD4 dan penyakit ini memiliki persamaan dengan SGB pada manusia. 31, 32, 33
Toll-like receptor (TLR) signaling adalah mekanisme primer dimana sejumlah sitokin proinflamasi diinduksi dalam sel dendritik. Tipe I IFNs, TNF-alfa, IL-1 dan IL-6 adalah bagian dari sitokin proinflamasi yang diproduksi dalam sel dendritik atas sinyal TLR. Karena kecepatan induksi sitokin pada sel dendritik, sel ini penting dalam pembentukan respon imun bawaan dini melawan infeksi. Diantara bermacam-macam TLR, TLR2 dan TLR 4 diyakini merupakan reseptor utama melawan infeksi bakteri. TLR4 mengenali bakteri gram negatif melalui lipopolisakarida (LPS) yang berada pada permukaan mikroorganisme. TLR2 menginduksi lipoprotein dan komponen bakteri gram positif seperti peptidoglikan. Setelah terstimulasi dengan produk bakteri, kedua reseptor tersebut memacu sel untuk memproduksi mediator inflamasi. Proses ini diperantarai oleh NF-κB. 34, 35.
TLR penting untuk mengenali mikroba patogen dan untuk mengaktifasi jalur signal untuk untuk membedakan bentuk ekspresi gen yang dihasilkan dalam respon imun bawaan melawan infeksi mikroba dan pembuatan antigen spesifik respon imun didapat. Distribusi dan komponen alur signal TLR dapat diaktivasi oleh bakteri seperti flagela Pseudomonas aeruginosa, pada sel epitel. Setelah 4 jam terjadi eksposure dengan flagela, maka TLR 5, TLR 4, dan TLR 2 dapat terinduksi. TLR dilaporkan berperan dalam modulasi respon alergi dengan meregulasi sel dendritik, T cells, and mast cells. 36, 37, 38
NF-kappaB adalah sebuah faktor transkripsi dari partikel penting dalam respon imun dan inflamasi. Bentuk aktif dari NF-kappa B adalah heterodimer yang terdiri dari dua buah protein yaitu, subunit p65 dan p50, atau subunit lain (rel, rel B, p52, v-rel). Dalam sel yang tidak terstimulasi NF-κB ditemukan dalam sitoplasma berikatan dengan IκBs. Stimulasi dengan sitokin, spesies oksigen reaktif, dan mikroorganisme yang menginduksi fosforilasi dan degradasi dari IκBs, diikuti oleh translokasi dari NF-κB ke nukleus, ikatan dengan respon elemen ini mengarah kepada inisiasi transkripsional pada gen responsif. 39
Jumlah NF dan jarak NF adalah dua faktor penting yang menentukan kaliber akson. Peningkatan sintesis NF bersama dengan penurunan transpor mengatur jumlah NF selama pertumbuhan radial dari pembentukan akson. Perubahan yang sama terjadi selama regenerasi dari akson perifer. Perubahan jarak NF menyebabkan variasi lokal dari panjang kaliber akson. 40
HSP (Heat Shock Protein) begitu disebutnya karena pertama kali ditemukan disintesis sebagai respon peningkatan temperatur, adalah famili protein yang sangat terjaga, yang terdapt pada semua organisme prokariotik dan eukariotik. Mereka berfungsi sebagai chaperone intra seluler dan membantu ketahanan sel di bawah kondisi jelek. 41

Tiga mekanisme bagaimana sel T spesifik HSP berperan pada toleransi imun 42 :
Sel T spesifik berperan pada autotolransi jangka panjang dan mencegah penyakit autoimun dengan beberapa mekanisme.

1. Dengan menahan efek antiinflamasi dari limfosit yang diajari di GALT utamanya melalui IL-10.
Jaringan limfoid saluran cerna (GALT) terus menerus berhadapan dengan komponen makanan dan mikroflora usus dimana toleransi imun jangka panjang ini penting. Seperti IL-10 dan TGF-beta dihasilkan tidak hanya oleh sel sistem imun adaptif namun juga, seperti kasus IL-10, oleh sel epitel intestinal. Selanjutnya, saat berhadapan dengan homolog yang ada pada hsp mamalia yang overekspresi pada sendi yang meradang (atau organ lain) membuat imigrasi GALT sel kontrol inflamasi melalui efek supresi yang ada.

