kesehatan anak, Psikologi anak, Ebook Kedokteran,

Jumat, 15 Mei 2009

HIDUP DAN ALAM PIKIRAN ORANG KARO

Suatu tinjauan filosofis-antropologis:
Orang Karo tradisional, sejak mereka
membentuk kehidupan bersama, mereka sudah mencari landasan hidupnya.
Hal ini terlaksana melalui terciptanya adat-istiadat yang mengatur
hidup mereka setiap hari dengan sesama, dengan alam dan Yang
Adikodrati. Bagaimana hidup dan alam pikiran orang karo???




1. Pengantar


Manusia dalam hidupnya selalu berusaha menuju ke arah yang lebih
baik. Perhatiannya ditujukan pada hidup yang aman, damai, tenteram,
makmur dan sejahtera. Sejak manuisa mengenal dunia dalam sejarah,
perhatiannya selalu diarahkan untuk mencapai dasar pokok sebagai
landasan hidupnya. Sejarah dan alam pikiran manusia serta evolusinya
merupakan bukti usaha manusia untuk menembus dunia materi menuju ke
alam rohani. Manusia tidak pernah puas hanya dengan aspek materi saja,
karena itu ia mencari kepuasan dan menyandarkan kehendaknya kepada
hal-hal yang bersifat rohani .

Demikian juga halnya dengan Orang Karo tradisional, sejak mereka
membentuk kehidupan bersama, mereka sudah mencari landasan hidupnya.
Hal ini terlaksana melalui terciptanya adat-istiadat yang mengatur
hidup mereka setiap hari dengan sesama, dengan alam dan Yang
Adikodrati.

2. Kehidupan Orang Karo

Orang Karo adalah satu suku di Sumatera Utara, yang mendiami
daerah bagian utara Sumatera Timur, terutama Dataran Tinggi Karo.
Istilah “Karo” berasal dari kata “ha-roh” sesuai dengan aksara Karo
yang pertama ha; artinya pertama datang (ha = pertama, awal, roh =
datang). Dalam perkembangan ha-roh berubah menjadi Karo .
Namun menurut sumber lain istilah “Karo” asalnya dari bahasa
Arab, yakni Qarau, artinya telah diajari membaca atau sembahyang,
kemudian kata Qarau ini lama kelamaan berubah menadi “Karo”. Sumber
lain mengatakan bahwa istilah “Karo” berasal dari kata “ke’ra”, artinya
“tanah tinggi yang keras”, dan kata ke’ra ini dalam perkembangan
berubah menadi Karo. Sumber lain mengatakan bahwa istilah “Karo”
berasal dari kata aru (haru). Aru adalah nama sebuah pulau di Teluk Aru
dekat Belawan sekarang. Pulau Aru inilah yang pertama di tempati oleh
para pendatang dari luar dan mereka mendirikan perkampungan di sana.
Setelah jumlah orang Aru itu menadi banyak dan kampung mereka semakin
besar, maka kampung itu berubah menadi “Kerajaan Haru”. Dan lambat laun
kata haru itu berubah menjadi “Karo”. Menurut penelitian para ahli,
lahirnya bahasa, aksara, seni suara dan tari-tarian serta adat-istiadat
Karo terjadi pada zaman Haru ini, yang pada mulanya masih sangat
sederhana sekali. Namun dalam Kongres Budaya Karo yang di selengarakan
di Berastagi, yang berlangsung dari tanggal 1-3 Desember 1995,
dikatakan bahwa istilah “Karo” berasal dari kata kar’o, artinya kar =
dunia, o = bulat, jadi kar’o itu dunia bulat .
Daerah yang didiami Orang Karo meliputi Dataran Tingi Karo, Deli
Serdang, Langkat, sebagaian Dairi, Simalungun dan Aceh Tenggara (Alas).
Orang Karo yang mendiami daerah tersebut memakai bahasa yang sama,
yaitu bahasa Karo dan mereka juga memiliki aksara sendiri yang disebut
dengan aksara Karo.

Asal-usul nenek moyang suku-suku bangsa di Indonesia bagian Barat
pada mumnya berasal dari Hindia Belakang. Suku Karo merupakan salah
satu suku yang termasuk dalam jajaran kelompok yang berasal dari sana.
Dalam pembagiannya secara global, para antropolog membagi kedatangan
mereka menjadi dua gelombang. Menurut dugaan, para emigran pertama tiba
di pantai Timur Sumater sekitar abad VIII SM. Mereka berdiam di
sepanjang pesisir pantai Timur Pulau Sumatera, mulai dari Sumatera
Timur sampai ke daerah Riau dan Jambi. Setelah berselang beberapa
waktu, mereka terpaksa menyingkir ke hutan-hutan Bukit Barisan, karena
kedatangan kelompok emigran kedua. Rupanya mereka tidak lagi dapat
saling menyesuaikan diri karena peradaban dan budaya mereka sudah
terlalu jauh berbera. Mereka yang tersingkir itulah yang kemudian
menadi nenek moyang suku-suku primitif. Salah satu di antaranya adalah
suku Karo yang tinggal di sepanjang pegunungan Bukit Barisan. Sedangkan
kelompok emigran kedua lazim disebut suku Melayu pesisir atau
Maya-maya, yang hingga kini tetap tinggal di pesisir pantai Timur
Sumatera. Kebanyakan dari mereka ini hidup sebagai nelayan .

Daerah yang didiami Orang Karo merupakan daerah pegunungan yang
bergelombang, di sekitar Liang Melas hutanya lebat dan di daerah
pegunungan memiliki jurang yang dalam dan curam. Gunung-gunung yang
terkenal; seperti Deleng Sibayak (2170 m), Deleng Sinabung (2417 m)
Deleng Si Piso-Piso, Deleng Pinto, Deleng Linggargar, dan Deleng
Sibuaten. Dan sungai-sungai yang mengalir di daerah ini adalah Lau
Biang (Wampu) yang bermuara ke Selat Malaka, Lau Lisang, sedangkan Lau
Menggap bermuara ke Samudera Hindia. Di daerah ini juga hidup binatang
buas; seperti gajah, harimau, beruang, beruk, kera, rusa, babi hutan
dan binatang berkaki empat lainnya, juga terdapat ular sawah serta ular
sendok yang bebisa .

Pada umumnya daerah yang didiami Orang Karo merupakan daerah
subur, walaupun ada juga wilayah-wilayah tertentu yang agak tandus.
Oleh karena itu mata percaharian mereka yang utama adalah bertani.
Hasil-hasil pertanian yang utama dari daerah ini meliputi. Sayur-myur
seperti kol-kubis, tomat, sayur putih dan sawi, kentang, wortel dan
cabe; buah-buahan seperti jeruk, apokat, markisa; dan berbagai macam
jenis bunga-bungaan segar. Tehnik pengolahan pertanian ini pada umumnya
dilakukan dengan sistem tegalan dan persawahan. Sehabis panen padi
daerah persawahan ditanami dengan tanaman palawija seperti kacang,
jagung dan bawang .

Ditinjau dari segi kebudayaan, Orang Karo termasuk kelompok yang
mempunyai peradaban yang cukup tinggi. Di bidang pertukangan misalnya,
mereka sudah mepunyai tehnik tersendiri. Orang Karo tradisional sudah
tahu bagaimana cara membuat cangkul dan parang yang baik agar tahan
lama. Hasil tenunan mereka yang terkenal adalah uis gara yakni sejenis
kain adat yang liberi hiasan berkilau-kilauan seperti emas. Kain ini
sering dipakai dalam upacara keagamaan, adat dan perkawinan. Kebolehan
mereka dalam hal ukir mengukir dapat kita amati dalam bentuk-bentuk
ukiran yang terdapat pada pintu, jendela dan dinding rumah adat Karo,
yang hingga kini masih dapat kita jumpai di kampung-kampung seperti:
Lingga, Barus Jahe dan Kutabuluh. Di bidang sastra-seni pun mereka
culup maju. Orang Karo punya penanggalan dan bentuk tulisan sendiri,
yang dahulu hanya dipelajari oleh raja (sibayak), pengetua-pengetua
adat dan orang-orang penting dalam masyarakat di setiap kampung. Mereka
mempunyai cukup banyak cerita sastra yang disebut turi-turin. Bahkan
jenis sastra pantun sudah cukup lama dikenal, khususnya di kalangan
muda-mudi. Dalam hal tari-tarian serta nyanyian, mereka mempunyai
banyak bentuk yang berbeda satu sama lain sesuai dengan situasi dan
kebutuhan. Misalnya tarian untuk upacara keagamaan berbera dengan
tarian pada pesta perkawinan atau tarian adat biasa yang lazim di
pertunjukkan dalam aneka pesta. Mereka juga mempunyai seperangkat alat
musik tradisional yang disebut gendang, yang dipakai untuk mengiringi
nyanyian dan tartan pada setiap pesta atau upacara keagamaan .

Mengacu pada unsur kebudayaan, wujud dan bentuk kebudayaan Karo
mempunyai bentuk dan nilai tersendiri yang memberikan warna dan
karakteristik Orang Karo, baik dalam tingkah laku, pola hidup, sistem
pergaulan dan kebiasaan-kebiasaan sebagai suku yang senantiasa
bereksistensi.

3. Alam Pikiran Orang Karo

Alam pikiran Orang Karo pada hakekatnya dipengaruhi oleh keadaan
dan situasi alam di mana Orang Karo hidup sejak dulu. Situasi dan
keadaan alam pegunungan membentuk alam pikiran, pandangan hidup dan
hubungan-hubungan yang ada di antara Orang Karo itu sendiri. Eksistensi
dan esensi mereka ditentukan oleh alam. Alam pegunungan yang sejuk dan
indah dapat mendatangkan hidup damai, aman dan tenteram. Namun disisi
lain kadang kala mendatangkan bencana dan marabahaya yang sulit
dibatasi. Tantangan-tantangan alam sangat nyata dalam hidup mereka.
Realitas yang mereka hadapi sungguh nyata. Kenyataan inilah yang
membuat mereka berpikir secara realistis dan selalu siapsiaga dan
waspada dalam menghadapi segala tantangan dan ancaman. Oleh karena itu
Orang Karo sejak dulu sampai turun temurun selalu menyelipkan pisau di
pingganya dan sedapat mungkin belajar silat (ndikkar). Konstruksi rumah
adat Karo menunjukkan kesiagaan menghadapi musuh, termasuk perlindungan
terhadap binatang piaraan di bawah kolongnya serta setiap kampung
senantiasa dipagari dengan tanaman lulang (jarak) .

Kenyataan hidup yang mereka hadapi inilah mendorong Orang Karo
tradisional hidup secara berkelompok. Dalam hidup bersama ini
terciptalah kebiasaan-kebiasaan yang menadi pola hidup mereka bersama,
yakni adat. Adat menadi pedoman hidup mereka yang utama. Segala
perilaku dan aktivitas hidup mereka ditentukan dan diatur oleh adat.
Barang siapa yang melanggar adat akan dihukum dan dikucilkan. Dalam
adat terkandung prinsip-prinsip hidup dan norma-norma hukum yang harus
ditaati. Adat menadi dasar kehidupan yang mempunyai peranan paling
fundamental dalam hubungan-hubungan mereka antara yang satu dan yang
lain agar dapat hidup selaras dengan alam, dengan sesama dan yang
adikodrati. Sebab adat ini bersumber pada hukum alam, dan alam
merupakan manifestasi dari Yang Adikodrati. Dengan demikian adat itu
merupakan pemberian Yang Adikodrati kepada manusia .

Alam pemikiran Orang Karo yang terealisir dalam adat dan
bersumber pada alam ini membentuk sifat dan kepribadian mereka. Sifat
dan kepribadian itu nampak dalam tidakan jujur, sopan, tegas dan
berani, berpendirian teguh, percaya diri, rasional dan kritis, mudah
menyesuaikan diri, gigih mencari pengetahuan, pragmatis, dan tidak
serakah. Mereka selalu bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidupnya
dan gigih mepertahankan hak-haknya; kalau itu diyakini sebagai haknya.
Namun mereka tidaklah mau merampas apa yang menadi hak orang lain.
Mereka selalu medahulukan orang lain dalam kegiatan tertentu. Mereka
sangat menghormati orang lain. Ha lini nampak dalam gaya bicara mereka
yang sangat demokratis, tidak memonopoli pembicaraan dan malah lebih
banyak mendengarkan; meskipun Orang Karo “bedarah panas”, lekas naik
darah, lebih-lebih bila mereka diperlakukan secara tidak adil. Meraka
akan melepaskan dendamnya dengan cara apa saja bila ada orang
memperlakukan mereka dengan tidak adil. Tetapi sebaliknya, mereka akan
bersikap lemah lembut penuh sopan santun kepada setiap orang, yang
berlaku baik terhadapnya. Dalam hal ini Orang Karo mempunyai pepatah
yang berbunyi: Keri gia isi polana, gelah mehuli penangketken kitangna.
Artinya, biarlah air nira diminuì habis, asal yang meminumnya itu
menggantungkan kembali tempatnya dengan baik pada tempatnya semula.
Tentu saja dari kata-kata pepatah ini dapat diketahui bahwa Orang Karo
mempunyai kebiasaan mengambil air nira untuk dijadikan gula, akan
tetapi pepatah ini mempunyai arti jauh lebih luas. Maksudnya, walaupun
harta kita habis, bila kahabisannya itu wajar dan demi kebaikan serta
persahabatan tidak menjadi persoalan.

4. Pandangan Hidup Orang Karo

Pandangan hidup Orang Karo terwujud dalam sikap dan perbuatan
sehari-hari. Sikap dan perbuatan itu tumbuh dan berkembang dalam adat
dan kepercayaan yang bersumber pada alam. Dalam alam ada suatu makna
yang memberi arti bagi hidup manusia yang menjadi penggerak untuk
menumbuhkan suatu tekat dalam mencapai nilai-nilai, makna dan tujuan
hidup. Oleh karena itu pandangan hidup Orang Karo dalam melaksanakan
aktivitas hidup tidak ada sebagai penonton, tetapi semua sebagai
pelaksana adat berdasarkan kedudukan dan fungsinya dalam rakut si telu
(sistem kekerabatan: kalimbubu, anak beru, senina). Setiap orang harus
aktif menjalankan tugasnya sesuai dengan kedudukan dan fungsi tersebut.
Sebab dalam masyarakat Karo setiap orang akan mengalami sebagai
kalimbubu, anak beru dan senina .

Dalam aplikasinya, Orang Karo mendasarkan diri pada
prinsip-prinsip hidup yang di yakini kebenaran dan kemanfaatannya dalam
hidup, yakni: kiniteken (keyakinan); Orang Karo yakin bahwa setiap
pekerjaan yang ia lakukan memberikan hasil bagi kehidupan yang menadi
kekuatan dalam hidupnya; kehamaten (kesopanan): setiap orang harus
sopan dan rendah hati serta hormat terhadap semua orang, agar mendapat
kepercayaan dari orang lain; megenggeng (sabar dan tahan menderita) :
setiap orang harus sabar dan tahan menderita sekalipun berat untuk
memperoleh perubahan di masa mendatang sesuai dengan yang
dicita-citakan; metenget (cermat): segala tingkah laku dan perbuatan
harus direfleksikan, direnungkan dengan baik agar mendapat hasil sesuai
dengan yang diinginkan, tek man Dibata (percaya kepada Allah): Orang
Karo percaya bahwa segala sesuatu berasal dari Allah dan kembali
kepadaNya dan segala usaha dan perbuatan manusia ditentukan oleh Allah
.

Namun realisasinya dalam hidup, Orang Karo tidak menyatakannya
secara eksplisit, tetapi diungkapkan secara terselubung dalam bentuk
perumpamaan, cerita atau kata-kata pendek. Ha lini menunjukkan sifat
dan karakteristik Orang Karo yang tidak mau menonjolkan diri, tetapi
dengan sikap demikian diandaikan orang lain sudah mengerti maksudnya.
Sebab hakekat hidup dalam pandangan Orang Karo berada dalam keadaan
tidak tetap, selalu berubah karena dipengaruhi oleh unsur alam yang
terus mengalami perubahan. Dalam diri manusia ada terkandung unsur
imanensi dan transendensi. Unsur imanensi dan transendensi ini terjadi
dalam relasi dialektis antara alam dengan manusia. Oleh karena itu
manusia tidak pernah tetap, artinya manusia tidak pernah berada dalam
kehidupan dan perilaku yang tetap antara yang baik dan yang jahat,
sehat jasmani dan rohani .

Manusia yang sehat dalam pandangan Orang Karo adalah manusia yang
ada dalam keseimbangan dalam dan keseimbangan luar. Keseimbangan dalam
mencakup lima unsur penting yang ada dalam diri manusia, yakni: tubuh,
nafas, pikiran, jiwa dan hati. Kelima unsur ini harus terintegrasi dan
hubungan antara satu dan yang lain harus seimbang, jika tidak maka
dalam diri orang itu timbul penyakit. Keseimbangan luar mencakup relasi
personal dengan individu lain, yang mencaku keseimbangan antara nilai
kehidupan sosial (rakut si telu), keseimbangan terhadap lingkungan
(alam), dan keseimbangan terhadap yang bersifat transendental
(kerohanian, religiositas). Dengan demikian manusia dalam pandangan
Orang Karo bersifat holistik, utuh menyeluruh, jika ada di dalam
dirinya keseimbangan intern dan ekstern, dan hal inilah yang menadi
salah satu tujuan hidup Orang Karo.

Untuk mewujudkan tujuan tersebut, Orang Karo menciptakan berbagai
ungkapan dan kata-kata yang dapat dipakai sebagai pegangan hidup dalam
pergaulan dan aktivitas hidup setiap hari. Ungkapan-ungkapan itu
dituliskan dalam alat-alat rumah tangga yang dipakai setiap hari atau
di tempat-tempat lain yang mudah dilihat, seperti tulisan endi-enta
(memberi-menerima) dalam sendok sayur yang terbuat dari bambu disebut
surat ukat. Maksudnya terlebih dahulu memberi kemudian menerima.
Tulisan ini mengandung arti yang cukup dalam mengenai hubungan antara
sesama agar ia diterima dan dihargai di dalam masyarakat .

Ada juga petuah yang berbetuk cerita yang disenandungkan yang
mengisahkan penderitaan hidup mereka di masa lalu. Ha lini dilakukan
agar anak-anak mereka tahu mengambil sikap dan tindakan bila berhadapan
dengan tantangan hidup yang berat. Ungkpan seperti itu disebut
bilang-bilang .

Selain itu bila berhadapan dengan suatu masalah, Orang Karo tidak
mudah emosional, tetapi terlebih dahulu dipikirkan secara rasional dan
kritis. Sifat kritis inilah yang membuat Orang berpendirian teguh,
karena segala sesuatu itu dipikirkan untung ruginya bagi kehidupan di
kemudian hari. Namun demikian Orang Karo tidak henti-hentinya berusaha
mencari yang terbaik bagi perkembangan hidup dan anak-anaknya.

Dengan demikian nampak bahwa Orang Karo mempunyai pandangan jauh
ke depan. Hal ini nampak dalam wujud kebudayaan yang diciptakannya,
seperti konstruksi rumah adat, yang dapat ditempati oleh delapan
keluarga. Dalam rumah adat itu terdapat ukiran-ukiran pada dinding yang
mempunyai arti dan simbolis tertentu, melambangkan suatu pesan,
gagasan, harapan dan kenangan. Hal ini semua menunjukkan bagaimana
mereka harus berhubungan antara yang satu dan yang lain.

5. Hubungan dengan manusia, alam dan Yang Adikodrati

Dasar peradatan Orang Karo adalah sangkep nggeluh, yang merupakan
idealitas identitas kehidupan mereka. Identitas hidup Orang Karo
tercakup dalam merga si lima (memiliki lima marga: Karo-Karo, Tarigan,
Ginting, Sembiring, dan Perangin-angin dengan cabangnya masing-masing);
rakut si telu (kalimbubu, anak beru, senina), sistem kekerabatan dalam
menjalankan adat; memiliki bahasa sendiri yakni bahasa Karo; ada daerah
yang menadi tempat tinggal mereka, yaitu Tanah Karo Simalem;
melaksanakan tutur si waluh (tinggi rendahnya tata pergaulan dalam
masyarakat Karo) berdasarkan merga si lima dan menjalankannya dalam
adat Karo. Ha lini hanya dapat terlaksana dengan baik jika sangkep
nggeluh dalam hidup mereka telah lengkap. Oleh karena sangkep nggeluh
ini menadi idealitas identitas Orang Karo. Suatu cita-cita ideal yang
hendak di capai dengan sempurna dan nyata dalam hidup .