2. Afinitas rendah pengenalan TcR hsp peptida sendiri menyebabkan supresi respon sel T inflamasi melalui interaksi B7.2 – CTLA-4.
Sel dapat menunjukkan peptida yang diambil dari hsp 60 melalui MHC I atau MHC II. Sel ini dapat menjadi target untuk sel alfa/beta T sitotoksik. Sel T sitotoksk dipertimbangkan sebagai faktor etiopatologis utama, meski banyak penelitian mengkonfirmasi bahwa hsp spesifik sel T alfa/beta terlibat hanya pada penyakit lanjut. Reaksi silang sel T spesifik hsp 70 ditemukan pada manusia dengan tuberkulosis dan leprosis.

3. Nonprofesional presentasi APC dalam hsp epitop tanpa molekul kostimulator membuat sel T menjadi anergi.
Kadar rendah konstitutif ekspresi hsp pada tiap sel tubuh akan menjamin bahwa sel akan mengetahui keberadaan epitop hsp sendiri juga pada APC nonprofesional yang kekurangan molekul kostimulator yang diperlukan untu induksi respon sel T. Pengenalan pada ketiadaan kostimulasi yang tepat diketahui membuat sel T menjadi anergi.
Berdasarkan penelitian dan observasi klinik diketahui bahwa heat shock protein (hsp) terlibat dalam regulasi beberapa penyakit autoimun, salah satunya pada SGB. Hsp akan meningkat pada keadaan stress seluler dan dapat dikenali pada reseptor permukaan sel sistem imun penjamu (Toll-like receptor 4- TLR4, TLR-2). Dengan adanya hsp protein, sistem imun akan mendapatkan informasi tentang adanya proses patologis pada tubuh. 42
Pada penyakit autoimun akan terjadi peningkatan ekspresi HSP 47 dan HSP 70 dalam serum. Oleh karena EAN/GBS merupakan penyakit autoimun, maka dapat disintesiskan akan terjadi peningkatan HSP 47 dan HSP 70. 43, 44
Produksi HSP 70 ditingkatkan sebagai respon berbagai stimuli yang menimbulkan stress dimana termasuk infeksi, inflamasi, demam, keganasan, diferensiasi sel cepat, atau perkembangan jaringan. Pelepasan HSP 70 dapat berikatan dengan TLR 2 dan TLR 4 dan menimbulkan aktivasi sitokin proinflamasi primer, tumor necrosis factor-α (TNF-α), interleukin (IL)-1β dan IL-6 42. Sebuah penelitian menyatakan bahwa didapatkan hsp 70 spesifik sel T δ/γ juga dilakukan oleh tipe sel lain yaitu sel dendrit dengan menggunakan hsp patogen untuk melawan agen infeksi. Sel dendrit mengenali hsp patogen melalui reseptor permukaan (TLR-4). 42
HSP 47 adalah heat shock protein yang berfungsi sebagai chaperone spesifik untuk molekul prokolagen ketika mereka transit melalui reticulum endoplasma. HSP 47 diperlukan untuk sintesis kolagen normal. Ekspresi HSP 47 meningkat dalam keadaan fibrosis paru, ginjal dan kulit. Studi terakhir menyatakan bahwa level ekspresi gen prokolagen dan tingkat sintesis prokolagen diregulasi oleh HSP 47. Lesi fibrotik terdiri dari kebanyakan kolagen, dan kemungkinan dapat dicegah dengan menghambat produksi kolagen.. 45, 46
Hsp 47 dan Hsp 70 menginduksi Sel T helper yang belum berdeferensiasi menjadi Th I yang akan melepaskan sitokin-sitokin pro-inflamasi seperti IL-2, IL-6, IL-12, IL-. Pada EAN atau GBS, sitokin-sitokin proinflamasi tersebut menyebabkan inflamasi pada myelin dan akhirnya terjadi demyelinasi saraf. Sebaliknya, hsp juga dapat menginduksi deferensiasi Th0 menjadi Th2 yang memproduksi sitokin anti-inflamasi seperti IL-4, IL-5, IL-8, IL-10, dan IL-12. 42, 47
Sitokin bekerja melalui reseptor pada permukaan sel sasaran. Sitokin berperanan dalam banyak respons imun seperti aktivasi sel T, sel B, monosit dan makrofag, induksi sitotosisitas dan inflamasi. Sitokin-sitokin yang dihasilkan ini memiliki sifat yaitu 1) menginduksi ekspresi reseptor untuk sitokin lain atau bekerjasama dengan sitokin lain dalam merangsang sel (sinergisme) atau 2) mencegah ekspresi reseptor atau produksi sitokin (antagonisme). 48
Sel Th1 lebih berperanan pada reaksi seluler seperti hipersensitivitas lambat dan sel Th2 lebih berperanan pada reaksi humoral seperti alergi. IFN- yang diproduksi oleh sel Th1 mencegah proliferasi sel Th2, sedang IL-10 asal Th2 mencegah produksi sitokin oleh sel Th1. 48
IL-2 memiliki fungsi biologis sebagai growth factor untuk sel T yang diaktifkan, merangsang sintesis limfokin lain dan mengaktifkan sel Tc. IL-6 berfungsi untuk merangsang produksi Ig oleh sel B. IL-12 memiliki fungsi yang sinergis dengan IL-2 dan dapat mengaktivasi sel NK. IL-4 memiliki fungsi biologis sebagai growth factor untuk sel B yang diaktifkan, growth factor untuk sel T dan sel mast, meningkatkan aktivitas sitolitik dan sel Tc. IL-5 berfungsi meningkatkan produksi IgM dalam sel B. IL-8 berfungsi mengaktifkan neutrofil. IL-10 menghambat produksi sitokin dan berperan dalam pertumbuhan mastosit. 48
Berbagai studi ilmiah mengenai kelainan ini lebih mengarahkan patogenesis SGB akibat interpretasi sistem imun yang keliru terhadap struktur selubung mielin dan akson. Mekanisme imun selular dan humoral memiliki peranan. Hal ini terkait dengan adanya kemiripan struktur antigen dengan struktur yang ada pada mielin dan akson. Akibatnya dapat terjadi demielinisasi dan degenerasi aksonal.
Dalam penelitian terakhir, telah diselidiki fungsi dari IL-18 dalam sel T- mediasi autoimun dari EAN dalam tikus yang diinduksi oleh PO peptide 180-199 and Freund's complete adjuvant (FCA). Data mengindikasikan bahwa dalam 2 buah regimen terapeutik yang berbeda, yaitu anti IL-18 monoclonal antibody (mAb) secara efektif memperbaiki gejala klinis dan patologik dari EAN. Hasil kami didapatkan bahwa pergeseran keseimbangan Th1/Th2 ke arah Th2 dapat menjadi suatu mekanisme penyebab EAN yang disupresi oleh anti –IL-18 mAb. Kami menyimpulkan bahwa IL-18 endogen memainkan peran penting dalam patogenesis dimielinasi utoimun dari SST dan bahwa IL-18 antagonis dapat menyediakan terapi baru untuk penyakit ini. 31
BAB III
PENUTUP