Pengertian sangkep nggeluh adalah: nggeluh artinya hidup, sangkep
adalah kepenuhan, maka sangkep nggeluh adalah kepenuhan dalam hidup,
sempurna, lengkap semua apa yang seharusnya ada sebagaimana layaknya
hidup suatu keluarga. Ada anak laki-laki dan perempuan lengkap dengan
hubungan kekerabatannya. Sikap yang paling fundamental dalam sangkep
nggeluh ini adalah mehamat erkalimbubu (hormat terhadap kalimbubu);
medes ersenina (sikap solider dan toleran terhadap sesama saudara);
metami eranak beru (sabar dan menyanyangi anak beru sebagai pelaksana
dalam setiap kegiatan). Dengan demikian dalam sangkep nggeluh ini telah
terpenuhi semua bagian-bagian adat yang harus dilaksanakan dalam suatu
aktivitas hidup. Sangkep nggeluh ini sebagai pengikat antara sesama
manusia untuk saling tolong menolong dan kasih mengasihi serta mendapat
pasu-pasu (rahnat dan berkat) dari yang Mahakuasa.

Melalui sangkep nggeluh ini, Orang Karo membina relasinya dengan sesama dengan alam dan Yang Adikodrati.

5.1. Relasi dengan sesama manusia

Dalam kehidupan Orang Karo, hubungan kekerabatan menadi unsur
terpenting, yang berhubungan dengan semua aspek kehidupan. Hubungan
kekerabatan ini terjadi dalam marga yang diikat oleh adat. Dasar dari
hubungan kekerabatan ini berdasarkan hubungan darah yang dihitung
menurut garis pihak laki-laki, karena Orang Karo menganut prinsip
patrilineal. Kelompok kekerabatan yang paling kecil disebut jabu
(keluarga). Istilah jabu dapat juga menunjuk kepada kelompok sada bapa
(satu ayah) yaitu kelompok kekerabatan yang terdiri atas para pria
sekandung yang telah menikah, dan kelompok sada nini (satu kakek) yang
masih dapat diketahui garis silsilahnya. Kelompok kekerabatan yang
terbesar adalah merga (marga, klen).

Asal usul merga diturunkan dari me-her-ga, artinya mempunyai
harga atau kuasa. Menurut cerita rakyat yang dikumpulkan oleh P.
Tamboen, dalam usahanya mendalami adat-istiadat Karo, meherga adalah
nama nenek moyang Orang Karo, yang dahulu mempunyai kekuasaan atas
rakyat dan keturunannya. Kekuasaannya sangat termasyur karena
kemampuannya mengatur serta mengendalikan masyarakat. Meherga mempunyai
lima orang anak laki-laki, yaitu: Karo-Karo, Tarigan, Ginting,
Sembiring dan Perangin-angin. Nama kelima orang inilah kemudian menjadi
merga (marga) dan ciri identitas yang dipakai Orang Karo turun temurun.
Kemudian kelima merga itu mempunyai cabangnya masing-masing, yakni:
Karo-Karo memiliki 18 cabang, Tarigan 13 cabang, Ginting 16 cabang,
Sembiring 18 cabang dan Perangin-angin 18 cabang. Semua adat-istiadat,
tutur (tinggi rendahnya derajat/gradus dalam tata pergaulan umum) dan
norma-norma etis masyarakat ditentukan berdasarkan kelima merga
tersebut. Atas dasar merga ini pula ditentukan hukum-hukum perkawinan.
Orang-orang dari marga yang sama tidak boleh saling mengawini .

Fungsi sosial dalam hubungan kekerabatan dikenal dengan merga
silima, rakut sitelu, tutur siwaluh, dan pervade-kadeen sisepuluh dua.
Rakut sitelu – kalimbubu-anak beru-senina – merupakan fungsi
pengelompokan aktivitas sosial, ia merupakan penjelmaan dari seluruh
kehadiran fungsi-fungsi sosial dalam masyarakat. Dalam rakut sitelu
seluruh unsur fungsi sosial telah berkelompok, sehingga masing-masing
individu mengetahui peran, status dan kedudukannya dalam masyarakat
umum dengan jelas. Artinya, ada atau tidak ada kegiatan masing-masing
kelompok sudah mengerti akan tugas-tugas dan tanggung jawabnya. Anak
beru merupakan kelompok kerja, pengatur pelaksana dan pengendali setiap
kegiatan. Senina merupakan kelompok pemilik kegiatan dan tugas mereka
melimpahkan wewenangnya kepada anak beru. Kalimbubu sebagai orang yang
dimuliakan, ia bertindak sebagai penasehat, pemberi saran, petunjuk,
bimbingan kepada anak beru dan senina. Untuk mengetahui peran, status
dan kedudukan seseorang dalam masyarakat itu dilakukan dengan ertutur
(perkenalan untuk mengetahui tinggi rendahnya derajat/gradus sesorang
dalam tata pergaulan umum). Artinya perlu diketahui bagaimana kedudukan
yang satu dengan yang lain. Apabila ia sudah mengetahui tutur mereka
antara yang satu dan yang lain, maka ia juga harus mengetahui bagaimana
sifat tutur itu dan fungsi kekeluargaannya. Dalam hal ini tutur si
waluh menyatakan fungsi sosial, dan perkade-kaden sepuluh dua
menyatakan kekeluargaan.

5.2. Relasi dengan alam

Orang Karo tradisional mempunyai kepercayaan terhadap makhluk
Pencipta yang menguasai dirinya dan mereka harus menyembah Sang
Pencipta seluruh alam semesta beserta isinya. Menurut pandangan orang
Karo mereka harus menjaga ciptaan Sang Pencipta dan tidak boleh
sembarangan disebutkan. Sebab menurut pandangan mereka, manusia
merupakan bagian dari alam; berasal dari alam dan harus kembali ke
alam.

Dalam pandangan orang Karo kejadian manusia, yang berasal dari
alam dapat diterangkan melalui sebuah mantera singkat berikut: “Asap
jadi asap, asap jadi tungga, tungga jadi antu, antu jadi bungi, bungi
jadi busi, busi jadi teras bunga, teras bunga jadi jelma”. Dari mantera
ini jelas dapat dilihat bahwa manusia itu berasal dari alam. Juga dalam
pandangan orang Karo tradisional, tempat di mana tali pusatnya jatuh
merupakan tempat kemulihenna (kembali ke asalnya) .

Dunia di mana manusia hidup dan berkehidupan merupakan
manifestasi Yang Adikodrati. Alam dengan segala yang ada di dalamnya
merupakan tanda kehadiran Yang Ilahi. Oleh karena itu orang Karo sangat
memperhatikan dan menghormati alam tempat ia berada. Mereka tidak
sembarangan memperlakukan alam ini untuk kepentingan diri sendiri.
Sebab alam ini merupakan bagian dari hidupnya. Semua kebutuhan mereka
dipenuhi oleh alam. Maka jika mereka ingin selamat, mereka harus
melestarikan alam; setiap kali memasuki hutan atau membuka lahan
pertanian yang baru, mereka terlebih dahulu mengucapkan tabas-tabas
(mantera) agar roh yang menempati dan menguasai alam itu tidak marah
dan malahan memberkatinya.

5.3. Relasi dengan Yang Adikodrati

Orang Karo mempercayai kekuatan supernatural yang menguasai alam
semesta ini. Mereka mempercayai adanya Allah yang disebut Dibata.
Dialah pencipta alam semesta beserta segala isinya. Orang Karo percaya
bahwa alam semesta ini terbagi dalam tiga bagian, yaitu banua (dunia)
atas, banua tengah dan banua bawah, dan masing-masing banua dikuasai
seorang Dibata (Allah). Penguasa banua atas adalah guru butara yang
bertugas mengatur hidup dan mati semua manusia; memberi apa yang
dibutuhkan dan yang harus dilakukan manusia serta memberi keberanian
kepada manusia. Penguasa banua tengah adalan tuan paduka ni aji yang
bertuga sebagai pemberi dan menganugerahkan anak-anak kepada manusia;
menciptakan manusia selagi dalam kandungan dan memegang pimpinan atas
manusia. Dan penguasa banua bawah adalah tuan banua koling, tugasnya
mengirim cahaya, hari, dan nasib manusia serta memberikan kesuburan
tanah.

Kepercayaan ini tumbuh dari pengalaman hidup mereka sehari-hari,
di mana dalam suka duka hidup mereka menyapa Yang Ilahi untuk mohon
perlindungan dari bahaya yang mengancam; baik dari pihak musuh, bencana
alam, penyakit, roh jahat dan dari pihak manusia yang jahat. Dengan
kata lain, mengenal Yang Numinous, Yang Gaib, Yang Transenden hanya
melalui peristiwa-peristiwa hidup dan gelala-gejala alami yang terjadi
dalam alam semesta ini. Oleh karena itu gambaran mereka tentang Allah,
Yang Adikodrati, Dibata itu sangat diwarnai oleh pikiran, suasana hati,
keinginan, dan kecenderungan mereka.

Dibata yang dikenal orang Karo itu adalah Allah Yang Mahakuasa.
Dibata itu tidak mengadakan komunikasi langsung dengan manusia, tetapi
Dia dipandang sebagai tujuan, pelindung dan penjamin ketertiban alam.
KehendakNya telah tertuang dalam adat-istiadat Karo. Dengan demikian
barang siapa mengemban dan melaksanakan adat dengan baik, berarti ia
telah melakukan pemujaan terhadap Dibata dan membina relasi yang
harmonis denganNya. Oleh karena itu semua kegiatan yang bersifat
religius dilaksanakan dalam adat.

6. Kesimpulan

Orang Karo adalah salah satu suku bangsa yang ada di Sumatera
Utara bagian Timur. Mereka mendiami daerah induk disepamjang pegunungan
Bukit Barisan yang meliputi Dataran Tingi Karo, Deli Serdang, Langkat,
Dairi, Simalungun, dan aceh Tenggara (Alas). Mereka ini memiliki
adat-istiadat, bahasa dan aksara sendiri. Istilah “karo” menurut
beberapa sumber yang dihimpun oleh para ahli berasal dari kata ha-roh
(ha=pertama, roh=datang), Qarau (bhs. Arab: telah diajari membaca dan
sembahyang), ke’ra (tanah tinggi yang keras), aru atao haru (nama
sebuah tempat, pulau), dan kar’o (dunia bulat). Kemudian kata-kata
tersebut berubah menadi hanya kata “Karo”.

Asal usul nenek moyang orang Karo menurut ipotesa para ahli
berasal dari Hindia Belakang yang bermigrasi ke arah Selatan sekitar
abad VIII SM. Pada umumnya daerah yang didiami orang karo merupakan
daerah subur. Oleh karena itu mata pencaharian mereka yang utama adalah
bertani. Orang Karo memiliki peradaban yang cukup tinggi. Wujud dan
bentuk kebudayaan Karo mempunyai bentuk dan nilai tersendiri, yang
memberikan corak dan karakteristik tertentu, baik dalam tingkah laku,
pola hidup, sistem pergaulan, dan kebiasaan-kebiasaan yang menunjukkan
mereka sebagai suku yang senantiasa bereksistensi.

Situasi dan keadaan alam dengan segala tantangannya turut
mempengaruhi alam pikiran, pandangan hidup, dan hubungan-hubungan
antara orang Karo itu sendiri, yang terwujud dalam adat. Adat merupakan
pedoman hidup mereka yang utama. Dalam adat terkandung prinsip-prinsip
hidup yang mengatur hubungan-hubungan mereka antara yang satu dengan
yang lain agar dapat hidup selaras dengan sesama, alam dan Yang
Adikodrati. Sifat dan kepribadian orang Karo nampak dalam perwatakannya
yang jujur, tegas dan berani, percaya diri, pemalu, tidak serakah dan
tahu hak dan kewajibannya, mudah tersinggung dan dendam, berpendirian
teguh, rasional dan kritis serta gigih mencari ilmu. Sifat dan
kepribadian seperti ini membuat mereka berpikir secara realistis dan
pragmatis.

Dalam falsafah hidup orang Karo, semua orang ikut ambil bagian
dalam melaksanakan kegiatan sesuai dengan fungsi dan kedudukannya dalam
rakut sitelu (kalimbubu. Anak beru, senina). Agar dapat melaksanakan
tuganya masing-masing dengan baik, mereka harus berpedoman pada
kiniteken, kehamaten, megenggeng, metenget, dan tek man Dibata sebagai
pegangan dalam hidup. Dasar dari semua ini adalah sangkep nggeluh
sebagai idealitas identitas orang Karo yang mengikat dan menunjukkan
mereka dalam hubungan kekerabatan dan kekeluargaan yang divina dalam
adat-istiadat sedemikian rupa sehingga menadi suatu ikatan yang utuh
menyeluruh untuk mempersatukan mereka antara yang satu dan yang lain
melalui merga si lima, rakut sitelu, tutur siwaluh dan pervade-kaden
sepuluhdua.

Dengan demikian, mereka dapat hidup damai dan aman di dalam alam
semesta ini, yang merupakan anugerah Sang Pencipta bagi mereka. Alam
merupakan manifestasi dan tanda kehadiran Yang Adikodrati di antara
manusia, dan kehidupan mereka tergantung dari alam. Manusia berasal
dari alam dan kembali ke alam. Oleh karena itu mereka sangat
menghormati dan memelihara alam ini. Mereka menjaga kelestariannya dan
mengolahnya tanpa merusaknya, tetapi menyesuaikan diri dengan alam,
agar terjadi keselarasan antara manusia dan alamnya.

Dengan demikian, orang Karo percaya terhadap adanya Dibata Yang
Mahakuasa pencipta langit dan bumi dan segala isinya. Kekuasaan Dibata
itu begitu besar dan dahsyat, sehingga manusia tidak mungkin
berhubungan langsung denganNya. Tetapi diyakini bahwa Dibata itu
melindungi dan menjamin keselamatan manusia, dan kehendaknya tertuang
dalam adat-istiadat. Oleh karena itu barang siapa yang mengemban dan
melaksanakan adat itu dengan baik, ia telah melakukan pemujaan dan
berhubunngan secara harmonis dengan Sang Penciptanya.


sumber : http://rolsan.blog.friendster.com



























































Budaya Karoshi, Budaya Karo - sejarah marga-marga, Budaya Karo ibas terang kata dibata, Budaya Karo kerja tahun, Budaya Karo pdf, budaya batak karo, sejarah Budaya Karo, seni Budaya Karo, budaya adat karo, budaya tanah karo, artikel Budaya Karo, budaya suku batak karo, lagu budaya batak Karo mp3 download, budaya adat batak karo, sejarah budaya batak karo, seni budaya batak karo, Perkembangan budaya batak karo, makalah budaya batak karo, unsur budaya batak karo, cerita Budaya Karo, contoh Budaya Karo, budaya daerah karo, filsafat Budaya Karo, jenis Budaya Karo, budaya kabupaten karo, budaya khas karo, budaya kalak karo, sosial budaya kabupaten karo, kesenian budaya karo, gambaran sosial budaya kabupaten karo, keragaman budaya karo, lagu budaya karo, mengenal budaya karo, makalah Budaya Karo, budaya orang karo, pengertian Budaya Karo, pantun Budaya Karo, radio Budaya Karo, pesta Budaya Karo, acara Budaya Karo, musik Budaya Karo, situs Budaya Karo, situs Budaya Karo, website Budaya Karo, tarian Budaya Karo, tenah Budaya Karo, tentang budaya karo.
mp3 lagu karo, lirik lagu karo, lagu karo mp3, lagu perjabun, lagu pengantin mp3, lagu pengantin teks, lirik lagu pengantin karo, download lagu karo, festival lagu karo, teks lagu karo, lagu pengantin karo, lagu pengantin karo mp3, gratis dowload lagu karo, 
Masyarakat karo tempo dulu, Masyarakat karo terobos mendagri,  Masyarakat karo demo bupati, himpunan Masyarakat karo indonesia, tokoh Masyarakat karo, demo Masyarakat karo, sejarah Masyarakat karo, tradisi Masyarakat karo, cerita masyarakat karo, legenda Masyarakat karo, masyarakat adat karo, agama Masyarakat karo, himpunan Masyarakat karo, karakteristik Masyarakat karo, kepercayaan Masyarakat karo, karakter Masyarakat karo, kekerabatan Masyarakat karo, asal usul Masyarakat karo, latar belakang Masyarakat karo, sistem kekerabatan Masyarakat karo, organisasi Masyarakat karo, masyarakat tanah karo.

aksara dan rumah karo

aksara dan rumah karo



aksara karo



Aksara Karo ini adalah aksara kuno yang dipergunakan oleh masyarakat Karo, akan tetapi pada saat ini penggunaannya sangat terbatas sekali bahkan hampir tidak pernah digunakan lagi.






































Budaya Karoshi, Budaya Karo - sejarah marga-marga, Budaya Karo ibas terang kata dibata, Budaya Karo kerja tahun, Budaya Karo pdf, budaya batak karo, sejarah Budaya Karo, seni Budaya Karo, budaya adat karo, budaya tanah karo, artikel Budaya Karo, budaya suku batak karo, lagu budaya batak Karo mp3 download, budaya adat batak karo, sejarah budaya batak karo, seni budaya batak karo, Perkembangan budaya batak karo, makalah budaya batak karo, unsur budaya batak karo, cerita Budaya Karo, contoh Budaya Karo, budaya daerah karo, filsafat Budaya Karo, jenis Budaya Karo, budaya kabupaten karo, budaya khas karo, budaya kalak karo, sosial budaya kabupaten karo, kesenian budaya karo, gambaran sosial budaya kabupaten karo, keragaman budaya karo, lagu budaya karo, mengenal budaya karo, makalah Budaya Karo, budaya orang karo, pengertian Budaya Karo, pantun Budaya Karo, radio Budaya Karo, pesta Budaya Karo, acara Budaya Karo, musik Budaya Karo, situs Budaya Karo, situs Budaya Karo, website Budaya Karo, tarian Budaya Karo, tenah Budaya Karo, tentang budaya karo.

mp3 lagu karo, lirik lagu karo, lagu karo mp3, lagu perjabun, lagu pengantin mp3, lagu pengantin teks, lirik lagu pengantin karo, download lagu karo, festival lagu karo, teks lagu karo, lagu pengantin karo, lagu pengantin karo mp3, gratis dowload lagu karo, 
Masyarakat karo tempo dulu, Masyarakat karo terobos mendagri,  Masyarakat karo demo bupati, himpunan Masyarakat karo indonesia, tokoh Masyarakat karo, demo Masyarakat karo, sejarah Masyarakat karo, tradisi Masyarakat karo, cerita masyarakat karo, legenda Masyarakat karo, masyarakat adat karo, agama Masyarakat karo, himpunan Masyarakat karo, karakteristik Masyarakat karo, kepercayaan Masyarakat karo, karakter Masyarakat karo, kekerabatan Masyarakat karo, asal usul Masyarakat karo, latar belakang Masyarakat karo, sistem kekerabatan Masyarakat karo, organisasi Masyarakat karo, masyarakat tanah karo.

Lambang Karo

Lambang Karo




PIJER PODI, Lambang persatuan dan kesatuan masyarakat Karo

UIS BEKA BULUH, Lambang kepemimpinan
BINTANG LIMA, Melambangkan bahwa suku Karo terdiri dari lima merga, kemudian dipadukan dengan tiang bambu yagn terdiri dari empat buah sehingga menyatu dengan tahun Kemerdekaan R.I
PADI, Melambangkan Kemakmuran yang terdiri dari 17 butir sesuai dengan tanggal kemerdekaan R.I
BUNGA KAPAS, Lambang keadilan sosial, cukup sandang pangan yagn terdiri dari 8 buah sesuai dengan bulan kemerdekaan R.I
KEPALA KERBAU, Melambangkan semangat kerja dan keberanian
TUGU BAMBU RUNCING, Melambangkan patriotisme dan kepahlawanan dalam merebut dan mempertahankan Negara Kesatuan R.I
MARKISA, KOL dan JERUK, Melambangkan hasil pertanian spesifik Karo yagn memberikan sumber kehidupan bagi masyarakat Karo
JAMBUR SAPO PAGE, Melambangkan sifat masyarakat Karo yagn suka menabung (tempat menyimpan padi)
UIS ARINTENENG, Lambang kesentosaan
RUMAH ADAT KARO, Melambangkan ketegaran seni, adat dan budaya Karo












