Sindrom Guillain-Barré adalah suatu polineuropati akut yang sering terjadi pada 1 – 3 minggu setelah infeksi Campylobacter jejuni. SGB muncul diduga akibat reaksi autoimun yang disebabkan adanya kemiripan struktur sakarida bakteri dengan struktur mielin dan akson saraf manusia.
Gejala klinik yang ditemukan adalah adanya paralisis dan paresis yang bersifat ascending, saraf kranial dan otonom juga dapat terlibat. Komplikasi yang paling dihindari adalah depresi napas dan cacat.
Diagnosis SGB ditetapkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Terapi SGB bertujuan mengurangi kesakitan, mempercepat penyembuhan, dan mencegah komplikasi. Pengobatan yang paling efektif hingga saat ini adalah imunoglobulin perjalanan penyakit umumnya baik dengan angka kesembuhan yang tinggi.

DAFTAR PUSTAKA


1. UWO Neurology Residents. Guillain-Barre Syndrome. Neurological Medicine Pocketbook. August 10, 2003; (online) (http://www.uwo.ca/cns/resident, diakses 17 September 2005).
2. Chandra B. Penyakit Motor Unit. Dalam: Neurologi Klinik. Surabaya, FK UNAIR/RSUD Dr. Soetomo, 1994. h. 166-167.
3. Newswanger DL, Warren CR. Guillain-Barre Syndrome. American Family Physician 2004: 69 (10)

4. Japardi I. Sindrom Guillain-Barré dalam USU Digital Library. Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Medan, 2002.

5. Corwin EJ. Sindrom Guillain-Barré dalam buku saku patofisiologi. Jakarta: EGC, 2001. h 193

6. Ikatan Fisioterapi Indonesia. Senam penatalaksanaan fisioterapi pada kasus Guillain-Barre Sindrom. Physiosby.com 2007; (online), (http://www. physiosby.com)

7. Pinzon R. Sindrom Guillain-Barre: kajian pustaka. Dexa Media 2007: 1(20); 44-5

8. Nachamkin I, Liu J, Li M, Ung H, et al. Campylobacter jejuni from patients with Guillain-Barré Syndrome Preferentially expresses a GD1a-like epitop. Infection and Immunity 2002;70(9):5299-303.