Budaya Karoshi, Budaya Karo - sejarah marga-marga, Budaya Karo ibas terang kata dibata, Budaya Karo kerja tahun, Budaya Karo pdf, budaya batak karo, sejarah Budaya Karo, seni Budaya Karo, budaya adat karo, budaya tanah karo, artikel Budaya Karo, budaya suku batak karo, lagu budaya batak Karo mp3 download, budaya adat batak karo, sejarah budaya batak karo, seni budaya batak karo, Perkembangan budaya batak karo, makalah budaya batak karo, unsur budaya batak karo, cerita Budaya Karo, contoh Budaya Karo, budaya daerah karo, filsafat Budaya Karo, jenis Budaya Karo, budaya kabupaten karo, budaya khas karo, budaya kalak karo, sosial budaya kabupaten karo, kesenian budaya karo, gambaran sosial budaya kabupaten karo, keragaman budaya karo, lagu budaya karo, mengenal budaya karo, makalah Budaya Karo, budaya orang karo, pengertian Budaya Karo, pantun Budaya Karo, radio Budaya Karo, pesta Budaya Karo, acara Budaya Karo, musik Budaya Karo, situs Budaya Karo, situs Budaya Karo, website Budaya Karo, tarian Budaya Karo, tenah Budaya Karo, tentang budaya karo.
mp3 lagu karo, lirik lagu karo, lagu karo mp3, lagu perjabun, lagu pengantin mp3, lagu pengantin teks, lirik lagu pengantin karo, download lagu karo, festival lagu karo, teks lagu karo, lagu pengantin karo, lagu pengantin karo mp3, gratis dowload lagu karo, 
Masyarakat karo tempo dulu, Masyarakat karo terobos mendagri,  Masyarakat karo demo bupati, himpunan Masyarakat karo indonesia, tokoh Masyarakat karo, demo Masyarakat karo, sejarah Masyarakat karo, tradisi Masyarakat karo, cerita masyarakat karo, legenda Masyarakat karo, masyarakat adat karo, agama Masyarakat karo, himpunan Masyarakat karo, karakteristik Masyarakat karo, kepercayaan Masyarakat karo, karakter Masyarakat karo, kekerabatan Masyarakat karo, asal usul Masyarakat karo, latar belakang Masyarakat karo, sistem kekerabatan Masyarakat karo, organisasi Masyarakat karo, masyarakat tanah karo.

SISTEM KEKERABATAN SUKU KARO

Marga

Suku Karo memiliki sistem kemasyarakatan atau adat yang dikenal dengan nama merga silima, tutur siwaluh, dan rakut sitelu. Masyarakat Karo mempunyai sistem marga (klan). Marga atau dalam bahasa Karo disebut merga tersebut disebut untuk laki-laki, sedangkan untuk perempuan yang disebut beru. Merga atau beru ini disandang di belakang nama seseorang. Merga dalam masyarakat Karo terdiri dari lima kelompok, yang disebut dengan merga silima, yang berarti marga yang lima. Kelima merga tersebut adalah:


  1. Karo-karo
  2. Tarigan
  3. Ginting
  4. Sembiring
  5. Perangin-angin
Kelima merga ini masih mempunyai submerga masing-masing. Setiap orang Karo mempunyai salah satu dari merga tersebut. Merga diperoleh secara otomatis dari ayah. Merga ayah juga merga anak. Orang yang mempunyai merga atau beru yang sama, dianggap bersaudara dalam arti mempunyai nenek moyang yang sama. Kalau laki-laki bermarga sama, maka mereka disebut (b)ersenina, demikian juga antara perempuan dengan perempuan yang mempunyai beru sama, maka mereka disebut juga (b)ersenina. Namun antara seorang laki-laki dengan perempuan yang bermerga sama, mereka disebut erturang, sehingga dilarang melakukan perkawinan, kecuali pada merga Sembiring dan Peranginangin ada yang dapat menikah diantara mereka.

Rakut Sitelu

Hal lain yang penting dalam susunan masyarakat Karo adalah rakut sitelu atau daliken sitelu (artinya secara metaforik adalah tungku nan tiga), yang berarti ikatan yang tiga. Arti rakut sitelu tersebut adalah sangkep nggeluh (kelengkapan hidup) bagi orang Karo. Kelengkapan yang dimaksud adalah lembaga sosial yang terdapat dalam masyarakat Karo yang terdiri dari tiga kelompok, yaitu:
  1. kalimbubu
  2. anak beru
  3. senina
Kalimbubu dapat didefinisikan sebagai keluarga pemberi isteri, anak beru keluarga yang mengambil atau menerima isteri, dan senina keluarga satu galur keturunan merga atau keluarga inti.


Tutur Siwaluh

Tutur siwaluh adalah konsep kekerabatan masyarakat Karo, yang berhubungan dengan penuturan, yaitu terdiri dari delapan golongan:
  1. puang kalimbubu
  2. kalimbubu
  3. senina
  4. sembuyak
  5. senina sipemeren
  6. senina sepengalon/sedalanen
  7. anak beru
  8. anak beru menteri
Dalam pelaksanaan upacara adat, tutur siwaluh ini masih dapat dibagi lagi dalam kelompok-kelompok lebih khusus sesuai dengan keperluan dalam pelaksanaan upacara yang dilaksanakan, yaitu sebagai berikut:
  1. Puang kalimbubu adalah kalimbubu dari kalimbubu seseorang
  2. Kalimbubu adalah kelompok pemberi isteri kepada keluarga tertentu, kalimbubu ini dapat dikelompokkan lagi menjadi:
    • Kalimbubu bena-bena atau kalimbubu tua, yaitu kelompok pemberiisteri kepada kelompok tertentu yang dianggap sebagai kelompok pemberi isteri adal dari keluarga tersebut. Misalnya A bermerga Sembiring bere-bere Tarigan, maka Tarigan adalah kalimbubu Si A. Jika A mempunyai anak, maka merga Tarigan adalah kalimbubu bena-bena/kalimbubu tua dari anak A. Jadi kalimbubu bena-bena atau kalimbubu tua adalah kalimbubu dari ayah kandung.
    • Kalimbubu simada dareh adalah berasal dari ibu kandung seseorang. Kalimbubu simada dareh adalah saudara laki-laki dari ibu kandung seseorang. Disebut kalimbubu simada dareh karena merekalah yang dianggap mempunyai darah, karena dianggap darah merekalah yang terdapat dalam diri keponakannya.
    • Kalimbubu iperdemui, berarti kalimbubu yang dijadikan kalimbubu oleh karena seseorang mengawini putri dari satu keluarga untuk pertama kalinya. Jadi seseorang itu menjadi kalimbubu adalah berdasarkan perkawinan.
  3. Senina, yaitu mereka yang bersadara karena mempunyai merga dan submerga yang sama.
  4. Sembuyak, secara harfiah se artinya satu dan mbuyak artinya kandungan, jadi artinya adalah orang-orang yang lahir dari kandungan atau rahim yang sama. Namun dalam masyarakat Karo istilah ini digunakan untuk senina yang berlainan submerga juga, dalam bahasa Karo disebut sindauh ipedeher (yang jauh menjadi dekat).
  5. Sipemeren, yaitu orang-orang yang ibu-ibu mereka bersaudara kandung. Bagian ini didukung lagi oleh pihak siparibanen, yaitu orang-orang yang mempunyai isteri yang bersaudara.
  6. Senina Sepengalon atau Sendalanen, yaitu orang yang bersaudara karena mempunyai anak-anak yang memperisteri dari beru yang sama.
  7. Anak beru, berarti pihak yang mengambil isteri dari suatu keluarga tertentu untuk diperistri. Anak beru dapat terjadi secara langsung karena mengawini wanita keluarga tertentu, dan secara tidak langsung melalui perantaraan orang lain, seperti anak beru menteri dan anak beru singikuri.Anak beru ini terdiri lagi atas:
    • anak beru tua, adalah anak beru dalam satu keluarga turun temurun. Paling tidak tiga generasi telah mengambil isteri dari keluarga tertentu (kalimbubunya). Anak beru tua adalah anak beru yang utama, karena tanpa kehadirannya dalam suatu upacara adat yang dibuat oleh pihak kalimbubunya, maka upacara tersebut tidak dapat dimulai. Anak beru tua juga berfungsi sebagai anak beru singerana (sebagai pembicara), karena fungsinya dalam upacara adat sebagai pembicara dan pemimpin keluarga dalam keluarga kalimbubu dalam konteks upacara adat.
    • Anak beru cekoh baka tutup, yaitu anak beru yang secara langsung dapat mengetahui segala sesuatu di dalam keluarga kalimbubunya. Anak beru sekoh baka tutup adalah anak saudara perempuan dari seorang kepala keluarga. Misalnya Si A seorang laki-laki, mempunyai saudara perempuan Si B, maka anak Si B adalah anak beru cekoh baka tutup dari Si A. Dalam panggilan sehari-hari anak beru disebut juga bere-bere mama.
  8. Anak beru menteri, yaitu anak berunya anak beru. Asal kata menteri adalah dari kata minteri yang berarti meluruskan. Jadi anak beru minteri mempunyai pengertian yang lebih luas sebagai petunjuk, mengawasi serta membantu tugas kalimbubunya dalam suatu kewajiban dalam upacara adat. Ada pula yang disebut anak beru singkuri, yaitu anak berunya anak beru menteri. Anak beru ini mempersiapkan hidangan dalam konteks upacara adat.
Perkaden-kaden Sepuluh Dua:
- Nini
- Bulang
- Kempu
- Bapa
- Nande
- Anak
- Bengkila
- Bibi
- Permen
- Mama
- Mami
- Bere-bere
Dalam perkembangannya, adat Suku Bangsa Karo terbuka, dalam arti bahwa Suku Bangsa Indonesia lainnya dapat diterima menjadi Suku Bangsa Karo dengan beberapa persyaratan adat.
Masyarakat Karo terkenal dengan semangat keperkasaannya dalam pergerakan merebut Kemerdekaan Indonesia, misalnya pertempuran melawan Belanda, Jepang, politik bumi hangus. Semangat patriotisme ini dapat kita lihat sekarang dengan banyaknya makam para pahlawan di Taman Makam Pahlawan di Kota Kabanjahe yang didirikan pada tahun 1950.
Penduduk Kabupaten Karo adalah dinamis dan patriotis serta taqwa kepada Tuhan Yang Esa. Masyarakat Karo kuat berpegang kepada adat istiadat yang luhur, merupakan modal yang dapat dimanfaatkan dalam proses pembangunan.Dalam kehidupan masyarakat Karo, idaman dan harapan (sura-sura pusuh peraten) yang ingin diwujudkan adalah pencapaian 3 (tiga) hal pokok yang disebut Tuah, Sangap, dan Mejuah-juah.
Tuah berarti menerima berkah dari Tuhan Yang Maha Esa, mendapat keturunan, banyak kawan dan sahabat, cerdas, gigih, disiplin dan menjaga kelestarian sumberdaya alam dan lingkungan hidup untuk generasi yang akan datang.
Sangap berarti mendapat rejeki, kemakmuran bagi pribadi, bagi anggota keluarga, bagi masyarakat serta bagi generasi yang akan datang.
Mejuah-juah berarti sehat sejahtera lahir batin, aman, damai, bersemangat serta keseimbangan dan keselarasan antara manusia dan manusia, antara manusia dan lingkungan, dan antara manusia dengan Tuhannya. Ketiga hal tersebut adalah merupakan satu kesatuan yang bulat yang tidak dapat dipisah-pisahkan satu sama lain.








































































Budaya Karoshi, Budaya Karo - sejarah marga-marga, Budaya Karo ibas terang kata dibata, Budaya Karo kerja tahun, Budaya Karo pdf, budaya batak karo, sejarah Budaya Karo, seni Budaya Karo, budaya adat karo, budaya tanah karo, artikel Budaya Karo, budaya suku batak karo, lagu budaya batak Karo mp3 download, budaya adat batak karo, sejarah budaya batak karo, seni budaya batak karo, Perkembangan budaya batak karo, makalah budaya batak karo, unsur budaya batak karo, cerita Budaya Karo, contoh Budaya Karo, budaya daerah karo, filsafat Budaya Karo, jenis Budaya Karo, budaya kabupaten karo, budaya khas karo, budaya kalak karo, sosial budaya kabupaten karo, kesenian budaya karo, gambaran sosial budaya kabupaten karo, keragaman budaya karo, lagu budaya karo, mengenal budaya karo, makalah Budaya Karo, budaya orang karo, pengertian Budaya Karo, pantun Budaya Karo, radio Budaya Karo, pesta Budaya Karo, acara Budaya Karo, musik Budaya Karo, situs Budaya Karo, situs Budaya Karo, website Budaya Karo, tarian Budaya Karo, tenah Budaya Karo, tentang budaya karo.
mp3 lagu karo, lirik lagu karo, lagu karo mp3, lagu perjabun, lagu pengantin mp3, lagu pengantin teks, lirik lagu pengantin karo, download lagu karo, festival lagu karo, teks lagu karo, lagu pengantin karo, lagu pengantin karo mp3, gratis dowload lagu karo, 
Masyarakat karo tempo dulu, Masyarakat karo terobos mendagri,  Masyarakat karo demo bupati, himpunan Masyarakat karo indonesia, tokoh Masyarakat karo, demo Masyarakat karo, sejarah Masyarakat karo, tradisi Masyarakat karo, cerita masyarakat karo, legenda Masyarakat karo, masyarakat adat karo, agama Masyarakat karo, himpunan Masyarakat karo, karakteristik Masyarakat karo, kepercayaan Masyarakat karo, karakter Masyarakat karo, kekerabatan Masyarakat karo, asal usul Masyarakat karo, latar belakang Masyarakat karo, sistem kekerabatan Masyarakat karo, organisasi Masyarakat karo, masyarakat tanah karo.



SEKILAS TENTANG KARO DAN SEKITARNYA

Batak Karo adalah suku asli yang mendiami Dataran Tinggi Karo, Kabupaten Deli Serdang, Kota Binjai, Kabupaten Langkat, Kabupaten Dairi, Kota Medan, dan Kabupaten Aceh Tenggara. Nama suku ini dijadikan salah satu nama kabupaten di salah satu wilayah yang mereka diami (dataran tinggi Karo) yaitu Kabupaten Karo. Suku ini memiliki bahasa sendiri yang disebut Bahasa Karo. Suku Karo mempunyai sebutan sendiri untuk orang Batak yaitu Kalak Teba umumnya untuk Batak Tapanuli. Pakaian adat suku Karo didominasi dengan warna merah serta hitam dan penuh dengan perhiasan emas.

Eksistensi Kerajaan Haru-Karo


Kerajaan Haru-Karo mulai menjadi kerajaan besar di Sumatera, namun tidak diketahui secara pasti kapan berdirinya. Namun demikian, Brahma Putra, dalam bukunya "Karo dari Zaman ke Zaman" mengatakan bahwa pada abad 1 Masehi sudah ada kerajaan di Sumatera Utara yang rajanya bernama "Pa Lagan". Menilik dari nama itu merupakan bahasa yang berasal dari suku Karo. Mungkinkah pada masa itu kerajaan haru sudah ada?, hal ini masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.(Darman Prinst, SH:2004)
Kerajaan Haru-Karo diketahui tumbuh dan berkembang bersamaan waktunya dengan kerajaan Majapahit, Sriwijaya, Johor, Malaka dan Aceh. Terbukti karena kerajaan Haru pernah berperang dengan kerajaan-kerajaan tersebut.

Kerajaan Haru identik dengan suku Karo,yaitu salah satu suku di Nusantara. Pada masa keemasannya, kerajaan Haru-Karo mulai dari Aceh Besar hingga ke sungai Siak di Riau. Eksistensi Haru-Karo di Aceh dapat dipastikan dengan beberapa nama desa di sana yang berasal dari bahasa Karo. Misalnya Kuta Raja (Sekarang Banda Aceh), Kuta Binjei di Aceh Timur, Kuta Karang, Kuta Alam, Kuta Lubok, Kuta Laksmana Mahmud, Kuta Cane, Blang Kejeren, dan lainnya. (D.Prinst, SH: 2004)

Terdapat suku Karo di Aceh Besaryang dalam logat Aceh disebut Karee. Keberadaan suku Haru-Karo di Aceh ini diakui oleh H. Muhammad Said dalam bukunya "Aceh Sepanjang Abad", (1981). Beliau menekankan bahwa penduduk asli Aceh Besar adalah keturunan mirip Batak. Namun tidak dijelaskan keturunan dari batak mana penduduk asli tersebut. Sementara itu, H. M. Zainuddin dalam bukunya "Tarikh Aceh dan Nusantara" (1961) dikatakan bahwa di lembah Aceh Besar disamping Kerajaan Islam ada kerajaan Karo. Selanjunya disebutkan bahwa penduduk asli atau bumi putera dari Ke-20 Mukim bercampur dengan suku Karo yang dalam bahasa Aceh disebut Karee. Brahma Putra, dalam bukunya "Karo Sepanjang Zaman" mengatakan bahwa raja terakhir suku Karo di Aceh Besar adalah Manang Ginting Suka.

Kelompok karo di Aceh kemudian berubah nama menjadi "Kaum Lhee Reutoih" atau kaum tiga ratus. Penamaan demikian terkait dengan peristiwa perselisihan antara suku Karo dengan suku Hindu di sana yang disepakati diselesaikan dengan perang tanding. Sebanyak tiga ratus (300) orang suku Karo akan berkelahi dengan empat ratus (400) orang suku Hindu di suatu lapangan terbuka. Perang tanding ini dapat didamaikan dan sejak saat itu suku Karo disebut sebagai kaum tiga ratus dan kaum Hindu disebut kaum empat ratus.
Dikemudian hari terjadi pencampuran antar suku Karo dengan suku Hindu dan mereka disebut sebagai kaum Jasandang. Golongan lainnya adalah Kaum Imam Pewet dan Kaum Tok Batee yang merupakan campuran suku pendatang, seperti: Kaum Hindu, Arab, Persia, dan lainnya.

Wilayah Suku Karo

Sering terjadi kekeliruan dalam percakapan sehari-hari di masyarakat bahwa Taneh Karo diidentikkan dengan Kabupaten Karo. Padahal, Taneh Karo jauh lebih luas daripada Kabupaten Karo karena meliputi:

Kabupaten Tanah Karo

Kabupaten Karo terletak di dataran tinggi Tanah Karo. Kota yang terkenal dengan di wilayah ini adalah Brastagi dan Kabanjahe. Brastagi merupakan salah satu kota turis di Sumatera Utara yang sangat terkenal dengan produk pertaniannya yang unggul. Salah satunya adalah buah jeruk dan produk minuman yang terkenal yaitu sebagai penghasil Markisa Jus yang terkenal hingga seluruh nusantara. Mayoritas suku Karo bermukim di daerah pegunungan ini, tepatnya di daerah Gunung Sinabung dan Gunung Sibayak yang sering disebut sebagai atau "Taneh Karo Simalem". Banyak keunikan-keunikan terdapat pada masyarakat Karo, baik dari geografis, alam, maupun bentuk masakan. Masakan Karo, salah satu yang unik adalah disebut trites.Trites ini disajikan pada saat pesta budaya, seperti pesta pernikahan, pesta memasuki rumah baru, dan pesta tahunan yang dinamakan -kerja tahun-. Trites ini bahannya diambil dari isilambung sapi/kerbau, yang belum dikeluarkan sebagai kotoran.Bahan inilah yang diolah sedemikian rupa dicampur dengan bahan rempah-rempah sehingga aroma tajam pada isi lambung berkurang dan dapat dinikmati. Masakan ini merupakan makanan favorit yang suguhan pertama diberikan kepada yang dihormati.

Kota Medan

Pendiri kota Medan adalah seorang putra Karo yaitu Guru Patimpus Sembiring Pelawi.

Kota Binjai

Kota Binjai merupakan daerah yang memiliki interaksi paling kuat dengan kota Medan disebabkan oleh jaraknya yang relatif sangat dekat dari kota Medan sebagai Ibu kota provinsi Sumatera Utara.