9. Saharso D. Sindroma Guillain Barre (SGB). Pediatrik.com 2007; (online), (http://www.pediatrik.com)

10. Prendergast MM, Lastovica AJ, Moran AP. Lipopolysaccharides from Campylobacter jejuni O:41 Strains Associated with Guillain-Barré Syndrome Exhibit Mimicry of GM1 Ganglioside. American Society for Microbiology 1998;66(8): 3649-55

11. Godschalk PCR, Heikema AP, Gilbert M, Komagamine T, C. Ang CW, Glerum J, et al. The crucial role of Campylobacter jejuni genes in anti-ganglioside antibody induction in Guillain-Barré syndrome. American Society for Clinical Investigation 2004; 114: 1659-65

12. Yu RK, Usuki S, Ariga T. Ganglioside moleculer mimicry and its pathological roles in Guillain-barre Syndrome and related disease. American Society for Microbiology 2006;74(12) 6517-27.

13. Csurher PA, Sulivan AA, Green K, Pender MP, McCombe PA. T cell rectivity to P0, P2. PMP22 and myelin basic protein in patiens with Guillain-Barre Syndrome and chronik inflamatory demyelinating poliradiculoneuropathy. J Neurol Neurosurg Psychiatry 2005 ;76: 1431-9

14. Dorn PAV. Guillain-Barre Syndrome. Orphanet encyclopedia 2004; (online), (http://www.orpha.net/data/patho/Gb/uk-Guillain.pdf

15. Baumann N, Pham-Dhinh D. Biology of oligodendrocyte and myelin in the mammalian central nervous system. American Physiological Society 2001;81(2):871-927

16. Hartwig MS.Gangguan neurologis dengan simtomatologi generalisata. Dalam: Hartanto H, Susi N, Wulansari P, Mahanani DA, editor bahasa Indonesia. Patofisiologi konsep klinis proses-proses penyakit.. Volume 2 edisi 6. Jakarta: Penerbit buku kedokteran EGC, 2002. h.1151-3

17. Sarnat HB. Sindrom Guillain-Barre. Dalam: Wahab S, editor bahasa Indonesia. Ilmu kesehatan anak. Volume 3 edisi 15. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC, 2000. h.2142

18. Ramachandran TS, Sater RA. Acute Inflammatory Demyelinating Polyradiculoneuropathy. 2006; (online), (http://www.eumedicine.com/acute- inflammatory-demyelinating-polyradiculoneuropathy.htm)

19. Anonymous. All about Guillan-Barre syndrome. 2007; (online), (http://www.jsmarcussen.com/gbs/uk/overview.htm)

20. Willison HJ, Yuki N. Peripheral neuropathies and anti-glycolipidantibodies. Brain, 2002; 125: 2591-625.

21. Visser LH, Van der Meche FG, Van Doorn PA, Meulstee J, Jacobs BC, Oomes PG, et al. Guillain-Barre syndrome without sensory loss (acute motor neuropathy). A subgroup with specific clinical, electrodiagnostic, and laboratory features. Brain,1995;118:841-847.

22. Kusunoki S, Chiba A, Kon K, et al. N-Acetylgalactosaminyl GD1 is a target molecule for serum antibody in Guillain-Barr syndrome. Ann Neurol, 1994; 35: 570-576.

23. Kono Y, Nishitarumizu K, Higashi T, Funakoshi K, Masaaki Odaka. Rapidly progressive Guillain-Barr Syndrome following Escherichia coli infection. Internal Medicine, 2007; 46: 589-91.


24. Rostásy KM, Huppke P, Beckers B, Brockmann K, Degenhardt V, Wesche B, et al. Acute motor and sensory axonal neuropathy (AMSAN) in a 15-year-old boy presenting with severe pain and distal muscle weakness. Neuropediatrics, 2005; 36(4):260-4

25. Davidson College. Guillain Barre syndrome. 2007; (online), (http://www.davidson.edu/academic/psychology/ramirezsite/neuroscience/psy324/jecaldwell/home.htm)

26. Yuki N. Infectious origins of, and moleculer mimicry, in Guillain-Barre and Fisher syndrome. Lancet Infect Dis, 2001; 1(1): 29-37.

27. Chieng SK, Hussain N, Gosalakkal JA. Childhood chronic inflammatory demyelinating polyneuropathy secondary to reactivation of Epstein-Barr virus. Journal of Pediatric Neurology; 2007; 5 (2): 153-7.

28. Staf pengajar FK UI. Sindrom Guillain-Barre dalam Buku Ilmu Ksehatan Anak. Jakarta:EGC,2000

29. Robin, Kumar. Buku ajar Patologi III. Jakarta:EGC,1995

30. Wibowo S. Penatalaksanaan kegawatan neuromuskular dalam Proceding updates in neuroemergencies II. FK UI. Jakarta, 2004

31. Yu S, Chen Z, Mix E, Zhu SW. Neutralizing antibodies to IL-18 ameliorate experimental autoimmune neuritis by counter-regulation of autoreactive Th1 responses to peripheral myelin antigen. Journal Neuropathology and Experimental Neurology, 2002; 61: 614-9

32. Lin H. Mechanisms of Intravenous Imunoglobin in the Treatment of Experimental Autoimmune Neuritis. A thesis submitted In fulfillment of bthe requirement for the requirement for the degree of Doctor of Philosophy. Ept of medicine the university, 2006 (Dikutip dari Makalah Disertasi Dr. Ruslan Muhyi Sp. A (K) – inpress).

33. Morrel P, Quarles RH. Characteristic composition of myelin dalam sellular neurochemistry and neural memoranes. Introductory biological psychology Tutorials, 2007 (Dikutip dari Makalah Disertasi Dr. Ruslan Muhyi Sp. A (K) – inpress).

34. Samarasinghe R, Tailor P, Tamura T, Kaisho T, Akira S, Ozato K. Induction of an Anti-Inflammatory Cytokine, IL-10, in Dendritic Cells After Toll-like Receptor Signaling. Journal Of Interferon & Cytokine Research, 2006; 26:893–900



35. Saito T, Yamamoto T, Kazawa T, Gejyo H, Naito M. Expression of toll-like receptor 2 and 4 in lipopolysaccharide-induced lung injury in mouse. Cell Tissue Res, 2005; 321: 75–88

36. Adamo R, Sokol S, Soong G, Gomez MI, Prince A. Pseudomonas Aeroginosa Flagella ActivateAirway Epithelial Cells Throughasialo GM1and TLR 2 as well as TLR 5. American Journal of Respiratory Cell and Molecular Biology; 2004

37. Ferina C, Theil D, Semlinger B, Hohlfeld R, Meinl E. Distinct responsesto monocytes to Toll like reseptor ligands and inflamatory cytokines. International Imunology, 2004; 16 : 799-809

38. Chun K Wong, Phyllis F Y Cheung, Wai K Ip, Christopher W K Lam. Intracellular Signaling Mechanisms Regulating Toll-Like Receptor-Mediated Activation of Eosinophils. American Journal of Respiratory Cell and Molecular Biology. New York: 2007:. 37, 85 -95

39. Kang-Yun Lee, Shu-Chuan Ho, Horng-Chyuan Lin, Shu-Min Lin. Neutrophil-Derived Elastase Induces TGF-(beta)1 Secretion in Human Airway Smooth Muscle via NF-(kappa)B Pathway. American Journal of Respiratory Cell and Molecular Biology. New York:2006; 35, 407-8

40. Sancho S, Magyar , Aguzzi A, Suter U. Distal axonopathy in peripheral nerves of PMP22-mutant mic. Brain Oxford, 1999 : 122

41. Shah P, Riphagen S, Beyene J, Perleman M. Multiorgan Dysfunction In Infants With Post-Asphyxial Hypoxic-Ischaemic Encephalopathy. Arch Dis Child 2004, Vol 89: 152-158
42. Raska M, Weigl. HSP in autoimun disease. Biomed_pap_med_sac_univ palaki_olomoue_czech_rep. 2005, 149 (2). 2. 243-9.
43. Alberto JM, Sick Chaperone,Cellular Stress and Disease.N Eng J Med 53 : 1489-1501, 2005 (Dikutip dari Makalah Disertasi Dr. Ruslan Muhyi Sp. A (K) – inpress).
44. Johnson JD, Fleshner M. Releasing signals, secretory pathways, and immune function of endogenous extracellular heat shock protein 72 Journal of Leukocyte Biology, 2006; 79
45. Brown KE, Broadhurst1 KA, Mathah MM, Elizabeth M Brunt and Warren N Schmidt. Expression of HSP47, a collagen-specific chaperone, in normal and diseased human liver. Laboratory Investigation, 2005



EBOOK GRATIS

”buku ”buku ”buku ”diagnosis ”buku

Entri Populer