Kabupaten Dairi

Wilayah kabupaten Dairi pada umumnya sangat subur dengan kemakmuran masyarakatnya melalui perkebunan kopinya yang sangat berkualitas. Sebagian kabupaten Dairi yang merupakan Taneh Karo:
  • Kecamatan Taneh Pinem
  • Kecamatan Tiga Lingga

Kabupaten Deli Serdang

Sebagian kabupaten Deli Serdang yang merupakan Taneh Karo:
  • Kecamatan Lubuk Pakam
  • Kecamatan Bangun Purba
  • Kecamatan Galang
  • Kecamatan Gunung Meriah
  • Kecamatan Sibolangit
  • Kecamatan Pancur Batu
  • Kecamatan Namo Rambe
  • Kecamatan Sunggal
  • Kecamatan Kuta Limbaru
  • Kecamatan STM Hilir
  • Kecamatan Hamparan Perak
  • Kecamatan Tanjung Morawa
  • Kecamatan Sibiru-biru
  • kecamatan STM Hulu

Kabupaten Langkat

Taneh Karo di kabupaten Langkat meliputi:
  • Kecamatan Selesai
  • Kecamatan Kuala
  • Kecamatan Salapian
  • Kecamatan Bahorok
  • Kecamatan Pd.Tualang (Batang Serangan)
  • Kecamatan Sungai Bingai
  • Kecamatan Stabat

Kabupaten Aceh Tenggara

Taneh Karo di kabupaten Aceh Tenggara meliputi:
  • Kecamatan Lau Sigala-gala (Desa Lau Deski, Lau Perbunga, Lau Kinga)
  • Kecamatan Simpang Simadam


















































Budaya Karoshi, Budaya Karo - sejarah marga-marga, Budaya Karo ibas terang kata dibata, Budaya Karo kerja tahun, Budaya Karo pdf, budaya batak karo, sejarah Budaya Karo, seni Budaya Karo, budaya adat karo, budaya tanah karo, artikel Budaya Karo, budaya suku batak karo, lagu budaya batak Karo mp3 download, budaya adat batak karo, sejarah budaya batak karo, seni budaya batak karo, Perkembangan budaya batak karo, makalah budaya batak karo, unsur budaya batak karo, cerita Budaya Karo, contoh Budaya Karo, budaya daerah karo, filsafat Budaya Karo, jenis Budaya Karo, budaya kabupaten karo, budaya khas karo, budaya kalak karo, sosial budaya kabupaten karo, kesenian budaya karo, gambaran sosial budaya kabupaten karo, keragaman budaya karo, lagu budaya karo, mengenal budaya karo, makalah Budaya Karo, budaya orang karo, pengertian Budaya Karo, pantun Budaya Karo, radio Budaya Karo, pesta Budaya Karo, acara Budaya Karo, musik Budaya Karo, situs Budaya Karo, situs Budaya Karo, website Budaya Karo, tarian Budaya Karo, tenah Budaya Karo, tentang budaya karo.
mp3 lagu karo, lirik lagu karo, lagu karo mp3, lagu perjabun, lagu pengantin mp3, lagu pengantin teks, lirik lagu pengantin karo, download lagu karo, festival lagu karo, teks lagu karo, lagu pengantin karo, lagu pengantin karo mp3, gratis dowload lagu karo, 
Masyarakat karo tempo dulu, Masyarakat karo terobos mendagri,  Masyarakat karo demo bupati, himpunan Masyarakat karo indonesia, tokoh Masyarakat karo, demo Masyarakat karo, sejarah Masyarakat karo, tradisi Masyarakat karo, cerita masyarakat karo, legenda Masyarakat karo, masyarakat adat karo, agama Masyarakat karo, himpunan Masyarakat karo, karakteristik Masyarakat karo, kepercayaan Masyarakat karo, karakter Masyarakat karo, kekerabatan Masyarakat karo, asal usul Masyarakat karo, latar belakang Masyarakat karo, sistem kekerabatan Masyarakat karo, organisasi Masyarakat karo, masyarakat tanah karo.


Sabtu, 02 Mei 2009

Dengue Hemorrhagic fever (DHF)

PENDAHULUAN

Penyakit Dengue Hemorrhagic fever (DHF) merupakan masalah kesehatan di Indonesia. Seluruh wilayah di Indonesia mempunyai resiko untuk terjangkit penyakit DHF, sebab baik virus penyebab maupun nyamuk penularnya sudah tersebar luas. Laporan yang ada sampai saat ini penyakit DHF sudah menjadi masalah yang endemis pada 122 daerah tingkat II, 605 daerah kecamatan dan 1800 desa/kelurahan di Indonesia. Sejak tahun 1968 angka kesakitan rata-rata DHF di Indonesia terus meningkat dari 0,05% (1968) menjadi 14,9% (1997), dengan angka kematian menurun dari 41,3% (1968) menjadi 2,3% (Maret 1998). Namun demikian angka kematian DHF berat/Dengue Shock Syndrome (DSS) masih tetap tinggi.1
Data yang terkumpul dari tahun 1968-1993 menunjukkan DHF dilaporkan terbanyak terjadi pada tahun 1973 sebanyak 10.189 pasien dengan usia pada umumnya di bawah 15 tahun.2,3
Penyakit DHF pertama kali terjadi di Filipina pada tahun 1953, yaitu pada waktu terdapatnya epidemi demam yang menyerang anak disertai manifestasi dan renjatan (syok). Pada tahun 1958, meletus epidemi penyakit serupa di Bangkok. Setelah tahun 1958, penyakit ini dilaporkan berjangkit kembali di Filipina dan tempat-tempat lain di Asia Tenggara. Di Indonesia, DHF pertama kali dicurigai terjadi di Surabaya pada tahun 1968, tetapi konfirmasi virologis baru diperoleh pada tahun 1970.2
Di tahun 1970 terdapat 9 negara epidemik DHF, dan sekarang jumlah itu meningkat 4 kali lipat di sejumlah negara-negara. Saat ini DHF telah menjadi epidemik dibeberapa negara di Afrika, Amerika dan Asia, dimana merupakan penyebab utama kematian anak-anak.3,4,5
Sampai saat ini, dari sekian faktor yang mempengaruhi angka kematian adalah kesukaran menduga penderita DHF mana yang akan mengalami renjatan, renjatan berulang dan berakhir dengan kematian.5
Dalam perjalanan penyakit DHF syok merupakan kejadian yang terpenting, karena menimbulkan akibat yang luas dan fatal. Mekanisme yang mendasari terjadinya syok tersebut adalah peningkatan permeabilitas pembuluh darah, sehingga terjadi hipovolemik dengan curah jantung yang turun. Terjadinya syok merupakan manifestasi mekanisme kompensasi tubuh terhadap kemungkinan terjadinya gagal sirkulasi.3,4

PENCEGAHAN
Sanitasi dan hygiene lingkungan
Memberantas sarang nyamuk
Hindari gigitan nyamuk (seperti memakai kelambu saat tidur, menggunakan obat nyamuk)
Mengisolasikan pasien yang menderita demam berdarah untuk sedikitnya 5 hari
Tidak bepergian ke daerah epidemik DHF


Definisi
Penyakit demam berdarah dengue (DHF) adalah penyakit infeksi virus akut menular yang biasanya menyerang bayi dan anak-anak, disebabkan oleh virus dengue, ditandai dengan gejala klinik yang khas berupa demam tinggi mendadak disertai manifestasi perdarahan dan bertendensi menimbulkan renjatan dan kematian.6,7

Etiologi
Virus dengue tergolong dalam famili Flaviviridae, termasuk ke dalam kelompok arbovirus B. Dikenal 4 serotipe virus dengue yang tidak saling mempunyai imunitas silang. Virus dengue serotipe 1,2,3,4 yang ditularkan melalui vektor nyamuk Aedes aegypti, Aedes albopictus, Aedes polynesiensis, dan beberapa spesies lain merupakan vektor yang kurang berperan. Infeksi dengan salah satu serotipe akan menimbulkan antibodi seumur hidup terhadap serotipe bersangkutan tetapi tidak ada perlindungan terhadap serotipe yang lain.3,5,7,8
Virus dengue berbentuk batang, yang berukuran kecil sekali yaitu sekitar 35-45 nm, bersifat termolabil, sensitif terhadap inaktivasi oleh dietileter dan natrium dioksikolat, stabil pada suhu 70oC.1,9

Faktor risiko
Faktor risiko DHF meliputi anak usia di bawah 15 tahun, status imun, jenis serotipe virus DHF, predisposisi genetik, serta orang-orang yang tinggal di lingkungan yang kumuh dan lembab. Seseorang yang sebelumnya pernah terinfeksi satu atau lebih jenis virus dengue, maka mempunyai risiko tinggi menjadi DHF jika terinfeksi kembali.5,10,11

Patogenesis dan Patofisiologi
Virus dengue memasuki tubuh manusia melalui gigitan nyamuk. Setelah itu disusul oleh periode tenang selama kurang lebih 4 hari, dimana virus melakukan replikasi secara cepat dalam tubuh. Apabila jumlah virus sudah cukup maka virus akan memasuki sirkulasi darah (viraemia), dan akan timbul gejala panas. Dengan adanya virus dengue dalam tubuh, maka tubuh akan memberi reaksi. Reaksi yang amat berbeda akan tampak, bila seseorang mendapat infeksi berulang dengan tipe virus dengue yang berlainan. Berdasarkan hal ini timbullah yang disebut the secondary heterologous infection. Reinfeksi ini akan menyebabkan reaksi amnestik antibodi, sehingga menimbulkan konsentrasi kompleks antigen antibodi (kompleks virus-antibodi) yang tinggi.7,9,12
Kompleks virus-antibodi dalam sirkulasi akan mengaktivasi sistem komplemen. Akibat aktivasi C3 dan C5 akan dilepaskan C3a dan C5a, dua peptida yang berdaya untuk melepaskan histamin dan merupakan mediator kuat sebagai faktor meningginya permeabilitas dinding pembuluh darah dan menghilangnya plasma melalui endotel dinding itu. Disseminated intravascular coagulation (DIC) disamping trombositopenia, menurunnya fungsi trombosit dan menurunnya faktor koagulasi (protrombin, faktor V, VII, IX, X dan fibrinogen) merupakan faktor penyebab terjadinya perdarahan hebat, terutama perdarahan gastrointestinal pada DHF.7,9,12,13
Fenomen patofisiologi utama yang menentukan berat penyakit dan membedakan demam dengue dengan demam berdarah dengue ialah meningginya permeabilitas dinding kapiler karena penglepasan zat anafilatoksin, histamin dan serotonin serta aktivasi system kalikrein yang berakibat ekstravasasi cairan intravaskuler. Hal ini berakibat mengurangnya volume plasma, terjadinya hipotensi, hemokonsentrasi, hipoproteinemia, efusi dan renjatan.7,12,13

Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis infeksi virus dengue bervariasi, mulai dari asimptomatik, penyakit paling ringan, demam dengue, demam berdarah dengue, sampai dengan sindrom syok dengue. Masa inkubasi dengue antara 3-14 hari, rata-rata 4-6 hari. 8,10
Gejala klinis yang ditunjukkan antara lain : 1,6,10,11,13,14,15
Demam
Demam yang terjadi pada infeksi virus dengue ini timbulnya mendadak, tinggi (dapat mencapai 39-40oC) dan dapat disertai dengan menggigil. Demam ini hanya berlangsung untuk 5-7 hari. Pada saat demamnya berakhir, sering kali dalam bentuk turun mendadak (lysis), dan disertai dengan berkeringat banyak, dimana anak tampak lemah.
Nyeri seluruh tubuh
Pada umumnya yang dikeluhkan adalah nyeri otot, nyeri sendi, nyeri punggung dan nyeri pada bola mata yang semakin meningkat apabila digerakkan.

Ruam
Ruam dapat timbul pada saat awal panas yang berupa flushing yaitu berupa kemerahan pada daerah muka, leher, dan dada; yang disebabkan oleh kongesti pembuluh darah di bawah kulit. Ruam juga dapat timbul pada hari ke-4 sakit, berupa bercak-bercak merah kecil.
Perdarahan
Gejala perdarahan pada pasien DHF mulai tampak pada hari ke-3 sampai ke-4 berupa petekie, purpura, ekimosis, hematemesis, melena, dan epistaksis. Jika tidak mendapat pengobatan segera, maka pembuluh darah akan menjadi kolaps, dan menyebabkan syok, disebut dengan dengue syok sindrom (DSS). Sindrom ini sering fatal.
Gejala lain yang dapat ditemukan antara lain : kelainan yang mungkin terjadi pada sistem retikuloendotelial, seperti pembesaran kelenjar getah bening, hati dan limpa; lidah sering kotor dan kadang-kadang pasien sukar buang air besar, mual, muntah, batuk ringan.
Pada penderita DHF yang disertai renjatan, setelah demam berlangsung selama beberapa hari, keadaan umum penderita tiba-tiba memburuk. Hal ini biasanya terjadi pada saat atau setelah demam menurun yaitu di antara hari ke-3 dan ke-7 sakit.7,9
Pada sebagian besar penderita ditemukan tanda kegagalan peredaran darah, kulit teraba lembab dan dingin, sianosis sekitar mulut dan nadi menjadi cepat dan lembut. Penderita kelihatan lesu, gelisah dan secara cepat masuk dalam fase kritis renjatan. Penderita seringkali mengeluh nyeri di daerah perut sesaat sebelum renjatan timbul. Tekanan nadi menurun menjadi 20 mmHg atau kurang dan tekanan sistolik menurun sampai 80 mmHg atau lebih rendah.7,9,12

Klasifkasi Klinis
WHO (1975) membagi derajat penyakit DHF dalam 4 derajat, yaitu sebagai berikut :7,9,12
- Derajat I (ringan) : Demam mendadak 2-7 hari disertai gejala klinis yang tidak khas, dengan manifestasi perdarahan teringan, yaitu uji Tourniquet positif.
- Derajat II (sedang) : Derajat I disertai perdarahan spontan di kulit dan atau perdarahan lain.
- Derajat III : Ditemukannya tanda-tanda dini renjatan berupa kegagalan sirkulasi yaitu nadi cepat dan lembut, tekanan nadi menurun (kurang dari 20 mmHg) atau hipotensi disertai kulit yang dingin, lembab dan penderita menjadi gelisah.
- Derajat IV : Ditemukan DSS dengan nadi yang tidak dapat diraba dan tekanan darah yang tidak dapat diukur.

Diagnosis
Berdasarkan pedoman WHO (1997) diagnosis kerja DHF dapat ditegakkan bila ditemukan 2 gejala klinik disertai salah satu hasil laboratorium (terutama kenaikan hematokrit) dibawah ini.3,7,9,12

Klinis :
Demam tinggi yang bersifat akut dan terus-menerus selama 2-7 hari.
Adanya manifestasi perdarahan, termasuk setidak-tidaknya uji torniquet positif dan salah satu bentuk lain (petekia, purpura, ekimosis, epistaksis, dan perdarahan gusi), hematemesis dan atau melena.
Pembesaran hati
Renjatan yang ditandai oleh nadi lemah, cepat disertai tekanan nadi menurun (menjadi 20 mmHg atau kurang), tekanan darah menurun (tekanan sistol menurun sampai 80 mmHg atau kurang) disertai kulit yang teraba dingin dan lembab terutama pada ujung hidung, jari dan kaki, penderita menjadi gelisah, timbul sianosis disekitar mulut.
Laboratorium :
Trombositopenia (< 100.000/ul).
Hemokonsentrasi (kenaikan Ht > 20% diatas nilai rata-rata hematokrit penduduk menurut umur dan kelamin).
Dalam pengamatan klinik tidak semua kriteria WHO tersebut dipenuhi. Hemokonsentrasi baru dapat dinilai setelah pemeriksaan serial hematokrit, sehingga pada saat penderita datang pertama kali belum dapat ditentukan ada tidaknya hemokonsentrasi.12

Diagnosis Banding
Pada awal penyakit, diagnosis banding mencakup demam typhoid, morbili, influenza, hepatitis, demam chikungunya, leptospirosis, dan malaria. Adanya trombositopenia yang jelas disertai hemokonsentrasi membedakan DHF dari penyakit lain. Diagnosis banding lain adalah sepsis, meningitis meningokok, ITP, leukemia, dan anemia aplastik.3,13

Prognosis
Kematian oleh demam dengue hampir tidak ada, sebaliknya pada DHF/DSS mortalitasnya cukup tinggi. Secara umum keberhasilan penanganan syok bergantung pada beratnya penyakit, lamanya syok berlangsung, fungsi organ vital sebelumnya, dan reversibilitas.15

Komplikasi 15
- Manifestasi neurologis seperti kejang, ensefalitis atau encephalopathy, neuropathies, sindrom Guillain-Barr, dan transverse myelitis.
- Kerusakan hati berupa hipoperfusi hati
- Overhidrasi

Penatalaksanaan
Penatalaksanaan DHF tanpa penyuit antara lain :3,7,9,16
Tirah baring
Makanan lunak. Bila belum ada nafsu makan dianjurkan minum banyak 1,5-2 liter dalam 24 jam (susu, air dengan gula atau sirop) atau air tawar ditambah dengan garam saja.
Medikamentosa yang bersifat simtomatis. Untuk hiperpireksia dapat diberikan kompres es di kepala, ketiak, dan inguinal. Antipiretik sebaiknya dari golongan asetaminofen, eukinin, atau dipiron.
Antibiotik diberikan bila terdapat kekawatiran infeksi sekunder.
Penatalaksanaan untuk DHF dengan renjatan antara lain :3,7,9,16
Bila terdapat tanda-tanda dini renjatan, infus harus dipersiapkan dan terpasang pada pasien. Observasi meliputi pemeriksaan tiap jam terhadap keadaan umum, nadi, tekanan darah, suhu, dan pernapasan; serta Hb dan hematokrit setiap 4-6 jam pada hari pertama pengamatan, selanjutnya tiap 24 jam.
Terapi untuk DSS bertujuan utama untuk mengembalikan volume cairan intravaskuler ke tingkat normal. Jenis cairan yang dapat diberikan dapat berupa NaCl faali, laktat Ringer atau bila terdapat renjatan yang berat dapat dipakai plasma.
Pada awal terapi diberikan RL secara diguyur, bila perlu dengan semprit dimasukkan secara paksa 100-200 ml dilanjutkan dengan 20 ml/kgBB dengan tetesan cepat 10 ml/kgBB/jam. Pada syok berat yang tidak memberikan respon, diberikan plasma atau ekspander plasma 20-30 ml/kgBB dengan tetesan 10-20 ml/kgBB/jam. Bila syok teratasi, kecepatan tetesan dikurangi menjadi 10 ml/kgBB/jam. Nilai hematokrit penting untuk pedoman pemberian cairan (1,3,8).
Dalam masa penyembuhan, cairan dari ruang ekstravaskuler akan direabsorbsi kembali ke dalam ruang vaskuler, dalam keadaan ini hendaknya pemberian cairan dilakukan secara berhati-hati. Penting sekali untuk diketahui bahwa menurunnya nilai hemoglobin dan hematokrit pada masa ini tidak diartikan sebagai tanda terjadinya perdarahan gastrointestinal. Evaluasi klinis, nadi (amplitudo dan frekuensi), tekanan darah, pernapasan, suhu dan pengeluaran urin dilakukan lebih sering.7
Indikasi pemberian transfusi darah ialah pada penderita dengan perdarahan gastrointestinal hebat (hematemesis dan melena), dan pada penderita DSS yang pada pemeriksaan berkala menunjukkan penurunan kadar Hb dan Hematokrit.7



DAFTAR PUSTAKA

Darmowandowo W. Demam Berdarah Dengue, (online) (http://www. Pediatrik.com/ilmiah_popular/demam_berdarah.htm, diakses 11 Februari 2005).

Pinheiro F dan Corber S. Global Situation og Dengue and Dengue Hemorraghic Fever, and Its Emergence in The Americas. (online) (http://www.who.int/emc/diseases/ebola/denguearticle.pdf, diakses 20 Februari 2005)

Shepherd S. Dengue Fever 2002. (online) (http://www.emedicine.com/ med/topic528.htm, diakses 20 Februari 2005)

Anonim. Dengue/dengue haemorrhagic fever. (online) (http://www.who. int/csr/disease/dengue/en/, diakses 20 Februari 2005)

Gubler D and Clark, G. Dengue/Dengue Hemorraghic Fever : The Emergence of a Global Health Problem. (online) (http://www.emergency.com/ dnguefv.htm, diakses 20 Februari 2005)

Anonim. Dengue Hemorrhagic Fever. (online) (http://ww.doh.gov.ph/dvisory/ denguer.htm, diakses 20 Februari 2005)

Hasan R, Alatas H,ed. Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak 2. Jakarta : Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI, 1997.

Sudradjat, SB. Demam Berdarah Dengue (DBD). (online) (http://www. geocities. com/mitra_sejati_2000/dbd.html, diakses 20 Februari 2005).

Hendarwanto. Dengue. Dalam :Ilmu Penyakit Dalam Jilid 1. Jakarta : Balai Penerbit FKUI, 1998.

Anonim. Dengue. (online) (http://www.astdhpphe.org/infect/dengue.html, diakses 20 Februari 2005)

Anonim. Demam Berdarah dan Penularannya. (online) (http://www.ppmplp. depkes.go.id/detil.asp?m=4&s=3&i=24, diakses 20 Februari 2005).

Sumarmo, Sunaryo, Poorwo, Soedarmo. Demam Berdarah (Dengue) pada Anak. Jakarta : UI-Press, 1988

Isnar H. Dengue 2003. (online) (http://www.emedicine.com/ped/topic559.htm diakses 20 Februari 2005).
Shah I. Dengue and Dengue Hemorrhagic Fever. (online) (http://www.pediatriconcall.com/fordoctor/DiseasesandCondition/dengue.asp, diakses 20 Februari 2005).

Levy D. Dengue Hemorrhagic Fever. (online) (http://www.nlm.nih.gov/ medlineplus/ency/article/001373.htm, diakses 20 Februari 2005).

Mansjoe A, Triyanti, Savitri R, Warhani WI, Setiowulan W, ed. Demam Berdarah Dengue. Dalam : Kapita Selekta Kedokteran jilid 1. Jakarta : Media Auesculapius, FKUI, 2000.

EBOOK GRATIS

”buku ”buku ”buku ”diagnosis ”buku

Entri Populer